Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 44#Ujian cinta#9


__ADS_3

Alesya berjalan lunglai menuju ke kamarnya. Pikirannya kini sedang campur aduk. Perasaan iba atas nasib malang yang dialami oleh Mai..dan nasib malang yang akan menghampiri rumah tangganya bersama Kenzo yang sebenarnya baru saja memasuki masa-masa bahagia.


Dalam hati Alesya berpikir tegakah dirinya untuk meminta Mai untuk tetap pergi sementara dia sendiri sudah mengetahui kebenaran tentang Mai.


Ataukah mampukah dirinya untuk mengorbankan cinta nya dan Kenzo dengan membiarkan Mai masuk di antara dirinya dan Kenzo hanya demi membantu Mai untuk merasakan cinta di hari-hari terakhirnya? Sanggupkah Alesya untuk berbagi Kenzo dengan wanita lain bahkan walau untuk sesaat?


Semua pemikiran itu berkecamuk di dalam pikiran Alesya. Disatu sisi ada perasaannya sebagai seorang wanita yang mengerti dengan perasaan wanita lainnya dan sisi lain, ada perasaan sebagai seorang istri yang tidak akan pernah rela berbagi suami pada wanita lain.

__ADS_1


Alesya menarik nafas dalam. Hal pertama yang harus bisa dia lakukan saat ini adalah dia harus bisa menenangkan dirinya terlebih dahulu. Bagaimana dia bisa berpikir dengan jernih kalau dirinya saja tidak dalam tenang dalam berpikir.


Tanpa Alesya sadari, kini Alesya sudah berada tepat di depan pintu kamarnya dan Kenzo. Ditatapnya pintu jati besar itu. Cukup lama Alesya hanya dia terpaku menatap pintu itu tanpa berkeinginan untuk melanjutkan langkah kaki nya ke dalam.


Alesya menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan pelan-pelan. Di tatapnya pintu itu sekali lagi. Lalu Alesya pergi tidak jadi masuk ke dalam kamar nya dan Kenzo. Kini Alesya menuju kamar Skala. Dia berharap, dia dapat berpikir dengan tenang di dalam kamar putra nya itu. Disaat-saat seperti ini Alesya sangat membutuhkan Skala.


Sebenarnya itu bukan lah hal yang sangat luar biasa di bumi ini mengingat selain Skala masih ada beberapa bocah lainnya yang tersebar di penjuru dunia ini yang memiliki IQ tidak sama dengan bocah-bocah seusia mereka. Sehingga cara mereka berpikir dan cara mereka menghadapi masalah bahkan cara mereka bertutur kata terkesan lebih bijaksana dari pada orang dewasa itu sendiri. Bahkan tidak jarang dari mereka ada yang menyelesaikan study SI mereka di usia yang seharusnya mereka masih ada di bangku sekolah dasar. Dan seperti itu lah Skala. Hanya saja Alesya sebagai ibu tidak membiarkan Skala untuk melakukan kelas Akselerasi. Alesya tetap ingin Skala berada di antara teman-teman seusianya agar ada kenangan masa kecil yang dapat Skala bagikan pada anak dan cucu nya kelak.

__ADS_1


Alesya masuk ke kamar bocah kecil itu. Lalu Alesya membaringkan dirinya di atas ranjang Skala, mencoba untuk menenangkan dirinya saat ini agar apapun keputusan yang akhirnya akan diambil oleh Alesya merupakan keputusan terbaik untuk semua orang.


Tentu saja dalam pengambilan keputusannya nanti Alesya akan mempertimbangkan pendapat Kenzo dan apa yang dirasakan Kenzo sebab Kenzo adalah poin sentral dalam permasalahan ini.


Alesya memang akan membicarakan hal ini dengan Kenzo tapi setelah dia benar-benar yakin di pihak mana dia akan berdiri. Akan kah dia berdiri atas dasar perasaannya sebagai sesama wanita atau akan kan dia berdiri atas dasar perasaannya sebagai seorang istri.


Alesya memejamkan matanya sambil terus mengatur ritme pernafasannya. Berusaha mencari ketenangan diri walaupun untuk sesaat.

__ADS_1


***bersambung..


__ADS_2