
"Sudah sudah sekarang mari kita pulang. Hari sudah malam." ujar Danu yang melihat jarum jam tangannya menunjukkan pukul sembilan malam.
"What sudah jam sembilan??????" teriak Frans saat melihat jam berapa hari sekarang.
"Emang kenapa?" tanya Danu kepada Frans yang main teriak saja saat melihat jarum jam tangannya
"Gimana nggak teriak gue. Gue ada janji sama keluarga gue untuk pergi makan malam keluar. Tetapi karena kita keasikan ngobrol jadi lupa" jawab Frans sambil menatap lesu.
Frans melihat ponsel miliknya. Dia berharap istrinya menghubungi dari tadi. Tetapi kenyataannya tidak sama sekali. Istrinya sama sekali tidak ada menghubunginya. Ponselnya seperti kuburan saja.
"Gimana? Apa istri kamu nelpon" ujar Danu bertanya kepada Frans.
Danu sedikit memiliki rasa bersalah dalam hatinya. Karena mereka mengobrol lama membuat Frans sampai lupa dengan janji yang harus dipenuhinya saat ini kepada putri dan istrinya itu.
"Tidak dia sama sekali tidak nelpon. Tapi gue tau siapa dia. Dia tau gue kerja. Jadi dia nggak akan marah." ujar Frans menjawab lebih lengkap pertanyaan yang diajukan oleh Danu kepada dirinya.
Frans mengerti kalau Danu pasti cemas Frans akan ribut dengan istrinya karena lupa untuk pergi ke mall sesuai janji mereka.
"Oh baiklah. Kalau gitu mari kita pulang"
Mereka bertiga kemudian meninggalkan gedung pengacara terkenal tersebut. Frans masuk ke dalam mobilnya dan langsung menginjak gas lebih dalam dari pada biasanya.
"Wow tu anak ngebut" kata Iwan saat melihat mobil Frans melaju dengan kecepatan penuh
"Dia pasti segan dengan anak dan istrinya. Makanya dia ingin cepat sampai di rumah" jawab Danu
Danu juga tidak sabaran untuk melakukan hal itu. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana harmonis dan bahagianya keluarga yang akan dibangunnya sebentar lagi dengan Vina. Bagi Danu itu adalah sebuah kebahagiaan yang tiada taranya. Dia benar benar akan menjalani kehidupan berumah tangga sesungguhnya
__ADS_1
"apa yang ada dalam otak lo?" tanya Iwan saat melihat Danu yang duduk di sebelahnya melamun dengan lamunan panjang
"nggak ada" jawab Danu berbohong kepada iwan
"Pake bohong pula" jawab Iwan sambil melihat ke arah Danu yang nampak dengan sangat jelas sedangĀ berbohong kepada Iwan.
"Haha haha haha. Gue tadi ngebayangkan kalau gue berumah tangga dengan Vina pasti juga akan sebahagia Frans"
Danu akhirnya mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya kepada Iwan sahabat baiknya itu.
"Amiin gue tolong dengan doa" kata Iwan menjawab apa yang diinginkan oleh Danu.
Iwan melajukan mobilnya menuju rumah pribadi Iwan. Dia malam ini akan menginap di rumahnya karena besok subuh harus ke bandara menjemput Ivan yang akan mendarat pukul empat dini hari di bandara.
"Jadi besok loe jam berapa pergi menjemput Ivan?" tanya Danu sambil menatap lurus ke depan.
"Jam tiga dari rumah. Kenapa?" tanya Iwan balik bertanya kepada Danu.
"Tapi besok ada meeting penting?" ujar Iwan mengingatkan Danu akan meeting penting tersebut.
"Paman aja mewakili" jawab Danu
"Oke"
Iwan tidak mau berdebat lagi dengan Danu. Malahan dia sangat bersyukur Danu mau pergi. Jadi, dia tidak perlu repot repot membawa mobil di pagi buta seperti itu. Apalagi kondisii Iwan kurang fit untuk membawa mobil.
"Danu, kita singgah di warung sate atau pical ayam dulu ya. Gue laper" ujar Iwan yang memang sudah sangat kelaperan karena terakhir makan adalah makan siang di rumah Frans. Setelah itu sama sekali tidak ada makan.
__ADS_1
"Cacing dalam perut gue udah demo" lanjut Iwan meyakinkan Danu kalau dia sudah sangat kelaperan sehingga semua binatang yang ada di lambung dan usus Iwan sudah berontak ingin diberi makan malam.
"Sama gue juga udah kelaperan. Gue kira elo nggak laper, makanya gue segan untuk bawa loe makan malam. Ternyata tingkat kelaperan kita berdua sama" lanjut Danu juga mengakui kalau dirinya sudah dari tadi kelaperan tetapi segan untuk mengatakan kepada Iwan.
"Gaya loe. Makan pical ayam aja ya. Sate kayaknya nggak mempan"
"Setuju" jawab Danu yang langsung saja menyetujui ajakan Iwan untuk makan pical ayam saja karena memakai nasi dan Danu juga bisa nambah kalau masih lapar.
Iwan mulai mengarhkan mobilnya menuju arah yang berbeda. Niat pertama dia mau langsung ke rumah pribadinya jadi gagal karena Danu mengajak Iwan untuk menginap di rumahnya. Sehingga arah mobil harus putar balik lagi. Untung saja perjalanan belum jauh, sehingga Iwan tidak perlu terlalu jauh berputar.
"Kita makan dimana Dan?" tanya Iwan saat mereka sudah sampai di tempat para penjual kaki lima yang memenuhi kiri dan kanan badan jalan pada malam hari.
Kawasan itu memang dikhususkan untuk para penjual kaki lima dua ruas jalan di penuhi oleh para pedagang kaki lima. Semua jenis makanan ada di sana. Mulai dari bakso, nasi dan mie goreng, mie ayam, soto, sate, pical ayam, apapun nama makanan yang biasa di makan oleh manusia pada malam hari ada di sana. Sepanjang mata memandang akan terlihat warung warung dengan tenda biru. Walaupun makanan yang dijual di sana banyak yang seragam tetapi antar pedagang tidak ada saling cemburu, mereka memegang prinsip kalau rezeki sudah ada yang mengatur. Jadi jangan heran di sana tidak pernah terjadi keributan. Malahan yang lebih kerennya, apabila salah satu pedagang misalnya pedagang bakso sudah habis jualannya, maka pedagang bakso itu akan membantu menjual bakso kawannya yang lain dengan cara menutup lapak baksonya dan pedagang itu pergi membantu pedagang bakso yang dagangannya masih ada. Sisi toleransi yang memang harus di contoh oleh pedagang di tempat lain.
"Di tenda biru yang nomor dua dari ujung sana aja" kata Danu memberitahukan kepada Iwan dimana letak langganannya saat dirinya makan di tempat tersebut.
"Kita parkir di sini aja, siap itu jalan ke sana" lanjut Danu mengatakan kalau mereka tidak bisa atau tidak diperbolehkan untuk membawa mobil ke tempat para pedagang yang ada di sana.
Iwan memarkir mobil di tempat parkir yang kosong. Setelah itu Danu dan Iwan turun dari mobil dan berjalan menuju pedagang yang berjejer di sana. Danu sudah memilih mau makan apa sekarang. Jadi dia hanya tinggal berjalan ke sana. Tanpa pusing memilih untuk makan di mana.
"Emang di sana enak Dan?" tanya Iwan kepada Danu.
"Enak banget. Semua makanan di sini pada dasarnya sangat enak. Tetapi di situ lebih enak dari pada di tempat lainnya" jawab Danu sambil berjalan dan melihat ke kiri dan kanan.
Semua tempat makan dipenuhi oleh orang orang yang baru pulang kerja tetapi tidak sempat memasak makanan. Sehingga mereka memilih untuk makan di sini saja. Selain murah juga gampang dan tidak perlu memasak sampai di rumah.
"Gila ramenya pengunjung" ujar Iwan saat melihat begitu ramainya orang orang yang makan di sana.
__ADS_1
"Ya selain kawasannya mudah di jangkau, harga juga nyaman di dompet" jawab Danu sambil masuk ke sebuah warung dengan tenda biru.
Saat itulah Danu kaget melihat seseorang yang sedang duduk juga di sana.