
"Bunda" teriak deli saat dirinya dan Sari turun dari dalam mobil.
"Vin, bukannya itu suara Deli?" ujar Maya yang mendengar teriakan dari Delu yang sudah dua kali.
"Rasanya iya, Deli memang akan ke sini di antar oleh Sari.
"Bunda Deli datang Bunda" ujar Deli kembali berteriak saat melihat tidak ada reaksi yang diberikan oleh orang yang ada di dalam rumah atas teriakannya yang pertama, sehingga membuat Deli harus kembali berteriak saat orang di dalam sama sekali tidak mendengar teriakan yang pertama tadi.
Vina kemudian serius mendengar suara yang kembali terdengar itu. Vina sekarang menjadi yakin kalau suara teriakan anak perempuan dari luar adalah suara Deli. Apa lagi anak itu sempat mengatakan kalau nama dia adalah Deli.
Vina berlari keluar dari dalam rumah, dia sangat kangen dengan anak gadisnya itu. Anak gadis yang sudah dikangeni oleh dirinya yang sudah tidak bertemu selama lima hari. Vina benar benar kangen dengan anak kecil itu. Anak kecil yang selalu membuat hati Vina menjadi sangat senang saat bertemu dengan dirinya.
"Sayang bunda beneran kangen sama kamu. Kamu kemana aja coba sayang" ujar Vina yang langsung memeluk gadis kecil itu. Vina memeluk kuat Deli, dia menumpahkan semua rasa kangennya kepada Deli dengan cara memeluk Deli kuat kuat.
"Deli kangen Bunda juga. Deli kemaren ini di mansion nenek dan atuk. Mereka juga kengen Deli. Jadi, mau tidak mau Deli juga harus membagi waktu Deli." ujar Deli sambil memeluk Vina dengan sangat erat. Deli juga menumpahkan rasa rindu dan kangennya kepada Deli.
"Deli nggak boleh egois Bunda. Nenek dan Atuk juga harus bertemu dan bermain dengan Deli. Nanti mereka bersedih karena Deli jarang bermain dengan nenek dan atuk. Deli nggak mau membuat nenek dan atuk bersedih" ujar Deli melanjutkan memberikan penjelasan kepada Vina.
Vina dan Sari yang mendengar penjelasan yang diberikan oleh Deli kepada Vina hanya bisa geleng geleng kepala saja. Mereka berdua tidak menyangka Deli bisa memberikan penjelasan seperti itu, penjelasan yang seharusnya diberikan oleh anak yang tidak seumuran Deli tetapi lebih besar dariĀ pada usia Deli saat sekarang ini.
"Mari masuk, kita bercerita di dalam rumah aja. Bunda udah masak masakan kesukaan kamu dan juga Tante Sari" ujar Vina yang menduga kalau Sari dan Deli belum makan malam di mansion nenek dan atuk
"Serius Bunda? Deli lapar" ujar Deli
Sari menatap ke arah Deli. Padahal di antara Nenek, Atuk, Sari dan Deli, peserta yang paling banyak makan adalah Deli, karena Nenek membuat sambal ayam kecap favorit Deli. Sekarang anak kecil itu dengan percaya dirinya mengatakan kalau dia lapar. Sari nggak habis pikir dengan Deli.
Deli menetap ke arah Sari memberikan kode kepada Sari untuk mengikuti saja apa yang dikatakan oleh Deli. Deli tidak mau membuat Vina merasa bersedih karena, Deli sudah makan dengan kenyang di mansion nenek. Deli tidak mau hal itu terjadi, makanya Deli memutuskan untuk mengatakan kalau dirinya sedang dalam keadaan lapar.
__ADS_1
Mereka bertiga kemudian berjalan ke dalam rumah tempat Vina dan Maya tinggal.
"Mami Maya mana Bun?" ujar Deli yang tidak mellihat keberadaan Maya di dekat mereka.
"Tadi ada di sini saat kamu dan Tante Sari datang." ujar Vina yang juga heran kenapa Maya tiba tiba tidak ada lagi di dalam rumah.
"Palingan ngangkat telpon dari Om Ivan, Del. Maklum sepasang kekasih yang berjauhan." ujar Sari menjawab hal yang paling sangat mungkin sedang dilakukan oleh Maya pada saat ini.
"Bener juga itu Del. Mana mungkin Mami Maya akan kabur tidak jelas. Palingan bener yang dikatakan sama tante Sari. Mami Maya sedang angkat telpon" ujar Vina yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Sari tentang dimana keberadaan Maya pada saat ini.
"Jadi kita makan tanpa Mami Maya?" ujar Deli bertanya kepada Vina dan Sari.
"Kalau kamu mau menunggu Mami Maya boleh juga. Kita akan tunggu Mami Maya keluar dari dalam kamarnya" ujar Vina yang menyerahkan semua keputusan kapan mereka akan makan malam kepada Deli.
"Kita tunggu sebentar lagi ya Bun. Nggak mungkin juga nanti Mami Maya makan sisa sambal yang sudah kita obrak abrik ini" ujar Deli yang sebenarnya mengulur waktu makan malam dengan Vina karena masih kenyang.
"Kita duduk di ruang keluarga dulu ya, sambil menunggu Maya selesai menelpon" ujar Vina mengajak Sari dan Deli ke ruang keluarga
Mereka bertiga kemudian duduk di sofa yang ada di sana.
"Kamu ngapain aja di mansion nenek?" ujar Vina kepada Deli sambil menaruh cemilan yang tadi sudah di letakkan di satu meja yang lumayan jauh dari meja yang ada di ruang keluarga.
"Panen anggur, tengok produksi anggur" jawab Deli mengingat dan memberitahukan kepada Vina apa yang dilakukannya di mansion keluarga.
"Di kebun nenek sangat banyak anggurnya Bunda. Berbagai jenis anggur ada di sana. Bunda harus ke sana, kita panen anggur sama buah buahan lainnya. Nanti bunda bisa bikin cake buah dari buah buah yang kita panen dari kebun. Buah buahan yang segar segar Bunda" ujar Deli yang dengan semangat bercerita kepada Vina tentang kebun buah milik keluarga besarnya itu.
Kebun buah yang memiliki cerita menyedihkan di belakangnya, yang membuat Atuk dan Nenek harus meninggalkan mansion itu dan kembali lagi dalam kurun waktu yang sangat lama. Tetapi Deli tidak perlu mengetahui tentang kejadian apa yang melatarbelakanginya.
__ADS_1
"Oke sayang, kita bisa pergi ke kebun nenek kapan kapan. Kita akan panen buah di kebun nenek siap itu kita akan masak cake juga di sana. Buah yang baru di petik akan memberikan rasa yang berbeda dengan buah buahan yang sudah lama di petik. Bunda sangat suka memetik buah" ujar Vina yang bersemangat untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh Deli tadi.
Vina memang sangat menyukai acara acara memetik buah seperti yang dikatakan oleh Deli kepada dirinya. Vina sangat menunggu waktu itu akan datang. Dia pasti akan mencari waktu kosong untuk mewujudkan apa yang dikatakan oleh Deli kepada dirinya. Vina sangat yakin untuk bisa ke kebun milik keluarga besar Danu dalam minggu besok.
"Minggu besok kita pergi" ujar Vina yang akhirnya memutuskan kapan mereka akan pergi memetik buah dan memasak cake di mansion nenek.
"Bunda serius?" ujar Deli yang sangat bersemangat mendengar apa yang dikatakan oleh Bundanya itu.
"Serius lah. Masak ndak. Bunda akan kosongkan jadwal bunda satu hari pada minggu besok. Tante Sari juga akan ikut dengan kita" kata Vina meyakinkan Deli tentang rencana yang dikatakan oleh Vina tadi memang akan mereka lakukan dalam minggu depan dengan cara mengosongkan jadwal dirinya dan Sari.
"Menurut Bunda, apa kita perlu ajak Mami Maya?" ujar Deli menyebutkan kalimat itu dengan suara yang keras.
Deli sudah melihat Maya yang berjalan dari kamar yang terletak di lantai dua, Deli membesarkan suaranya karena yakin Maya pasti akan mendengar apa yang dikatakan oleh Deli. Deli terlihat sengaja mengatakan hal itu dengan suara lantang. Deli seperti ingin membuat Maya sedikit agak emosi.
"Hay siapa yang nggak akan membawa mami Maya pergi?" ujar Maya yang akhirnya terpancing juga oleh perkataan Deli yang sengaja dibesar besarkan suaranya oleh Deli.
"Mami Maya salah denger kali." ujar Deli pura pura tidak ada mengatakan hal itu.
"Mami Maya denger kok ya" ujar Maya sambil duduk di sebelah sofa yang diduduki oleh Sari.
"Beneran Mami, kami nggak ada ngomong kalau Mami nggak di ajak. Mami di ajak kok" lanjut Deli sambil tersenyum usil.
"Mulai bisa boong" ujar Maya berkata kepada Deli.
"Hehe hehe hehe" Deli tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Mami kepada dirinya.
"Udah udah jangan ribut, sekarang lebih baik kita pergi makan malam. Nanti baru ngobrol lagi" ujar Vina mengajak mereka semua untuk menikmati makan malam yang sudah disiapkan oleh Vina dari tadi sore saat pulang dari perusahaan
__ADS_1