
Agnez dan Marcus pun sampai di depan rumah Agnez tapi ...
“Ada apa ini?” Ujar Agnez ketika melihat ada tulisan “rumah ini di sita”tergantung di pagar rumah nya.
Agnez menoleh pada Marcus, seakan-akan menunggu Marcus untuk berkomentar.
Marcus melihat kecemasan di wajah Agnez dan berkata,”tenang dulu. Ayo kita turun.” Marcus pun mengajak Agnez untuk turun dan mengecek apa yang sebenarnya terjadi.
Marcus dan Agnez pun turun dari mobil dan berjalan mendekati pagar rumah itu. Berkali-kalai Marcus memanggil ke arah dalam rumah namun tidak ada juga orang yang keluar dari balik pagar itu.
"hallooo ada orang di dalam?" panggil Marcus beberapa kali dari luar pagar.
“Sepertinya tidak ada yang menjaga! Terkunci begitu saja.” Ucap Marcus sambil memegang gembok di pagar itu.
"Tidak ada orang seperti nya." ujar Marcus pada Agnez tapi Agnez tidak menjawab apapun sebab saat ini pikiran Agnez sudah bertambah kalut. Kemana lagi ia harus pergi saat ini. Dia tidak punya saudara untuk di tuju. Saudari nya satu-satunya ialah Alesya tapi tidak mungkin dia pergi ke rumah Alesya.
Sedangkan keluarga yang lain? huft Agnes hanya bisa menghela nafas panjang jika berbicara tentang saudara nya yang lain. Selama ini yang rame di rumah nya adalah saudara-saudara ayah nya yang hidup bagai benalu disana. Tidak mungkin Agnez pergi mencari mereka karena sudah pasti mereka sudah menjauhkan diri dari keluarga ini setelah mengetahui keadaan keluarga Diningrat saat ini.
Mendadak kepala Agnez terasa berputar kencang, pandangannya pun berubah menghitam dan tiba-tiba...
“Agnez!!!” Seru Marcus terkejut sebab tiba-tiba tubuh Agnez jatuh begitu saja. Untung Marcus bisa dengan cepat menangkap tubuh Agnez yang menglongsor begitu saja.
“Agnez!!! Hei!!!” Seru Marcus sambil menggoyang-goyangkan bahu Agnez tapi sama sekali tidak ada respon yang Agnez berikan.
Marcus langsung meletakan tangannya di kening dan kepala Agnez untuk mencek suhu badan wanita itu. Karena bagaimana pun Marcus tahu kalau kemaren Agnez sakit dan mungkin saja keadaannya hari ini pun belum begitu membaik.
__ADS_1
Marcus langsung menggendong tubuh Agnez masuk kembali ke dalam mobil dan membawanya untuk kembali ke hotel miliknya.
*****
Sepanjang perjalanan Marcus terus melihat ke arah Agnez, berharap Agnez sadar. Tapi hingga mereka sampai di hotel milik Marcus, ternyata Agnez tetap tidak sadarkan diri.
Marcus langsung menggendong Agnez ke kamar nya yang ada di hotel itu sebab semua perlengkapan yang ia perlukan untuk memeriksa Agnez hanya tersedia di kamarnya.
Sesampainya di kamar, Marcus dengan sigap sigap memeriksa keadaan Agnez. “ Ada apa dengan wanita ini, fisik nya lemah sekali. Apa dia tidak meminum obat yang aku berikan pada nya?” Gumam Marcus pelan, usai memeriksa Agnez.
Marcus pun meminta asistennya untuk membelikan obat-obatan yang ia resepkan untuk Agnez.
Sementara menunggu Agnez sadar, Marcus membuka satu kamar lagi buat Agnez di sebelah kamarnya. Dalam pikiran Marcus, jika Agnez sadar maka ia akan meminta Agnez untuk tinggal saja sementara di kamar itu hingga Agnez sembuh atau hingga Agnez punya tempat untuk di tuju. Ya, paling tidak hanya itu yang bisa Marcus tolong untuk Agnez. Jujur saja, melihat keadaan Agnez tempo hari Marcus merasa sangat kasihan pada Agnez. Dia yakin pasti Agnez sudah mendapatkan perlakukan yang buruk di keluarga Puji. Tapi Marcus tahu, tidaklah sopan bila ikut campur terlalu jauh dalam rumah tangga seseorang maka Marcus hanya bisa mengamati dari jauh.
“Klek...” Marcus membuka pintu pelan supaya tidak mengganggu Agnez yang sedang beristirahat di dalam kamarnya namun ternyata Agnez sudah bangun. Entah karena Agnez sakit atau entah karena hal lain, sikap Agnez saat ini jauh lebih baik dari pada saat pertama kali dia bertemu dengan Marcus.
“tuan Marcus?” terdengar suara Agnez begitu pintu kamar itu di buka oleh Marcus.
“kau sudah sadar nona Agnez?” tanya Marcus sambil menutup pintu itu pelan.
“Sudah, tuan.” Jawab Agnez. “ dan terima kasih karena sudah membantu ku.” Sambung Agnez sambil mencoba untuk duduk.
“Sudah! Kau tiduran saja. Aku yakin tubuh mu pasti masih lemah. Jadi jangan terlalu di paksakan.” Ujar Marcus dan berjalan ke arah meja kecil yang ada di samping tempat tidur.
Marcus mengambil beberapa buah obat yang ada di atas meja kecil itu dan menyerahkannya kepada Agnez. “ini, kau pasti belum meminum obat ini kan?” Ujar Marcus pada Agnez.
__ADS_1
Agnez melihat obat-obatan yang ada di tangan Marcus.” Obat apa ini?” Tanya Agnez, dengan tatapannya yang masih terlihat lemah.
“ini vitamin dan beberapa obat untuk tubuh yang lemah itu. Apa obat-obatan yang ku berikan sewaktu di rumah tuan Puji tidak kau minum Agnez?” Tanya Marcus, sambil meletakan semua obat tadi ke telapak tangan Agnez.
“Minum lah.”Seru Marcus dan memberikan air minum pada Agnez.
“terima kasih.” Ucap Agnez dan meminum semua obat-obatan itu.
“jadi, apakah kau tidak meminum obat-obatan yang aku berikan tempo hari?” Marcus kembali menanyakan hal tersebut pada Agnez sebab tadi Agnez tidak menjawab pertanyaannya itu.
Agnez menggeleng lemah. “maaf, aku tidak meminum obat-obatan yang kau berikan tuan Marcus. Jasmin tidak memberikan obat-obatan itu pada ku.” Ujar Agnez terus terang.
“Kau pasti memiliki hubungan yang sangat buruk dengan Jasmin sehingga ia sampai berbuat begitu pada mu.” Seru Marcus.
Agnez hanya bisa menolehkan pandangannya ke tempat lain. Menurut Agnez tidak ada gunanya ia berkeluh kesah pada Marcus, toh Marcus juga tidak akan bisa memahami permasalahan nya.
Marcus melihat Agnez yang sengaja tidak melihat kepadanya merasa kalau trauma yang ada pada diri Agnez pada sangat dalam.
Orang yang membenci seseorang biasanya akan segera merespon apabila ada orang lain yang membicarakan orang ia benci itu. Tapi kalau sampai ia memilih untuk diam dari pada berbicara maka dapat dipastikan kebenciannya pada orang itu sudah sampai pada limit tertinggi yang ia punya. “Mereka pasti sudah benar-benar kejam ada nya!” batin Marcus ketika melihat Agnez memilih untuk diam dari pada merespon ucapannya.
“Heeemm.. Agnez!! Apakah ada tempat lain yang ingin kau tuju?” Marcus mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain agar Agnez tidak terlalu merasa tertekan. “bagaimana jika aku antar kan kau ke rumah Alesya? Bukankah kalian bersaudara?” Marcus tahu kalau Agnez dan Alesya bersaudara karena tragedi video live streaming yang ditayangkan oleh ibu Agnez beberapa hari yang lalu. Hanya saja dalam pikiran Marcus, yang bermasalah itu hanya Ronald, Jenny dan Alesya. Dia tidak menyangka kalau Agnez juga terlibat masalah dengan Alesya.
Mendengar pertanyaan Marcus, Agnez pun menoleh ke arah Marcus. Raut wajahnya terlihat sedih tapi mulutnya tetap terkunci, tidak menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Marcus. Bagaimana mungkin ia ujuk-ujuk datang ke rumah Alesya setelah semua perbuatan jahatnya pada Alesya waktu mereka masih tinggal bersama. “tuan Marcus benar, Alesya memang adalah saudara ku tapi aku terlalu malu untuk bertemu dengan nya. Lagi pula dia pasti sangat membenci ku.” Gumam Agnez dalam hati.
***bersambung
__ADS_1