Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 45#kejutan #5


__ADS_3

"kleek.." pintu kamar mandi pun terbuka dan keluar lah Alesya dari kamar mandi itu dengan tampang innocent nya.


"Ska...?" Panggil Alesya pura-pura kaget kalau Skala sudah kembali. Padahal Alesya sesungguhnya berharap Kenzo sudah membawa Skala untuk keluar dari kamar mereka.


"Hi mommy..."Sapa Skala dan langsung berlari menuju Alesya. Skala menarik tangan Alesya agar ia dapat mencium mommy nya itu.


"Aku sangat rindu pada mu mom!!" seru Skala sambil memeluk leher Alesya yang saat ini sudah dalam posisi yang sejajar dengan Skala.


"Aku pun sangat rindu pada mu .." jawab Alesya sambil mencium hidung mancung putranya itu.


"Heem.. Ska, sebaiknya kau tunggu di kamar mu dulu. Mommy mu mau berganti pakaian. Dan aku, aku ingin mandi terlebih dahulu." Ujar Kenzo yang langsung ambil posisi duduk di tempat Ska duduk tadi.


"Baiklah. Sampai ketemu nanti." Ujar Skala lalu keluar dari kamar itu.


Kenzo auto bernafas lega setelah mendengar pintu di tutup oleh Skala.


"Huft! Syukur lah .." Seru Kenzo setelah menghela nafas dalam.


"ada apa?" Tanya Alesya pelan yang sedikit heran dengan redaksi Kenzo..


Kenzo hanya menatap Alesya sambil menyipitkan matanya."Liatlah wajah tak berdosan nya itu setelah melimpah semua ini pada ku." Gumam Kenzo, geram.


Alesya yang di dalam kamar mandi tentu saja tidak tahu apa yang dirasakan oleh Kenzo yang harus menghadapi Skala sendirian di situasi aneh seperti itu


Kenzo meraba ke arah belakang tubuhnya untuk mencari sesuatu.


"dapat!" Seru Kenzo ketika ia berhasil menemukan benda yang dicari nya

__ADS_1


"apa kau mengenali ini?" Ujar Kenzo sambil menjinjing benda pusaka yang ia takut ditemukan oleh Skala.


"Kenz!!" teriak Alesya seketika melihat pakaian dalamnya di pegang oleh Kenzo tanpa ada rasa malu. Alesya pun berlari ingin mengambil benda itu dari tangan Kenzo. Tapi bukan lah Kenzo nama nya jika langsung menyerahkan benda itu begitu saja. Begitu melihat Alesya sudah mendekat, Kenzo auto berdiri dan mengangkat benda itu tinggi-tinggi.


"Kenz!! cepat serahkan!!" teriak ALesya pada suaminya ini. Kenzo kalau sudah usil maka akan sulit dihadapi.


"apa kau tahu betapa jantung ku mau copot begitu melihat benda ini ada di tempat tidur sementara Skala dengan santainya malah duduk di tempat tidur yang sama." ungkap Kenzo, sambil menghindar dari Alesya yang berusaha untuk meraih tangannya.


"Kenz!! please! berikan pada ku!" Ujar Alesya sangat malu dan terus melompat untuk meraih miliknya itu.


"Kalau kau terus melompat seperti itu maka handuk mu bisa tanggal nyonya Dayson!" Seru Kenzo dengan senyum jahilnya.


Alesya yang mendengar perkataan Kenzo auto langsung memegang handuknya erat. "kau!" seru nya pada Kenzo.


"Ini.. Lain kali jangan sembarangan meletakkannya." bisik Kenzo di telinga Alesya. Membuat seluruh bulu roma Alesya berdiri.


"Memangnya siapa yang sembarangan letak! bukan kah dia yang sembarangan meletakkan benda ini setelah melepaskannya." Gumam ALesya pelan.   Tapi syukurlah Kenzo tidak mendengarkan hal itu, kalau tidak bisa jadi reka ulang adegan mereka berdua siang menjelang sore itu.


"bagaimana kabar mu?" tanya Arya pada Agnes yang sudah dua hari ini menjadi pasien titipan dari Marcus untuk Arya awasi walaupun Arya sebenarnya bukan lah dokter yang bertanggung jawab untuk menangani Agnes.


"Sudah sedikit lebih baik dok." jawab Agnes yang terlihat masih melanjutkan untuk merajut syal untuk Alesya.


Hari ini adalah hari kedua semenjak Agnes dilarikan ke rumah sakit oleh asisten Marcus. Agnes yang tiba-tiba tidak sadarkan diri ketika sedang merajut syal itu langsung dibawa ke rumah sakit oleh asisten Marcus. Dan setelah melakukan Magnetic resonance imaging (MRI), baru lah diketahui bahwa ada infeksi di rahim Agnes yang mungkin saja disebabkan oleh obat-obatan yang diberikan Jasmin waktu Agnes masih tinggal bersama Jasmin. Agnes ingat kalau Jasmin pernah memberikan obat-obatan untuk membuat rahim Agnes rusak.


"syukurlah." Ujar Arya.


"apa ada yang kau butuhkan?" tanya Arya pada Agnes yang terlihat sudah tidak pucat lagi itu.

__ADS_1


"Tidak ada dokter. Saya hanya berharap saya segera keluar dari rumah sakit ini." jawab Agnes sambil tersenyum.


"apa enaknya buru-buru keluar dari rumah sakit ini. Toh tidak ada siapa-siapa yang bisa menjaga mu di sana. Lebih baik kau disini. Paling tidak aku bisa menjenguk mu di sela-sela kegiatan ku." Ujar Arya pada Agnes yang terlihat hanya menanggapi ucapannya dengan sebuah senyuman.


"kalau aku berlama-lama disini, dokter mah enak, rumah sakit ini akan mendapatkan banyak keuntungan. Sedang kan diri ku, aku harus bayar pakai apa dok? aku tidak ingin kak Marcus mengeluarkan lebih banyak uang untuk ku. Nanti uangnya bisa habis." terang Agnes yang memang merasa tidak enak pada Marcus jika terus merepotkan Marcus.


"Marcus? kau takut Marcus bangkrut? hahahaha.." terdengar suara Arya yang tertawa lepas," Bahkan kalau kau berbulan-bulan di sini, itu tidak akan membuat harta kekayaannya rusak." Tukas Arya.


"Aku tetap merasa tidak enak untuk semua itu. Semakin cepat aku keluar dari rumah sakit ini maka akan semakin sedikit hutang budi ku pada kak Marcus." Ucap Agnes sambil terus merajut.


"Kau sedang membuat apa?" Tanya Arya yang bagaikan tidak berujung ini. Habis satu pertanyaan muncul pertanyaan berikutnya.


Agnes melihat sekilas pada Arya lalu tersenyum pada dokter itu tanpa menjawab pertanyaan Arya tadi.


"Hei!! bukannya menjawab pertanyaan ku, malah tersenyum seperti itu! hati-hati kalau kau terlalu banyak tersenyum aku bisa beralih dari dokter menjadi pasien!!" Arya memang sangat suka menggombal, hanya saja gombalannya belum pernah seserius ini.


"Dok! apa kau tidak ada kegiatan lain?" tanya Agnes yang masih tersenyum dan merajut. "Kau sudah tiga puluh menit di kamar ku!" Ujar Agnes dengan nada mengejek." Aku tidak tahu kalau seorang dokter akan memiliki waktu se- senggang ini." lirik Agnes ke Arya sekali lagi.


"Kalau untuk bertemu dengan mu nona Agnes maka pasien yang lain bisa di pending." ujar Arya masih konsisten pada rayuannya.


"Hahaha.. aku rasa tidak ada pasien  wanita mu yang akan rela keluar dengan cepat dari rumah sakit ini." Timpal Agnes.


"Andaikan semua itu benar maka aku akan sangat bahagia." jawab Arya,.


Arya melihat jamnya. Dia ada janji untuk melihat kondisi pasiennya, pasien nya si Aldo. "aku akan mampir lagi nanti." ujar Arya dan langsung keluar dari kamar Agnes dengan melambaikan tangannya pada Agnes.


Agnes melihat punggung Arya yang menghilang dari pandangan matanya. Entah mengapa Agnes merasa hidupnya saat ini jauh lebih bahagia dari pada hidup yang dijalaninya dulu, yang penuh dengan iri hati, cemburu, dan niat jahat untuk saudarinya. Kini semua terasa jauh lebih nyaman.

__ADS_1


***bersambung


*ingat untuk tinggal kan komen mu ya zeyeng... *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.


__ADS_2