Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
IGD 3


__ADS_3

Sari, nggak ada alasan apapun. Abang mengambil penerbangan paling tercepat yang bisa abang lakukan. Ini aja abang berangkat tanpa memberitahukan kepada Ayah kalau abang ke negara U" ujar Ivan yang memang tidak mengatakan hal apapun kepada Ayahnya sampai saat ini.


"Terus siapa yang ngomong ke Ayah kalau Abang berangkat ke negara U?" tanya Sari yang nggak mau nanti Ayah marah ke dirinya, karena tidak menceritakan keadaan Maya dan juga memberi kabar kalau Ivan pergi ke negara U dengan mendadak.


"Kamu aja. Abang akan masuk ke dalam pesawat. Nggak mungkin abang nelpon Ayah lagi. Nggak akan sempat, jadi lebih baik kamu aja yang menghubungi Ayah" ujar Ivan meminta Sari menghubungi Ayah mereka dan menyampaikan semua kabar dan kejadian yang terjadi hari ini.


"lah gue lagi. Apes banget nasip gue Bang" ujar Sari yang mendapat titah untuk menghubungi Ayahnya.


"nggak ada yang namanya menghubungi Ayah sendiri apes Sar. Loe mau jadi anak durhaka?" ujar Ivan memakai kata kata yang paling ditakuti oleh Sari.


"Itu lagi" ujar Sari dengan nada lemah.


"Mau atau nggak?" tanya Ivan memastikan kepada Sari, apakah Sari mau menghubungi Ayah mereka atau tidak, untuk memberitahukan semua kejadian itu.


"Iya iya. Aku telpon Ayah. Sekarang aku matikan telpon sama abang dulu ya" ujar Sari yang tidak menunggu persetujuan dari Ivan langsung mematikan panggilan video itu.


Sari kemudian menghubungi Ayah. Sari menceritakan dari awal sampai akhir.


"Oke. Nanti Ayah akan telpon abang" ujar Ayah kepada Sari


"Oke Ayah. Cepat balik negara U" ujar Sari sambil memutuskan panggilan telponnya dengan Ayah


Sari tinggal menunggu Juan yang sedang pergi membeli sarapan untuk mereka bertiga. Juan yang dari jauh melihat Sari sudah tidak lagi melakukan panggilan dengan siapapun berusaha berjalan lebih cepat lagi, dia tidak mau Sari menunggu terlalu lama di sana sendirian.


"Hay sayang, udah siap nelponnya?" tanya Juan saat melihat Sari sudah tidak lagi memegang ponsel miliknya.

__ADS_1


"Udah siap sayang" jawab Sari sambil menunduk.


Juan melihat ada hal aneh yang terjadi dengan Sari.


"Hay, ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi yang tidak aku ketahui?" tanya Juan sambil menatap ke arah Sari


Sari mengangguk menjawab pertanyaan dari Juan. Juan kemudian membawa Sari duduk di kursi yang ada di sana.


"Cerita aja. Mana tau aku bisa bantu kamu" ujar Juan mengajak Sari untuk berbagi dengan dirinya.


Sari terdiam, dia tidak tahu harus mulai bercerita dari bagian yang mana. Bagi Sari semua bagian sama pentingnya.


"Ada apa?" tanya Juan sekali lagi.


"Ivan mau ke sini lagi. Tadi saat nelpon, katanya dia sudah di bandara" ujar Sari memberitahukan kepada Juan tentang Ivan yang sedang dalam penerbangan menuju negara U.


"Juan kembali ke sini sama sekali nggak ada ngomong dengan Ayah." jawab Sari yang mulai kesal dengan semua kejadian yang terjadi saat ini.


"Terus kesal dan marah kamu dibagian mananya sayang?" ujar Juan yang masih penasaran dengan tingkah Sari yang tiba tiba marah itu.


"Aku marah ke Bang Ivan, karena Bang Ivan meminta aku ngomong sama Ayah. Kamu kan tau sendiri bagaimana Ayah itu." ujar Sari yang kesal dengan Ivan.


"Terus apa Ayah marah sama kamu?" tanya Ivan selanjutnya keoada Sari


"Nggak. Cuma ancamannya ini yang nggak enak. Masak iya kalau sempat Maya kenapa kenapa, maka uang jajan aku di potong lima puluh persennya." ujar Sari menjelaskan kenapa dia kesal kepada Ivan. Hal ini membuat Ayah mengambil keputusan ekstrem itu kepada Sari dan juga Ivan.

__ADS_1


"Sayang sayang, Ayah nggak akan tega melakukan itu. Jadi, kamu nggak usah aja pikirin hal itu lagi. Nggak akan mungkin Ayah tega sama kamu sayang" ujar Juan memberikan suntikan semangatnya kepada Sari.


"Duduk sini dulu aja sayang. Aku pengen duduk lama lama di sini. Aku pengen aja nengok daerah yang di sana itu" ujar Sari menunjuk ke arah salah satu gunung yang terlihat dari hotel mereka menginap sekarang ini.


Juan mengikuti keinginan Sari. Mereka berdua duduk di sana sampai deringan ponsel memanggil Sari untuk kembali menuju ruangan rawat tempat Maya yang sedang di rawat di sana.


"Sayang, ayuk kembali ke tempat Vina. Kasihan dia termenung menung aja sendirian. Aku sangat kasihan dengan Vina sekarang sayang. " ujar Sari sambil menatap lurus ke depan.


Juan dan Sari akhirnya sampai di tempat Vina berada. Vina terlihat menatap lurus ke depan. Sari tahu ada sesuatu yang tidak bisa dikendalikan kembali oleh pikiran Vina


"Hay Vin, gimana dengan keadaan Maya?" tanya Sari yang perutnya sudah berputar dari tadi.


"Dokter belum keluar. Katanya tadi setengah jam lagi baru akan keluar. Mereka baru akan memeriksa Maya? Gilak bener ni rumah sakit" ujar Vina memberitahukan kepada Sari kalau dokter belum keluar dari dalam ruangan IGD.


"Semoga Maya tidak apa apa Vina. Aku berharap loe tabah dan tidak menyalahkan siapapun. Maya sakit itu udah kehendak yang di atas." ujar Sari yang sedang memakan roti yang tadi dibeli oleh Edo.


"Aku nggak ada nyalahin siapa siapa Sar. Malahan aku berharap, agar dokter itu memeriksa dengan sangat sabar seorang Maya yang kerjaannya bergerak kesana kesini" kata Vina yang memang tidak ada menyalahkan siapapun saat ini.


"Besok maunya saat dia mau kerja di kafe, dia nggak boleh kecapekan. Kita dengar lah dulu apa hasil pemeriksaan dari dokter. Aku berharap Maya dalam kondisi normal dan memang pingsan ya tadi akibat kelelahan bukan akibat apapun" Lanjut Vina berkata sambil matanya tetap melihat ke depan.


"Gue setuju Vin. Kalau perlu kita menambah koki untuk memasak sedangkan Maya akan kita suruh jadi kasir atau pelayan." ujar Sari yang setuju dengan pendapat dari Vina.


Mereka kemudian kembali menatap ke dalam ruangan IGD, para dokter dan suster masih keluar masuk ruangan tempat Maya di rawat.


Vina dan Sari yang sudah tidak sabar lagi mendengar apa yang menjadi penyebab Maya jatuh pingsan.

__ADS_1


"Sari, mana kue dan minuman yang gue titip ke elo. Emang belum sampe, kan nggak mungkin nggak bakalan sampe. " tanya Vina yang sudah menahan rasa lapar dari tadi.


Juan memberikan kantong yang berisi makanan dan juga minuman. Vina meraih kantong itu, dia melihat di dalamnya ada tiga bungkus roti dan dua botol teh. Vina kemudian menyantap makan malam itu. Vina memastikan terlebih dahulu kebersihan dari mesjid karena akan dipakai setelah berbuka puasa bersama.


__ADS_2