Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 1 #Flash Back oN ( 9Tahun lalu) #1


__ADS_3

"Kak, ayo lah temani aku ke pesta tahun baru yang diadakan oleh sahabat ku!" Rengek Agnes pada saudari tirinya, Alesya.


Alesya menatap adik yang disayanginya itu. Dia tidak ingin menolak permintaan adik tapi...


"Aku tidak bisa, Nes! Ayah bisa marah kalau aku keluar malam-malam." lirihnya, dan melepaskan tangan sang adik.


"Kau pasti tau, ayah akan menghukum ku dengan sangat keras kalau ayah tau aku meninggalkan rumah. Apalagi, malam-malam begini Agnes." Alesya menatap binar pada adiknya.


Alesya Diningrat adalah anak kandung sekaligus putri tertua di keluarga Diningrat. Namun sejak kematian sang ibu ketika melahirkannya, menjadikannya sosok yang disisihkan di keluarga itu.


Kehadiran seorang ibu tiri dan seorang adik tiri yang tidak lama setelah kematian sang ibu, membuat sang ayah benar-benar mengabaikan keberadaan dirinya di rumah itu.


Dahulu sebelum kedatangan dua sosok ini, sang ayah hanya menghindari untuk berjumpa dengannya namun sekarang kebencian pun mulai dirasakan oleh Alesya dari laki-laki itu.


Ronald, nama laki-laki yang dikenal oleh Alesya sebagai ayahnya namun tidak pernah menjalankan tugas dan kewajiban nya sebagai seorang ayah kepada Alesya.


Banyak sekali aturan yang Ronald terap kan untuk Alesya semenjak Alesya masih sangat kecil membuat Alesya kadang merasa apakah aturan ini dibuat untuk menjaganya atau sekedar karena sang ayah sangat membencinya.


Sebagai anak tertua dari keluarga ini, Alesya tidak diperbolehkan keluar dari rumah selain untuk urusan sekolah. Ronald selalu beralasan Alesya harus menjaga nama baik keluarga.


Entah lah, terkadang Alesya merasa ayahnya sangat membedakan perlakuan atas dirinya dan adik tirinya.


Berbeda dengan Alesya, Agnes memiliki kebebasan yang tidak dimiliki oleh Alesya. Ya kalau di pikir-pikir lebih jauh lagi, Agnes malah memiliki semua yang tidak dimiliki oleh Alesya.


Dalam penerapan hukuman pun juga begitu, Alesya selalu saja mendapatkan hukuman untuk segala sesuatu yang dilakukanya sedangkan Agnes tidak pernah mendapatkan hukuman apapun dari sang ayah. Adik tirinya itu cukup mengatakan bahwa dia tidak sengaja melakukan nya atau tidak akan mengulangi kesalahannya maka permasalahan pun dianggap selesai oleh sang ayah. Apalagi kalau sampai sang ibu tiri sudah turun tangan untuk menyelesaikan nya.


Berbeda jauh dengan perlakuan yang Alesya dapatkan. Apabila Alesya ketahuan meninggalkan rumah maka sang ayah tidak segan-segan untuk mengurungnya dan tidak memberinya makan.


Tapi Alesya tidak pernah membenci sang saudari tiri, karena selama ini saudari tirinya lah selalu berada di samping Alesya untuk diam-diam membantu Alesya.


Agnes lah yang datang membawakan beberapa biskuit untuk mengganjal rasa lapar yang Alesya rasakan setiap kali dia dikurung oleh sang ayah. Ini lah yang membuat Alesya merasa hanya Agnes lah yang dimilikinya sehingga Alesya tidak pernah merasa iri ataupun membenci Agnes. Dia merasa wajar orang tuanya lebih menyayangi Agnes sebab Agnes adalah anak yang baik.


"Aku sudah minta izin ke ayah, kak!"kata Agnes, meyakinkan saudari tirinya.


Alesya terlihat berpikir sesaat. Perasaan antar ingin ikut dan tetap di rumah saja membuatnya ragu untuk mengambil keputusan.


Alesya melihat saudarinya itu lama. Dia benar-benar tidak tega menolak permintaan Agnes.


" Baiklah, aku akan mencari ayah dan mengatakan aku akan pergi dengan mu ke pesta teman mu itu." Alesya berdiri dari duduknya, dan ingin pergi menemui sang ayah.


Dengan cepat Agnes meraih kembali tangan Alesya, dan berkata. "Ayah sudah tidur dari tadi, kak!" Kini dia menarik kakaknya untuk duduk, lalu dia bangun dari sofa itu dan berjalan ke arah kamar orang tuanya."Sebentar, biar aku panggilkan ibu. Seperti nya ibu masih terjaga." Bergegas Agnes meninggalkan Alesya menuju ke kamar orang tuanya.


Tidak lama kemudian, Agnes dan ibunya keluar dari kamar utama. Mereka berjalan mendekati Alesya. Dengan senyum yang terbit di wajah nya, Agnes berkata, "Ibu, aku dan kak Alesya akan pergi ke pesta tahun baru yang diadakan oleh teman ku di hotel Grand XX. Tadi aku sudah minta izin ke ayah. Dan ayah sudah setuju. Apakah kami boleh pergi, bu?"


"Tentu saja kalian boleh pergi." Jawab sang ibu kepada kedua anaknya. "Pastikan tidak pulang terlalu lama." Seru Jenny, dan kembali ke kamar nya.


Ya, nama ibu tiri Alesya adalah Jenny. Kebencian Jenny pada Alesya sebenarnya sangat besar. Tapi karena Jenny ini selalu bermain cantik dihadapan semua orang maka tidak ada yang mengira kalau Jenny sebenarnya lebih kejam dari pada tokoh ibu tiri dalam cerita Cinderella.


"Kakak dengar sendiri, kan? Ayo.. tunggu apalagi! Nanti keburu tengah malam." Agnes menarik tangan Alesya ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Alesya sebenarnya masih sangat bingung saat ini, kenapa ayah dan ibu tirinya mengizinkan dia keluar malam-malam begini. "Apa mungkin karena aku keluarnya bersama Agnes?"Pikirnya. "Hmm.. mungkin ayah dan ibu mengizinkan aku keluar malam ini untuk menjaga Agnes." Alesya mencoba untuk meyakinkan dirinya.


Alesya pun terus mengikuti Agnes ke kamar milik Agnes.


Agnes membuka lemarinya bajunya yang berukuran sepuluh kali besar lemari baju yang dimiliki Alesya.


"Kak, coba kau pakai gaun ini." Agnes memberikan sebuah gaun merah nan sexy kepada Alesya.


Alesya terkejut melihat gaun itu. Gaun itu bahkan terbuka di bagian belakangnya." Agnes, gaun siapa ini?" Tanya Alesya, dia tidak percaya kalau Agnes memiliki gaun seperti ini.


"Lihatlah bagian belakang gaun ini, Agnes!" Seru Alesya, menunjukan bagian belakang gaun yang terbuka.


"baju model apa ini! depan terbuka dan belakang pun terbuka!!" batin Alesya.


Agnes berjalan mendekati Alesya,"Itu gaun yang ku pesan untuk aku pakai malam ini kak. Tapi lihatlah ukurannya kebesaran." lirihnya sambil meletakkan baju didepan tubuhnya. Dan benar saja, baju itu kepanjangan untuk Agnes pakai.


"Lalu kenapa kau suruh aku yang memakainya?" tanya Alesya yang keberatan untuk memakai baju yang serba minim bahan seperti itu.


"Aku rasa gaun itu akan sangat cocok di tubuh mu." Agnes mengambil gaun itu, dan menempelkannya di badan Alesya. "Lihatlah, sangat pas sekali!!" Serunya, dan tersenyum pada Alesya.


Alesya mendorong tangan Agnes untuk menjauh dari tubuhnya lalu mengambil baju yang Agnes pegang itu.

__ADS_1


"Aku tidak mau memakai gaun itu, Nes! Lihat bagian belakangnya terbuka." Protes Alesya, dan memberikan gaun itu pada Agnes. " Aku akan pakai gaun yang ku punya saja." Ucapnya, dan melangkah ingin meninggalkan Agnes.


" Ayo lah kak! Apakah kau akan memakai gaun kuno mu itu di pesta malam tahun ini?" Agnes menarik Alesya sambil membulatkan matanya, "Dan apa salah nya memakai gaun ini!" Seru Agnes pada kakak tirinya.


"Kakak sayang pada ku atau tidak?Atau kakak sengaja ingin mempermalukan aku dengan memakai gaun zaman batu itu!" Rengek Agnes, dengan tatap sedihnya.


"Tapi aku... "Alesya bingung apa yang harus dilakukan nya. Dia tidak mungkin memakai gaun seksi itu. Tapi dia tidak mungkin pula untuk menyakiti hati saudari tirinya yang selama ini selalu ada disisinya.


Alesya menarik nafas sesaat dan menghembuskan nya pelan. " Baiklah." Ucapnya mengalah, dan mengambil gaun itu dari tangan Agnes.


Agnes tersenyum melihat Alesya yang akhirnya bersedia memakai gaun itu.Tapi hanya tuhan yang tau makna dari senyuman Agnes malam itu.


Alesya pun bergegas ke kamar mandi dan menukar pakaiannya.


Tidak lama, dia pun keluar,


"Seperti nya ini sangat terbuka, Nes!" Ucapnya lirih, dan sibuk menarik gaun di bagian dada.


"Kakak sedang apa! Model nya memang seperti itu, kak! Udah jangan ditarik-tarik lagi." Kata Agnes, dan memegang tangan Alesya.


"Tapi aku malu kalau harus ke pesta dengan baju kekurangan bahan seperti ini. Lihatlah, bagian depan dan belakangnya terbuka." Alesya memutar badannya di depan cermin.


"Ini adalah mode saat ini kak! Lihatlah gaun ku! Aku juga memakai mode yang sama.


Alesya hanya bisa tersenyum kecut melihat penampilan dirinya di cermin. Tapi sudah lah, toh cuma sebentar saja dia akan berada di pesta.


Alesya dan Agnes pun berangkat menuju hotel Grand XX tempat pesta malam tahun baru itu diadakan.


Ini adalah pesta malam tahun baru pertama yang didatangi oleh Alesya selama 18 tahun hidupnya di bumi ini.


Ya, sebelumnya Alesya tidak pernah menghadiri pesta sama sekali bahkan meski pesta itu diadakan dirumahnya sekalipun.


Ayahnya lebih suka mengurungnya di kamar, dibandingkan harus berbaur dengan para tamu yang diundang ayahnya.


"Welcome to the party, sis!" Seru Agnes ketika memasuki aula perjamuan malam itu.


Alesya yang tidak percaya diri dengan penampilannya hanya menunduk malu selama pesta ini. Dia terus mengekor kemana pun Agnes pergi.


"kak tunggu sebentar ya. Aku akan menyapa teman ku dulu disana.


Dan Agnes pun meninggalkan Alesya sendirian.


Cukup lama Agnes pergi dan Alesya sama sekali tidak melihatnya dimana pun.


selang beberapa saat, Agnes kembali dan menghampiri Alesya yang terlihat sangat kikuk di pesta itu.


"Are you oke? Tanya Agnes, dan memberikan segelas minuman ke Alesya.


" kau kemana saja Nes!! Dan lihat lah sudah hampir tengah malam." ingat Alesya pada Agnes. Sebab Alesya takut kalau sampai mereka pulang lewat dari waktu yang diberikan oleh sang ibu.


"Teman-teman ku menahan ku lama tadi disana. Lagipula, kakak tidak perlu khawatir. Aku yang akan membujuk ayah dan ibu kalau sampai mereka marah jika kita pulang terlambat." ujar Agnes yakin.


Alesya hanya bisa ikut saja dengan apa yang dikatakan oleh Agnes. Semoga saja ayah dan ibu tidak hanya akan memaafkan Agnes tapi juga akan memaafkan dirinya jika mereka pulang terlambat.


Agnes yang melihat Alesya hanya memegang gelas minuman itu tanpa meminumnya, langsung memegang tangan Alesya dan berkata. "ayoo diminum minuman nya kak."


Alesya melihat ke arahminuman itu, dan menatap adiknya seolah bertanya, "minuman apa ini?"


"Itu hanya jus, kak. Tenang saja."jawab Agnes dengan mudah nya.


Alesya pun meminum jus itu hingga habis. Rasa gugup membuatnya dehidrasi. "Ayo aku kenalkan dengan teman-teman ku."Agnes menarik tangan Alesya.


Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba...


" Agne, tunggu! Kepala ku sangat pusing!" Alesya merasa matanya berkunang- kunang dan kepala sangat pusing sekali.


"Kakak!! Kakak kenapa?" Teriak Agnes, melihat kondisi Alesya yang mulai tidak mampu berdiri.


"Kakak... kakak...!!!!" Hanya itu hal terakhir yang di dengar oleh Alesya sebelum tubuhnya jatuh ke lantai.


Agnes yang melihat Alesya terjatuh, segera menelpon orang-orang nya.

__ADS_1


Tidak perlu menunggu lama, dua pria berbaju hitam pun menghampirinya.


"Cepat antarkan dia ke kamar 819." Perintah Agnes pada dua orang pria bertubuh tegap.


Dengan senyum licik di wajahnya, Agnes meninggalkan kan hotel Grand XX.


" Selamat bersenang-senang kakak ku tersayang. Selamat menikmati malam tahun baru. Semoga di tahun depan, kau sudah tidak ada lagi di dalam hidup ku."Ucapnya, dan tertawa bahagia.


Tubuh Alesya yang sudah tidak berdaya, digendong oleh salah seorang suruhan Agnes. Sementara, orang suruhan yang satunya lagi sibuk mengawasi situasi. Mereka sudah diperingatkan oleh Agnes, agar tidak terlihat oleh siapapun ketika memasukan Alesya ke kamar itu. Dengan tergesa-gesa kedua pria itu membuka kamar yang mereka kira adalah kamar yang telah dipersiapkan oleh Agnes karena kebetulan pintu kamar itu tidak terkunci.


Dengan cepat, mereka meletakan tubuh Alesya di atas tempat tidur. "Ayo segera keluar, sebelum ada yang melihat kita." Ujar salah seorang dari pria itu, dan menutup kembali pintu kamar itu.


Alesya yang tidak sadarkan diri, terbaring lemah di sebuah kasur yang besar. Dia benar-benar kehilangan kesadarannya.


*


Dari luar kamar terdengar suara derap langkah berat milik seorang laki-laki yang berjalan sempoyongan. "Marcus, sialan! Beraninya dia mencampurkan obat itu ke minuman ku!" Umpatnya penuh amarah, dan mengambil kartu kamarnya.


Dibukanya pintu itu, lalu beberapa lampu di kamar itu pun menyala. Keadaan kamar saat itu tidak terlalu terang.


"aku pasti akan membalas mu!!!" seru Kenzo sambil terus melangkah masuk ke kamarnya tidurnya. Ya,


Laki-laki itu bernama Kenzo Dayson. Seorang pengusaha dari kota B.


Kenzo yang sudah merasakan panas menjalar diseluruh tubuhnya segera membuka paksa dasi yang terpasang di lehernya. Dia ingin segera merendam dirinya dalam bak mandi. Dilemparnya dasi dan kemejanya sembarangan di atas tempat tidur.


Pengaruh obat perangsang ini sungguh kuat. Namun sayangnya dia tidak bisa memanggil seorang dokter untuk mengobatinya karena dia tidak ingin ada orang yang tau dirinya sedang berada di kota A saat ini.


Kenzo yang sudah diambang batas yang dimilikinya, tiba-tiba terkejut melihat dasi yang tadi ia lempar, mendarat dengan sempurna di atas tubuh indah seorang gadis. Hanya saja karena keadaan kamar yang tidak begitu terang dan pengaruh obat yang diberikan pada nya, Kenzo dapat melihat gadis itu dengan jelas.


Kenzo melihat ke arah gadis yang ada di atas tempat tidurnya, punggung mulus nan putih dengan sebuah tanda lahir berbentuk bintang itu sungguh menggoda imannya. Apalagi dengan keadaannya yang dibatas akhir pertahanannya.


Dibaliknya tubuh gadis yang sedang tertidur lelap itu. "siapa gadis ini?" batin Kenzo dalam hati. Kenzo tidak dapat melihat jelas wajah si gadis sebab tertutupi oleh rambut gadis itu.


Mata Kenzo terus turun ke bagian dada si gadis yang sedikit terbuka sebab gaun bagian depannya yang hampir terbuka, membuat kenzo harus menelan saliva.


"apa Jack yang mengirim gadis ini?" pikiran Kenzi sudah mulai tidak dapat berpikir jernih, dia malah berpikir mungkin saja asistennya yang mengirimkan gadis ini untuk nya. Padahal..


"Maaf kan, aku! Jangan salahkan perbuatan ku pada mu, salah kan dirimu yang tidur di ranjang ku." Ucap Kenzo, dan yang sudah menemukan cara untuk lepas dari permasalahannya saat itu.


**


Malam pun berganti pagi, Alesya membuka matanya dengan berlahan. Ditatap ruangan itu berlahan. Kepalanya masih sangat pusing. Bahkan yang lebih parah lagi, tubuhnya terasa sangat sakit. Dan terasa semakin sakit ketika ia ingin menggerakkan kakinya. Alesya memijat-mijat pelipisnya, lalu menolehkan wajah nya kesamping. Alangkah terkejutnya ia melihat sosok pria sedang tidur pulas tanpa busana disebelahnya.


Segera Alesya sadar dan mengangkat selimut nya. Ia semakin syok ketika mendapati dirinya pun tidak mengenakan apa-apa. Panik segera menyerang Alesya saat itu juga. Dia berlahan bangun dari tempat tidur itu. Dia tidak ingin laki-laki itu terjaga.


Dengan menahan sakit di kepala dan bagian intimnya, berlahan dicarinya pakaian yang dikenakannya semalam.


Namun sayang, ia mendapati gaun itu telah berubah menjadi percah kain yang tidak dapat digunakannya lagi.


Alesya melemparkan pandangan keseluruh ruangan, mata nya kini tertuju pada sebuah lemari di pojokan kamar itu. Alesya berharap ada sesuatu yang dapat ia pakai di lemari tersebut. Dengan langkah yang tertatih-tatih, Alesya menuju lemari itu. Dibukanya lemari itu, dan diambilnya sepasang baju olah raga. Segera dipakainya baju itu. Alesya bergegas ingin keluar dari kamar terkutuk itu. Namun sebelum ia keluar, dilihatnya sekali lagi dengan seksama wajah pria yang telah merebut harta berharga miliknya. Namun sayang dia tidak dapat melihat dengan jelas wajah pria yang sedang tidur dalam posisi menelungkup saat itu.


Alesya memejamkan mata nya, dan keluar dari kamar itu. Kini pikirannya lebih terfokus untuk menghadapi permasalahan yang sedang menunggunya di rumah.


*


Sesampainya di rumah


Alesya yang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi segera masuk ke dalam rumahnya. Ia berharap, semua orang sedang sibuk dengan aktivitas nya sehingga tidak menyadari kalau dia baru saja pulang pagi ini. Baru setelah itu dia berencana mencari Agnes, dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Karena hal terakhir yang ia ingat malam itu sebelum kesadarannya hilang ialah suara adek tirinya yang memanggil-manggil nama nya dengan panik. Sehingga Alesya yakin, Agnes pasti tau apa yang sebenarnya terjadi di pesta malam tahun baru tadi malam.


Alesya masuk ke dalam rumahnya, dan mata nya langsung melotot ketika melihat seluruh anggota keluarga ada di ruangan itu.


Seakan-akan mereka memang sedang menanti kepulangan Alesya. Wajah Alesya menjadi pucat. Dilihatnya sang ayah yang menatapnya penuh kebencian.


***Hi salam kenal.


ikuti terus kelanjutan kisah hidup Alesya ya... ingat untuk selalu menyediakan tissu di samping mu.


Karena otor sudah membeli banyak stok bawang untuk setiap episodenya.


sambil nunggu up berikut nya, jangan lupa like, komen n vote ya...

__ADS_1


🥰🥰🥰


__ADS_2