Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pembicaraan Vina dan Maya


__ADS_3

"Deli, tidur dimana Vin?" tanya Maya yang baru pulang dari kafe dan melihat Vina sendirian duduk di sofa sambil menonton televisi.


Sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh Vina dan Maya. Televisi di rumah mereka biasanya selama ini hanya digunakan sebagai pajangan saja. Televisi itu bisa dihitung dengan jari berapa kali hidup dalam setahun. Benar benar langka kalau bisa melihat Maya atau Vina menonton televisi di rumah mereka.


"Eh loe udah pulang" ujar Vina saat mendengar suara Maya.


Maya kemudian duduk di sebelah Vina. Maya mengambil sepotong puding coklat yang dimakan oleh Vina.


"Deli nginap dimana sekarang?"


Maya kembali mengulang pertanyaannya kepada Vina. Maya mengulang sampai dua kali pertanyaan yang sama itu kepada Vina.


"Deli tidur di rumah Sari katanya." jawab Vina sambil melihat ke arah televisi.


"Kok bisa?"


Maya memberikan tanggapan yang sebenarnya tidak perlu diucapkan oleh Maya kepada Vina. Maya sudah tau pasti apa alasan yang membuat Deli mau menginap di rumah Sari.


"Nggak tau juga. Tadi Deli kan gue ajak ke perusahaan. Terus pas pulang, kami ketemu dengan Sari yang datang ke perusahaan untuk mengambil beberapa dokumen" ujar Vina mulai menceritakan kepada Maya bagaimana Deli yang akhirnya bisa pergi dengan Sari ke rumah Sari untuk menginap di rumah tersebut.


"Nah saat itu Sari dengan gampangnya menanyakan kepada Deli apa Deli mau menginap di rumah Sari malam ini." lanjut Vina menceritakan siapa yang terlebih dahulu mengajak Deli untuk menginap di rumah Sari.


"Tau nggak loe May, apa jawaban yang diberikan oleh Deli kepada Sari?" tanya Vina kepada Maya.


Maya menggeleng. Maya sudah sangat bisa membayangkan dan mengira jawaban apa yang akan diberikan oleh Deli kepada Sari, tetapi supaya Vina merasa senang makanya Maya memilih untuk menggeleng.


"Deli dengan gampangnya ngomong. Bolehlah aunty Sari. Deli akan menginap di rumah aunty malam ini" ujar Vina menirukan jawaban yang diberikan oleh Deli kepada Sari.

__ADS_1


"Serius loe kalau itu jawaban yang diberikan oleh Deli kepada Sari?" ujar Maya menanyakan kembali kepada Vina tentang jawaban yang diberikan oleh Deli kepada Sari, saat menerima ajakan Sari untuk menginap di rumah Sari.


"Serius gue, persis apa yang gue katakan ke elo, itu jawaban yang diberikan oleh Deli kepada Sari." kata Vina meyakinkan Maya kalau memang itulah jawaban yang diberikan oleh Deli kepada Sari.


"Haha haha haha, tu anak bener benerlah ya. Jawabannya tidak pernah bisa kita menebaknya" Maya memberikan komentarnya atas jawaban yang diberikan oleh Deli kepada Sari.


"Gimana kafe May?" Tanya Vina yang tiba tiba ingat dengan kafe milik mereka bertiga tetapi dikelola oleh Maya dan kadang kadang kalau kerjaan di perusahaan tidak banyak maka Vina dan Sari pasti akan datang untuk membantu Maya di kafe.


"Untuk pagi, luar biasa rame. Hal yang sama juga terjadi sampai malam. Semua bahan yang dibeli tadi pagi ke pasar sampai sampai tidak cukup untuk sampai malam." kata Maya memberitahukan kepada Vina tentang keadaan kafe milik mereka.


"Wow, terus siapa yang ke pasar lagi?" tanya Vina yang penasaran dengan berita yang dikabarkan oleh Maya kepada dirinya.


"Ini kan baru, stok yang kita beli sampai tidak cukup untuk menutupi permintaan pelanggan. Berarti jumlah pengunjung yang datang sehari tadi melebihi apa yang kita targetkan berarti?" ujar Vina sambil melihat ke arah Maya.


"Yup. Makanya tadi saat stok sudah menipis, gue meminta Pak Hans untuk berbelanja ke pasar dengan Bik Ima dan Rina. Mereka membeli setengah belanjaan dari belanja yang dilakukan pagi tadi" kata Maya memberitahukan kepada Vina berapa tambahan belanja bahan mentah sesi kedua pada hari ini.


"Terus habis?" tanya Vina


"Sepertinya kita harus memberikan bonus kepada karyawan atas kerja kerasnya pada hari ini." kata Vina


"Apa loe setuju?" lanjut Vina bertanya kepada Maya apakah Maya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Vina


"Atau loe ada versi lainnya untuk menghargai kerja keras karyawan sehari kemarin?" ujar Vina yang berharap Maya ada ide lain selain ide yang diberikan oleh Vina.


Maya terlihat berpikir sesaat, Maya sama sekali tidak menemukan ide untuk memberikan jenis penghargaan lainnya kepada karyawan selain dengan memberikan bonus.


"Berikan bonus aja" jawab Maya yang pada akhirnya setuju dengan ide yang diberikan oleh Vina kepada dirinya.

__ADS_1


"Uang aja gitu?" lanjut Maya yang tidak tahu akan memberikan reward berupa apa kepada semua karyawannya yang telah berhasil melampaui target yang diberikan untuk penjualan pada hari ini.


Biasanya semua karyawan juga menjual melebihi target yang ditetapkan oleh Maya. Tetapi kali ini target yang berlebih seratus persen dari target yang dipasang oleh Maya dan Vina. Sebenarnya Maya dan Vina memberi target kepada karyawan di kafe bukan karena apa apa, tetapi murni untuk menjadi motivasi mereka dalam melakukan pekerjaan mereka sehari hari.


"Ada loe bawa pendapatan hari ini setelah di keluarkan untuk membeli bahan baku untuk besok?" ujar Vina sambil melihat ke layar televisin.


"Pendapatan hari ini gue bawa dalam tas, sudah pendapatan bersih. Untuk membeli bahan bahan yang akan di masak besok juga sudah gue sisihkan, untuk mengembalikan modal juga udah gue sisihkan" kata Maya memberitahukan kepada Vina kalau dia membawa pulang pendapatan bersih pada hari ini.


"Udah loe hitung berapa?" tanya Vina kembali


"Mana pernah gue itung berapa untung kita dalam sehari. Gue gulung kertas terus masukin brankas, selesai masalah" ujar Maya yang memang sama sekali tidak pernah menghitung berapa sisa dari penjualan yang sudah menjadi hak mereka bertiga.


Mereka bertiga memang sepakat untuk membagi hasil penjualan di akhir tahun, sesuai dengan berapa persen menanam saham di kafe tersebut.


"Kalau begitu kasih lima puluh dolar saja per orangnya" kata Vina memberikan usul berapa yang akan diberikan oleh Maya kepada semua pekerja mereka besok


"Oke, lima puluh dolar masing masingnya" kata Maya yang sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Vina.


Maya mengambil uang pendapatan kafe pada hari ini dari dalam tasnya. Maya mengambil uang sejumlah pegawai yang ada di kafe.


"Oke ini untuk para pelayan" ujar Maya setelah mengambil uang sesuai dengan yang dibutuhkan untuk dibagikan kepada pelayan esok hari sebagai reward atas kerja keras para pelayan.


"Sip. Sisanya baru masuk brankas. Jangan lupa dana tak terduga harus kamu sisihkan juga" kata Vina mengingatkan Maya untuk menyisihkan dana tak terduga setiap harinya.


"Siap ibuk direktur sudah saya lakukan" kata Maya yang sangat suka melihat betapa cekatannya Vina dalam mengurus semuanya.


Vina bisa mengingat dengan pasti apa apa saja yang harus dikerjakannya dalam hari itu. Vina benar benar tersusun dengan rapi dalam melakukan suatu kegiatan. Sehingga tidak ada waktu yang terbuang percuma hanya karena Vina tidak bisa membagi jadwalnya.

__ADS_1


Vina dan Maya kemudian melanjutkan percakapan mereka berdua. Vina dan Maya membahas tentang perluasan kafe mereka yang akan dilakukan bulan depan. Vina sudah mencarikan tukang yang akan mengerjakan perluasan kafe itu, tukang yang sama dengan yang membangun kafe pertama sekali.


Kafe di perluas karena bangunannya sudah tidak lagi bisa menampung setiap pengunjung yang datang ke kafe itu. Konsep yang dibuat oleh Ivan untuk perluasan kafe adalah konsep semi indor. Ivan sengaja membangun dengan gaya seperti itu supaya saat musim panas, orang orang yang datang ke kafe tidak merasa kepanasan. Sedangkan pada saat musim dingin, para pengunjung tidak harus kedinginan saat mereka berada di kafe itu.


__ADS_2