Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 19#Menjelang pulang Ke Mansion Rodio#2


__ADS_3

“makan yang banyak Ska.” Ujar Alesya melihat Skala sepertinya ogah-ogahan dengan makanannya.


“apa kau ada masalah Ska?” kenzo yang sedari tadi juga memperhatikan tingkah aneh Ska jadi risau melihat putranya.


Skala memandangi makanan dihadapannya sambil bergumam dengan wajah cemberut. “Aku rindu dengan kakek.”


Kenzo dan Alesya pun jadi saling memandang. Kini mereka mengetahui sumber permasalahan dari tingkah Skala yang diluar kebiasaannya ini.


“Bagaimana kalau besok kita ke rumah kakek mu.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Kenzo dan kontan membuat Alesya terkejut. Alesya ingin menyela ucapan Kenzo namun dengan cepat Kenzo memberikan kode kepada Alesya untuk tetap diam. Mau tidak mau Alesya akhirnya pasrah dengan keputusan Kenzo sebab satu kalimat ajaib yang Kenzo ucapkan dengan sangat cepat mengembalikan nafsu makan putranya itu.


“Bagaimana Kenzo dapat begitu mengerti dan menyayangi Skala padahal.. “Pikiran itu kembali terbesit dipikiran Alesya.


“benarkah itu daddy?” Sorak Skala senang.


“Tentu saja. Apa kau senang sekarang? ” Jawab Kenzo sambil menggenggam erat tangan Alesya seakan menyakinkan Alesya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Alesya hanya dapat tersenyum kaku menanggapi perkataan suaminya itu.


"Tentu saja!! I love you dad! You're the best daddy ever." Sorak Skala.


"Kalau begitu cepat habiskan makan malam mu." Perintah Kenzo pada putranya.


"Ayayaa.. Captain!!" Jawab Skala menirukan jargon kartun favorit nya.


“Oo.. iya, kenapa bibi ku belum kelihatan?”Tanya Kenzo, ia baru sadar Dyana tidak ada di ruangan itu saat ini.


“Grandma pergi makan malam keluar dengan temannya. Tadi dia mengatakannya pada ku sebab hanya ada aku disini tadi.” Jawab Skala.


“temannya? Memangnya bibi ada teman di kota ini? Jangan-jangan...” Ada sesuatu yang mulai mengusik pikiran Kenzo.


“Ada apa sayang?” tanya Alesya yang menyadari guratan-guratan kekhawatiran di wajah sang suami.


Kenzo menggeleng sambil tersenyum dan melanjutkan makan malamnya.


##########################


“Apa Kenzo tau kau keluar makan malam dengan ku?” Tanya marcus yang sudah menyelidiki dengan siapa Dyana tinggal di kota ini.


“Ken-zo?”jawab Dyana terbata-bata sebab ia yakin ia tidak mengatakan pada marcus jika ia tinggal dengan Kenzo di kota ini.


“Come on Dyana, kau tidak akan berpikir aku tidak mengetahui hal itu kan?”


“Kau ini Marcus, kau selalu tahu segalanya. Aku penasaran apa ada hal di dunia ini yang bisa luput dari penglihatan mu.” Gurau Dyana.


“Ada Dyana..ada..” Gumam Marcus dalam hati.


“Kalau kau tahu bahwa aku tinggal dengan Kenzo apa kau juga tahu kalau Kenzo sudah..” Dyana ragu untuk melanjutkan perkataannya. Dia melihat kedalam mata Marcus, mencari tahu apakah Marcus juga tahu tentang Skala dan Alesya.


“Kenapa kau berhenti bicara Dyana?” Kini Marcus yang menatap balik mata wanita itu.


“Lupakan. Bukan hal penting.” Ujar Dyana. Lalu tersenyum.


Marcus pun hanya ikut tersenyum. Dia tidak mengatakan apapun.


“Sepertinya makan malam kita sudah datang.” Seru Dyana ketika melihat beberapa pelayan menuju ke meja mereka.


“kau harus makan dengan lahap. Sudah lama kita tidak makan bersama seperti ini. “ Marcus senang ia dapat kembali menikmati momen makan malam seperti ini bersama Dyana. Yang kurang dalam momen yang membahagiakan malam ini ialah kehadiran Kenzo. Jika saja Kenzo ada bersama mereka malam ini dan ikut menikmati momen makan malam ini seperti dahulu kala, pasti Marcus akan merasakan kebahagian yang sempurna.


“Apa kau merindukannya?” tiba-tiba Dyana bertanya dan membuat Marcus menatap lurus pada Dyana. Dyana tersenyum melihat respon Marcus lalu berkata,”Tidak usah dijawab. Aku sudah mendapatkan jawabannya.” Dyana mengambil sendok dan garpu nya lalu mulai makan malam yang sudah lama ia impikan ini.


Lain kisah makan malam Alesya dan Dyana, lain pula kisah makan malam Agnez di rumah tuan Puji.


Seperti yang sudah ditebak, kehidupan Agnez di rumah tuan Puji. Perlakuan tidak menyenangkan selalu ia dapatkan dari istri-istri pria tua itu. Entah apa yang dipikirkan oleh tuan Puji sehingga punya ide gila menyatukan semua istri-istrinya serta anak-anak nya dari istri-istrinya tersebut dalam sebuah rumah. Apakah dia berpikir ia adalah seorang raja yang hidup dengan banyak istri di kerajaannya.


Hawa permusuhan, saling tikam dan cari muka sangat terasa di rumah ini. Strata kesenioran juga terasa kental sejak Agnez menginjakkan kaki di rumah ini. Dalam hatinya dan pikirannya sesungguh nya Agnez sangat tidak peduli dengan semua hal bodoh yang coba dipertahankan oleh para istri tua, setengah tua atau apalah itu nama nya di rumah ini. Dia hanya ingin segera terlepas dari genggaman tuan Puji. Bahkan jika tuan Puji tidak mendatanginya seperti sebelum-sebelumnya Agnez akan merasa sangat bahagia.


“Sayang, “Ujar Jasmin istri ketiga tuan Puji membuat semua orang yang sedang hikmat makan malam jadi mengalihkan pandangan mereka ke Jasmin.


“Heeem.. aku mewakili para istri lainnya ingin mengatakan sesuatu pada mu terkait dengan Agnez.” Sambungnya blak-blakkan.


Tuan Puji menghentikan makannya dan fokus pada si sumber suara. “katakan.” Ujarnya dengan suara beratnya.


“Beberapa hari yang lalu kami mendapat kiriman ini.” Jasmin berdiri dan menyerahkan sebuah amplop besar pada tuan Puji.


Tuan Puji dengan heran mengambil amplop yang diserahkan oleh Jasmin. Sebuah perasaan tidak enak tiba-tiba menyelimuti hati Agnez.


“Apa ini?” tanya tuan Puji, saat ini ia belum membuka amplop yang diberikan oleh Jasmin.


“Bukalah suami ku dan kau akan tahu.” Seru Jasmin dengan wajah yang dihiasi oleh sebuah senyuman yang sumringah yang membuat hati Agnez semakin berdetak kencang.


Suasana mendadak hening ketika tuan Puji membuka amplop yang diberikan oleh Jasmin dan ternyata isi amplop itu adalah...


“Apa ini Agnez!!!!” Suara tuan Puji terdengar menggelegar di dalam ruangan itu sembari melempar foto-foto yang akhirnya berserakan di atas meja.


Mata Agnez terbelalak melihat wajah nya terpampang jelas di foto itu. Namun bukan itu yang membuat mata Agnez terasa mau copot. Wajah-wajah itu benar terlihat persis seperti wajahnya hanya saja ia yakin itu bukan dirinya. Lalu laki-laki yang ada bersama di dalam foto itu, Agnez benar-benar tidak mengenalinya. Bagaimana bisa mereka bisa ada dalam satu frame bersama.

__ADS_1


“Itu bukan aku!!!” jawab Agnez dengan wajah yang memerah. “Aku bahkan tidak kenal dengan laki-laki itu. Hei Jasmin, apa maksud mu!!! Kau sengaja ingin memfitnah ku hah!!!!” Agnez meneriaki Jasmin.


“Heh, benar-benar langkah yang salah Agnez!” Gumam Stella, Istri kedua tuan Puji. “Kau meneriaki Jasmin? Tuan Puji saja sampai saat ini tidak pernah meneriaki wanita itu. Nasib mu akan sangat buruk malam ini Agnez.” Walaupun wajah Stella terlihat sangat datar dari luar tapi sebuah senyum kebahagian tersembunyi dengan baik di balik wajah itu.


“Kau menuduh ku apa Agnez?” Jasmin memulai sandiwaranya. Wajah iba yang sudah dipersiapkannya dari tadi akhirnya bisa ia perlihatkan pada semua orang di ruangan itu.


“ini pasti ulah mu kan!! Kau ingin memfitnah ku kan!!!!” Agnez terus berteriak seperti orang gila. Sifat Agnez yang meledak-ledak memang acap kali membuatnya dapat masalah.


“ Untuk apa aku memfitnah mu! Aku hanya tidak ingin suami ku yang tercinta ini dibodohi oleh wanita murahan seperti diri mu Agnez!” Walaupun kata-kata yang keluar dari mulut Jasmin sangat kasar namun ia mengatakan nya dengan sangat lembut sungguh membuat orang-orang akan berada dipihaknya jika mendengar hal itu.


“Cukup!!!! Hentikan!!!” Terdengar suara tuan Puji menengahi perdebatan antara Agnez dan Jasmin.


‘Dasar kau wanita mur*han Agnez!!! Aku sudah memberikan mu akses kekayaan ku tapi kau malah menghabiskannya bersama dengan pria lain di luar sana!! Dasar kau wanita ******* dan tidak tahu untung!! Kalau aku mau aku bisa membuat keluarga mu menjadi gembel saat ini juga!” Sumpah serapah keluar dengan lancar jaya dari mulut laki-laki tua itu. Dan Agnez dapat melihat sebuah senyum disudut bibir Jasmin, si biang kerok dari semua sabotase ini.


“Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi aku akan tetap mengatakan itu bukan aku dan akan tetap seperti itu!!” bela Agnez.


“Lihatlah suami ku! Wanita rendahan ini sungguh tidak menghormati mu sebagai seorang suami. Aku saja yang mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut nya merasa sakit hati apalagi diri mu sebagai suami nya. Dia sanggup menjatuhkan marwah mu di depan kami para istri mu. Apa kau akan membiarkannya menjadi contoh buruk bagi kami semua? Kau tidak mau kami akhirnya tertulari oleh sifat dan sikap pembangkangan kan?” Jasmin terus mengompori tuan Puji.


“Kau benar Jasmin. Sekali sampah akan tetap sampah. Aku yang salah telah memungut sampah dan memasukannya ke dalam istana ku.” Seru tuan Puji.


“Aku pun tidak pernah sudi berada di tempat mu ini yang terasa bagaikan neraka bagi ku.” Agnez terus saja melontarkan kata-kata yang membuat dirinya dalam situasi sulit.


“kau dengar itu suami ku!!” Jasmin kembali mengompori tuan Puji.


“Apa kau bilang? Rumah ku bagaikan neraka? Baiklah akan aku tunjukan yang mana yang neraka sesungguh nya di rumah ini!” kesabaran tuan Puji sungguh sangat ditantang oleh Agnez malam ini.


“Hei kau!!!” Panggil tuan Puji pada salah seorang penjaga nya. “Bawa wanita ini ke ruang bawah tanah dan jangan beri dia makan selama dua hari. Aku ingin ia merasakan pra neraka di rumah ini.”


Beberapa penjaga pun menarik Agnez dengan paksa dari kursi yang sedang didudukinya. “Apa yang kau lakukan !!! Lepaskan aku!!” Agnes terus berteriak. Namun para penjaga itu tetap tidak melepaskannya dan terus membawanya ke ruang bawah tanah di rumah itu.


Ruang bawah tanah di rumah tuan Puji memang secara khusus di rancang oleh tuan Puji untuk mengurung istri-istrinya yang membangkang pada nya. Di ruangan itu terdapat beberapa kamar atau lebih tepat nya sel yang dibuat oleh tuan Puji untuk memenjarakan istri-istri yang pembangkang tadi.


Jasmin terlihat senang sebab rencana berjalan lancar. Jujur saja sejak kedatangan Agnez, Jasmin merasa sedikit khawatir posisinya sebagai istri kesayangan tuan Puji akan diambil oleh Agnez. Sebab sebagai wanita Jasmin menyadari bahwa laki-laki akan lebih tertantang untuk menaklukan wanita yang berbeda dengan wanita yang telah ia miliki. Apalagi Agnez bukanlah wanita dengan paras yang buruk. Malah sebaliknya, dia sangat cantik. Hanya saja sifat ular Agnez telah Jasmin ketahui sebelumnya. Dari pada nanti dia yang disingkirkan oleh Agnez maka akan lebih baik jika ia yang mengambil langkah terlebih dahulu untuk menyingkirkan Agnez. Agar semua kenyamanan yang ia miliki saat ini akan tetap selamanya menjadi miliknya.


##########################


“Apa kau mau masuk?” tawar Dyana pada Marcus.


“Apa kau yakin menawari ku untuk masuk bersama mu ke rumah itu?” tanya Marcus sambil tersenyum.


“kau!! Paling tidak kau membiarkan ku untuk sedikit berbasa basi untuk mengungkapkan rasa terima kasih ku untuk makan malam yang sangat lezat ini sekaligus tumpangan gratis ini.” Seru Dyana.


“kalau begitu aku akan mengatakan, lain kali. Lain kali aku akan singgah. Bagaimana apakah jawaban ku sudah cukup menyenangkan hati mu?” Ujar Marcus.


“Biar aku saja.” Dengan cepat Marcus membantu Dyana melepaskan seat belt itu.


“Aku masuk dulu.” Ujar Dyana sebelum membuka pintu mobil.


“lain kali aku pasti akan singgah.” Ucap Marcus sambil melayangkan sebuah senyuman yang memukau.


Dyana pun turun dari mobil Marcus dan setelah mobil itu lenyap dari pandangannya Dyana baru melangkahkan kaki nya ke dalam rumah. Dia tidak tahu Kenzo memperhatikannya dari balkon rumah nya.


“benar dugaan ku...”Ujar Kenzo dalam hati.


“Hai bibi.. Kau dari mana?” tanya Alesya yang kebetulan sedang menonton tv bersama Skala di ruang keluarga.


Dyana melihat kekiri dan kekanan dengan ujung matanya mencari keberadaan ponakannya itu.


“Aku dari makan malam bersama seorang teman.” Jawab Dyana. Dia ingin bergegas masuk ke kamarnya sebelum Kenzo muncul.


“teman atau teman?” Goda Alesya yang menyangka Dyana makan malam dengan Frans. Ya siapa tahu setelah Alesya dan Kenzo meninggalkan mereka berdua di restauran sewaktu itu hubungan mereka terus berlanjut hingga acara dinner malam ini.


“Tentu saja teman.” Jawab Dyana dengan wajah tersipu malu. “Baiklah aku naik dulu ke atas.” Ujar nya sambil meninggalkan Alesya dan Skala.


“Aku paham-aku paham.”Goda Alesya. Jarang-jarang Alesya dapat menggoda Dyana seperti malam ini. Biasanya Dyana yang selalu menggodanya sebab kelakuan absurb suami nya yang bernama Kenzo itu.


Tidak lama setelah Dyana masuk ke kamarnya, Kenzo turun dan bergabung dengan Alesya dan Skala di ruang keluarga.


“Apa bibi sudah pulang?”tanya Kenzo pura-pura tidak tahu kalau Dyana sudah lama pulang.


“Iya. Dia sudah pulang sedari tadi.”Jawab Alesya sambil terus menonton TV.


“apa dia bilang dia keluar dengan siapa?” Kenzo mencoba mencari informasi melalui Alesya. Ya, siapa tahu sebagai sesama wanita Dyana ada bercerita dengan siapa dia keluar malam ini.


Alesya menatap suami nya lalu tersenyum. “Kau penasaran dia keluar dengan siapa kan?” Pancing Alesya. “Kenapa tidak kau tanyakan saja langsung pada orangnya.”


“Aku tidak sekepo itu dengan urusan pribadi nya.” Kenzo berusaha senatural mungkin menjawab pertanyaan Alesya. Dia tidak mau Alesya tahu alasan mengapa ia sangat ingin tahu hal itu.


“Jangan sok tidak peduli seperti itu!!” Alesya mencubit pinggang suaminya. “Aku tahu kau sangat peduli dengan bibi mu itu.”


“kau memang yang paling mengerti diri ku sayang.” Ujar Kenzo sambil mengusap bekas cubitan Alesya.


“tapi kau juga tidak harus mencubit ku seperti ini.” Lanjut nya dengan wajah yang diimut-imutkan.


“Skala apakah mommy mu ini siluman kepiting? Dia suka sekali mencubit.”

__ADS_1


“apakah daddy selalu dicubit oleh mommy? Sebab aku tidak pernah satu kali pun dicubit oleh mommy.”Jawab bocah itu lempeng.


“what!! Benarkah? Kalau begitu kau harus berbagi rahasia tentang hal itu pada ku!!” Kenzo turun dari sofa dan duduk disebelah Skala.


“cara nya mudah. Jangan berada disekitar mommy dalam radius dekat ketika bercerita maka otomatis kita masih bisa mengelak ketika mommy ingin mengeluarkan capitnya.” Jawab Skala sambil tersenyum. Sebab ia tahu daddy nya akan leboh rela di cubit setiap saat dari pada jauh dari mommy nya.


“kau pasti ingin membunuhku Skala! Bagaimana aku bisa bernafas dengan benar jika berjauhan dari mommy mu!!!” jawab Kenzo sambil menyenggol putranya itu.


“Nah kalau begitu maka daddy harus ikhlas menjadi sasaran capitan mommy setiap saat.” Goda Skala.


“kalian anak dan ayah memang satu frekuensi. Yang satu buaya darat dan yang satu calon buaya darat. Aku sungguh tidak menyangka bisa berada dalam penangkaran buaya darat.” Alesya geleng-geleng kepala dan berdiri dari sofa itu.


“mau kemana sayang?” tanya Kenzo cepat, melihat sang istri seperti nya ingin kembali ke kamar.


“Tidur!!”jawabnya sambil terus meninggalkan Kenzo dan Skala.


“Tunggu aku ik-“ Ucapan Kenzo terpotong sebab tangan Skala kembali menahannya kali ini.


Kenzo merasakan dejavu ketika Skala kembali menahannya.


“Apa kau tega meninggalkan ku menonton sendirian di sini daddy?” Ujar Skala dengan wajah memelas.


‘Huft!!” Kenzo menarik nafas panjang dan akhirnya kembali duduk.


Alesya yang melihat Kenzo tertahan oleh Skala hanya bisa tersenyum dari atas tangga. Hatinya bahagia melihat Kenzo dan Skala bukan seperti ayah dan anak sambung melainkan seperti ayah dan anak kandung. “Andai saja...” Entah mengapa pikiran itu kembali melintas di benak nya.


Keesokan hari nya....


“Bi, kami akan pergi beberapa hari ke kota J mengunjungi tuan Rodio sore nanti.” Ucap Kenzo pada Dyana pagi itu ketika sarapan.


“mengapa mendadak sekali?” Dyana terkejut mendengar Kenzo, Alesya dan Skala akan pergi ke kota J. Itu artinya dia kan kesepian di rumah ini.


“Skala tiba-tiba merasa rindu pada kakeknya. Kami sudah lama tidak pulang ke kota J.” Jelas Alesya. “Kalau bibi mau ikut maka aku akan merasa sangat senang.” Tawar Alesya.


“Tidak. Aku di sini saja. Lagian ini pertemuan pertama Kenzo dengan ayah mertuanya. Siapa yang tahu entah BOM apa yang akan meledak disana ketika kedua pejantan tangguh ini bertemu, hahaha” gurau Dyana.


“Selama aku pergi jika bibi ingin kemana-mana aku akan meminta Jack untuk menemani mu.” Ujar Kenzo.


“Apa kau mengira usia ku sama dengan Skala? Sehingga aku membutuhkan pengawal!!” Protes Dyana. “Aku bahkan lebih tua dari mu Kenzo. Aku bisa menjaga diri ku sendiri.”


“Tapi aku memaksa.” Ujar Kenzo dengan wajah datarnya. Dia tidak ingin Dyana bertemu Marcus lagi ketika ia dan Alesya berada di kota J.


“lebih baik aku di rumah saja dari pada membawa Jack kemana aku pergi!!”


“Bagus kalau begitu. Itu lebih baik. Lagian aku dan Alesya hanya akan pergi beberapa hari saja. Itu tidak akan membunuh mu jika kau tidak berkeliaran selama waktu itu.” Kenzo malah meluruskan semua perkataan Dyana.


“Kau!! Alesya lihat lah suami mu itu!!!”


“Ken, kau terlalu mengkhawatirkan bibi.”


“Keputusan ku sama. Dengan Jack atau tidak sama sekali.” Kenzo membersihkan mulutnya.


“Kita berangkat sekarang?’Tanya Kenzo pada Alesya dan Skala. Sebab pagi ini mereka tetap harus beraktivitas seperti biasa.


“Grandma, kalau aku jadi kau maka aku akan membawa paman Jack bersama ku lalu aku akan meninggalkannya dengan cara licik ku!!” Skala memberikan sebuah ide gila pada nenek nya itu.


“Lakukan lah ide gila dari bocah nakal ini jika kau yakin bisa mengelabui Jack.” Kenzo pun meninggalkan ruangan itu.


“kalau aku jadi kau grandma, maka aku sungguh akan melakukannya. Masa kau kalah cerdik dengan uncle Jack?” Skala terus mengompori neneknya.


“Skala apa kau akan terus mengompori nenek mu untuk melakukan ide gila mu itu. Cepat, daddy mu sudah menunggu kita di mobil.” ujar Alesya.


“jangan dengarkan dia bi. Tapi jika kau memang punya cara untuk mengelabui Jack, aku rasa tidak salah nya dicoba.”Alesya mengedipkan sebelah matanya dan meninggalkan Dyana yang masih dengan wajah cemberutnya.


“Sayang, sepertinya kau duluan saja bersama Skala. Aku akan menyusul mu ke kantor. Aku ada memesan sesuatu terlebih dahulu untuk oleh-oleh yang akan kita bawa ke kota J. Aku ingat kau ada rapat pagi ini di kantor. Jadi kalian berangkat saja duluan. Nanti kita bisa pulang bersama. Biar mobilku sopir saja membawa pulang nanti.


“baiklah.” Ujar Kenzo dan mencium kening istrinya lalu masuk ke dalam mobil bersama Skala.


Alesya pun bergegas masuk ke dalam mobil nya. Ia ingin memesan sesuatu untuk sang ayah.


Keputusan Kenzo yang mendadak pulang ke kota J membuat Alesya bingung harus membawa oleh-oleh untuk sang ayah.


Tapi semalam dia ingat bahwa sang pengasuh Abibah pernah mengatakan bahwa ayahnya tuan Rodio suka dengan kue bunga matahari yang dijual di sebuah toko kue tradisional di ujung jalan Cemara. Jadi sebaiknya Alesya mengunjungi toko kue itu terlebih dahulu untuk melihat apakah toko kue itu masih menjual kue bungan matahari. Semoga keberuntungan ada dipihak Alesya sehingga dia tidak pulang dengan tangan kosong ke kota J. Dia membutuhkan sebuah pengalihan yang sempurna dari amukan sang ayah kali ini.


Alesya terus mengemudikan mobilnya menuju toko kue yang dimaksud. Dan tak lama ia pun sampai di toko kue itu.


Ketika Alesya ingin membuka pintu toko itu secara bersamaan sebuah tangan juga menyentuh ganggang yang sama yang sedang disentuh oleh Alesya.


“maaf..” ucap Alesya dan pria itu berbarengan.


“Kau-“ Alesya dan pria itu sama-sama terkejut ketika menyadari satu dan lainnya.


####bersambunh


jangan lupa untuk dukung otor dengan cara like, komen dan vote ya... love you...

__ADS_1


__ADS_2