
Alesya melihat Laptop Kenzo terbuka di atas meja. “Apa Kenzo ada kerjaan yang harus dia selesaikan?”
Alesya jarang melihat Kenzo bekerja menggunakan laptop jika di rumah. Selama ini Kenzo selalu menyelesaikan segala pekerjaannya di kantor dan ketika ia pulang ke rumah ia jarang mengerjakan hal-hal yang terkait dengan kantor. Lagi pula Alesya yakin semua hal-hal penting yang harus Kenzo tangani sudah Kenzo selesaikan. Dan proposal-proposal kerja sama yang baru masuk beberapa hari sebelum mereka berangkat sudah diserahkan pada Jack untuk diperiksa. Jadi untuk apa Kenzo membawa laptop saat ini? Alesya berjalan mendekat untuk melihat laptop Kenzo namun ketika ia hendak menyentuh mouse laptop itu tuba-tiba-
“Monica?” Ujar Alesya ketika ponsel nya berbunyi.
Semenjak ia memutuskan untuk merubah rencana balas dendam bersama Jody dan Monica, Alesya sengaja memasang nada dering khusus untuk Jody dan Monica.
“Ya, ada apa Monica?” tanya Alesya, sambil memastikan tidak ada siapa-siapa di ruangan itu selain dirinya.
“Alesya kau sedang dimana?” Tanya Monica.
“Aku saat ini sedang di rumah ayah. Bagaimana perkembangan rencana kita?” Alesya berjalan ke arah jendela yang ada di kamar nya dan Kenzo itu.
“Jody sedang berusaha untuk membobol masuk ke sistem keuangan perusahan.” Jawab Monica.
“lalu ada apa kau menelpon ku?”
Kalau memang belum ada kemajuan dalam rencana mereka lalu untuk apa Monica menelpon nya saat ini. Alesya merasa ada hal penting lainnya yang ingin disampaikan oleh Monica.
“Heem.. Agnez menghilang.” Ujar Monica, serius.
“Agnez menghilang? Maksud mu apa dengan mengatakan Agnez menghilang? Dia culik? Atau dia kabur?” tanya Alesya bertubi-tubi.
“entah lah aku juga tidak tau kepastian mengenai berita hilang nya Agnez ini. Yang pasti Jenny saat ini sedang mencari keberadaan putrinya itu.” Jawab Monica. "sejak sore kemaren hingga siang ini dia sibuk menelpon teman-teman Agnez satu persatu." terang Monica.
“Dari siapa kau tahu bahwa saat ini Agnez menghilang?” tanya Alesya.
Alesya sudah lama mengenal Agnez dan selama ia mengenal saudari tiri nya itu tidak pernah satu kali pun Agnez kabur dari rumah.
"untuk apa Agnez kabur? Atau apa mungkin ini hanya sandiwara ibu dan anak yang licik itu?" Alesya masih belum mempercayai berita hilangnya Agnez ini.
“Seperti yang aku katakan tadi ibu nya Agnez menelpon teman-teman Agnez satu persatu sejak kemaren. Dan salah satu dari mereka adalah teman ku." jelas Monica.
"Jadi ketika Jenny menelpon teman ku bertanya tentang keberadaan Agnez, kebetulan aku sedang ada disana. Dari situlah aku tahu kalau saat ini Jenny sedang mencari-cari putrinya itu." lanjut Monica menjelaskan pada Alesya.
“Tapi bukannya saat ini Agnez sudah tinggal di rumah tuan Puji, apa mungkin dia kabur dari tuan Puji?” Alesya mencoba menebak-nebak penyebab Agnez kabur. "hanya saja jika ia kabur sekalipun dari suaminya itu, aku yakin dia pasti akan tetap akan mengabari Jenny. Dia tidak bisa apa-apa tanpa Jenny dibelakang nya." Ungkap Alesya dengan nada sinis.
“Entah lah. Aku sengaja menelpon mu untuk memberitahukan hal itu. Mana tahu kau tahu keberadaan Agnez?" Ujar Monica sambil tertawa.
"Atau mungkin saja setelah mendengar berita hilangnya Agnez ini kau ingin merubah rencana yang telah kita susun sebelumnya.” lanjut Monica.
“Pertama, aku tidak tahu kemana pergi nya si Agnez itu! Aku tidak berniat menculik dan membunuhnya. Aku tidak ingin dia mati begitu cepat. Lagi pula cara itu tidak terlihat keren. Salah-salah nanti berita tentang wanita muda yang tega menculik dan membunuh saudari tirinya malah membuat dia jadi terkenal dan dikenang orang. Malah nama ku yang jadi buruk di mata masyarakat." ungkap Alesya yang hanya membayangkan dirinya masuk koran saja dia sudah ogah. Dia benar-benar tidak akan berbuat itu.
"Dan yang kedua, aku rasa kita tetap saja pada rencana kita semula. Malah hilangnya Agnez ini dapat kita jadi pemantik kecurigaan Ronald ke kubu Jenny dan Agnez."
Tiba-tiba Alesya mendapatkan sebuah ide brilian. "Tolong sampaikan pada Jody untuk membuat semacam tiket pesawat palsu dan kirimkan ke Ronald. Tentu saja tiket itu atas nama Agnez." sebuah senyum smirk muncul di wajah cantik Alesya. Dia benar-benar menggunakan setiap kesempatan yang ia dapat untuk melancarkan rencana balas dendam nya.
"Tapi kirimkan tiket itu ke email Ronald, setelah Jody berhasil memanipulasi laporan keuangan perusahaan Ronald. Aku ingin Ronald mengira Agnez memang kabur dengan uang perusahaan.” Jelas Alesya.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan menghubungi Jody secepatnya.”
“Aku serahkan urusan ini pada mu Monica.” Ujar Alesya.
“Tenang saja. Kau cukup pikirkan bagaimana cara nya agar ayah mu mau menerima Kenzo sebagai menantunya.” Ucap Monica sebab ia tahu apa tujuan sebenarnya Alesya dan Kenzo datang ke rumah tuan Aldion Rodio.
“Doakan saja.” Jawab Alesya lemah.
“Baiklah.. Sampai ketemu di kota A seminggu lagi. Aku harap begitu kau datang, harga saham perusahaan Ronald sudah terjun bebas ke kerak bumi.”
“Aku tunggu kabar baik dari kalian.” Alesya pun menutup telpon dari Monica.
Karena asik menelpon dengan Monica kini Alesya sudah lupa dengan laptop Kenzo yang terletak di atas meja. Lagi pula menurut Alesya tidak ada hal penting yang harus ia selidiki di laptop suaminya itu. Alesya pun langsung masuk ke kamar mandi sebab sebentar lagi sudah akan masuk jam makan malam.
*
*
*
*
*
**Sementara di kota A, hari juga sudah hampir sore tapi Dyana masih asik berkeliling mall ditemani oleh Marcus.
“Dyana sepertinya aku mendengar sedari tadi ponsel mu tidak berhenti berbunyi.” Seru Marcus yang memang menyadari bahwa ponsel Dyana dari tadi berdering dari dalam tas Dyana.
“Paling juga dari Jack!!” Ungkap Dyana kesal sebab Jack setiap satu jam sekali menelponnya. Kalau Dyana pikir-pikir Jack ini lebih cerewet dari ibu nya sendiri.
“Coba kau lihat dulu siapa yang menelpon. Bisa saja Kenzo yang menelpon mu kan?” Ujar Marcus.
Mendengar nama Kenzo, Dyana langsung membuka tas nya untuk mengambil ponselnya. Bisa saja Jack melapor pada Kenzo bahwa Dyana seharian ini keluar bersama Frans. Sehingga Kenzo benar-benar menelponnya untuk memastikan.
Dyana segera membuka kunci layar ponselnya untuk melihat siapa saja yang menelponnya sedari tadi. Begitu kunci layar terbuka ternyata ada banyak sekali panggilan tak terjawab. Dan itu bukan dari Kenzo melainkan dari Frans.
“untuk apa dia menelpon ku sebanyak ini.” Sungut Dyana melihat ada 23 kali panggilan dari Frans.
“Siapa?” tanya Marcus penasaran. Sebab setelah Dyana melihat data penggilan masuk di ponselnya muka Dyana langsung berubah jutek.
“Frans!” jawab Dyana singkat. Dyana lupa kalau Marcus tidak mengenal siapa itu Frans.
“Frans? Frans siapa?” tanya Marcus sebab setahu Marcus Dyana baru di kota ini. Ditambah lagi Dyana saat ini tinggal bersama Kenzo. Dan Marcus sangat mengenal watak Kenzo. Kenzo pasti tidak akan sembarangan mengizinkan Dyana berteman dengan pria dari luar sana.
“Frans itu –“ Dyana tidak jadi melanjutkan ceritanya. Bagaimana pun dia tidak bisa mengungkapkan hal-hal mengenai Kenzo pada Marcus. Bukan karena dia tidak percaya dengan Marcus tapi bagaimana pun hubungan Marcus dan Kenzo saat ini tidaklah baik. Sebaiknya Dyana harus bisa tetap berada di tengah, diantara Marcus dan Kenzo.
Lagi pula sangat rumit untuk menjelaskan siapa itu Frans. Mantan pacar istri Kenzo saat ini? Alesya dengan jelas mengatakan bahwa dia tidak ada hubungan apapun dengan Frans di masa lalu selain mereka adalah teman sewaktu sekolah.
“Kenapa diam?” Tanya Marcus dengan wajah serius menunggu kelanjutan penjelasan dari Dyana.
Dyana menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. “baiklah akan aku jelaskan. Aku tidak akan berbohong pada Marcus sebab Marcus sangat benci seseorang berbohong padanya. Tapi aku hanya akan menjelaskan siapa itu Frans dari sudut keterlibatannya dengan ku secara pribadi saja.” Ujar Dyana dalam hati.
“Frans itu adalah anak dari teman mama yang tinggal di kota A. Dan kebetulan dia adalah kolega bisnis nya Kenzo.” Jelas Dyana.
Marcus menatap Dyana dalam, seakan menunggu kalimat-kalimat penjelas keluar dari mulut Dyana.
“Mama berencana menjodohkan ku dengan Frans. So begitu mama tahu aku sedang berada di kota A, mama meminta ku untuk mengantarkan sebuah dokumen ke rumah Frans. Dan seperti biasanya itu hanya lah trik licik mama agar aku dan Frans bertemu. Dan seperti yang kau tahu sendiri kan Marcus, aku tidak bisa menolak perintah dari mama sebab dia pasti akan menghentikan aliran dana bulanan ku. So singkatnya aku terpaksa datang ke rumah teman mama itu dan akhirnya aku bertemu dengan Frans.” Jelas Dyana.
“Hanya itu?” Tanya Marcus curiga.
“Hanya itu. Kau boleh cek benar atau tidak Frans adalah kolega bisnis nya Kenzo.” Seru Dyana.
“Setahu ku Kenzo tidak pernah dekat dengan siapapun sejak hubungannya rusak dengan ku. Anak itu jadi menutup dirinya dari lingkungan. Dia tidak mau berteman kecuali dengan asisten kesayangannya yang bernama Jack itu.” Timpal Marcus.
__ADS_1
“Benar!! yang kau katakan itu benar! Lagi pula aku tidak mengatakan bahwa Frans dan Kenzo berteman kan? Aku hanya mengatakan bahwa mereka adalah kolega bisnis.” Jelas Dyana kembali.
“Dan Kenzo yang sudah tahu bahwa mama ku alias neneknya ingin menjodohkan aku dengan Frans maka ia pun ikut serta dalam rencana mama ku itu. Mungkin Kenzo mengira bahwa bibinya ini tidak memiliki kemampuan untuk menaklukkan pria di luar sana.” Ujar Dyana sambil bergurau.
“memangnya kau sudah memiliki seorang pria dalam pikiran mu saat ini Dyana?” Marcus kelihatan serius dengan pertanyaan yang diajukannya.
Suasana tiba-tiba menjadi hening.
Dyana terdiam mendengar pertanyaan Marcus.
Dalam hati dia berkata, “kau saja yang tidak menyadari nya selama ini Marcus.” Dyana menatap dalam mata laki-laki yang sudah lama dikagumi nya itu.
Marcus yang melihat Dyana hanya diam kemudian mengulangi sekali lagi pertanyaannya.”Apakah sudah pria yang mengisi hati mu?” tanya Marcus dengan suara beratnya.
Dyana menatap lurus ke dalam mata Marcus dan berkata,” Aku-“
Baru saja Dyana memperoleh keberanian untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan tiba-tiba ponsel Dyana kembali berbunyi.
Dyana yang tadinya ingin mengatakan sesuatu pada Marcus kini malah jadi kesal sendiri sebab ternyata orang yang menelpon nya adalah Frans.
Frans menelpon nya disaat timing yang tidak tepat. Dan benar-benar mengganggu moment pentingya.
“angkat saja dulu. Mana tahu penting.” Ujar Marcus.
Dengan berat hati akhirnya Dyana mengangkat telpon Frans.
“ya hallo!!” Seru Dyana ketus.
“Heii!!! Kau bisa menyapa ku dengan sedikit lembut atau tidak!!” Frans malah balik marah sebab mendengar suara Dyana yang terdengar ketus dari ujung telpon itu.
“bagaimana aku bisa ramah berbicara dengan mu! Kau -kau – Iiiisshhhh!!!” ungkap Dyana geram.
Tidak mungkin dia mengatakan kalau Frans baru saja menghancurkan momen penting yang sudah ditunggu-tunggu nya bertahun-tahun.
“Hei!! Kau marah lagi pada ku!!!” Seru Frans yang tidak terima tiba-tiba jadi sasaran kemarahan Dyana yang ia tidak ketahui ujung pangkal nya.
“Cepat katakan kenapa kau menelpon ku terus menerus!!!!” Ujar Dyana masih dengan nada yang terdengar jengkel.
“ Heei nona Dyana apakah kau tahu saat ini sudah jam berapa?” Kini giliran Frans yang menaikan nada suaranya satu oktaf. “Saat ini sudah jam empat lewat tiga puluh menit. Dan kau tahu Jack sudah ribuan kali menelpon ku menanyakan keberadaan kita. Aku seperti sedang ditanyai oleh pacar karena ulah mu!!” Ungkap Frans ketus.
"pacar!! seperti kau sudah pernah punya pacar saja!!" Ledek Dyana.
"kau!! bukan urusan mu aku sudah punya pacar atau belum!" Ujar Frans geram. Dia malah jadi berdebat dengan Dyana di telpon itu.
Padahal sebelum menelpon Dyana, Frans sudah mewanti-wanti dirinya agar tidak terbawa emosi bila berbicara dengan Dyana nanti walau sebenarnya Frans sangat kesal karena tidur siangnya jadi terganggu sebab Jack menelponnya berkali-kali.
Dan dia juga terpaksa harus berbohong pada Jack dengan mengatakan dia masih ingin membawa Dyana berkeliling kota.
“cepat katakan kau dimana? Aku akan menjemput mu sekarang dan mengantarkan mu pulang ke rumah Kenzo!!” Ujar Frans terdengar frustasi. Berurusan dengan Dyana selalu membuat emosinya naik ke atas kepala.
“baiklah. Aku masih di mall yang tadi. Kalau kau sudah ada di mall ini telpon aku, dan aku yang akan datang ke tempat mu.” Ucap Dyana masih dengan nada jengkel.
“Baiklah.” Dan Frans pun menutup telpon itu.
"what!! dia menutup telpon ini begitu saja?" seru Dyana sewot.
"ada apa?"tanya Marcus yang heran mendengar perdebatan antara Dyana dan Frans. Orang awam yang mendengar nya pasti mengira Dyana dan Frans adalah suami istri.
“Sepertinya aku harus pulang sekarang. Frans akan datang menjemput ku.” Ujar Dyana.
Marcus tidak mungkin untuk bertanya ulang mengenai hal itu dalam pikirannya dia akan mencari waktu lain untuk bertanya hal itu kembali pada Dyana.
“Apa dia sudah sampai?” tanya Marcus.
“Paling juga dia baru akan bersiap-siap untuk berangkat dari rumah nya.” Jawab Dyana.
“Kalau begitu sebaiknya kita makan dulu sebelum pulang. lagi pula nanti di rumah hanya akan ada kau dan Jack kan? Aku yakin kau tidak akan mau makan malam dengan asisten Kenzo yang cerewet itu. Sekalian kita bungkuskan saja makan malam untuk Jack biar dia tidak ada kesempatan untuk menanyai mu.” Ungkap Marcus.
“Nice idea. Ayo kita makan dulu.” Ujar Dyana senang.
Marcus dan Dyana pun masuk kesalahsatu restoran yang ada di mall itu. Sayangnya hanya ada satu meja kosong yang tersisa di dalam restoran itu. Ketika Marcus dan Dyana akan duduk, tiba-tiba...
“maaf..” Seru Jasmin yang kebetulan juga akan duduk di meja itu bersama temannya.
Mereka berempat saling pandang sebab mereka memang datang bersamaan ke meja itu.
“Wah sepertinya kita datang di saat yang sama?” Seru Marcus.
“Kau benar sekali tuan.” Ujar Jasmin.
“lalu bagaimana ini? Hanya satu meja ini yang tersisa.” Ucap teman Jasmin yang bernama Valen.
“Kalau tidak ada satu pun dari kita yang mau mengalah maka terpaksa kita harus menikmati makanan kita di meja yang sama sama.” Ucap Marcus sambil tersenyum.
Dyana hanya diam mengamati Marcus yang berbicara dengan dua orang wanita yang sepertinya juga ingin makan di restoran itu. Sama seperti Kenzo, sebenarnya Dyana tidak terlalu mudah untuk berteman dengan orang asing.
“bagaimana ya tuan-“ Jasmin menatap Marcus seakan mengharapkan Marcus untuk menyebutkan nama nya.
“Marcus, nama saya Marcus. Dan ini wanita cantik disebelah saya, nama nya Dyana.”Ujar marcus.
“nama saya Jasmin dan ini teman saya Valen.” Jasmin pun memperkenalkan dirinya.
“Senang berkenalan dengan anda nona Jasmin. Nah karena kita sudah terlanjur berkenalan sebaiknya kita duduk saja bersama-sama di meja ini, kalau anda dan teman anda tidak keberatan pastinya, sebab sepertinya hampir seluruh restoran di mall ini penuh pada jam segini.” Ujar Marcus.
“apa kami tidak menganggu kencan anda dan pacar anda?” tanya Jasmin, sopan.
“Tidak. Tentu saja tidak. Ayo silahkan duduk.” Marcus mempersilahkan semua orang untuk duduk.
“Apakah nona berdua tinggal di kota A?” Marcus yang merasakan suasana akan menjadi canggung langsung membuka pembicaraan dengan Jasmin dan Valen.
“Benar. Kami tinggal di kota A.” Jawab Valen. “apakah kalian berdua tidak berasal dari kota A?” Tanya Valen yang merasa wajah Marcus dan Dyana tidak terlihat familiar sama sekali.
“benar. Kami bukan dari kota. Tapi untuk sementara kami akan tinggal di kota B karena suatu urusan yang mesti diselesaikan."Jawab Marcus.
“Oo.. jadi apakah kalian berdua adalah pasangan suami istri?” tanya Jasmin, yang penasaran dengan hubungan antara Marcus dan Dyana.
“Tidak. Kakak ku adalah istri saudara laki-laki tuan Marcus ini.” Jelas Dyana lalu tersenyum pada Jasmin dan Valen.
Valen menyikut lengan Jasmin sambil tersenyum penuh arti.
“Baiklah, sepertinya pelayan itu sedang mengarah ke meja kita. Sebaiknya kita selesaikan dulu pesanan kita baru kita lanjutkan mengobrol.” Ungkap Marcus.
Dan benar saja, pelayan yang tadi disebutkan oleh Marcus tiba di meja itu. Mereka berempat pun memesan makanan mereka masing-masing dan sebuah makanan untuk dibungkus untuk Jack.
__ADS_1
“tadi kalian berdua katakan bahwa kalian berdua adalah penduduk asli kota ini?” Marcus memulai kembali pembicaraan mereka.
“Benar. Kami sudah ada di kota ini sejak kami lahir.” Ujar Jasmin sambil tertawa.
“Benarkah? Wah beruntung sekali kami dapat berjumpa dengan kalian hari ini sebab kami sama sekali tidak mengenal kota ini. Kami merasa sangat asing di kota ini.” Ujar Marcus setengah berbisik. Dan membuat kedua wanita yang ada dihadapannya tertawa karena tingkah Marcus yang bagi mereka sangat lucu.
“Kalau tuan Marcus dan nona Dyana tidak keberatan, kami bersedia menjadi teman tuan dan nona di kota ini. Apalagi, keluarga Jasmin adalah keluarga yang sangat terpandang di kota ini.” Terang Valen. Valen sengaja mengajak Marcus dan berteman dengannya sebab ia merasa Jasmin tertarik dengan Marcus. Hal itu dapat valen lihat dari cara Jasmin melihat Marcus. Apalagi setelah mereka tahu bahwa hubungan antara Marcus dan Dyana hanya sebatas ipar jauh saja.
Valen sangat mengenal watak sahabatnya Jasmin. Walaupun Jasmin sudah memiliki suami tapi Jasmin sangat sering memiliki hubungan dengan laki-laki di luar rumah nya. Dan saat ini seperti nya Jasmin sudah menarget Marcus sebagai teman spesial nya.
“Tentu saja. Aku sangat senang mendapatkan teman baru saat ini.” Ujar marcus. “benarkan Dyana?” Marcus tersenyum pada Dyana yang terlihat tidak senang dengan kehadiran Jasmin dan Valen di meja mereka.
"hah.. ya! ya! tentu saja." timpal Dyana yang terpaksa mengiyakan perkataan Marcus.
“Ini kartu nama ku tuan Marcus dan nona Dyana.” Jasmin mengeluarkan dua kartu nama. Satu diberikannya pada Marcus dan satu lagi diberikan nya pada Dyana.
Valen pun Ikut-ikutan memberikan kartu nama nya pada Marcus dan Dyana.
Dyana mengambil kedua kartu nama itu dengan malas. Sedangkan Marcus mengambil kedua kartu nama itu penuh semangat.
“aku harap suatu hari kalian bersedia berkunjung ke rumah ku.” Ujar Jasmin.
“Ya.. tentu saja nona Jasmin. Dan ini kartu nama ku.” Marcus pun memberikan kartu nama nya pada Jasmin dan Valen. Sedangkan Dyana dia hanya diam seakan-akan dia tidak memiliki kartu nama sama sekali.
Marcus yang melihat Dyana hanya diam tanpa memberikan kartu nama nya langsung menyenggol kaki Dyana.
Dyana reflek melihat ke arah Marcus. Lalu Marcus melalui tatapan matanya seolah berkata pada Dyana, “kartu nama mu mana? Kenapa tidak kau serahkan pada mereka?”
Dyana paham maksud Marcus, tapi karena dia memang tidak ingin dekat dengan dua wanita asing di hadapan nya itu maka Dyana memilih untuk berbohong dan tidak memberikan kartu nama nya pada mereka.
Lagi pula alamat yang tertulis di kartu nama nya adalah alamat rumah ibu nya. Dan tidak mungkin bagi nya untuk memberikan alamat rumah Kenzo kepada dua wanita asing yang baru saja ia kenal tanpa senagaja di restoran ini.
“Haah.. maaf kan aku, aku tidak memiliki kartu nama yang dapat aku berikan pada kalian.” Ujar Dyana, bohong.
“Memang nya untuk apa bagi ku kartu nama ini.” Dyana menatap malas pada dua kartu nama di tangannya yang berasal dari Jasmin dan Valen.
"tidak apa-apa nona Dyana." Jawab Jasmin sebab ia juga tidak memerlukan kartu nama Dyana. Yang menjadi incarannya saat ini hanya lah Marcus.
“Apartment anda seperti tidak jauh dari kediaman teman ku Jasmin, tuan Marcus.” Ungkap Valen yang baru saja membaca dengan detail kartu nama yang diberikan oleh Marcus.
“Benarkah?” tanya Marcus, sekedar berbasa basi.
“Benar.” Seru valen. “Iya kan Jasmin?”
Jasmin pura-pura membaca kembali alamat apartemen Marcus yang tertulis di kartu nama itu.
“Heemm ..sepertinya benar tuan Marcus. Aku tinggal tidak jauh dari apartment mu ini. Aku tinggal disebuah rumah mewah di ujung jalan.” Terang Jasmin, bangga.
“Rumah mewah di ujung jalan? Maksud mu kau tinggal di rumah tuan Puji?” Tanya Marcus ingin memastikan.
“benar sekali.” Jawab Jasmin sambal tersenyum.
“Dasar lelaki!! Tidak bisa liat barang bagus langsung cek and ricek semuanya.” Dyana menjadi tambah kesal setelah mengetahui rumah wanita yang bernama Jasmin itu ternyata masih satu lingkungan dengan apartemennya Marcus.
Dari cara Jasmin menatap Marcus, Dyana bisa merasakan bahwa Jasmin memiliki tujuan tertentu pada Marcus. Tapi siapa juga yang tidak akan tertarik pada Marcus. Pria yang sedang berada pada usia matangnya dengan looking yang sangat tampan dan terkesan pria dari kelas atas. Dyana hanya bisa memendam rasa kesal nya dalam hati.
“Kalau boleh tahu apakah kau putri tuan Puji?” Tanya Marcus.
Marcus merasa sangat beruntung jika benar Jasmin adalah putri dari tuan Puji sebab Marcus memang ada niatan untuk melakukan Kerjasama dengan Tuan Puji untuk bisnis baru yang akan dikembangkannya di kota A.
Valen dan Jasmin saling berpandangan lalu tersenyum.
“Kau pasti akan terkejut jika aku katakan bahwa Jasmin ini bukan lah putri tuan Puji. Tapi dia adalah istri tuan Puji..” Ujar Valen sambal tersenyum lebar.
“Istri tuan Puji?” Tanya Marcus tidak percaya.
Dyana juga merasa terkejut tapi dia sedikit senang sebab paling tidak ia tahu wanita ini sudah ada yang punya.
“Anda sangat muda sekali nyonya.” Marcus langsung menukar sapaannya untuk Jasmin. Setelah mengetahui Jasmin adalah istri dari seseorang maka tidak lah sopan jika ia tetap memanggilnya dengan sebutan nona.
“kau tidak perlu memanggilku nyonya jika kita di luar seperti ini tuan Marcus.” Ujar Jasmin yang seketika membuat perut Dyana mual karena mendengarnya. Kini Dyana kembali merasa jengkel pada wanita yang bernama Jasmin ini.
“Cukup panggil seperti tadi saja. Atau kau juga bisa memanggil langsung nama ku saja.” Seru Jasmin masih sambal menatap kagum pada Marcus.
Dyana melirik Marcus dan Jasmin bergantian. “Bolehkah aku muntahkan isi perutkan di atas meja ini saat ini juga?” gumam Dyana dalam hati.
“Wah, sepertinya pesanan kita sudah sampai.” Seru Dyana, sengaja merusak aliran pancaran listrik dari mata Jasmin ke mata Marcus.
Beberapa pelayan datang dan menyajikan pesanan. mereka berempat di atas meja.
ketika pelayan sibuk menghidangkan, dengan berbisik Dyana berkata, “lekaslah makan. Aku mau pulang.” ujar Dia yang blak-blakan walaupun ia menyampaikan dengan berbisik.
Marcus yang mendengar perkataan Dyana langsung menyenggol kaki Dyana.
Dyana ingin marah tapi ditahannya. Untuk apa dia marah di depan dua wanita yang dia tidak kenal itu.
Mereka pun makan dengan tenang. Hanya terdengar pembicaraan antara Marcus dan Jasmin yang mendominasi meski sesekali Valen juga ikut berbicara atau sekedar numpang tertawa saja.
“Marcus, aku sudah selesai.” Ujar Dyana sambil melihat jamnya. Sepertinya sebentar lagi Frans akan sampai.
“baiklah, aku pun sudah selesai.” Jawab Marcus dan meletakan gelasnya di atas meja.
“Pelayan.” Panggil Marcus pada pelayan restoran itu.
“Ini pesanan anda tadi dan ini bill nya tuan.”pelayan itu menyerah makanan yang dipesan untuk dibawa pulang oleh Dyana dan selembar bill.
“terima kasih.” Ujar Marcus dan mengambil pesanan makanan itu serta bill yang diberikan oleh pelayan itu.
“nona Valen dan nona Jasmin sepertinya kami harus pergi dulu. Dan ini semua izinkan saya yang membayarnya. Anggap saja ini sebagai ungkapan kebahagian saya dapat berkenalan dengan nona berdua hari ini.” Ungkap Marcus.
“Terima kasih banyak tuan Marcus dan nona Dyana. Kami jadi dapat makan gratis hari ini. Tapi lain kali izin saya untuk mentraktir kalian berdua Kembali. Atau Jika kalian tidak keberatan bagaimana jika besok siang kalian saya undang untuk makan siang di rumah saya. Sekaligus saya dapat memperkenalkan kalian berdua pada suami saya.” Tawar Jasmin.
Ini adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh Marcus. Dia tidak perlu bersusah payah membuat janji untuk bertemu dengan tuan Puji. Kesempatan itu secara ajaib malah datang pada nya hari ini dengan sendirinya.
“Dengan senang hati kami berdua pasti datang.” Marcus langsung mengiyakan undangan makan siang itu.
“Kalau begitu sampai jumpa siang besok tuan Marcus dan nona Dyana.” Seru Jasmin.
“ya, nyonya Puji. Kami pasti datang.” Ujar Dyana dengan sengaja menekan penyebutan nyonya Puji untuk membuat jasmin sadar akan posisinya sebagai istri seseorang.
Dyana sungguh sangat kesal melihat cara Jasmin menatap Marcus. “benar-benar wanita yang tidak tahu diri.” Gumam Dyana dalam hati.
###bersambung
__ADS_1
jangan lupa untuk like, komen dan vote ya...