
Mai langsung terdiam mendengar Kenzo membentaknya. Seumur-umur baru kali ini Kenzo membentak Mai sekeras itu. Dulu paling Kenzo hanya mengabaikan apapun yang Mai perbuat. Bahkan kalau ada wanita yang mencoba untuk dekat-dekat dengan Kenzo kemudian Mai melakukan sesuatu pada wanita itu, Kenzo juga terlihat tidak peduli. Mengapa kali ini Kenzo bahkan sampai hati membentaknya hanya demi seorang Alesya.
Tanpa Mai sadari, air mata Mai mulai berjatuhan di pipinya. Mai mencoba menyembunyikan wajahnya yang mulai dibasahi oleh air mata itu dari Kenzo dan juga dari Alesya. “sial!! Mengapa aku malah menangis!!” umpat Mai dalam hati, tidak mengerti kenapa air matanya harus turun saat ini di depan Alesya. “pasti wanita itu sangat senang karena Kenzo terang-terangan membela nya.” Imbuh Mai dalam lagi.
Mai menghapus air matanya itu tapi lagi-lagi ada air mata yang baru meluncur di pipinya.
Alesya yang melihat Mai menangis menjadi tidak tega. Dia menggoyangkan tangan Kenzo yang sedang menggenggam tangannya kini supaya Kenzo menoleh pada nya. Setelah Kenzo menoleh pada nya, Alesya menatap Kenzo dengan tatapan mengiba untuk Mai. “Kenz..” Seru nya dengan gerak bibir.
Please!!” Lanjutnya masih dengan gerakkan bibir.
Alesya sengaja tidak mengeluarkan suara agar hanya Kenzo yang tahu kalau dia sedang memohon untuk Mai. Dia tidak ingin Kenzo kehilangan marwah sebagai seorang suami karena sang istri menentangnya keputusannya di depan semua orang. Yang bisa Alesya lakukan saat ini adalah membujuk Kenzo secara diam-diam untuk membiarkan Mai untuk menginap di rumah mereka malam ini.
Kenzo yang tahu maksud Alesya hanya memalingkan wajahnya begitu saja. Pertanda kalau dia tidak ingin mendengarkan permintaan Alesya. Kenzo benar-benar tidak peduli dengan Mai. Mau Mai menangis air mata darah sekali pun, Kenzo tetap tidak peduli. Bagi nya lebih baik Mai yang menangis sekarang dari pada nanti dia dan Alesya yang akan menangis karena ulah Mai. Jadi Kenzo memilih untuk mengabaikan permintaan Alesya.
Melihat Kenzo yang kembali menoleh ke tempat lain. Alesya kembali menarik tangan Kenzo.” Kenz please!!” Ujar Alesya sekali lagi masih dalam gerakan bibir.
Alesya langsung mengangkat jari telunjuknya seolah berkata,”Satu kali iniii saja!! Please Ken, izin kan dia menginap di sini."
Tapi kenzo benar-benar kekeuh dengan keputusan nya.
"Ketika kami pulang nanti aku tidak ingin melihat mu ada di sini." Kenzo pun menarik tangan Alesya untuk berjalan bersamanya.
__ADS_1
Belum jauh Kenzo melangkah, Mai berlari dan menahan tangan Alesya. "Alesya, sebagai sesama wanita aku mohon pada mu. Tolong minta pada Kenzo untuk membiarkan ku untuk tinggal malam ini di rumah ini. Hanya malam ini. Aku berjanji besok pagi-pagi sekali aku akan pulang ke Australia." Mai menatap Alesya dengan tatapan iba nya plus deraian air matanya.
Alesya tidak tahu harus melakukan apa. Dia sangat yakin Kenzo tidak akan mau mendengarkannya untuk hal ini. Tapi bagaimana dengan Mai? Wanita ini memang sangat menyebalkan tapi bagaimanapun dia sedang sakit saat ini.Alesya sungguh merasa dilema.
"Aku akan menemani mu pulang ke Australia Mai. Jadi kau tidak perlu khawatir jika harus pulang malam ini." ujar Dyana, yang akhirnya mengorbankan diri nya untuk menemani Mai pulang.
"Kau dengar apa yang dikatakan oleh Dyana!! Jadi tidak ada alasan lagi Mai. Pulang lah." Perintah Kenzo pada Mai.
Mai benar-benar sudah terpojok. Tidak ada alasan lagi baginya untuk dapat bertahan tinggal di rumah Kenzo.
"Alesya !! ayo kita pergi sayang." Kenzo kembali menarik tangan Alesya.
Kini hanya tinggal Mai dan Dyana di ruangan itu..
"Kau ini kenapa sih Dyana??!! Kenapa kau suka sekali ikut campur urusan ku!!!" bentak Mai. Kini Mai tidak segan-segan untuk mengeluarkan wujud aslinya.
"Aku tidak akan pernah ikut campur urusan mu. Kalau kau tidak selalu mengganggu keponakan ku dan istrinya. Come on Mai.. Kenzo itu adalah keponakan mu juga! Seharusnya kau itu harus bisa membiarkan Kenzo bahagia dengan pilihan nya." tegas Dyana.
"Sudah kau jangan ikut campur urusan ku dan aku tidak butuh nasehat dari mu." Jawab Mai jutek.
"memang nya aku mau apa ikut campur urusan mu? kalau bukan karena urusan mu itu membuat Kenzo susah.. aku juga malas ikut campur masalah pribadi nenek sihir ini."batin Dyana.
__ADS_1
" Aku akan menunggu mu di depan. Aku rasa sebentar lagi Jack akan sampai." Dyana yang sudah muak dengan Mai pun berjalan menuju luar depan. Dalam pikiran Mai semakin jauh dia berada dari Mai maka akan semakin tenang jiwa raganya.
**ditempat lain... di sebuah kamar Hotel.
"apa kau yakin akan meminta hal itu pada Kenzo sayang?" ucap seorang wanita di ujung telpon itu yang tak lain dan tak bukan adalah ibu nya Dyana, yang bernama Mary.
"aku pun sebenarnya tidak mau meminta hal untuk Kenzo lakukan tapi aku tidak punya solusi lain sayang. Waktu yang dimiliki oleh Mai hanya sebentar lagi dan kau tahu sendiri anak itu sangat keras kepala. Aku sudah membujuknya berkali-kali tapi dia-" Terdengar suara putus asa dari Romano.
Sebagai ayah dia merasa harus dapat melakukan sesuatu untuk mengabulkan permintaan terakhir anak nya.
"Tapi ini salah sayang. Dan aki yakin Kenzo tidak akan setuju untuk melakukan itu. aku sangat mengenal cucu ku itu." jelas Mary pada suaminya itu.
"Aku akan tetap mencobanya. Walaupun aku harus bersujud di kaki Kenzo dan istrinya demi kebahagiaan saat-saat terakhir Mai, akan aku lakukan." tegas Romano yang sudah sangat siap bahkan jika dia harus mengorbankan harga dirinya sendiri.
"Aku sudah memperingati mu untuk tidak melakukan itu. Aku tidak ingin kau kecewa." Ucap Mary pada suaminya.
"Aku akan lebih kecewa jika aku tidak mencoba nya sayang. Aku tidak akan memaksa Kenzo. Aku hanya akan memohon kebaikan hati nurani Kenzo dan istrinya untuk memberikan sedikit kebahagiaan pada hari- hari terakhir putri ku."
Mary dapat merasakan betapa putus asanya Romano saat ini. Walaupun mereka sudah menikah tapi Mary tahu kalau Romano sangat menyayangi Mai. Dan dia menikah dengan Mary karena tidak ingin Mai tumbuh sebagai seorang gadis tanpa kasih sayang seorang ibu.
Mary sudah melakukan semua yang ia bisa untuk membina Mai seperti yang telah ia lakukan pada kedua Putri nya (Mendiang ibu nya Kenzo dan Dyana).. Tapi karena Mai sudah terlalu lama kehilangan sosok ibu dan tidak pernah benar-benar tahu bagaimana wujud perhatian ibu yang sebenarnya, hubungan Mai dan Mary pun dapat dikatakan tidak begitu berhasil.
__ADS_1
**bersambung...
Jangan lupa vote di hari senin ya sayang...