Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Curhat Vina


__ADS_3

"Sayang udah jam sepuluh, kita pulang lagi yuk, besok kamu kerja pagikan? Belum lagi dokumen yang harus kamu baca masih banyak" ujar Juan mengajak Sari untuk pulang karena sudah larut malam. Tambah lagi mereka harus membaca dokumen dokumen yang masih ada lima lagi yang belum mereka selesaikan


"Oke sayang. Mari kita pulang" jawab Sari setuju untuk pulang ke rumah mereka. Mereka butuh istirahat untuk memulai hari esok dengan kesibukan yang sama.


Sari mengemasi semua barang barangnya. Mereka kemudian menuju mobil, Juan dan Sari masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan rumah Vina. Vina dan Maya menemani sampai ke tepi jalan.


"Kami pulang dulu Vin." ujar Sari melambaikan tangannya ke arah Vina dan Maya. Vina dan Maya membalas lambaian tangan Sari.


Setelah melihat mobil yang dikendarai Juan sudah tidak terlihat lagi, barulah Vina dan Maya masuk kembali ke dalam rumah dan menuju kamar masing masing. Mereka akan beristirahat malam ini. Mereka berdua sudah terlalu lelah setelah menyelesaikan pekerjaan mereka hari ini.


"May, bisa bicara sebentar?" tanya Vina dengan nada serius kepada Maya saat Maya akan membuka pintu kamarnya.


"Bisa, dimana?" tanya Maya yang juga ingin mengobrol dengan Vina tentang perkembangan kafe hari ini.


"Di balkon ajalah" ujar Vina sambil berjalan ke arah balkon luar lantai dua rumah mereka.


Vina dan Maya kemudian duduk di balkon rumah. Balkon yang menghadap ke rumah rumah para manager yang rata rata dihuni oleh para staff yang masih belum memiliki rumah pribadi.


"Ada apa Vin?" tanya Maya saat mereka sudah duduk di balkon sambil menikmati angin malam yang masih belum terlalu dingin untuk orang yang biasa tinggal di daerah tropis seperti Vina dan Maya.


Vina terdiam, dia menatap lama ke arah bangunan bangunan rumah itu. Vina terdiam cukup lama, Vina terlihat berpikir dari mana mau memulai pembicaraan dengan Maya tentang Danu.


"Gue mulai dari mana ya, nggak tau mau mulai dari mana ini?" ujar Vina yang masih ragu mau mulai dari mana pembicaraan antara dirinya dengan Maya.


"Ngomong aja. Masalah Danu?" ujar Maya menebak ke arah mana pembicaraan Vina akan diarahkan.


Vina mengangguk. Dia memang akan bercerita tentang Danu kepada Maya. Tapi, Vina tidak tau harus mulai dari mana bercerita saat ini.


"Ngomong lah. Gue akan denger apa yang mau loe omongin, gue nggak akan menyela sama sekali." ujar Maya meyakinkan Vina untuk menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Danu.


"Tadi pagi saat gue masih tidur, Danu nelpon gue" ujar Vina memulai ceritanya kepada Maya, tentang Danu yang menghubunginya tadi pagi saat dia masih tidur.


"Pagi?" tanya Maya kaget mendengar jam berapa Danu menghubungi Vina tadi.


"Iyup pagi. Gue aja kaget saat dia menghubungi gue" ujar Vina menjawab pertanyaan dari Maya.


"Apa katanya?" tanya Maya yang penasaran dengan apa pembicaraan antara Vina dengan Danu.


FLASHBACK PAGI HARI


Vina masih memeluk guling, karena rasa kantuk dan lelah masih menghantui dirinya. Vina mendengar sayup sayup bunyi panggilan masuk di ponsel miliknya. Vina meraih ponsel tersebut, dia melihat hanya nomor saja yang tampil di layar ponselnya.


Vina melihat jam dinding kamar, jarum jam menunjukkan pukul empat dini hari. Vina memastikan penglihatannya, dia melihat jarum jam memang masih di angka empat, masih belum beranjak sedikitpun.


"Ini orang punya otak nggak sih nelpon subuh subuh" ujar Vina menatap layar ponselnya dengan kesal. Dia benar benar marah dengan orang yang menghubunginya tidak kenal waktu itu.


Panggilan itu berakhir begitu saja. Vina sama sekali tidak berminat untuk mengangkat panggilan dari nomor tersebut. Vina kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas. Vina kembali memejamkan matanya untuk menyambung tidur yang sempat terganggu oleh bunyi ponsel.

__ADS_1


Ternyata orang yang menghubungi Vina, masih mencoba peruntungannya. Ponsel Vina kembali berbunyi saat ia hendak memejamkan matanya untuk kembali tidur.


"Ini orang kekeh banget pengen nelpon" ujar Vina kesal dan mengambil ponselnya di atas nakas.


"Siapa yang nelpon coba. Hari masih gelap gini" ujar Vina sambil menekan tombol hijau di layar ponsel miliknya. Panggilan itu akhirnya terhubung juga.


"Hallo, siapa ya, nelpon nggak nengok waktu gini?" ujar Vina menyapa seseorang yang menghubunginya subuh subuh begini dengan nada kesal.


"Hallo Vina, ini Danu" ujar Danu menyapa Vina.


Vina terdiam saat mendengar suara Danu. Dia tidak menyangka Danu akan menghubunginya kembali. Vina mengira semua yang dikatakan Danu di bandara itu hanya omong kosong belaka. Tetapi ternyata tidak. Danu memang berniat untuk kembali kepada dirinya.


"Eh Danu, ada apa? Tumben nelpon" ujar Vina yang sudah bisa menetralkan kembali kegugupan nya dan perasaannya.


"Nggak ada kenapa kenapa. Cuma pengen nelpon aja. Kamu sedang ngapain?" tanya Danu kepada Vina dengan nada ramah.


"Ini baru bangun tidur." ujar Vina menjawab pertanyaan dari Danu.


"Aku ganggu nggak Vin?" tanya Danu ingin memastikan apakah panggilannya saat ini mengganggu Vina atau tidak.


Vina terdiam, dia ingin menjawab kalau Danu menganggu nya, tapi di satu sisi lain dalam pikirannya, dia juga rindu mendengar suara seseorang yang berarti dalam hidupnya dan selalu ada dalam pikirannya selama ini. Berkali kali Vina berusaha melupakan, tetapi berkali kali itu juga rasa semakin bertambah.


"Vina, aku ganggu kamu ya? Kenapa kamu diam?" ujar Danu bertanya kepada Vina yang hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Danu sedikitpun.


"Eeh sorry Bang. Nggak kok, kamu nggak ganggu aku. Aku tadi pergi ambil air minum. Haus" ujar Vina berbohong kepada Danu.


Vina menepuk jidatnya. Dia lupa kalau perbedaan waktu antara negara U dengan negara I sangatlah jauh berbeda.


"Tadi pulang kerja, aku merasa capek banget makanya ketiduran, eee nggak taunya bablas" ujar Vina berbohong kepada Danu.


"Terus nanti nyambung tidur jam berapa?" tanya Danu.


Danu seperti tidak ingin mengakhiri percakapannya dengan Vina. Dia masih terus bertanya kepada Vina.


"Kayaknya pas ngantuk aja. Nggak pasti jam berapa" ujar Vina menjawab sekenanya kepada Danu.


"Kiranya nggak ngantuk ngantuk gimana?" lanjut Danu memberikan pertanyaan berikutnya kepada Vina.


"Ngantuk, baca novel online pasti ngantuk. Nggak mungkin nggak lah nggak ngantuk." jawab Vina yang memang kalau susah tidur dia akan membaca novel online sampai tertidur sendiri karena matanya udah terlalu lelah.


"Ooo. Sekarang kamu kerja dimana Vin?" pertanyaan yang lain dimunculkan oleh Danu kepada Vina.


"Nggak kerja dimana mana, hanya membuka usaha roti kecil kecilan aja" jawab Vina berbohong kepada Danu.


"Oh, Aku kira saat Kita bertemu di bandara itu, kamu mau pergi ke luar negeri untuk kerja di sana" ujar Danu mengutarakan kepada Vina apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Hahahaha, mana ada. Kenalan aja nggak ada di luar negeri. Ngapain mau ke sana." jawab Vina mengelak dari pertanyaan Danu.

__ADS_1


"Jadi, ngapain ke bandara hari itu Vin?" tanya Danu mulai mengorek Vina.


"Ooooo. Aku kerja di luar pulau, makanya harus pakai pesawat ke sana" jawab Vina yang bisa menjawab lancar pertanyaan Danu dibagian itu.


"Bukannya terminal kemaren itu terminal khusus penerbangan pesawat pribadi?" ujar Danu mengingat di terminal mana Danu bertemu dengan Vina.


"Iya. Aku di ajak satu pesawat dengan Tuan dan Nyonya pemilik tempat jualan yang sudah aku beli, tokonya itu" jawab Vina sambil tersenyum kepada Danu.


"Oh aku kira kamu masih di ibu kota kerja. Ternyata udah nggak lagi" ujar Danu dengan suara lemahnya. Danu langsung menjadi pria yang tidak mood semenjak mendengar Vina tidak lagi di ibu kota.


"Ooooo. Tidaklah, semenjak kejadian itu, aku meninggalkan ibu kota." ujar Vina menjawab pertanyaan Danu. Vina sengaja menjawab seperti itu agar Danu sadar Vina pergi karena kesalahan dia.


Mereka kemudian melanjutkan obrolan ringan seputar kegiatan mereka masing masing. Tapi yang lebih banyak bertanya adalah Danu kepada Vina. Vina hanya menjawab kalau Danu bertanya. Sedangkan Vina tidak pernah bertanya apapun kepada Danu. Kalau tidak ada pertanyaan dari Danu, maka mereka akan diam cukup lama.


Vina melihat jam dinding, sudah jam enam pagi. Vina harus menghentikan telpon dari Danu. Dia berencana untuk memasak sarapan. Vina berpikir bagaimana cara dia memutuskan panggilan telpon dari Danu.


"Yah dengan menguap" ujar Vina pelan.


"Hoam" ujar Vina pura pura mengantuk.


Vina sengaja menguap dengan besar agar terdengar oleh Danu. Danu ternyata memang mendengar Vina menguap, tambah lagi dia juga udah mengantuk.


"Oh kamu kayaknya udah ngantuk Vin. Kalau gitu, kamu tidur aja lagi. Aku juga mau tidur" ujar Danu kepada Vina mengakhiri percakapan mereka.


"Iya Dan. Kayaknya aku memang sudah mengantuk. Aku tidur dulu ya" ujar Vina sambil menahan senyumnya.


"Selamat tidur Vina" ujar Danu kepada Vina.


Vina tidak menjawab perkataan Danu. Dia hanya diam saja. Vina kemudian menekan tombol merah dan memutuskan panggilan telpon tersebut.


BALKON


"Nah gitu, dia nelpon" ujar Vina kepada Maya.


"Ini gue nanyak serius ya. Elo keberatan atau tidak saat dia nelpon?" tanya Maya kepada Vina.


"Nggak. Jujur nggak sama sekali" jawab Vina yang tidak mau berbohong kepada Maya.


"Nah kalau nggak, saat dia telpon angkat aja. Tapi aku mohon sama kamu, pastikan dulu status dia, baru kamu buka hati kembali. Aku nggak mau kamu kecewa untuk ke dua kali" ujar Maya yang nggak mau sahabatnya kecewa untuk kali kedua akibat Danu.


"Oke sip. Aku juga nggak mau terpuruk untuk ke dua kalinya" ujar Vina kepada Maya.


"Keren itu. Udah malem tidur yuk" ujar Maya mengajak Vina untuk beristirahat.


"Kafe gimana?" tanya Vina yang ingat Maya seharian ke kafe.


"Besok bahas. Ngantuk" ujar Maya teriak kepada Vina.

__ADS_1


Maya sudah berjalan masuk kembali ke rumah. Vina akhirnya mengikuti dari belakang. Mereka masuk ke dalam kamar masing masing untuk beristirahat malam. Besok pagi mereka akan beraktifitas lagi seperti biasa.


__ADS_2