
Paman dan Danu sudah berada di dalam mobil. Danu kemudian mengemudikan mobil Pamannya itu menuju luar kota di mana kedua orang tuanya tinggal. Danu mengemudikan mobil dalam kecepatan tinggi. Dia tidak ingin Ranti datang terlebih dahulu ke rumah orang tuanya itu. Danu tidak ingin kehilangan Deli walaupun Deli bukan anak kandungnya.
Danu mengemudikan mobilnya dalam kecepatan lumayan tinggi. Paman sendiri tidak mempermasalahkan hal itu selagi jalanan tidak ramai. Tapi kalau jalanan dalam kondisi ramai, Paman akan melarang Danu untuk melaju dengan kecepatan tinggi.
"Paman, apa menurut Paman pemikiran Ranti akan sampai ke sana?" tanya Danu membuka obrolan dengan Paman.
Mereka berdua sudah lama cukup terdiam dan sibuk dengan pikiran masing masing. Danu yang sudah mulai tidak betah dengan keheningan yang ada mulai mengajak Paman mengobrol santai.
"Kalau pemikiran Ranti tidak akan sampai ke sana. Dia aja ntah ingat ntah nggak punya anak. Tapi kalau pemikiran orang dibelakangnya bisa jadi." ujar Paman menjawab perkataan dari Danu.
"Kamu tau sendirikan ya, orang di belakang Ranti bukan orang sembarangan. Dia pengusaha sukses." ujar Paman mengingatkan siapa yang berada di belakang Ranti untuk saat ini.
"Bener juga ya Paman. Semoga dia setelah bercerai dengan aku menemukan kehidupannya yang baru dengan pasangannya yang pas" ujar Danu masih mendoakan kebaikan untuk Ranti
"Aamiin, semoga doa baik kamu terwujud Danu" ujar Paman mengaminkan semua doa yang baik diberikan oleh Danu kepada Ranti yang selama ini telah berbuat dholim kepada Danu dan Deli.
"Paman, aku tidak tau dimana Vina berada sekarang. Lagian menurut aku lebih baik Papi dan Mami juga ikut dengan Deli. Jadi, saat Ranti ke rumah, dia melihat rumah dalam keadaan kosong" ujar Danu yang lebih memilih untuk membawa kedua orang tuanya langsung ke tempat yang baru dan aman bagi Deli.
Paman terlihat berpikir sesaat. Dia memikirkan hal yang disebutkan oleh Danu dengan seksama. Paman juga tidak ingin membahayakan kakak dan kakak iparnya itu.
"Bener juga kamu Danu. Kita akan bawa kakak dan juga kakak ipar pergi dari sana Paman takut Ranti akan melakukan hal di luar batas kewajaran." ujar Paman.
"Tapi kemana ya Paman. Kalau ke apartemen Paman, aku yakin Ranti akan mudah mengetahuinya" ujar Danu yang tidak tahu kalau Pamannya suda pindah ke panthouse.
"Kakak Paman itu punya rumah peristirahatan yang tidak kita ketahui Danu. Kita serahkan saja sama dia" ujar Paman memberitahukan suatu hal yang tidak diketahui oleh Danu selama ini.
"Paman yakin, saat kita menyampaikan hal ini kepada Papi kamu, dia akan langsung tahu kemana dia akan pergi. Kamu jangan cemas. Serahkan saja kepada Papi kamu itu Danu" ujar Paman yang sangat mengenal saudara kandungnya itu.
"Semoga Papi memiliki satu tempat yang tidak diketahui orang banyak Paman" ujar Danu yang berharap hal itu bisa terjadi. Danu tidak tahu lagi mau menempatkan Deli dan kedua orang tuanya dimana Kalau di hotel akan semakin mudah bagi Ranti untuk melacak keberadaan Deli.
__ADS_1
"aku nggak bisa bayangkan gimana hancurnya hati Deli kalau dia sampai diculik ibu kandungnya sendiri Paman. Ibu kandung yang hanya melahirkannya saja tanpa pernah membesarkannya dengan cara sebagai seorang ibu." ujar Danu sambil tetap fokus menyetir mobilnya.
Semua gambar gambar Deli yang kadang mencari perhatian dari Ranti, kembali berseliweran di otaknya. Wajah sedih Deli saat diacuhkan oleh Ibunya, wajah kecewa Deli. Semuanya berputar di otak Danu.
"Aku tidak ingin Deli kembali tersiksa. Sudah cukup semuanya dilalui oleh Deli selama ini Paman." lanjut Danu yang sudah paham bagaimana menderitanya Deli.
"Paman yakin kalau Papi kamu memiliki tempat untuk mereka pergi dari rumah Danu" jawab Paman sambik menguap karena sudah jam tidur Paman seharusnya saat ini. Tetapi karena Keponakannya membutuhkan bantuan dari dirinya, makanya Paman berusaha menahan kantuk tersebut.
Mereka sudah jauh meninggalkan ibu kota. Mobil yang dikemudikan oleh Danu sudah berada di dalam jalanan menuju rumah Papi dan Mami yang terletak di pinggiran ibu kota itu.
Paman sudah tertidur dari sejam yang lalu. Sedangkan Danu masih berusaha menahan kantuk nya untuk membawa mobil menuju rumah Papi dan Mami yang hanya tinggal sekitar setengah jam perjalanan lagi.
Danu kemudian menghubungi Vina. Dia ingin mencari kawan untuk diajak ngobrol sebelum dia benar benar ngantuk berat. Vina yang sedang sibuk melayani para pengunjung yang melakukan pembayaran tidak mendengar suara ponsel miliknya.
"pasti dia sedang sibuk, tadi katanya dia akan mengelola kafe hari ini" ujar Danu yang mengingat apa yang dikatakan oleh Vina tadi sebelum dia berangkat ke perusahaan.
"Siapa lagi ya korban yang harus gue hubungi untuk menghilangkan rasa kantuk ini ya?" ujar Danu yang memang sudah susah untuk melawan kantuk nya.
Pas bertepatan dengan Danu memikirkan siapa yang akan dihubungi nya, ponsel miliknya tiba tiba berbunyi. Danu melihat nama Iwan tertera di layar ponsel miliknya. Kebetulan sekali Iwan melakukan panggilan video, jadi Danu bisa menghilangkan kantuk nya sejenak.
"Hallo Wan" ujar Danu melihat Iwan yang sudah berada di rumahnya.
"Loe dimana Dan? Seperti di atas mobil, tapi bukan mobil elo" ujar Iwan melihat keadaan di belakang Danu.
"Mobil Paman gue. Loe dimana?" tanya Danu kepada Iwan kembali.
"Udah di rumah. Loe mau kemana sama Paman?" tanya Iwan sambil melihat ke arah Danu yang sedang konsentrasi menyetir mobil.
"ke rumah Papi dan Mami" jawab Danu.
__ADS_1
"Loh kok mendadak banget. Tadi loe nggak ada ngomong mau ke sana. Kenapa tiba tiba ke sana?" tanya Iwan yang penasaran kenapa Danu dengan mendadak memutuskan untuk pergi ke rumah Papi dan Maminya.
"Tadi gue ke kantor Frans. Kemudian Frans ngomong supaya gue memindahkan Deli dari rumah Papi. Frans takut kalau Ranti menggunakan Deli sebagai alat untuk membuat gue membatalkan gugatan perceraian itu" ujar Danu mengatakan secara ringkas apa yang dikatakan oleh Frans tadi kepada Iwan.
Iwan terlihat berpikir. Mereka sama sekali tidak ada satupun yang sampai pemikirannya ke sana.
"Bener juga Dan. Gue setuju dengan Frans. Jadi, sekarang loe udah dimana?" tanya Iwan kepada Danu
"Bentar lagi sampe. Gue ngantuk berat, jadi bersyukur banget loe nelpon gue. Gue tadi udah nelpon Vina tapi Vina kayaknya sibuk jadi nggak angkat telpon dari gue" kata Danu sambil mengambil air minum miliknya.
"Nggak gantian loe sama Paman bawa mobil?" tanya Iwan.
"Nggak Paman tidur." jawab Danu.
"oh ya Wan. Besok kalau gue nggak hadir loe yang presentasi ya. Lagian sepertinya presiden direktur juga tidak akan hadir besok" ujar Danu memberitahukan kepada Iwan.
Danu sampai sekarang masih beranggapan kalau Iwan sama sekali belum tahu hubungan kekerabatan Danu dengan presiden direktur mereka.
"Oke sip. Besok gue akan meeting. Loe urus aja urusan loe itu dulu. Jangan kasih celah Ranti untuk mendekati Deli. Urusan pekerjaan serahkan ke gue" ujar Iwan yang tidak ingin Danu memikirkan masalah pekerjaan.
Iwan membiarkan Danu untuk fokus kepada masalah perceraiannya. Sedangkan masalah pekerjaan Iwan yang akan mengurus sampai selesai.
" Sip makasi Wan. Gue udah sampai rumah ini." ujar Danu mengatakan kalau dia sudah sampai di rumah
"oke sip. gue mau istirahat dulu" ujar Iwan.
Iwan memutuskan panggilan video itu. Sedangkan Danu membangunkan Paman. Paman yang baru bangun menatap rumah yang dahulunya juga rumah dia. Rumah masa kecil Paman dan Papi saat mereka berlum menjadi seperti sekarang.
Paman dan Danu berjalan menuju pintu rumah. Dau mengetuk pintu tersebut. Papi yang memiliki kebiasaan tidur larut malam, mendengar bunyi ketulan di pintu rumah.
__ADS_1
Papi kemudian mengecek CCTV untuk melihat siapa yang datang. Saat Papi melihat adiknya dan juga anaknya yang datang, barulah Papi berjalan membukakan pintu rumah untuk kedua orang itu.