Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Diagnosa Danu


__ADS_3

Papi, Paman dan Mami yang masih mengobrol langsung berdiri saat mendengar pintu ruangan operasi yang terbuka. Terlebih lagi lampu ruangan operasi yang sudah berubah warna menjadi warna hijau tanda operasi sudah selesai. Seorang dokter terlihat ke luar dari dalam ruangan operasi. Papi, Paman dan Mami berjalan ke arah dokter yang memang sudah mereka kenal itu.


"Dokter bagaimana dengan keadaan Danu?" tanya Papi yang sudah sangat ingin mengetahui kondisi anak semata wayangnya tersebut.


"Operasi berjalan dengan lancar Tuan, sekarang pasien sedang dipindahkan keruang steril. Nanti akan kembali ke ruangan ICU, kalau sampai besok pasien tidak mengalami drop maka sudah bisa di pindah ke kamar rawat biasa." ujar dokter memberitahukan kepada Papi, Mami dan Paman bagaimana kondisi Danu saat ini.


"Danu termasuk anak yang kuat. Jadi, mari kita sama sama meminta kepada yang satu untuk kesembuhan Danu" lanjut dokter kepada keluarga Sanjaya.


"Terus dokter, analisa dokter yang mengatakan kalau Danu bisa saja kehilangan memori sebelum kejadian, apakah tetap akan terjadi?" tanya Papi yang sudah tidak lagi memikirkan kosa kata yang akan dikeluarkan oleh Papi.


"Itu kita akan cek setelah Danu sadar Tuan. Tetapi, selama ini saya menangani pasien yang mengalami luka hebat dibagian kepala dan merembet ke otak, sebagian besar malahan bisa dikatakan semuanya memang mengalami amnesia." ujar dokter memberitahukan kondisi terburuk pasca operasi kepada keluarga Sanjaya.


Mami yang mendengar apa yang dikatakan oleh dokter menjadi sangat syok. Mami tidak menyangka anaknya akan mengalami amnesia akibat kecelakaan itu. Tanpa di sadari oleh Mami, air mata Mami telah menetes membasahi wajah cantik yang dalam beberapa hari ini memperlihatkan ketegaran. Tetapi ternyata ada luka yang berusaha ditutupi Mami dari keluarga besarnya.


"Nyonya jangan bersedih seperti itu, amnesia bisa kok di sembuhkan. Tapi, semua itu tergantung kepada pasien sendiri. Apakah pasien mau berusaha untuk mengingat semua kejadian atau pasien lebih memilih untuk melupakan saja semua kejadian di masa lalu." ujar dokter kepada Mami.


"Ada pasien saya yang memilih untuk tidak mengingat karena kejadian di masa lalu itu membuat dia sangat terluka. Tapi ada juga pasien saya yang ingin mengingat kembali kenangan kenangan masa lalunya. Dia berusaha untuk sembuh. Jadi, semua itu besok tergantung kepada Danu. Satu lagi tergantung apakah dokter bisa meyakinkan kalau Danu bisa sembuh dari amnesia atau tidak" ujar dokter menjelaskan panjang dan lebar kepada keluarga Sanjaya.


"Terimakasih dokter atas masukannya." jawab Papi mewakili keluarganya.

__ADS_1


"Terimakasih juga sudah mau datang ke negara ini untuk melakukan tindakan kepada anak saya" lanjut Papi mengucapkan banyak terimakasih kepada dokter tersebut.


"Tuan Sanjaya, itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai seorang dokter. Tapi sudah saya katakan saya hanya perantara untuk kesembuhan Danu. Memintalah kepada si pemberi kesehatan Tuan. Mintalah kesebuhan Danu kepadaNya." ujar dokter.


Dokter kemudian kembali ke dalam ruangan operasi. Sedangkan keluarga Sanjaya kembali menuju ruangan ICU tempat Danu akan kembali dirawat di sana.


"Semoga amnesia itu tidak mendatangi Danu, Papi" ujar Mami yang berharap anaknya kembali normal setelah operasi itu.


"Semoga Mami, kita hanya bisa berharap yang menentukan sesuai dengan yang dikatakan oleh dokter tadi. Semuanya ada di tangan yang satu" ujar Papi menjawab pertanyaan dari Mami tadi.


"Kita sudah berusaha Mami. Untuk hasil kita hanya bisa menerima saja lagi. Setiap usaha yang sudah dilakukan pasti akan diberikan hasil yang setimpal Mami" jawab Papi lagi.


Mami terdiam mendengar jawaban yang diberikan oleh Papi, dimana jawaban itu semua ada benarnya juga. Mereka bertiga akhirnya sampai juga di depan ruangan ICU. Keluarga Sanjaya duduk di depan ruangan sambil menunggu Danu yang akan diantarkan ke ruangan itu setelah selesai di ruangan steril. Keluarga memang tidak boleh menunggu pasien di ruangan steril tersebut.


"Dokter, apakah saya boleh mencium anak saya sebentar?" tanya Mami yang sudah lama menahan rindu terhadap Danu.


Mami menatap dokter itu dengan tatapan tolong izinkan aku walau hanya sebentar.


"Silahkan Nyonya, sebelum kami memasukkan Danu ke ruangan ICU" jawab dokter yang paham bagaimana keadaan perasaan Nyonya Sanjaya saat ini.

__ADS_1


Mami mencium pipi Danu kiri dan kanan, Mami juga mencium kedua tangan Danu. Mami benar benar menikmati momen sesaat yang diberikan oleh dokter kepada dirinya.


"Terimakasih dokter" ujar Mami kepada dokter.


"Sama sama Nyonya" jawab dokter sambil tersenyum


Dokter sudah memberikan kebahagiaan tak terhingga untuk seorang Ibu yang sangat ingin mengecup sesaat anaknya yang sudah beberapa hari ini tidak bisa di jenguk. Hanya bisa dilihat dari balik kaca jendela tebal pembatas ruangan.


Dokter dan suster kemudian mendorong brangkar Danu masuk ke dalam ruangan ICU, dokter memasang kembali semua alat alat yang tadi sempat di lepas dari tubuh Danu. Keluarga Sanjaya melihat semua itu dengan sangat sedih. Setelah memasang semua alat alat yang dibutuhkan oleh Danu, seorang dokter dan tiga suster keluar dari dalam ruangan ICU, tetapi ada satu suster yang tinggal di sana. Keluarga Sanjaya yang melihat semua itu menjadi keheranan. Mereka menunggu dokter untuk keluar dari dalam ruangan dan akan bertanya kenapa ada suster yang tinggal di dalam ruangan ICU itu.


"Dokter maaf saya mau bertanya, kenapa ada satu suster yang tinggal di dalam ruangan ICU ya?" tanya Papi mewakili keluarganya untuk menanyakan hal itu kepada dokter.


"Ooo. Memang itu aturannya Tuan. Kita tidak tau bagaimana kondisi pasien nantinya, sehingga kami memang akan menaruh perawat di sana yang akan bergantian setiap tiga jam sekali. Mereka akan selalu memantau perkembangan pasien satu kali setiap satu jam. Tuan nggak perlu khawatir akan hal itu. Itu sudah biasa di lakukan di rumah sakit ini." ujar dokter menjawab pertanyaan Papi tentang suster yang tetap tinggal satu orang di ruang ICU.


"Oooo, seperti itu dokter. Baiklah kami mengerti" ujar Papi yang sudah paham kenapa ada satu orang suster berada di dalam ruangan Danu.


"Apa masih ada pertanyaan lainnya Tuan?" tanya dokter kepada Papi, Paman dan Mami.


"Tidak ada lagi dokter, terimasih atas semua jawaban dari dokter." ujar Papi.

__ADS_1


"Kalau begitu kami permisi dahulu" ujar dokter sambil berjalan meninggalkan ruangan Danu.


Keluarga Sanjaya kemudian melihat ke dalam ruangan ICU, Danu masih dalam posisi yang sama semenjak masuk ke dalam ruangan itu.


__ADS_2