Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Ranti dan Anggara


__ADS_3

"Mau nggak?" ujar Anggara bertanya memastikan kepada Ranti apakah Ranti mau yang perempuan atau Anggara tidak akan menolong dirinya mencarikan asisten untuk membantu Ranti di perusahaan.


"Maulah" jawab Ranti dengan sangat cepat.


Ranti tidak ada bayangan kepada siapa dia akan meminta bantuan mencarikan seorang asisten untuk membantu dirinya di perusahaan.


"Tapi perempuan. Tidak laki laki" kata Anggara mengulang kembali syarat yang diajukan oleh dirinya kepada Ranti.


"Iya sayang iya, perempuan tidak laki laki" jawab Ranti meyakinkan Anggara kalau dia menerima perempuan untuk mejadi asisten pribadinya sesuai dengan yang dicarikan oleh Anggara.


"Jangan ngambek gitu" lanjut Ranti menggoda Anggara yang tiba tiba menjadi manyun mendengar kata kata posesif dari mulut Ranti.


Cup. Ranti mengecup bibir Anggara sekilas. Bibir yang tadinya manyun itu sekarang sudah tidak manyun lagi.


"Aku bukan posesif sayang. Aku nggak bisa membayangkan bagaimana cemasnya aku saat kamu harus pergi kemanapun dengan seorang pria. Aku nggak bisa membayangkan itu terjadi. Itu saja sayang sebenarnya alasan kenapa aku lebih memilih asisten wanita untuk kamu" lanjut Anggara menjelaskan kepada Ranti kenapa dirinya bersikeras mencarikan Ranti asisten wanita bukan asisten pria.


"Iya sayang aku paham. Jangan dibahas lagi, Aku serahkan urusan asisten aku ke kamu" ujar Ranti yang tidak ingin membuat Anggara merasa tidak nyaman saat dia harus memiliki seorang asisten pria.


"Oh ya sayang, bagaimana dengan kasus perceraian aku?" ujar Ranti bertanya kepada Aggara tentang kasus perceraian dirinya yang sampe sekarang masih belum jelas kapan akan dilakukan persidangan.


"Besok aku akan ke pengadilan sayang, menanyakan kapan sidang mediasi antara kamu dengan Danu akan dilakukan" ujar Anggara yang sebenarnya sangat berat mengatakan mediasi.


"Kenapa ngomong mediasi berat sekali sayang?" ujar Ranti yang sangat tahu kalau Anggara sangat berat saat mengatakan kata mediasi.


"Iya sayang sangat berat, karena kalau mediasi berhasil maka kamu akan meninggalkan aku dan kembali kepada Danu" ujar Anggara mengatakan apa yang sangat ditakutkannya kali ini.


"Haha haha haha haha" Ranti tertawa terbahak bahak mendengar apa yang dikatakan oleh Anggara kepada dirinya. Ranti sama sekali tidak sampai berpikir ke sana kalau Anggara akan berpikir dirinya akan menjalani sidang mediasi dengan menghasilkan kata rujuk.

__ADS_1


Anggara menatap Ranti yang tertawa seperti itu.


"Apa yang lucu sayang?" ujar Anggara bertanya kepada Ranti


"Kamu sayang" jawab Ranti masih berusaha menghentikan tertawanya itu.


"Maksud kamu sayang? Kenapa aku yang lucu?" ujar Anggara kembali menanyakan apa maksud jawaban Ranti yang mengatakan kalau dirinya lucu.


"Iyalah sayang kamu lucu sayang."


"Sayang sayang, tidak akan mungkin aku akan rujuk dengan dia sayang. Kamu ada ada aja. Aku malahan ingin cepat sekali bercerai dengan dia" ujar Ranti menjawab ketakutan dari Anggara.


"Jadi kamu beneran mau bercerai dengan Danu sayang?" ujar Anggara menanyakan kepastian dari niat seorang Ranti untuk mengakhiri pernikahannya dengan Danu.


"Ya sayang, keputusan aku sudah bulat. Aku ingin bercerai dengan Danu" jawab Ranti yang sekarang sudah sangat yakin untuk bercerai dengan Danu karena sudah ada Anggara yang mencintai dirinya.


"Terus masalah anak kamu bagaimana?" tanya Anggara yang tiba tiba ingat dengan anak tunggal Ranti dan Danu.


"Jadi kamu nggak mau mengasuh dan merawat Deli?" ujar Anggara memastikan kembali jawaban yang diberikan oleh Ranti kepada dirinya.


"Nggak sayang. Deli tidak akan mau berpisah dengan dia. Jadi, aku juga yakin kalau Deli dengan dia maka Deli akan baik baik saja. Makanya aku memilih untuk membiarkan Deli tinggal bersama dengan dia dari pada dengan aku" ujar Ranti meyakinkan Anggara kalau dia tidak akan mengambil hak asuk atas Deli.


"Atau kamu mau ada Deli di antara kita berdua?" tanya Ranti kepada Anggara


"Tidak juga sayang. Kalau ada Deli antara kita berdua, maka aku tidak akan bebas menggoyang kamu dimana saja" ujar Anggara yang pikirannya tidak pernah terlepas dari setiap goyangan goyangan yang diberikan oleh Ranti kepada dirinya.


"Haha haha haha. Pikiran kamu nggak jauh dari goyang sayang. Goyang ke goyang aja. Kamu kira itu vitamin sayang yang harus dilakukan setiap hari" ujar Ranti menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Danu kepada dirinya

__ADS_1


"Iyalah sayang itu vitamin untuk aku supaya aku bisa serius menjalani semuanya. Kalau nggak ada itu maka otak aku nggak akan bisa serius sayang" jawab Anggara sambil menatap dengan tatapan yang pada akhirnya akan membuat Ranti bergoyang sesuai dengan komando yang diberikan oleh Anggara kepada dirinya.


"Ayuk pulang" ujar Ranti mengajak Anggara untuk pulang sebelum Anggara melakukan sesuatu yang lebih kepada dirinya di tempat itu.


Ranti tidak mau orang lain mendengar sesuatu yang keluar dari mulutnya saat Anggara melakukan sesuatu yang bisa membuat hal itu terjadi. Ranti sangat tidak ingin hal itu terjadi. Ranti sangat tahu bagaimana dirinya menanggapi sesuatu yang diberikan oleh Anggara kepada dirinya. Sepasang kekasih yang sudah mulai tidak merasa nyaman berada di keramaian itu berjalan meninggalkan tempat tersebut. Mereka menuju rumah yang baru di beli oleh Ranti setelah dirinya keluar dari rumah yang memang di beli oleh Danu sebelum mereka menikah.


Danu, Frans Iwan dan Ivan kemudian keluar dari dalam ruangan VVIP restoran mewah tersebut.


"Bang kalian bertiga duluan aja ke mobil ya, gue ke kamar mandi sebentar" ujar Ivan memberikan alasan kepada Danu dan Iwan serta Frans untuk menunggu dirinya di mobil saja.


"Loe bmau curhat besar atau curhat kecil?" tanya Iwan


"Kenapa?" ujar Ivan yang tidak mengerti dengan pertanyaan yang diajukan oleh Iwan kepada dirinya


"Kalau mau curhat besar maka kami akan tunggu di sini saja. Tapi kalau curhat kecil kami tunggu di mobil" ujar Iwan yang sudah bisa membayangkan bagaimana mereka akan menunggu Ivan di parkiran.


"Curhat kecil Bang" jawab Ivan yang langsung berlari menuju arah kamar mandi yang ada di restoran mewah tersebut.


Frans, Danu dan Iwan yang melihat Ivan langsung berlari menuju kamar mandi hanya bisa geleng geleng kepala saja. Mereka tidak bisa membayangkan ada seorang pria yang seusia Ivan masih tidak bisa menahan hasrat untuk curhat kecilnya itu.


Ivan yang melihat kalau ketiga sahabatnya itu sudah menghilang dari pandangan mata langsung berjalan menuju meja di mana Ranti dan kekasihnya tadi duduk menikmati makan siang mereka. Ivan kemudian mengambil kamera yang tadi di tempelkan di bawah meja tersebut.


"Yes, ada bukti baru." ujar Ivan yang sangat senang mendapatkan bukti baru untuk kasus perselingkuhan Ranti dengan beberapa orang pria yang berbeda.


Ivan kemudian berjalan menuju ke tempat para sahabatnya telah menunggu.


"Udah bro?" tanya Iwan

__ADS_1


"Udah bro. Mari berangkat" ujar Ivan


Kedua mobil beriringan meninggalkan restoran mewah tersebut. Iwan mengantarkan Danu dan Ivan terlebih dahulu ke perusahaan. Setelah itu barulah dia mengemudikan mobil menuju kontrakannya. Hal yang sama juga terjadi kepada Danu dan Ivan, mereka mengendarai kendaraan masing masing untuk menuju kediaman mereka.


__ADS_2