
Setelah puas duduk duduk dan mendengarkan live music di lounge hotel, kelima anak muda yang galau karena hujan tidak mau berhenti dari pagi itu melangkahkan kaki mereka yang berat menuju kamar masing masing.
"Vin, sebenarnya masih banyak yang harus gue beli lagi, tapi kita udah harus balik ke negara U." ujar Maya bercerita sambil memotong kukunya yang sudah panjang itu.
"Jadi, mau kamu gimana? Nambah liburan di sini lagi?" jawab Vina sambil membersihkan wajahnya dari bedak yang menempel.
"Itulah pusing gue." ujar Maya yang nggak tau dia harus ngapain lagi.
Sari yang mendengar percakapan antara Vina dan Maya, memiliki ide kreatif di otaknya.
"Gimana kalau kita nambah sehari lagi?" ujar Sari sambil menatap Vina dan Maya.
"Emang bisa? Tapi perlu kembali keperusahaan?" ujar Vina mengingat mereka harus segera kembali ke perusahaan.
"Bisa hanya untuk sehari. Jadi, kita lusa aja ke kampung. Besok kita kembali belanja." ujar Sari yang sebenarnya masih belum puas di kota J.
"Oke kalau bisa begitu. Kita pulang lusa pagi ke kampung. Supaya barang barang yang kita beli kemaren masih aman, kita belanja di tempat itu lagi. Jadi pas lusa pulang, kita singgah kesitu dan mengambil semua brang yang telah di beli." ujar Vina memutuskan kapan mereka semua akan kembali ke kampung.
"Besok pas sarapan kita ngomong dengan Ivan kamar kita lanjutkan satu malam lagi." lanjut Vina memberikan keputusan final.
"Yes" ujar Sari dan Maya kompak.
Vina geleng geleng kepala melihat kekompakkan dua orang itu untuk urusan main main dan jalan jalan.
"Kalian berdua mah kalau untuk main main kompak. Gue tidur dulu ya." ujar Vina yang sudah mengantuk berat.
Maya dan Sari sambil memandang dan tersenyum. Mereka berdua padahal tidak ada janjian sama sekali untuk negosiasi dengan Vina jadwal kepulangan dan jadwal main di kota J ditambah satu hari lagi.
"Sebenarnya loe masih ada yang mau dibeli May?"
"Memang ada, tapi nggak banyak. Loe mau ngapain di kota J?" ujar Maya balik bertanya kepada Sari.
"Nggak ada, mau main aja. Keliling keliling kota J. Ke pantai, pokoknya banyak lagi keinginan gue yang belun terwujud. Makanya gue setuju nambah satu hari lagi." kata Sari yang sangat ingin keliling kota J sambil memakai andong.
"Oh. Tidur lagi yok. Gw ngantuk." ajak Maya kepada Sari.
__ADS_1
Maya dan Sari naik ke atas kasur. Mereka berdua langsung tertidur saat kepala mereka letakkan di atas bantal. Ketiga wanita bersahabat itu masuk kealam mimpi mereka masing masing.
"Danu jangan Danu" teriak Vina.
"Danu tidak Danu, jangan." teriak Vina satu kali lagi.
Teriakan Vina yang keras itu membangunkan Maya dan Sari yang tidur tepat di sebelah Vina. Maya dan Sari langsung terbangun saat Vina berteriak keras seperti itu.
"Danu jangan." ujar Vina sekali lagi.
Tapi kali ini tidak dengan berteriak. Dia berkata dengan lemah. Maya dan Sari saling pandang mendengar nama siapa yang diucapkan oleh Vina dalam tidur malamnya.
"Danu?" tanya Sari.
Maya mengangguk. "Mantan pacar terindah." jawab Maya sambil tersenyum.
"Danu tidak. Maafkan Aku." ujar Vina sekali lagi dalam tidurnya.
Maya yang kasian dengan Vina, menggoyang goyang badan Vina. Maya tidak tega melihat Vina yang harus terua saja memanggil nama Danu dalam tidurnya.
Vina menggosok matanya. Dia menatap marah ke Maya.
"Ngapain kok bangunin gue tidur. Gue ngantuk Maya." ujar Vina protes karena di ganggu Maya saat beristirahat.
"Loe tadi rasian. Manggil manggil nama Danu. Ada apa?" tanya Maya dengan nada cemas.
Vina melongo tidak percaya. Dia menatap Sari dan bergantian menatap Maya.
"Bener Vin. Loe tadi mimpi manggil manggil nama Danu." kata Sari memperkuat apa yang dikatakan oleh Maya kepada Vina
"Hah? Serius??? Gue nggak ada ngimpi dia. Emang apa yang gue katakan?" tanya Vina penasaran dengan apa yang dikatakannya saat dia rasian tadi. Kalau sampai sesuatu yabg aneh, maka dia akan malu tidak tertahankan saat melihat Maya dan Sari.
"Loe ngomong yang kami denger aja ya. Yang kami nggak denger tentu nggak bisa kami katakan." ujar Sari.
Vina mengangguk.
__ADS_1
"Loe ngomong. Danu maafan aku Danu. Danu jangan Danu. Danu tidak Danu." kata Sari mengucapkan apa yang dikatakan Vina dalam tidurnya.
"Itu yang loe omongin." ujar Sari selanjutnya.
"Serius loe?" ujar Vina yang masih tidak percaya dia bisa mimpi orang yang paling dihindarinya untuk bertemu.
"Serius Vina sayang. Ngapain kami harus boong sama loe. Nggak ada untung dan ruginya juga." kata Sari menjelaskan kembali kepada Vina kalau mereka berdua tidak boong sama Vina
"Haduh kok bisa gue ngomongin tu orang dalam mimpi gue. Aneh banget." ujar Vina yang merasa terganggu sendiri dengan mimpinya sendiri.
"Udahlah Vin, santai aja. Lagian kami berdua juga yang denger. Nggak ada yang lain." kata Sari menenangkan Vina yang terlihat panik dan tidak terima telah rasiankan Danu dalam tidurnya.
"Tapi biasanya Vin, orang yang sampai bisa mimpiin orang dalam tidurnya tanda dia kangen dan rindu sama tu orang. Atau jangan jangan loe sedang rindu kali dengan dia." kata Maya dengan wajah tanpa dosa dan datar tak mengandung ekspresi apapun.
Vina terdiam memikirkan apa yang dikatakan oleh Maya. Dia mencoba memikirkan apakah dia pernah memikirkan Danu akhir akhir inj. Setelah lelah berlikir Vina sampak pada satu kesepakatan yaitu dia tidak pernah memikirkan Danu.
"Apa yang loe pikirkan? Yang gue katakan tadi? Jelas itu ngasal." ujar Maya yang tidak memikirkan ternyata Vina memikirkan apa yang dikatakan oleh dirinya tadi.
"Gue rasa gue nggak ada mikirin Danu akhir akhir ini. Kok bisa ya, gue rasian ke dia. Nggak habis pikir gue." ujar Vina.
"Udah nggak usah pikirin. Mari kita tidur." ujar Sari mengajak Vina dan Maya untuk kembali beristirahat.
"Gue takut tidur. Nanti rasian dia lagi." ujar Vina yang takut untuk bermimpi Danu lagi.
"Loe balik aja bantal. Semoga nggak mimpi dia lagi." ujar Maya memberikan saran kepada Vina.
Vina membalik bantalnya. Dia kemudian merebahkan badannya kembali. Sari dan Maya memperhatikan Vina, apakah dia tertidur atau tidak. Maya dan Sari takut kalau Vina tidak bisa tidur.
"Loe ada ada aja. Jelas dia tidak ingin berhubungan apapun lagi dengan Danu. Bisa bisanya loe ngomong kayak gitu." ujar Sari kepada Maya.
"Gue kira dia nggak bakal mikirin. Eee ternyata prediksi gue meleset." jawab Maya sambil geleng geleng kepala dengan tingkah Vina tadi.
"Makanya besok mikir dulu baru ngomong" ujar Sari.
Maya hanya bisa menggaruk kepalanya. Dia benar benar menyesal setelah mengatakan hal bodoh itu.
__ADS_1
Setelah menunggu selama lima belas menit, Vina ternyata tidak ada lagi bangun atau rasian lagi. Barulah Maya dan Sari memilih untuk kembali tidur.