
Kedua mobil yang dikemudikan oleh Paman dan Danu bergerak meninggalkan rumah Papi dan Mami. Mereka melaju dengan sedikit agak kencang menuju bandara.
"Pakaian kamu bagaimana Dan?" tanya Papi yang memilih untuk menemani Danu.
Papi tahu dia harus bersama Danu karena Danu kurang beristirahat semalam. Sedangkan Paman, dia beristirahat dengan full. Jadi, kondisi Paman lebih fit untuk membawa mobil dibandingkan Danu.
"Pakaian aku sudah minta tolong ke Iwan untuk mengantarkannya ke bandara Pi. Jadi, Papi nggak usah cemas. Kita akan langsung ke bandara. Nanti juga Iwan yang akan membawa mobil Papi pergi dari bandara. " ujar Danu yang sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang.
"Kamu yakin Danu, dengan pilihan Deli ke negara U?" ujar Papi
Papi ingin mendengar pendapat dari Danu tentang negara tujuan mereka hari ini. Dimana Deli memilih untuk pergi ke negara U dari pada negara J.
"Yakin Papi. Deli akan memilih sesuatu yang terbaik untuk kita semua. Tidak mungkin Deli memilih sesuatu yang akan membahayakan dirinya sendiri" ujar Danu yang sangat senang Deli memilih negara U.
'Minimal aku bisa mencari Vina di sana. Iwan mengatakan kalau Maya di rawat di rumah sakit negara U. Jadi, sudah bisa dipastikan kalau Vina berada di negara U' ujar Danu dalam hatinya.
"Ngapain termenung Dan? Kamu ngantuk? Kalau iya biar Papi yang bawa mobil lagi" ujar Papi berkata kepada Danu.
Papi tidak ingin mereka mengalami kecelakaan karena mata Danu yang sudah mengantuk itu, masih dipaksa juga untuk membawa mobil. menuju bandara.
"Nggak ada ngantuk Pi." jawab Danu sambil menatap ke arah Papi sebentar.
"aku masih oke Papi. Kalau Aku sudah merasakan mengantuk aku akan katakan kepada Papi" kata Danu meyakinkan Papi kalau dia akan mengatakan kepada Papi saat matanya sudah kembali mengantuk.
"Baiklah, kamu hati hati bawa kendaraan nggak usah ngebut." ujar Papi meminta Danu untuk tidak. mengebut saat membawa mobil menuju bandara.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, dua mobil tersebut akhirnya telah terparkir dengan rapi di lapangan parkir bandara. Danu melihat Iwan yang sedang berdiri di depan terminal keberangkatan luar negeri.
"Danu" panggil Iwan dengan setengah berteriak karena bandara yang begitu ramai.
__ADS_1
Danu berjalan menuju Iwan. Iwan memberikan satu travel bag kepada Danu.
"Makasih Wan. Loe jaga gawang untuk beberapa hari ini sampai aku dan Ivan kembali ya" ujar Danu kepada Iwan.
"Oke sip. Semoga Ranti tidak menemukan keberadaan kalian di negara itu" ujar Iwan mendoakan semoga Deli tidak ditemukan oleh Ranti.
Frans juga datang ke bandara.
"Loe juga ikut Danu?" tanya Frans saat melihat Danu juga membawa travel bag kecil miliknya.
"Yup, gue akan pergi sebentar. Gue hanya mengantar saja. Tiga hari gue di sana. Emang kenapa Frans?" tanya Danu yang penasaran dengan pertanyaan dari Frans tadi.
"Gue harap loe nggak lama lama. Takutnya nanti kalau loe lama di sana, akan membuat proses perceraian loe dengan Ranti akan memakan waktu yang sangat lama" ujar Frans memberikan alasan kepada Danu kenapa dia tidak memperbolehkan Danu pergi dalam waktu yang lama.
"Oke Frans, gue akan balik cepat" jawab Danu.
"Frans, Paman berharap kamu bisa berjuang untuk perceraian Danu" ujar Paman berkata kepada Frans.
"Tenang Paman. Aku akan berusaha sekuat tenaga menolong sahabat aku itu. Aku tidak akan membiarkan dirinya tersiksa oleh kehidupan rumah tangga mereka" ujar Frans menjawab permintaan dari Paman.
"Oh ya Wan, Ivan kapan masuk kantor? Gue perlu dia untuk mencari bukti semenjak kapan Ranti berselingkuh dari Danu" ujar Frans bertanya kepada Iwan kapan Ivan akan pulang.
"Nggak perlu Ivan juga Frans. Laptop dan segala peralatan canggih milik Ivan ada di perusahaan. Bagaimana kalau sekarang kita ke perusahaan saja?" tanya Iwan kepada Frans dan Paman.
"Oke. Gue butuh bukti rekaman sebelum Danu menjalin hubungan dengan Vina. Jadi, tuduhan perselingkuhan itu akan tetap masuk dalam agenda persidangan" ujar Frans berkata kepada Iwa dan Paman yang serius mendengar percakapan dari Frans.
"Frans bagaimana kalau kita berdiskusi nya di perusahaan saja. Semua orang melihat ke arah kita ini" ujar Paman saat melihat semua mata mengarah kepada mereka bertiga.
Frans dan Iwan menatap ke sekeliling mereka. Memang benar ternyata apa yang dikatakan oleh Paman. Semua orang sekarang sedang menatap ke arah mereka.
__ADS_1
"Resiko jalan dengan seorang pengacara kondang ya gini ni. Dilihatin semua orang." ujar Iwan sambil berjalan di depan Frans.
Frans memang sangat terkenal, Frans sangat sering masuk berita televisi karena menjadi pengacara beberapa artis terkenal di negara I saat mengurus perceraian mereka. Makanya saat di tempat umum, banyak orang orang yang mengenal dan menyapa Frans.
Mereka bertiga akhirnya sampai juga di mobil masing masing. Ketiga mobil bergerak meninggalkan bandara untuk menuju perusahaan. Mereka akan melanjutkan diskusi tentang bukti bukti perselingkuhan Ranti yang telah dilakukannya beberapa tahun ke belakang itu.
Sedangkan di negara U, Vina masih juga belum bisa ke perusahaan, karena Maya yang masih belum sembuh dan tidak bisa ke Kafe. Jadi, akhirnya masih Vina yang harus mengelola kafe.
"Nona Vina" panggil Rina saat Vina baru datang jam sebelas siang.
Vina memang telat bangun hari ini. Badannya bener bener sudah pegal pegal semua karena tidak berhenti hentinya bekerja mengelola kafe.
"Yup Rin, ada apa?" tanya Vina kepada Rina.
"Stok bumbu bumbu dari negara I sudah menipis Nona Vina. Apakah Nona bisa memesan kembali ke negara I atau kita beli saja bumbu yang ada di pasar negara sini." ujar Rina mengatakan kalau bumbu bumbu yang dibawa mereka dari kebun Bapak dan Ibuk sudah mulai menipis.
"Oke Rina. Aku akan telpon Bapak dan Ibuk dulu untuk menyiapkan semua bahan bahannya. Tiga hari lagi pesawat perusahaan juga akan terbang ke negara I. Kita bisa mengirimkan semua bumbu bumbu itu dengan menompang di pesawat perusahaan" ujar Vina memberitahukan kepada Rina tentang bumbu bumbu yang sudah habis itu.
Vina kemudian menghubungi orang tuanya, Vina meminta Bapak dan Ibuk untuk menyiapkan semua bumbu bumbu rempah rempah yang mereka bawa kemaren.
Vina juga mengatakan kepada Bapak dan Ibuk kalau pesawat perusahaan akan datang dalam tiga hari lagi. Mereka akan langsung terbang pada hari kelima setelah pesawat berisi muatan kembali untuk pulang ke negara U.
Setelah memastikan Bapak dan Ibuk untuk menyiapkan bumbu bumbu rempah. Vina mulai melakukan pekerjaannya. Vina mendata semua bahan bahan masakan dan minuman yang sudah mulai menipis.
Setelah memeriksa semuanya. Vina kemudian mulai menghubungi toko toko yang melakukan kerjasama dengan mereka. Vina meminta toko tersebut untuk mengirimkan barang barang yang dipesan oleh Vina.
Vina kemudian melakukan semua pekerjaan yang dibebankan kepada dirinya. Vina sama sekali tidak mengeluh, walaupun tulang tulang dibadannya ini sudah tidak terasa lagi oleh Vina.
Tapi demi Maya, Vina akan melakukan semuanya. Sakit di tubuhnya tidak diperdulikan oleh Vina lagi. Bagi Vina kafe harus jalan walaupun Maya dalam keadaan sakit.
__ADS_1