Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Perasaan Deli


__ADS_3

"Bunda aku benar-benar bahagia saat sekarang ini. aku benar-benar merasa memiliki seorang bunda. Baru kali ini aku merasakan pakaian aku diambilkan oleh seorang bunda." kata Deli dengan menatap ke arah gaun ungu muda yang dipilihkan oleh Vina untuk dipakai Deli saat ini.


"Aku tidak bisa lagi meluapkan kegembiraan aku dengan semua ini. Aku benar benar gembira Bunda, benar benar gembira. Aku selama ini tidak pernah mendapatkan perlakuan yang seperti ini Bunda. Aku benar benar bahagia." kata Deli dengan berapi api dan terlihat memang sedang sangat berbahagia dengan hal kecil yang dilakukan oleh Vina tadi sebelum Vina masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang baru saja bangun tidur dan selesai perjalanan jauh dari rumah Mami yang berada di desa.


"Deli berharap Bunda tidak akan berhenti melakukan hal ini saat menikah dengan Ayah"


"aku berharap saat Bunda menikah dengan Ayah, Bunda akan selalu perhatian dengan Deli" lanjut Deli menyuarakan apa yang ada di dalam pikiran dan perasaannya pada saat ini.


"tau nggak Bunda kue apa yang Deli rasakan pada saat sekarang ini?" kata Deli mulai lagi melanjutkan dan menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya di depan cermin yang biasanya digunakan oleh Vina untuk merias wajahnya.


Tetapi pada saat ini cermin itu sudah beralih fungsi menjadi tempat curhat yang dilakukan oleh seorang bocah kecil yang belum genap berusia sembilan tahun tetapi sudah mengalami penderitaan yang luar biasa karena keegoisan seorang Ibu.


Ibu yang seharusnya menjaga dan membesarkan dengan penuh cinta dan contoh yang baik, malah hal sebaliknya yang dicontohkan oleh sang ibu kepada anaknya.


" Deli benar-benar sayang dengan Bunda kue. Deli ingin Bunda gue cepat-cepat menjadi Bunda Deli. "


" Delia akan memaksa Ayah untuk cepat-cepat melamar Bunda gue"


" Deli sudah tidak mau lagi berpisah dengan ayah dan juga berpisah dengan Bunda kue"


"Deli ingin kita bertiga berkumpul bersama membentuk sebuah keluarga yang benar-benar seperti sebuah keluarga"


" Deli juga mau merasakan seperti yang dirasakan oleh sama sahabat-sahabat Deli. dulu juga ingin setiap hari diantar oleh Bunda gue untuk ke sekolah. Deli juga ingin saat pulang sekolah langsung Ditunggu oleh masakan Bunda. Deli juga ingin saat malam tiba Bunda mengajarkan Deli membuat tugas-tugas sekolah"

__ADS_1


" pokoknya Deli banyak ingin untuk semuanya. Ayah benar-benar harus menikah dengan Bunda gue"


Deli meluapkan apa yang ada di pikirannya saat ini. dia benar-benar sudah sangat ingin memiliki seorang ibu. selama ini dia memang punya ibu tetapi merasa tidak punya ibu.


Vina yang mendengar apa yang dikatakan oleh Deli, merasakan kesedihan yang dirasakan oleh anak tersebut. seharusnya pada usia seperti ini Dewi belum mengalami hal yang merumitkan seperti itu. tetapi karena keegoisan seorang wanita atau seorang ibu membuat seorang anak harus menanggung akibatnya.


Vina yang mendengar apa yang dikatakan oleh Deli di depan cermin itu, sontak membuat Vina menjadi terdiam, sama sekali tidak menyangka kalau Deli akan mengeluarkan semua yang ada di dalam pikirannya saat dia berkaca di depan cermin.


" sayang ternyata kamu menyimpan begitu besar beban yang seharusnya belum kamu terima dan kamu rasakan. kedua orang tua kamu memang benar-benar telah memberikan beban yang sangat luar biasa kepada kamu." kata Vina sambil menatap ke arah calon anak angkatnya itu.


"Bunda akan pastikan kamu akan menerima kasih sayang seorang ibu yang selama ini belum. pernah kamu dapatkan sayang."


"Bunda akan pastikan hal itu. Besok saat kita berada di negara I kembali, kamu bisa mengatakan kepada semua orang kalau kamu sekarang juga punya Bunda seperti Bunda teman teman kamu."


lanjut Vina sambil terus menatap calon anak tirinya itu. Tetapi walaupun anak tiri, Vina luar biasa sangat mencintai dan menyayangi Deli melebihi dari Ibu kandungnya sendiri yang dengan teganya meninggalkan bocah kecil itu di saat umurnya masih kecil dan sama sekali belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.


Masa masa kedua orang tua yang harus mengajarkan kepada anak mereka tentang apa itu yang baik dan apa itu yang buruk. Sayangnya hal itu tidak terjadi kepada Deli. Deli tumbuh dengan kakek, nenek serta pembantu di rumah. Ayahnya yang sedang terlihat jenuh dengan Bundanya terkadang juga pulang larut malam karena ingin lari dari segala jenis kasus yang menjerat istrinya itu.


Deli terlihat sibuk menyisir rambutnya. Dia bernyanyi dengan nyanyian khas seorang anak yang merindukan kasih sayang kedua orang tuanya dalam formasi lengkap.


Vina menangis karena mendengar lagu sendu yang dinyanyikan oleh Deli di depan cermin itu. Vina benar benar tidak menyangka dia akan melihat hal seperti itu pagi ini.


Vina kemudian berlari memeluk Deli. Dia memeluk calon anaknya itu dengan begitu kuat. Vian tidak terlihat ingin melepaskan Deli dari pelukannya.

__ADS_1


Deli yang di peluk dengan kuat dari arah belakang dan tahu siapa yang memeluknya , membuat Deli sama sekali tidak protes. Deli menikmati pelukan hangat yang diberikan oleh Vina. Deli benar benar nyaman dalam pelukan itu.


"Sayang, maafkan Bunda ya" ujar Vina mulai mengatakan apa yang ada di dalam hati dan perasaannya pada saat ini.


"Kenapa harus minta maaf kepada Deli Bunda?"


"Ada apa?"


tanya Deli yang heran melihat sikap Bundanya yang dengan tiba tiba main langsung memeluk Deli dari belakang.


"Bunda menangis?" kata Deli kaget saat mendengar isakan kecil yang lolos dari bibir seksi Vina.


"Kenapa Bunda menangis? Deli kan udah bilang, Deli nggak marah ke Bunda karena bukan Bunda yang memasak sarapan untuk Deli" kata Deli yang mengira kalau Vina menangis karena takut Deli tidak suka dengan masakan sarapan yang dibuat oleh Maya dari subuh tadi.


Vina masih tetap terisak sambil memeluk anaknya itu. Vina sama sekali tidak mau melepaskan Deli. Vina benar benar memeluk Deli dengan sangat kuat.


Vina terlihat seperti seorang ibu yang sudah lama tidak bertemu dengan putrinya. Dan sekalinya bertemu putrinya dalam keadaan rapuh dan menangis serta mengeluarkan semua yang ada di dalam pikirannya.


"Bunda kenapa?" tanya Deli sekali lagi sambil menatap lurus ke arah Vina dari cermin yang ada di depan mereka berdua.


Vina benar benar terisak saat ini. Hal itu semakin membuat Deli panik dan tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menenangkan Bunda kue yang sedang menangis terisak isak.


Setiap pertanyaan yang diajukan oleh Deli sama sekali tidak dijawabnya. Vina hanya diam saja dan hanya sibuk dengan isakannya. Hal itu semakin membuat Deli khawatir kalau ada sesuatu dengan Vina.

__ADS_1


__ADS_2