
Vina dan Maya telah selesai bersiap siap. Dina mantan karyawan Vina akan melanjutkan usaha yang telah dirintas Maya dan Vina. Dina sudah bisa membuat aneka jajanan pasar dan juga makanan yang sudah biasa dijual Maya dan Vina di warung mereka.
Mobil jemputan perusahaan sudah menunggu mereka. Pak Sopir memasukan semua koper koper milik Vina dan Maya. Koper koper yang berjumlah empat koper besar dan dua joper kecil serta satu kardus besar yang berisi buku buku arsitek milik Vina.
Setelah semua barang naik ke atas mobil, Vina dan Maya baru masuk ke dalam mobil.
"Siap berangkat Nona?" tanya Pak Sopir dengan santun.
"Siap Pak." jawab Vina dengan pasti.
Nobil bergerak menuju Banda ibu kota. Vina menatap dari balik kaca jendela mobil daerah yang dulunya menjadi cita citanya untuk mencari nafkah sewaktu masih tinggal di kampung. Sekarang daerah itu harus ditinggalkannya demi mendamaikan hatinha yang terasa perih karena ditipu mentah mentah oleh seseorang yang dicintainya. Vina tau bahwasanya tidak seratus elpersen kesahalan pria yang dicintainya. Tetapi Vina lebih memilih pergi dari pada mendengar semua cerita tentang Danu dan istrinya itu.
"May, apa kamu udah ngomong dengan Ivan?" Vina teringat dengan nasib percintaan sahabatnya yang baru akan dimulai.
Vina tidak mau hanya karena keegoisannya pengen lari dari semua cerita buruk itu membuat satu satunya sahabat yang dia miliki harus berkorban demi dirinya.
"Loe tenang aja. Gue udah ngomong sama dia. Dia maklum kok. Lie adalah sahabat gue, jadi dia paham akan hal itu." kata Maya sambil tersenyum meyakinkan Vina.
'Oh Tuhan maafkan aku karena sudah berbohong kepada sahabat ku ini. Maafkan aku Tuhan, aku tidak mungkin membiarkan dia pergi sendirian di tengah tengah perasaannya yang sedang sakit.' kata Vina di dalam hatinya.
Ntah kenapa Vina sedikit tidak percaya dengan ucapan Maya. Tetapi dia hanya bisa diam saja. Semoga pilihannya kali ini terbaik untuk dirinya dan juga Maya.
Tak terasam mereka sudah sampai di bandara. Mobil perusahaan itu bisa memakusi landasan pesawat.
"Loh Pak, kenapa kita ke bandara yang ini bukan yang satu lagi. Setau saya ini adalah bandara untuk pesawat pribadi." kata Vina sambil meyakinkan kembali penglihatannya.
"Benar Nona Vina. Bandara ini adalah bandara untuk pesawat pribadi. Nona Vina dan Nona Maya akan terbang dengan pesawat milik perusahaan bukan pesawat komersil." kata Pak Sopir menjelaskan semuanya kepada Vina.
"Oh baiklah Pak, saya tidak mengetahui perihal itu. Jadi terimakasih atas infonya." kata Vina sambil tersenyum ke arah sopir.
Vina dan Maya turun dari atas mobil. Terlihat satu irang porter dan juga sopir tadi menurunkan semua barang barang milik Vina. Mereka memasukan semua barang ke dalam pesawat.
Setelah melihat semua barangnya telah masuk ke dalam pesawat Vina dan Maya naik ke pesawat. Mereka berdua disambut dengan senyuman oleh semua kru pesawat. Ternyata hari itu tidak hanya mereka berdua saja penumpang pesawat, ada satu orang lagi seorang wanita yang sepertinya juga bekerja di perusahaan milik direktur tempat Vina bekerja sebelumnya.
Saat melihat Vina dan Maya masuk ke dalam pesawat, wanita itu langsung berdiri. Dia menundukkan kepalanya ke arah Vina dan tersenyum kepada Maya.
"Perkenalkan Nona Vina, nama saya Sari, saya adalah sekretaris Anda saat anda menjadi wakil direktur di perusahaan CT Grub." ujar wanita cantik itu memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Wakil direktur?" tanya Vina dengan nada suara keheranan.
"Benar Nona. Nona adalah wakil direktur kami yang baru. Kalau Nona tidak percaya silahkan Nona melihat surat yang di serahkan Tuan Alex kemaren." ujar Sari berusaha meyakinkan Vina.
Vina membuka map yang dari semalam tidak dibacanya itu. Betapa terkejutnya Vina dan Maya. Pada surat itu tertulis jabatan Vina sebagai wakil direktur perusahaan.
"Maafkan saya Nona Sari, saya belum membaca surat ini dari kemaren. Saya sibuk mengurus semua barang barang yang akan saya bawa pindah." jawab Vina yang menyesal karena kealpaannya dia menjadi tidak tau tentang isi surat itu.
"Tidak apa apa Nona. Saya akan selalu membantu Nona. Jadi jangan sungkan Nona." ujar Sari yang paham betul kenapa Vina tidak sempat membaca surat itu.
"Satu lagi Nona tolong jangan panggil saya dengan sebutan Nona Sari, saya adalah sekretaris Nona. Jadi panggil saja saya dengan nama saya." lanjut Sari yang enggan dipanggil dengan Nona.
"Oh baiklah Sari. Saya juga mau kamu memanggil nama saya saat kita diluar urusan perusahaan. Bagaimana apakah kamu setuju?" Vina memberikan pilihan kepada Sari.
"Oke Nona"
"Op Vina" sela Vina kembali.
"Oke Vina" jawab Sari yang masih kaku hanya memanggil nama kepada bosnya.
Maya menoel pinggang Vina. Dia menatap Vina lama.
"Maya"
"Sari"
Mereka berdua berjabat tangab. Maya sangat senang mereka memiliki teman baru di negara U.
Seorang pramugari menghampiri tiga wanita yang sedang sibuk mengobrol itu.
"Permisi Nona Vina, Nona Sari dan Nona Maya, pesawat akan lepas landas jadi silahkan duduk dengan tenang dan memakai sabuk pengaman." ujar pramugari menjelaskan kepada mereka bertiga.
Ketiga wanita itu duduk dengan tenang di kursi mereka masing masing.
Tidak beberapa lama terdengar suara pilot yang memberitahukan kalau pesawat akan terbang selama lima belas jam menuju negara U. Mereka akan transit di bandar UE untuk pengisian bahan bakar. Mereka akan berhenti di sana selama tiga jam.
"Selamat menikmati penerbangan kami kepada penumpang kami yang sedang berbahagia." ujar pilot menutup informasinya.
__ADS_1
"Vin lama banget terbangnya? Sekalinya gue naik pesawat eee terbangnya lama banget pula lima belas jam Vin. Itu terbang atau gimana?" ujar Maya yang membuat Sari tersenyum mendengarnya.
"Hahahahaha. Loe nikmati aja. Anggap aja kita naik rolercoster." jawab Vina.
Saat pesawat akan take off. Maya mencengkram dengan kuat tangan kursinya. Dia membaca semua ayat ayat yang dihafalnya. Ini adalah kali pertama Maya naik pesawat.
Setelah pesawat mengudara barulah Maya terlihat nyaman kembali. Seorang pramugari mendekati Maya.
"Minum dulu Nona. Biar Nona kembali rileks." ujar pramugari itu sambil memberikan Maya sebotol air mineral
Maya menerima air tersebut, dia langsung meminumnya.
"Wah bener bener lah ya. Untung aja jantung gue kuat." ujar Maya yang sudah kembali rileks dan tenang.
Ketiga wanita itu kembali duduk berdekatan. Pesawat sudah mengudara dengan normal kembali.
"Oh ya Sari, kamu di negara U tinggal dengan orang tua?" tanya Vina.
"Tidak Vina. Saya tinggal di apartemen sendirian. Saya tidak orang asli negara U. Saya berasal dari negara I sama dengan kalian berdua. Makanya saya sangat senanh saat tau kalau bos saya yang baru merupakan orang yang senegara dengan saya." kata Sari dengan senangnya.
"Wah akhirnya. Kita ngomong pakai bahasa kita ajam dari tadi gue hanya menjadinpendengar setia. Gue susah untuk ngomong. Kalau masalah paham gue paham. Tapi ngomongnya susah." ujar Maya yang terlihat sangat gembira karena ternyata Sari juga berasal dari negara yang sama dengan mereka.
"Sari karena kamu tinggal di apartemen, ada kah apartemen yang masih kosing di tempat kamu. Kami berdua belum ada tempat tinggal." kata Vina yang teringat kalau mereka belum memiliki tempat tinggal di negara U.
"Wah kalau itu tenang saja Nona Vina. Perusahaan telah menyediakan tempat tinggal untuk direktur dan wakil direktur. Lengkap dengan transportasinya. Istilahnya Nona Vina tinggal duduk manis aja lagi." kata Sari menerangkan tentang tempat tinggal Vina dan Maya selama bekerja di negara U.
"Oh baiklah. Gue bener bener nggak tau dengan semua ini. Nyesel banget gue nggak sempat bertanya ke direktur. Saking senengnya bisa lari dari negara I." kata Vina sambil memijit keningnya yang tidak sakit itu.
Mereka bertiga kemudian mengobrol hal hal yang tidak penting, tetapi penting bagi Vina dan Maya yang baru saja tinggal di negara U.
Setelah lelah mengobrol Vina dan Maya serta Sari memilih untuk beristirahat. Penerbangan masih lama lagi untuk mendarat di bandara negara UE.
Setelah terbang selama tujuh jam pesawat mendarat dengan mulus di bandara negara UE. Hari ternyata disana masih siang.
"Vina, Maya kalian mau nggak jalan jalan di negara UE ini. Kita lumayan lama loh berenti di sini. Jadi mayanlah untuk.lihat lihat negata UE." kata Sari memberikan semangat kepada Vina dan Maya.
"Okelah kalau begitu. Mari pergi." ujar Vina lagi.
__ADS_1
Tiga wanita yang mendadak menjadi sahabat baik itu berjalan mengelilingi negara UE dengan senang hati. Maya dan Vina yang bari pertama kali keluar negeri merasa sangat bahagia berada di sana.