Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 1 #Flash Back On (9 tahun lalu)# 3


__ADS_3

Dengan wajah penuh kebahagiaan, mereka meninggalkan Alesya yang baru saja kehilangan seluruh kebahagiaan dunianya.


Alesya yang kini telah mengetahui wujud asli ibu dan adik tirinya, hanya bisa menangis tanpa suara di ruangan itu. Dia memukul-mukul dada nya yang terasa sesak dengan semua kenyataan itu.


Mungkin sang Ibu tiri, Jenny memang tidak pernah menyayangi Alesya sebesar ia menyayangi Agnes, namun seingat Alesya, Jenny selalu mencoba menenangkan Amarah sang ayah, Ronald.


Walaupun kalau dipikir-pikir kembali oleh Alesya sekarang, apa yang di lakukan oleh Jenny dulu, lebih seperti menyiram minyak ke api yang sedang menyala.


Rasa sakit di hati Alesya menjadi semakin terasa ketika ia teringat kembali semua perkataan Agnes. Dia benar-benar telah dibutakan oleh kepalsuan sang adik tiri.


Berkali-kali Alesya memukul-mukul dadanya. Dan menarik nafas nya dalam-dalam, sambil merutuki kebodohannya belasan tahun ini.


Abibah seorang pelayan tua, yang sudah melayani keluarga Diningrat sejak puluhan tahun menghampiri nona mudanya tersebut. Dia memeluk gadis malang yang sudah dianggapnya sebagai putri nya sendiri itu. "Menangis lah nona! Menangis lah hari ini! Keluarkan semua kesedihan dan kepedihan yang ada di hati mu!" Ucapnya, dan mengeratkan pelukannya pada Alesya.


Tangis Alesya akhirnya pecah menjadi raungan yang keras. Dia memeluk pelayanan kepercayaannya itu dengan kuat. "Apa salah ku, bik?Mengapa mereka begitu kepada ku?" Seru Alesya, dengan tersedu-sedu.


Abibah yang sedari awal mengetahui bahwa Jenny dan putrinya Agnes hanya berpura-pura baik kepada Alesya namun tidak pernah berani untuk mengungkapkan semua ini kepada nona muda nya itu. Karena ia takut, kalau kedua serigala itu mengetahui Alesya tahu kepalsuan sikap mereka di rumah ini, mereka akan menyerang Alesya dengan sangat keras.


Namun, melihat hal yang terjadi hari ini, Abibah menyesal tidak memberitahu nona nya. Paling tidak kalau Alesya tahu kedua wanita itu ada niat buruk padanya, Alesya bisa menghindari mereka.


"Sudah menangis nya?" Tanya Abibah, ketika tidak mendengar suara tangis Alesya sekuat sebelumnya.


Kini, gadis itu hanya terisak-isak kecil dalam dekapannya." Ayo,bibiki antar kamu ke kamar." Abibah memapah tubuh tak berdaya Alesya ke loteng rumah besar nan mewah itu.


Ya, Alesya sudah tinggal di loteng itu sejak ia berusia 12 tahun.. Kalau sekarang usia Alesya adalah 18 tahun maka ia sudah tinggal di loteng itu selama 6 tahun.


Abibah membuka ruangan kecil yang bahkan tidak pantas disebut dengan kamar itu. Ia meletakan tubuh gadis malang itu ditempat tidurnya. "Bibik kebawah sebentar untuk membuatkan mu susu dan roti bakar. Pasti kamu belum sarapan, bukan?" Melihat Alesya yang hanya diam mematung, Abibah langsung turun dan meninggalkan sang nona muda untuk membuatkan sarapan.


Air mata Alesya kembali mengalir di pipinya. Ia meratapi garis kehidupannya yang begitu buruk.


Dipejamkan nya matanya. Mengenang semua perlakuan sang ayah padanya. Dia sadar, sejak kematian sang ibu, Alesya hanyalah seorang anak pembawa sial bagi ayahnya. Paling tidak itu lah yang dipikirkan Alesya penyebab sang ayah tidak menyayangi nya selama ini.


Alesya menggulingkan badannya di kasur tua itu, diambilnya sebuah bantal untuk mengalas kepalanya yang terasa sangat pusing. Tiba-tiba mata Alesya terbuka, ia teringat kenangan tadi pagi di hotel. "Apa salah ku jika Frans mencintai ku dan aku mencintainya?!" Gumamnya, dalam tangisnya. "Kenapa kalian begitu tega pada ku!" Air mata kembali membasahi pipi gadis malang itu. Hanya karena pria yang mencintai nya di cintai oleh adik tirinya, hidup Alesya harus hancur seperti ini.


Alesya terus menangis dan menangis hingga tak terasa matanya terpejam dan ia tertidur dalam tangisnya.


Tak lama kemudian, Abibah tiba dengan membawakan segelas susu dan roti bakar selai coklat kesukaan Alesya. Dilihatnya nona mudanya yang sudah tertidur dengan kesedihan yang mendalam.


Abibah meletakan susu dan roti itu di atas meja kecil disudut kamar Alesya. "Malang betul nasib mu, nona! Engkau adalah pewaris keluarga ini. Namun mereka membuat engkau jatuh lebih rendah dari pada semua pelayan yang ada di rumah ini." Ujarnya, sambil mengelus-elus rambut Alesya.


"Kenapa tuan begitu kejam membiarkan semua ketidakadilan terjadi pada putri kandung dari mendiang wanita yang ia cintai hanya karena sebuah fitnah yang dilontarkan oleh ibu tiri yang kejam itu!" Kini air mata Abibah ikut turun mengenang kejadian ketika kelahiran Alesya. "Andai aku bisa menceritakan semua kejadian 18 tahun silam ketika ibu melahirkan mu!" Serunya, dan menghapus air matanya.


Abibah berdiri, lalu memutuskan untuk membiarkan Alesya tidur dengan tenang. Semoga setelah ia bangun nanti, suasana hatinya membaik.


Tidak terasa hari pun sudah mulai malam, seluruh anggota keluarga telah berkumpul di ruang makan. Ronald, sang ayah, yang tidak melihat Alesya pada makan malam ini meminta Abibah untuk melihat Alesya di kamarnya.


"Kau, pergi ke kamar Alesya. Dan suruh dia segera turun untuk makan malam." Perintah Ronald pada perempuan tua itu.


"Baik, tuan!" Jawab Abibah, dan segera ke atas melihat keadaan si nona muda.


"Nona, Apakah kamu sudah bangun?" Tanya Abibah, ketika di sampai di pintu kamar Alesya. Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar.


Kemudian, Abibah kembali memanggil nona nya sekali lagi, "Nona! sudah saatnya makan malam. Tuan dan yang lain sudah menunggu mu di ruang makan." Namun tetap tidak ada jawaban dari Alesya. Abibah menjadi sedikit panik. Ia takut Alesya melakukan hal-hal yang tidak-tidak di dalam. Segera dibukanya pintu itu. Ternyata keadaan pintu itu masih sama seperti ia tinggalkan tadi pagi ketika mengantarkan sarapan Alesya. Abibah segera masuk, dan dilihatnya gadis malang itu masih tertidur di ranjang nya. "Nona, bangun!" Ucapnya, sambil menggoyang-goyang badan Alesya. "Astaga, badannya panas sekali!" Abibah merasakan panas ditubuh Alesya ketika ia mencoba membangunkan nona muda nya itu.

__ADS_1


"Bibik.. aku haus," Ucap gadis itu, membuka matanya.


Bergegas Abibah mengambil air putih yang ada di meja. Didudukan nya gadis itu dengan menyandar di kepala tempat tidur. "Ini nona, minum lah pelan-pelan." kata sang pelayan, dan membantu Alesya meminum air itu.


"Lagi bik.." Pinta Alesya pada pelayannya.


Abibah segera menambahkan air dan memberikannya pada Alesya "Terima kasih." Ucap gadis malang itu.


"Sudah jam berapa sekarang, bik?" Tanyanya, sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Sudah hampir jam 7 nona. Dan tuan sedang menunggu nona untuk makan di ruangan bawah." Jawabnya.


"Katakan pada ayah, aku tidak ikut makan malam. Kepala ku sangat sakit. Aku ingin tidur." Seru Alesya, dan kembali guling di ranjangnya.


"Nona, jangan tidur dulu. Aku akan sampaikan keadaan nona pada tuan. Lalu akan ku bawakan makan malam nona ke kamar." Tidak ada jawaban dari Alesya, ntah gadis itu sudah kembali tertidur atau bagaimana.


Dilihat susu dan roti yang dibawakannya tadi pagi yang ternyata masih utuh di atas meja. Diambilnya susu dan roti itu dan dibawanya ke dapur.


Lalu Abibah kembali ke ruang makan untuk melaporkan keadaan Alesya yang sedang sakit kepada tuannya.


"Tuan" Seru nya ketika sampai di ruang makan.


"Kenapa kamu lama sekali!!!!" Kata Ronal dengan nada kesal.


"Maafkan saya tuan, tadi saya harus membangunkan nona Alesya dulu. Karena beliau tadi tidur tuan. Sepertinya, nona muda sedang demam tuan." Jelas Abibah, pada tuan nya.


"Banyak alasan!! Bilang saja dia marah pada ku dan mogok makan! Ya sudah! Kalau dia tidak ingin makan! Jangan beri dia makan! Awas, kalau ada diantara kalian yang berani memberi gadis tidak berguna itu makan! Kalian akan tanggung akibatnya!" Seru Ronal penuh kemarahan.


"Gara-gara dia, kita harus kelaparan seperti ini! Ayo kita mulai saja makan malam ini!"


Abibah yang mendengar titah dari tuan besarnya, hanya bisa diam dan berbalik menuju ke dapur. Segera di simpannya satu porsi makanan di kotak bekal yang ia miliki. Dia tidak ingin keadaan Alesya semakin memburuk. Lalu segera dia pergi ketempat penyimpanan obat. Dan diambil nya beberapa obat penurun panas.


Abibah langsung naik ke kamar Alesya karena ia segera meminta Alesya untuk makan dan minum obat sebelum makan malam keluarga selesai. Dibukanya pintu kamar Alesya, dan dibangunkan nya gadis itu.


"Nona! Cepat bangun! " Ucapnya, sambil menggoyang-goyang tubuh Alesya. "Kita tidak punya waktu banyak, nona! Cepatlah bangun dan makan makanan ini. "


Alesya perlahan membuka matanya, "Ada apa bik?" Tanyanya, antara sadar dan tidak sadar.


"Nona, cepat lah makan. Tuan besar marah sekali ketika mengetahui nona tidak turun untuk makan malam. Dia melarang kami semua untuk memberikan makan malam pada nona."


"Ya sudah, kalau begitu tidak usah makan saja!" Jawab Alesya, dan ingin kembali membaringkan tubuhnya.


"Tidak!! Tidak!! Tidak!!" Nona harus makan dan minum obat ini! Karena badan nona panas sekali."Seru Abibah, menahan tubuh Alesya agar tetap duduk.


Alesya menatap wanita tua itu, "Bik, aku hidup atau pun mati, tidak akan ada yang peduli. Jadi biarkan saja!" ucap Alesya, dan air matanya kembali turun di pipinya.


"Mungkin tuan tidak peduli pada mu, karena ia sudah termakan fitnah jahat yang dilontarkan si wanita penyihir kepada ibu mu. Namun ibu mu dan aku sangat menyayangi mu, nona!" Lirih wanita tua itu.


"Apa maksud perkataan mu bik? wanita penyihir? Fitnah kepada mendiang ibu?" Tanya Alesya, penuh tanda tanya. "Jelaskan pada ku, bik!" Desaknya, dan menggenggam erat lengan pelayannya itu.


"Aku akan menjelaskan pada mu semua nya nona. Tapi kau harus punya tenaga untuk sembuh dulu. Jadi segera habiskan makanan ini dan minum obat ini, sebelum tuan dan nyonya selesai makan malam.


Alesya segera mengambil makanan yang ada disampingnya, tanpa banyak bicara dimakannya semua makanan itu sampai habis. Lalu diambilnya obat yang diberikan oleh pelayan tua itu. Segera diminumnya obat itu. "Baiklah. Aku sudah selesai memakan makanan itu dan meminum obat itu. Lekas ceritakan semua yang telah terjadi!" Pinta Alesya, pada Abibah.

__ADS_1


Baru saja Abibah ingin memulai ceritanya, ada seseorang yang mencoba masuk ke dalam kamar Alesya.


Abibah dan Alesya saling bertatapan. Menduga siapa yang datang ke kamar Alesya.


"Cepat, buka pintu ini Alesya!" Terdengar suara berat sang ayah dari luar kamar.


Abibah dan Alesya terkejut. Mereka tidak tahu kalau makan malam telah usai. Segera Abibah mengambil tempat nasi dan gelas dari tangan Alesya, dan disembunyikan nya di bawah ranjang gadis itu. Lalu di tutupnya dengan sebuah koper tua.


Bergegas diambilnya pewangi ruangan dan disemprotkan nya untuk menyamarkan bau makanan yang dimakan Alesya barusan. Lalu dia menuangkan air di baskom kecil milik Alesya dan meletakan handuk kecil di dalamnya.


"Cepat berbaring dan pura-pura tidur nona,! Saya akan membuka pintu untuk tuan!"


Alesya mengangguk dan menggulingkan badannya.


Setelah melihat Alesya menutup matanya, Abibah membukakan pintu.


Terlihat wajah Ronal yang marah karena pintu yang tidak segera terbuka ketika dia memerintahkan.


"Apa yang sedang kau lakukan di kamarnya?" Tanya Ronald, curiga.


"Maaf kan saya, tuan. Saya tadi datang untuk mengompres nona muda. Ketika tuan memanggil saya sedang di dalam kamar mandi untuk menyiapkan handuk kompres nya." Jawab wanita tua itu, menundukkan kepalanya.


Ronald melihat baskom dan handuk yang terendam di atas meja kayu. Lalu dia melihat Abibah. Perlahan Ronald mendekati putri nya yang sedang terbaring di ranjang tua itu. Diletakkannya tangannya di dahi Alesya. "Ternyata kau tidak berbohong! Benar dia sedang demam. Lekas kompres dia. Karena besok pagi, calon suaminya akan datang melihatnya. Aku tidak ingin dia beralasan sakit besok pagi." Ujar Ronald, dan berdiri meninggalkan kamar Alesya.


"Baik, tuan!" Jawab Abibah, lega melihat tuan nya pergi meninggalkan kamar tersebut


Abibah segera keluar untuk memastikan tuan dan nyonya nya sudah pergi meninggalkan kamar Alesya. Lalu dia menutup pintu. Dan menguncinya dari kamar.


Alesya yang mendengar suara pintu ditutup segera membuka mata dan duduk. "Apakah ayah sudah pergi?" Tanya Alesya, pelan.


Abibah mengangguk.


"Kalau begitu, lanjutkan cerita mu, bik!" Pinta Alesya. Abibah pun mendekati ranjang Alesya dan duduk disampingnya.


"Apapun yang nona dengar nanti, mungkin akan sangat menyakitkan bagi nona. Apakah nona sanggup untuk mendengarkannya? Karena mungkin setelah ini, saya tidak tahu apakah nona akan terjatuh lebih dalam pada kesedihan nona. Atau nona akan menjadi seseorang yang penuh kebencian. Tapi harapan saya, nona tidak akan berada di kedua situasi yang saya sebutkan tadi. Jadi mohon persiapkan hati nona untuk mendengar semua kisah pilu ini." Jelas Abibah, dengan tatapan iba nya.


"saya tidak tahu, apakah akan ada hal yang lebih menyedihkan dan menyakitkan bagi ku dari pada kejadian semalam! Aku siap mendengarkan semua kisah mu, bik!" Ungkap Alesya, yakin. Karena apa yang terjadi pada dirinya di hotel malam itu hingga penghianatan sang adik tiri, sudah menyakitkan hati nya lebih dari apapun. Bahkan kehormatan yang dia jaga, telah diambil oleh lelaki yang tidak kenal.


"Baiklah, mungkin ini akan menjadi cerita pengantar tidur terburuk yang pernah saya baca kan untuk mu, nona. Jadi sebaiknya baringkan tubuh mu dan biarkan saya bercerita sambil mengompres dahi mu, nona." Pinta Abibah, dan perlahan membaringkan Alesya


Alesya yang sebenarnya sudah tidak memiliki kekuatan apapun lagi saat itu, hanya bisa menuruti semua perkataan pelayan sekaligus pengasuhnya itu. Rasa sakit perasaaan dan rasa sakit disekujur tubuh nya, saat ini telah menjadi satu. Sehingga berbaring adalah hal satu-satunya yang juga ia ingin kan saat ini.


**


Bagaimana kisah kematian sang ibu?


Apa yang akan Alesya lakukan setelah mengetahui alasan sang ayah membencinya?


ayoo cari tau alasanya pada episode berikut nya๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ


siapkan tisu yang banyak... harga bawang lagi murah soalnya๐Ÿ˜Š


jangan lupa, like, komen dan vote.

__ADS_1


see you...


__ADS_2