Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Saksi 2


__ADS_3

"Yup. Gue akan katakan kepada pihak pengadilan bagaimana kondisi Deli saat ini. Biasanya pihak pengadilan akan mengerti dan paham dengan kasus yang seperti ini. Mereka juga tidak akan mengambil resiko dengan membuat saksi tertekan" ujar Frans menjelaskan kepada Danu dan Iwan bagaimana biasanya tanggapan dari pengadilan kalau ada kasus yang seperti terjadi kepada Deli ini.


"Oh baiklah kalau begitu Frans. Gue mohon sama loe untuk memberikan pengertian kepada pihak pengadilan. Gue akan bayar transpor mereka saat pergi ke negara U. Asalkan mereka mau untuk ke sana. Aku takut psikis Deli menjadi kenapa kenapa saat dia harus kembali melihat dan menatap Ranti" ujar Danu yang memang memikirkan keadaan Deli.


Danu tidak mau Deli kenapa kenapa, kalau dia memaksa Deli untuk hadir di persidangan tersebut.


"Gue akan usahakan. Kalau perlu sebelum persidangan itu berlangsung, gue akan ajak mereka untuk bertemu Deli di negara U. Loe jangan cemaskan akan hal itu" lanjut Frans meyakinkan Danu kalau dia akan berbuat yang sangat terbaik bagi Deli.


"Untuk anak client gue yang lain aja, gue berikan yang terbaik. Masak untuk anak gue sendiri tidak. Itu satu hal yang nggak akan mungkin terjadi. Gue pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk dirinya. Loe percayakan ke gue aja." ujar Frans meyakinkan Danu kalau dia pasti akan memberikan yang terbaik untuk Deli nantinya.


"Nah masalah Deli oke kita anggap selesai untuk hari ini. Frans besok loe langsung ke pengadilan menceritakan hal itu kepada mereka. Bagaimana Deli yang sangat trauma ketemu dengan Ranti." kata Iwan memberikan perintahnya kepada Frans.


Frans dan Danu saling memandang, mereka berdua kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Iwan sebentar ini kepada Frans. Iwan meminta Frans untuk pergi ke pengadilan besok, untuk mengatakan dan menceritakan kepada pengadilan apa yang terjadi terhadap Deli kalau bertemu dengan Ranti.


"Lah kok jadi dia yang memberikan perintah ke gue. Harusnya gue yang memberikan perintah ke elo. Aneh loe" ujar Frans menanggapi perintah yang diberikan oleh Iwan kepada dirinya. Frans tidak menyangka kalau Iwan akan memberikan perintah kepada dirinya untuk pergi ke pengadilan, seperti apa yang dikatakan oleh Iwan sebentar ini kepada Frans.


"Lah gue mana tau pengadilan. Kalau gue tau, gue yang ke sana Frans. Aneh loe" kata Iwan yang tidak mau disalahkan oleh Frans karena sudah memberikan perintah kepada Frans untuk ke pengadilan besok pagi.

__ADS_1


"Kalau loe tau, loe bisa jadi pengacara dong" ujar Frans menanggapi pernyataan yang dikatakan oleh Iwan sebentar ini. Tanggapan dengan nada lelucon ciri khas Frans kalau menanggapi sesuatu yang lucu yang diberikan oleh seseorang kepada dirinya.


"Rencana, gue kuliah dulu" kata Iwan menanggapi apa yang dikatakan oleh Frans kepada dirinya sebentar ini.


"Ha ha ha ha ha ha. Oke sip. Loe kuliah dulu, setelah itu kita berdua bisa jadi partner andalan dalam menghadapi kasus yang diberikan client kepada kita nantinya" ujar Frans yang menanggapi apa yang dikatakan oleh Iwan tadi kepada dirinya. Iwan dengan percaya dirinya mengatakan kepada Frans kalau dia akan mendaftar kuliah di jalur hukum seperti kuliah Frans sebelumnya.


"Oke loe tunggu gue tamat ya baru kita jadi tandem" ujar Iwan kepada Frans.


"Hadeh, kalian berdua emang nggak bisa nengok hal hal yang bisa dijadikan bullyan. Aneh" kata Danu yang melihat kedua sahabatnya itu akan langsung hajar setiap ada peluang untuk mulai mengatakan hal hal yang tidak penting.


"Tapi ya Frans gimana modelnya anak teknik kayak gue ini, harus kuliah di hukum"  kata Iwan yang baru sadar kalau yang dia katakan barusan adalah sesuatu  yang akan sulit diwujudkan.


"Yah gue nggak jadi kuliah hukum. Bakalan nggak selesai itu kuliah" jawab Iwan yang baru sadar kalau dia tidak akan bisa menyelesaikan perkuliahannya di bidang yang sama dengan Frans.


"Itu kuliah bukan gue banget. Nggak mungkin kan gue ke sekolah pakaian formal. Waduah nggak bisa gue membayangkannya" lanjut Iwan dengan bulu kuduk yang sudah meremang gara gara mengingat dia yang akan kuliah di hukum sambil membaca buku kuliah yang tebal tebal itu. Iwan tidak sanggup untuk kegiatan seperti itu.


"Udah udah jangan kuliah S1 aja yang loe pikir sekarang. Kalau loe mau kuliah noh ambil S2, biar gue ada staff yang S2 arsitektur" ujar Danu meminta Iwan untuk memikirkan kuliah S2 nya saja, tidak mengulang kembali kuliah S1 dengan jurusan yang berbeda.

__ADS_1


"Ogah gue mah kuliah lagi.Udah cukup kuliah enam tahun kemaren. Nggak cukup kuat gue untuk mengulang hal yang sama sekian tahun ke depan.Bisa setengah gila gue nanti" ujar Iwan menjawab alternatif pilihan lanjut S2 yang diberikan oleh Danu sebentar ini.


"Udah mari kita lanjut pembahasan tentang persaksian tadi.Siapa saja saksi yang akan dihadirkan oleh Danu. Nggak usah bahas tentang kuliah untuk gue lagi. Capek enam tahun maren belum hilang" kata Iwan yang berniat mengembalikan pembicaraan mereka bertiga ke jalur yang semestinya.Bukan jalur perkuliahan seperti yang sedang mereka bicarakan sekarang.


Frans melirik Danu dan memajukan mulutnya seakan memberikan kode kepada Danu kalau Iwan sedang berusaha mengalihkan pembicaraan mereka ke arah yang lain. Danu mangangguk dan setuju dengan apa yang dikatakan oleh Frans melalui kode mata.


"Jadi siapa aja saksi yang akan kamu bawa untuk menghadapi Ranti di pengadilan itu?" ujar Frans kembali menanyakan kepada Danu siapa saja saksi yang akan di bawa oleh Danu ke pengadilan.


"Pertama gue akan bawa bibik di rumah untuk saksi. Setelah itu Iwan dan Ivan." jawab Danu yang sudah menetapkan siapa saja saksi yang akan dibawa oleh dirinya untuk sidang perceraiannya itu


"Selain mereka bertiga, gue juga udah minta ke Ivan untuk memberikan rekaman sewaktu kami menangkap basah Ranti sedang dengan selingkuhannya dan juga rekaman cctv di rumah gue sendiri. Itu akan gue jadikan bukti untuk maju dipersidangan ini" lanjut Danu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Frans kepada dirinya.


"Gue rasa kita harus memajukan pembantu di rumah kamu sebagai saksi yang pertama. Kalau di rasa saksi itu masih kurang, kita akan lanjut dengan Iwan dan Ivan. Terakhir rekaman video. Kalau dia masih membantah, barulah Deli kita majukan sebagai saksi kunci" kata Frans menyusun strategi yang akan dilakukan saat mereka maju di pengadilan.


"Gue setuju dengan apa yang loe katakan. Sepertinya Ranti tidak akan dengan mudah mengabulkan keinginan gue untuk menceraikan dia" kata Danu yang mendengar dari Iwan kalau sewaktu Danu pergi ke negara U mengantarkan keluarganya untuk tinggal di sana untuk sementara waktu, ranti datang ke perusahaan dan sempat marah marah kepada Iwan.


"Kok lo ngomong gitu?" tanya Frans yang tidak mengerti kenapa Danu sampai berkata seperti itu sebentar ini.

__ADS_1


"Ya sewaktu gue pergi mengantarkan Deli dan kedua orang tua gue ke negara U, Dia datang ke perusahaan dan bertemu dengan Iwan" kata Danu menceritakan sekilas tentang kedatangan Ranti ke perusahaan saat dia tidak berada di perusahaan.


__ADS_2