
Vina selama ini memang ingin menceritakan semua kejadian itu kepada Danu. Kejadian dimana Ranti datang menemui dirinya dan dengan gampangnya mengata ngatai Vina tentang semua yang tidak dilakukan oleh Vina. Vina juga ingin menceritakan kepada Danu, apa alasan dirinya pergi meninggalkan ibu kota. Satu keputusan yang sangat sulit harus diambil oleh Vina saat itu.
Tapi sayangnya amarah yang dipendam oleh Vina membuat dia memilih untuk menyimpan semuanya sendirian. Rasa amarah itu membuat Vina tidak bisa berpikir dengan sehat. Vina memilih untuk pergi dari Danu tanpa memberikan penjelasan kepada Danu. Amarahnya sukses membuat Vina menjadi seseorang yang kurang rasional menarik sebuah keputusan, yang pada akhirnya membuat hidupnya dan juga hidup Danu menjadi menderita.
"Sayang, kalau kamu tidak sanggup untuk bercerita jangan di paksa sayang. Aku bisa maklum dengan keputusan kamu untuk tidak mengungkit kembali kisah lama itu. Kisah yang sangat membuat kamu terluka. Aku bisa paham kok sayang" ujar Danu kepada Vina.
Danu bisa melihat Vina sedikit keberatan membahas tentang luka lama itu. Danu tidak ingin memaksa Vina untuk membuka luka lamanya itu. Luka yang harus dibayar mahal oleh Vina. Luka yang mengakibatkan Vina harus dirawat selama seminggu di rumah sakit. Belum lagi gara gara hal itu Vina berkali kali dapat hinaan dari Ranti di depan keramaian. Sudah tidak terhitung berapa kali Ranti mempermalukan Vina di depan orang ramai. Kejadian kejadian yang membuat Vina semakin marah kepada Danu, sebelum Vina mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Bagi Vina saat itu adalah Ranti yang benar, Danu yang salah. Ternyata kesimpulan sesaat yang diambil Vina adalah kesimpulan yang sangat salah.
"Nggak sayang, aku akan menceritakan semuanya. Agar semua menjadi jelas dan tidak ada lagi kesalah pahaman di antara kita berdua. Kesalah pahaman yang berujung aku pergi dari hidup kamu. Aku pergi dari negara yang sangat aku cintai. Tapi aku tidak menyesal dengan semua itu. Makanya sekarang aku akan menceritakan semua yang terjadi itu kepada kamu. Sebelum kamu menceritakan tentang kisah kamu dengan Ranti yang berakhir di pelaminan itu. " ujar Vina yang sudah memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Danu. Baik buruknya suatu kejadian, semuanya harus diketahui oleh kedua belah pihak, agar tidak terjadi ketimpangan atau kerugian bagi salah satu pihak. Seperti yang terjadi pada hubungan Danu dengan Vina.
"Kamu layak untuk tau sayang. Bagaimanapun juga ini juga ada sangkut pautnya dengan kamu. Jadi, aku rasa kamu berhak tau." ujar Vina kepada Danu.
Vina sudah memutuskan dan menguatkan hati dan parasaannya untuk menceritakan semuanya kepada Danu. Menceritakan apa yang terjadi kepada Danu. Vina tidak mau lagi ada rahasia rahasia di dalam hubungan mereka berdua.
"Jadi hari itu aku memang sudah demam juga dari semalam. Badan aku meriang nggak tertahankan, semuanya terasa dingin, kepala aku juga pusing, tapi aku masih kuat untuk berdiri. Saat itu aku rencananya masih ingin masuk kantor, tapi Maua melarang, Maua takut aku kenapa kenapa di jalan. Akhirnya aku saat itu memilih untuk mengirim berita ke perusahaan untuk tidak datang" ujar Vina memulai ceritanya. Vina menjelaskan kepada Danu bagaimana keadaan kondisi badannya saat kejadian itu terjadi.
Vina terpaksa membuka kembali luka lama yang sudah dengan susah dirawat nya supaya sembuh. Luka yang pada akhirnya membuat dia harus terbaring lemah di ranjang rumah sakit selama seminggu. Luka yang pada akhirnya membawa dirinya ke negara ini dan berusaha melupakan seorang pria yang memang sangat dicintainya. Pria dengan sejuta pesonanya itu. Pria yang telah berhasil membuat dia berani mencintai seseorang.
"Jadi, pagi itu karena aku merasa badan sudah kurang enak, aku memilih untuk menyapu rumah. Aku menyapu teras rumah, Maya saat itu tidak ada di rumah, Maya ke pasar kalau tidak salah saat itu" lanjut Vina menceritakan awal mulai kejadian. Awal dimana Ranti akhirnya datang ke kontrakan Vina.
"Nah aku masih sibuk menyapu teras. Tiba tiba Ranti datang dengan dua orang temannya. Saat itu aku kaget, kok ada tamu tiga orang wanita dengan tampilan yang sangat sangat berbeda dari tamu warung biasanya. Aku tidak tau kalau orang itu akan merusak kehidupan ku" ujar Vina menceritakan awal muka Ranti datang ke kontrakannya dan membawa dua orang teman temannya.
"Mereka datang saat ada beberapa ibu ibu sedang mengobrol di dekat rumah. Mereka saat itu langsung memaki maki aku. Mereka benar benar mengeluarkan kata kata yang nggak bisa di terima oleh akal sehat aku lagi" ujar Vina menceritakan kepada Danu. Bagaimana pedihnya kata kata yang dikeluarkan oleh Ranti dan kedua temannya itu kepada Vina pada saat kejadian.
"Mereka mengatakan kalau aku ini pelakor. Aku ini wanita yang nggak baik. Wanita yang hobby gangguin suami orang" ujar Vina mengatakan kepada Danu apa yang dikatakan oleh Ranti kepada dirinya saat itu.
"Aku saat itu benar benar tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dengan bodohnya aku bertanya kepada mereka. Apakah mereka tidak salah orang, karena aku saat itu tidak merasa mengganggu suami orang" Vina melanjutkan ceritanya kepada Danu.
"Nah saat aku mengatakan hal itu, aku di dorong oleh Ranti, yang mengakibatkan kepala aku semakin pusing. Aku berusaha untuk bertahan dan tidak pingsan. Alhamdulillah aku berhasil melakukannya. Aku tidak jadi pingsan saat itu" ujar Vina kepada Danu.
Danu yang mendengar cerita Vina semakin dibuat merasa bersalah yang sangat besar kepada Vina. Danu tidak menyangka kalau akibat kesalahannya membiarkan hubungan rusaknya dengan Ranti akan berakhir seperti ini. Berakhir dengan membuat Vina terkapar tidak berdaya di rumah sakit.
" Mereka akhirnya melemparkan bom itu ke kepala aku. Mereka mengatakan kepada aku kalau kamu adalah pria yang mereka maksud. Kalau kamu adalah suami dari Ranti" ujar Vina kepada Danu.
Vina mengatakan semuanya kepada Danu. Vina menceritakan semuanya kepada Danu. Vina tidak ada menceritakan hal ini kepada siapapun. Hanya kepada Danu saja Vina menceritakan apa yang terjadi.
"Sampai sekarang ada satu kalimat yang masih aku ingat, kata kata yang tidak akan pernah lepas dari ingatan aku, dia mengatakan kepada aku saat itu, kalau kamu tidak akan pernah bisa menceraikan dia." ujar Vina mengutarakan kepada Danu apa yang disampaikan oleh Ranti kepada dirinya.
"Saat dia mengatakan hal itu, barulah aku tumbang. Aku pingsan dan tak tau lagi dengan keadaan sekitar. Tiba tiba aku sudah berada di rumah sakit saja. Yang lainnya kamu tau sendirilah ceritanya." ujar Vina kepada Danu.
Vina memang tidak ingat siapa yang menemukannya saat pingsan itu dan siapa yang membawa dirinya ke rumah sakit. Bagi Vina yang jelas, dia masuk rumah sakit penyebabnya adalah Ranti dan kedua sahabatnya.
Vina kemudian terdiam cukup lama. Dia kembali menata hatinya setelah mengungkapkan semua kejadian kepada Danu. Kejadian tersulit yang dialaminya selama dia hidup di atas dunia ini, sepanjang usia Vina inilah masalah terberat yang dipikul nya.
"Saat di rumah sakit itu, aku sudah menyusun rencana untuk mengirimkan surat pengunduran diri ke perusahaan. Aku sudah membulatkan tekad aku untuk pergi dari kamu. Makanya saat aku keluar dari rumah sakit. Ada lowongan pekerjaan untuk bekerja di sini, aku tidak menyia nyiakan nya akhirnya aku mengambil keputusan untuk menerima kerja di sini. Aku merasa kalau aku jauh dari kamu, maka hati dan pikiran aku tidak sakit lagi. Tapi ternyata tidak semudah itu. Aku tetap dan selalu memikirkan kamu. Aku sama sekali tidak pernah bisa melupakan kamu" kata Vina mengungkapkan semua isi hatinya kepada Danu.
"Hal tersulit dari semua itu adalah di saat aku harus pura pura sudah melupakan kamu. Itu benar benar hal paling sulit yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin terus terlihat seperti aku mengingat kamu. Apalagi ini di depan sahabat aku yang selalu mendukung keputusan aku. Makanya, aku di depan mereka terlihat sudah melupakan kamu. Padahal sebenarnya aku tidak bisa melakukannya" lanjut Vina mencurahkan semua isi hati yang telah dipendam nya cukup lama.
"Maafkan aku sayang" ucap Danu sambil melirik ke arah Vina. Danu terpaksa mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang. Dia tidak mau terjadi sesuatu di jalan kalau dia mengemudikan mobilnya dalam kecepatan tinggi.
__ADS_1
"Sayang tidak masalah. Kamu mau tau tidak berapa kali Ranti ngelabrak aku di tengah orang ramai?" tanya Vina kepada Danu.
" Bentar sayang, jadi, saat aku pergi ke kampung melihat Deli yang sedang sakit itu, kamu memilih untuk pergi dari negara ini?" tanya Danu kepada Vina. Danu ingin tahu kapan Vina pergi dari negara ini.
"Yup, saat itu saya pergi karena mendengar apa yang dikatakan oleh Ranti. Apa gunanya aku masih memiliki hubungan dengan kamu, padahal hubungan itu tidak akan bisa kita bawa kemana mana. Makanya aku memutuskan untuk pergi dari negara kita" kata Vina kepada Danu.
Danu terdiam mendengar jawaban yang diberikan oleh Vina. Dia tidak menyangka bahwa kejadian itu bisa mengakibatkan Vina pergi dari negara itu.
"Maafkan aku" ujar Danu kembali meminta maaf kepada Vina.
"Sayang capek aku, kamu minta maaf terus aja. Sekarang kamu mau tau tidak berapa kali Ranti ngelabrak aku?" Vina kembali menanyakan hal yang sama kepada Danu. Pertanyaan yang sebenarnya telah ditanyakan oleh Vina kepada Danu tadi. Tapi masih belum di jawab oleh Danu.
"Ya Sayang. Berapa kali dan dimana" ujar Danu.
Danu perlu tahu semuanya. Dia ingin membalaskan rasa sakit Vina kepada Ranti. Danu sudah membulatkan tekadnya. Apalagi Ranti melemparkan kesalahannya kepada Vina. Seorang perempuan yang tidak sengaja tertarik masuk ke dalam lingkaran problematika hubungan pernikahan antara Danu dan Ranti.
"Labrak pertama di kontrakan. Labrak kedua di rumah sakit saat aku sedang di rawat dan tidak ada yang menunggui" ujar Vina menyebutkan kepada Danu kapan dia dilabrak oleh Ranti.
"Labrak ketiga saat di bandara negara UEA. Labrak ke empat waktu aku sedang liburan di kota J, waktu itu aku baru dari kampung sedang makan siang. Nah labrak kelima tu waktu di mall yang ada kamunya itu" lanjut Vina mengatakan kepada Danu kapan saja dia di labrak oleh Danu.
"Lima kali sayang?" tanya Danu kepada Vina.
"ya, rasanya lebih. Tapi aku ingat hanya itu saja. " jawab Vina yang tidak ingat lagi kapan dia dilabrak oleh Ranti dan sahabat sahabatnya.
Danu terdiam cukup lama. Dia sekarang semakin yakin kalau Vina adalah wanita kuat. Sudah seperti itu cobaan yang dialami oleh Vina. Vina masih mampu bekerja dengan sangat baik.
"Aku kagum dan sangat bangga bisa mencintai kamu sayang. Sosok wanita kuat dengan segala cobaan yang menerpa. Kamu tetap berdiri tegak sayang. Aku benar benar salut sama kamu" ujar Danu memuji Vina dengan sungguh sungguh. Danu sungguh sungguh bangga dengan Vina. Wanita terkuat yang pernah ditemuinya.
"Nah sayang sekarang, aku tanya kamu. Kamu harus jawab sejujur jujurnya kepada aku, apa kamu masih menyimpan kemarahan kepada aku?" tanya Danu kepada Vina.
Pertanyaan yang membuyarkan keheningan di antara mereka berdua. Keheningan yang tercipta karena mendengar cerita dari Vina. Cerita yang selama ini dipendam oleh dirinya sendiri.
Danu membutuhkan jawaban dari Vina. Danu ingin melanjutkan hubungannya dengan Vina, sehingga dia harus menanyakan hal itu kepada Vina. Danu ingin tahu apakah Vina masih menginginkan dia atau tidak. Seandainya tidak, maka Danu harus pergi dari hidup Vina sekarang juga. Tetapi kalau jawaban Vina adalah iya, maka Danu siap berjuang untuk Vina.
"Sayang, apa aku masih harus menjawab pertanyaan kamu yang bodoh itu?" tanya Vina kepada Danu. Vina menatap lekat wajah Danu. Walaupun Danu tidak bisa membalas tatapan Vina, karena Danu harus mengemudikan mobilnya.
"Kok pertanyaan bodoh? Mana ada coba pertanyaan yang bodoh" ujar Danu heran dengan apa yang dikatakan oleh Vina. Danu harus mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu.
"Gimana nggak bodoh, udah jelas jelas aku manggil kamu dengan ucapan sayang. E e e e e e e e e e e e sekarang masih nanyak apakah aku masih cinta atau tidak sama kamu. Kan aneh itu. Kalau aku tidak cinta mana mau aku sampai kayak gini banget." ujar Vina menjawab pertanyaan Danu dengan jawaban tersirat.
"Jadi kamu pikir sendirilah ya apa jawaban dari pertanyaan kamu itu" ujar Vina melanjutkan jawabannya kepada Danu.
"Jadi, kamu masih cinta sama aku?" tanya Danu sambil mengerjab ngerjabkan matanya kepada Vina melalui hubungan video call.
"Ntah" jawab Vina dengan nada kesal.
" Ha ha ha ha ha. Jangan marah marah sayang, nanti kamu jadi keriput" ujar Danu kepada Vina sambil tertawa puas melihat wajah kesal Vina yang sama sekali tidak ditutupinya.
"Kamu yang salah, nanyak ada ada aja. Bikin aku kesal aja" ujar Vina kepada Danu. Vina menanyunkan mulutnya saat Danu masih kekeh bertanya hal itu.
__ADS_1
Vina memonyongkan bibirnya. Dia tidak menyangka Danu akan menanyakan hal itu. Pertanyaan yang dirasa Vina tidak perlu ada jawabannya.
"Kamu harusnya merasakan saja, bukan bertanya. Masak iya hal itu masih kamu tanyakan ke aku. Padahal kamu tau gimana aku ke kamu" ujar Vina menjawab pertanyaan Danu dengan pertanyaan pula.
"Iya iya sayang. Aku tahu, aku tahu sangat bagaimana perasaan kamu sama aku, bagaimana cintanya kamu sama aku. Maafkan aku udah bertanya tadi ke kamu. Tapi aku hanya ingin puas aja, makanya aku tanya" ujar Danu sambil masih fokus ke jalan.
"Iya sayang, aku paham. Aku tidak pernah berpikir jelek terhadap kamu. Bagi aku kamu adalah yang terbaik. Walaupun kamu pernah membuat aku kecewa. Tapi aku berusaha menerima semua kekecewaan yang pernah aku rasakan" ujar Vina mengakui semua yang dirasakan olehnya kepada Danu.
"Maafkan aku ya, karena aku pernah membuat kamu kecewa, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Bagi aku kamu adalah segala galanya. Tapi ternyata, karena aku tidak bisa memutuskan sesuatu akibatnya kamu menjadi tumbalnya" ujar Danu kepada Vina.
"Sayang, aku pikir pembahasan kita cukup berat dilakukan saat ini. Apalagi dengan kamu sambil membawa mobil" ujar Vina yang baru sadar pembicaraan yang mereka lakukan saat ini lumayan berat.
Pembahasan yang seharusnya dilakukan sambil bertatap muka, bukan melalui media perantara seperti memakai ponsel ini.
"Mau gimana lagi sayang. Mau bertatap muka? Mana bisa, kamu dimana aku dimana. Jadi ya dengan begini dan suasana begini lah waktu yang tepat untuk kita membahas semuanya." ujar Danu menjawab perkataan Vina tentang waktu dan tempat mereka melakukan pembicaraan serius itu.
"Lagian sayang, belum tentu dengan kita bertatap muka, kita bisa melakukan pembicaraan ini seperti yang kita lakukan sekarang" lanjut Danu berkata sambil menatap ke arah Vina.
"Bener juga. Oh ya sayang ngomong ngomong masih jauh apa rumah?" tanya Vina yang ingat mereka sudah cukup lama untuk berkomunikasi melalui sambungan telepon itu.
"Udah nggak sayang. Tapi aku ragu apa Deli masih bangun atau sudah tidur. Dia biasanya kalau demam akan cepat tidurnya." kata Danu memberitahukan apakah Deli sudah tidur atau masih bangun.
"Kalau udah tidur biarkan saja sayang. Besok saja lagi aku melakukan video call dengannya. Lagian besok kamu nggak balik ke ibu kota di pagi hari?" tanya Vina yang ingat besok masih belum masuk akhir minggu.
"Besok aku berangkat siap subuh dari sini sayang. Tapi aku akan balik lagi besoknya." jawab Danu menjelaskan kepada Vina kapan dia akan balik lagi ke ibu kota dan kembali lagi ke kampung.
"Ooooo. Jadi untuk beberapa hari ini kamu akan bolak balik ibu kota dan kampung?" tanya Vina memastikan kalau Danu akan melakukan hal itu.
"Yup rencana nya begitu sayang. Aku nggak mau meninggalkan Deli lama lama dalam keadaan sakit" jawab Danu.
Akhirnya Danu telah sampai di depan pintu pagar rumahnya. Danu membuka pintu pagar tersebut. Dia memasukkan mobilnya ke dalam. Danu kembali menutup pintu pagar.
"Sayang, aku udah sampai di rumah. Aku lihat Deli dulu ya. Kalau dia masih bangun aku akan telpon lagi. Oke?" tanya Danu kepada Vina.
"Oke. Nanti hubungi aja gimana gimana nya. Aku belum akan tidur kok" kata Vina sambil berdiri dari ranjangnya.
"Lah kamu mau kemana?" tanya Danu saat melihat Vina beranjak dari ranjang.
"Mau ke tempat Maya. Sepertinya dia sudah pulang. Ada yang harus aku obrolin dengan Maya" ujar Vina memberitahukan kepada Danu dia akan pergi kemana.
"Ooooo. Ya udah kamu ngobrol sama dia dulu ya. Aku masuk dulu." ujar Danu yang telah sampai dengan selamat di rumah kedua orang tuanya.
"Sip. Nanti kasih tau Deli kalau bunda kue mau ngobrol dengan dia" ujar Vina kepada Danu sambil tersenyum.
"Oke sayang. Kamu hati hati di sana. Aku mencintaimu" ujar Danu mengungkapkan kata cinta kepada Vina.
"Hem. Malas jawab. Rasakan sendiri aja" jawab Vina sambil menatap ke arah Danu.
"Ha ha ha ha ha. Aku sudah merasakan dan aku sudah tau apa artinya" jawab Danu.
__ADS_1
"Udah ah lama lagi nanti ini. Aku matikan dulu ya." kata Vina.
Danu mengangguk setuju. Vina kemudian memutuskan panggilan telpon itu. Danu berjalan masuk ke dalam rumah, dia menuju kamar Deli. Sedangkan Vina, dia akan pergi ke kamar Maya yang terletak di samping kamarnya.