Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pengurusan 9


__ADS_3

Danu membuka pintu ruangan Presiden direktur. Dia kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut. Presiden direktur yang melihat siapa yang datang langsung berdiri dari kursinya.


"Silahkan duduk Dan" ujar Presiden Direktur kepada Danu yang sudah berada di dekat sofa ruangan.


Presiden direktur kemudian duduk di sofa, Danu mengikuti untuk duduk di sebelah Presiden direktur.


"Ada apa Dan?" tanya Presiden direktur kepada Danu yang terlihat ingin mengatakan sesuatu kepada dirinya itu.


"Paman" ujar Danu menyapa Presiden direktur.


Presiden Direktur tersenyum. Ternyata yang datang kali ini adalah keponakannya bukan manager perusahaannya.


"Ada apa Nak?" tanya Paman kepada Danu.


"Ada yang bisa Paman bantubantu, Nak?" lanjut Paman yang sangat yakin Danu akan membicarakan sesuatu kepada dirinya saat ini.


Danu terdiam, dia tidak tahu mau mulai dari mana menceritakan apa yang akan dilakukan oleh dirinya ke depan. Paman yang melihat Danu diam, membiarkan saja Danu melakukan hal itu. Paman tidak mau memaksa Danu untuk menceritakan sebelum Danu sendiri siap untuk bercerita.


"Paman, aku akan menggugat cerai Ranti" ujar Danu yang akhirnya bisa mengatakan inti dari cerita yang akan diberitahukan oleh Danu kepada Paman.


"Apa Nak? Kamu serius kan dengan apa yang kamu katakan sebentar ini?" tanya Paman ingin memastikan apa yang di dengarnya sebentar ini dari Danu.


"Iya Paman. Aku akan menggugat cerai Ranti." jawab Danu meyakinkan Pamannya atas apa yang diucapkan oleh dirinya tadi.


"Alhamdulillah Nak. Akhirnya kamu bisa mengambil keputusan yang baik itu" ujar Paman memberikan dukungannya kepada Danu.


"Perceraian memang satu hal yang tidak disukai Tuhan Nak. Tetapi apabila pernikahan itu hanya membuat orang di dalamnya menjadi sakit, maka perceraian boleh dilakukan" lanjut Paman memberikan nasehat kepada Danu.

__ADS_1


Danu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Pamannya itu. Paman yang selalu menjaga dan memberikan dia pandangan pandangan saat Danu sedang dalam masa masa sulit seperti yang kemaren kemaren.


"Apa kamu sudah mengurusnya Nak?" tanya Paman kepada Danu.


"Aku sudah menghubungi pengacara aku Paman. Paman ingat Frans bukan, sahabat aku selain Iwan?" tanya Danu kepada Pamannya itu.


Paman berusaha mengingat sahabat Danu yang namanya Frans seorang pengacara itu.


"Pengacara artis itukan Dan? Yang selalu sukses membela artis?" tanya Paman saat sudah mengingat mana yang namanya Frans.


"Bener Paman. Frans yang akan membantu aku untuk mengurus perceraian aku dengan Ranti" ujar Danu memberitahukan kepada Pama siapa pengacara yang dipilihnya untuk mengurus perceraian dia dengan Ranti.


"Oh Paman setuju. Sudah sampai sejauh mana kamu mengurus perceraian kamu itu Dan?" tanya Paman yang sangat antusias mendengar cerita perceraian Danu dengan Ranti.


Berita yang sudah sangat lama dinanti nantikan oleh Paman keluar dari mulut Danu. Tapi pada kenyataannya sampai lelah Paman menunggu tidak juga kunjung datang berita tersebut. Pada hari inilah berita itu diberikan oleh Danu kepada Paman.


"Aku sudah memberikan semua bukti bukti perselingkuhan Ranti dan juga beberapa bukti transferan yang dikirim oleh Ranti kepada pria selingkuhannya dan beberapa bill hotel kepada Frans, Paman" ujar Danu memberitahukan kepada Pamannya sudah sampai mana langkah langkah Danu dalam mengurus perceraiannya itu.


"Aku izin meninggalkan perusahaan Paman untuk hari ini" ujar Danu mengajukan izin untuk tidak bekerja hari ini kepada Paman.


"Oke Danu. Silahkan saja. Kalau untuk pengurusan perceraian kamu dengan Ranti, Paman akan selalu mendukung kamu." jawab Paman menanggapi pengajuan izin yang diberikan Danu untuk tidak melakukan pekerjaannya seperti biasa.


"Terimakasih Paman. Aku pamit dulu, aku tidak mungkin telat bertemu dengan Frans. Dia pengacara sibuk." ujar Danu pamit kepada Pamannya untuk pergi ke kantor Frans.


"Hati hati di jalan Danu. Kalau kamu membutuhkan bantuan, kasih tahu Paman. Nanti Paman akan menolong kamu" ujar Paman kepada ponakannya yang hanya satu itu saja.


"Makasi Paman. Aku akan memastikan untuk meminta bantuan Paman nantinya" jawab Danu.

__ADS_1


Danu pasti akan meminta bantuan Pamannya saat dia akan pergi ke negara A selama satu minggu untuk bertemu dengan Vina. Dia sudah merindukan wanita cantik satu itu.


Danu berjalan keluar ruangan Paman. Dia kemudian masuk ke dalam lift.


"Aku sudah tidak sabar lagi mau ke negara A bertemu dengan Vina." ujar Danu yang sudah berada di dalam lift untuk menuju lobby perusahaan.


Danu keluar dari dalam lift. Dia menuju mobilnya yang ada di parkiran, saat itulah Danu bertemu dengan Iwan sahabatnya yang juga staffnya itu.


"Kemana Dan?" tanya Iwan saat melihat Danu sudah keluar jam segini dari perusahaan dengan tergesa gesa.


"Gue mau ngurus dokumen perceraian gue dulu. Hari ini gue ijin ya nggak masuk kerja." ujar Danu menyampaikan kepada Iwan, kalau hari ini dia tidak akan bekerja seperti biasanya.


"Oke sip. Tidak masalah. Semoga sukses ya. Kami akan selalu mendoakan yang terbaik untuk loe. Kami juga akan bantu loe dalam proses perceraian itu" ujar Iwan memberikan dukungannya kepada Danu.


"Satu lagi gue lupa. Loe sama Ivan mau kan jadi saksi di persidangan gue nantinya?" tanya Danu memastikan kesediaan Iwan dan Ivan untuk menjadi saksi dalam sidang perceraian dirinya nanti.


"Sip. Gue dan Ivan bersedia menjadi saksi dalam sidang perceraian elo dengan Ranti. Kami akan bantu elo" ujar Iwan meyakinkan Danu kalau dia dan Ivan mau dan bersedia menjadi saksi dalam sidang perceraian antara Danu dan Ranti.


"Sekarang loe mau langsung ke pengadilan atau ke kantor Frans dulu?" tanya Iwan yang tidak paham dengan prosedur perceraian tersebut.


"Ke kantor Frans dulu. Dia meminta dokumen dokumen gue. Itu yang mau gue antar ke Frans kemudian baru ke pengadilan agama." kata Danu mengutarakan mau melakukan apa dia hari ini kepada Iwan.


"Semoga sukses Dan" ujar Iwan mendoakan Danu.


"oh ya Wan. Nanti ada pertemuan dengan perusahaan A, di kafe. Loe dengan Ivan temani presiden direktur ya. Gue nggak akan bisa. Gue udah izin dia tadi" ujar Danu mengatakan agenda pertemuan hari ini dengan salah satu perusahaan yang akan melakukan kerja sama dengan mereka.


"Oke. Sip nanti gue dan Ivan yang akan menemani direktur. Loe nggak usah pikirin hal itu. loe pikirin aja proses perceraian loe itu. Saatnya kami yang bekerja lagi" ujar Iwan meyakinkan Danu supaya tidak memikirkan pekerjaan yang ditinggalkan. Iwan meminta Danu untuk fokus mengurus perceraiannya itu

__ADS_1


"makasi Wan. Gue jalan dulu" ujar Danu.


Danu dan Iwan kemudian berpisah. Mereka menuju tujuan masing masing. Danu akan fokus dengan perceraiannya. Sedangkan masalah perusahaan akan diberikan kepada Iwan dan Ivan untuk membantu presiden direktur mereka


__ADS_2