
"Vin vina. Sayang ayo bangun kamu udah tidur terlalu lama. Saatnya makan obat sayang." ucap Danu yang teringat Vina sama sekali belum meminum obatnya.
Vina menggeliat dengan manja. Saat melihat Danu di depan matanya, pria yang sangat dikangeninya saat ini, pria yang sangat dibutuhkannya. Vina mengakat kedua tangannya dan mengalungkan tangan itu di leher Danu. Dia membawa Danu ke dalam pelukannya. Dia begitu membutuhkan pelukan dari Danu. Pelukan hangat seorang kekasih yang bisa menjaga dirinya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Danu yang melihat Vina berubah menjadi manja. Tidak biasanya Vina seperti ini.
"Nggak ada kenapa kenapa." jawab Vina semakin erat memeluk Danu.
"Nggak kenapa kenapa, tapi kenapa meluk kayak gini. Nggak biasanya sayang kamu kayak gini." ujar Danu yang benar benar heran dengan sikap manja Vina yang luar biasa ini.
"Sayang nggak suka aku peluk?" tanya Vina masih memeluk Danu.
"Suka sayang. Sangat suka malahan. Tetapi tumben banget kamu meluk aku sampe segitunya. Ada apa?" tanya Danu yang memang sangat penasaran dengan keadaan Vina.
Vina hanya diam saja. Dia tetap memeluk Danu. Vina benar benar tidak ingin melepaskan pelukan dirinya kepada Danu. Danu semakin heran dibuatnya. Dia benar benar dangat tau Vina bukan tipe perempuan yang main peluk lama kalau tidak ada masalah.
Setelah dirasa puas dirinya memeluk Danu, Vina kemudian melepaskan pelukan itu. Vina menatap Danu lama. Dia mengangkat tangannya dan menyentuh wajah pria yang sangat dicintainya itu.
"Sayang." panggil Vina.
"Apa sayang? Kamu kenapa? Cerita ke aku sayang." ujar Danu kepada Vina.
"Nggak ada kenapa kenapa." jawab Vina.
Vina mengambil tangan Danu. Vina mengecup lembut tangan kekasihnya itu.
Danu semakin heran dibuatnya. Tingkah Vina memang benar benar di luar logika Danu.
"Sayang, jangan bikin cemas. Ada apa sayang?" tanya Danu untuk kesekian kalinya.
"Nggak ada apa apa sayang." jawab Vina kesekian kalinya masih dengan jawaban yang sama.
"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi sayang. Sekarang kamu duduk, aku akan menyuapi makanan." ujar Danu.
Vina mengangguk, dia harus cepat sehat dan kembali kuat. Dia tidak boleh berlama lama sakit. Dia harus bisa menjadi seorang wanita yang kuat dan mandiri selepas ini.
Vina mendirikan punggungnya. Danu membantu Vina. Danu meletakan bantal di belakang punggung Vina agar Vina merasa nyaman.
"Nyaman sayang?" tanya Danu kepada Vina.
Vina mengangguk.
Setelah yakin Vina nyaman, Danu menyuapkan Vina makan pagi sekaligus siangnya itu. Dia benar benar lapar sekarang. Vina melahap semua makanan yang ada. Semua hal itu membuat Danu bahagia. Danu sangat senang Vina bisa makan dengan sangat lahap. Danu berharap Vina bisa cepat sehat dan kembali beraktifitas seperti biasanya.
"Akhirnya. Kamu hebat sayang." ujar Danu mengecup puncak kepala Vina.
"Makasi sayang." jawab Vina yang senang dipuji oleh Danu.
Mereka kemudian bercakap cakap dengan instens. Semua hal mereka bahas. Tak terasa efek dari obat yang tadi diminum oleh Vina sudah mulai terasa. Vina mulai menutup matanya perlahan lahan. Kantuk dimatanya sudah tidak bisa lagi ditahan oleh Vina.
Danu masih saja terus bercerita, Danu sadar setelah tidak ada sama sekali komentar dari Vina. Danu kemudian menolehkan kepalanya ke arah Vina. Ternyata Vina sudah tidur dengan nyenyak sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Danu.
__ADS_1
"Hahahahahaha. Dasar ne bocah nggak tau udah tidur aja dia." ujar Danu sambil menaruh kepala Vina ke bantal.
Setelah memastikan Vina sudah nyaman Danu mrngecup kening Vina, Danu kemudian keluar dari kamar rawat Vina. Dia merasakan lapar di perutnya.
"May, titip Vina ya. Saya mau cari makan dulu ke kantin." ujar Danu kepada Maya.
"Oke sip. Tapi nanti lebihkan ya. Maya juga lapar." ujar Maya sambil memegang perutnya yang juga sudah berbunyi nyaring.
"Sip. Mau makan apa?" tanya Danu yang memang tidak memiliki rekomendasi makanan apa yang disukai oleh Maya.
"Nasi bungkus aja." jawab Maya.
"Sambalnya terserah." lanjut Maya sebelum Danu sempat bertanya hal selanjutnya.
Danu kemudian pergi menuju kantin rumah sakit untuk mengisi perutnya. Danu makan dengan santai, dia baru bisa menikmati makanan sekarang, karena sudah beberapa hari ini pikiran Danu hanya ke Vina saja.
Tiba tiba, Danu kembali teringat dengan perubahan sikap Vina kepada dirinya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Vina sebelum dia sakit? Setau gue, dia sehat sehat saja." ujar Danu yang langsung menghentikan makannya.
Dia mendadak merasakan kenyang di perutnya karena mengingat perubahan sikap Vina kepada dirinya.
Danu meraih ponselnya. Dia mencari nomor Iwan. Saat sudah berhasil menemukan nomor Iwan, Danu melakukan panggilan kepada nomor itu.
"Hallo Dan." ujar Iwan dari seberang telpon.
"Loe dimana Wan?" tanya Danu.
"Kantor. Ada apa?"
"Oke sip."
Danu yang selesai menikmati makannya kembali berjalan menuju ruang rawat Vina.
"May ini pesanan." Danu memberikan pesanan Maya.
Maya menikmati makanan yang dibelikan oleh Danu. Sedangkan Danu menyaksikan berita yang disiarkan di televisi.
Vina yang sudah merasakan puas untuk beristirahat, perlahan membuka matanya. Dia melihat Danu yang tertidur di sofa sedangkan Maya sibuk bermain game di ponsel miliknya.
"May" panggil Vina.
Maya yang mendengar ada suara yang memanggil namanya memalingkan muka ke arah Vina.
"Apa?"
"Aku mau ke kamar mandi." ujar Vina.
Maya membantu Vina untuk menuju kamar mandi. Vina kemudian membuang hajatnya. Maya menunggui di depan pintu kamar mandi. Setelah Vina selesai melakukan ritualnya Maya membantu Vina untuk kembali ke atas brangkar rumah sakit.
"Apa dari tadi danu nggak ada kembali ke kantor May?" tanya Vina.
__ADS_1
"Sejak kamu sakit tidak kembali ke kantor." jawab Mays.
Vina menatap Danu dengan tatapan sejuta makna. Semua itu tidak lepas dari perhatian Maya.
"Ada apa?" tanya Maya.
"Nggak ada." jawab Vina.
"Jangan bohong. Tatapan mata kamu mengisyaratkan ada sesuatu yang terjadi." ujar Maya kepada Vina.
"Gue memang nggak bisa bohong dari loe. Tapu gue nggak bisa cerita saat ada Danu di sini. Nantilah pas Danu pergi." ujar Vina.
"Ada sesuatu?" tanha Maya.
Vina mengangguk.
"Baiklah. Kita akan tunggu dia pergi baru membuka cerita tersebut." ujar Maya yang setuju dengan pendapat Vina.
Saat mereka berdua bercerita. Terdengar ketukan di pintu ruang rawat.
"Masuk" ujar Mays.
Dari arah luar masuk dua orang pria tampan yang masih memakai stelan kerja semi formal.
"Hah tumben masih pakaian lengkap." ujar Maya.
"Bos nggak sabar bertemu kami." jawab Ivan yang langsung duduk di sofa yang kosong.
Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Danu yang terlelap tidur.
"Dasar ne bocah. Kita di suruh datang cepat. Eeeeee dia malah enakan tidur. Bos kurang akhlak" ujar Ivan dengan nada sedikit besar.
Danu yang mendapat hadiah makian dari Ivan langsung menoyor kepala Ivan.
"Apa loe ngomong, kurang akhlak???? Sama loe berdua kalau pakai akhlak gue yang merana." ujar Danu.
"Ya kalau pakai cinta. Dia yang merana." ujar Iwan dan Ivan kompak.
Vina yang mendengar langsung terdiam. Danu melihat perubahan mimik wajah Vina, langsung berjalan mendekat ke wanita yang dicintainya itu.
"Sayang jangan dengarkan ucapan mereka. Mereka staff nggak ada akhlak. Asal comot kata kata aja." ujar Danu yang takut Vina akan terkontaminasi oleh dua cecunguk itu.
"Tenang sayang, aku nggak akan terpengaruh oleh mereka berdua." ucap Vina sambil tersenyum tulus tetapi tidak sampai ke matanya.
Semua itu menjadi perhatian oleh Ivan. Ivan menarik satu kesimpulan kalau Vina mengetahui sesuatu tetapi berusaha untuk tidak menyampaikan kepada orang lain.
"Jadi ada perlu apa loe nyuruh kamai ke sini?" tanya Iwan yang sudah tidak sabar.
"Gue cuci muka dulu." ujar Danu sambil berjalan menuju kamar mandi
Ivan yang melihat Danu sudah masuk ke dalam kamar mandi berjalan mendekati Vina.
__ADS_1
"Gue tau loe tau sesuatu. Tapi loe berusaha menutupi semuanya." ujar Ivan kepada Viba.
Vina menatap Ivan. Ivan membalas tatapan Vina dengan tersenyum. Vina yang melihat Ivan tersenyum langsung memalingkan wajahnya dari Ivan.