
“Bik, tuan muda udah makan?” tanya Dyana pada pelayan yang tadi ia mintai tolong mengantarkan makanan ke kamar Frans.
“Udah non. Malah minta tambah.” Ujar di pelayan cekikikan mengingat Frans yang awalnya menolak memakan bubur itu eh ujung-ujung nya malah minta di bawaain satu mangkok lagi.
“Syukurlah kalau begitu.” Ujar Dyana.
“Dan dokter nya udah datang belum bik?” Tanya Dyana lagi. Dia baru ingat kalau Dokter Frans akan datang.
“Udah non. Dan pak dokter nya juga udah pulang.” jawab si bibik sambil berjalan ke arah dapur.
Dyana mengikuti si pelayan dari belakang. Sebab Cuma pelayan-pelayan di rumah nya Frans yang dapat ia bawa bicara sebab Frans kan gak tau kalau Dyana masih di rumah nya.
“kok cepat banget dokter nya pulang?” tanya Dyana sambil mengambil sebuah apel yang ada di atas meja.
“tadi dokternya bilang kalau tuan muda sudah lebih baik.” Jawab si pelayan sambil meletakkan piring kecil dan pisau kecil di atas meja makan, dekat Dyana duduk sambil memegang sebuah apel.
“sini non saya bukakan apelnya.” Tawar si pelayan dengan sopan.
“Ah, tidak perlu bik. Saya bisa buka sendiri.”Tolak Dyana ramah, sambil mengambil pisau yang dilatakkan oleh si pelayan di piring kecil itu.
Dyana pun mulai mengupas kulit apel itu dengan pisau kecil itu.
“Si Frans memang sering sakit ya bik?” tanya Dyana pada si pelayan. Jujur saja sebenarnya Dyana bertanya ini bukan karena ia peduli atau pun kepo tentang kehidupan Frans. Tapi hal ini dia lakukan karena di sedang merasa bosan. Dan dia butuh orang untuk di bawanya bicara. Dia sudah mencoba menelpon Marcus, tapi ponsel Marcus tidak aktif. Dyana yakin saat ini pasti Marcus sedang berada di rumah Jasmin. Karena memang seharusnya hari ini mereka berdua menghadiri undangan makan siang dari Jasmin kemaren. Hanya saja karena Frans jatuh sakit akhirnya Dyana mendarat sebagai perawat di rumah Frans saat ini sementara Marcus pasti memenuhi undangan makan siang itu sendirian.
“tuan muda itu sebenarnya bisa dikatakan cukup sering sakit sih non. Tapi ya sakitnya itu sakit -sakit recehan gitu.. Cuma ya bisa dikatakan rutin sih.” Jawab si pelayan.
“maksudnya?” Dyana entah karena baru bangun tidur entah karena emang gak ngerti jadi minta si bibik untuk menjelaskannya lagi.
“Ringkasnya itu tuan muda kalau kecapean pasti bakalan demam non. Udah dari dulu. Makanya tuan muda itu gak di bolehin oleh nyonya ngurusin banyak hal di luar hal kantor. Saya ingat dulu waktu kantor tuan Frans ngadaain acara family gathering, wuih pulangnya tuan muda sakit non. Dan yang bikin sakitnya itu jadi lama sebab nafsu makannya suka ngilang kalau dia sakit.” Jelas si pelayan.
“oo.. jadi fisiknya si Frans itu lemah ya?” Pikir Dyana.
“tapi hari ini untung non Dyana ada disini dan berinisiatif membuatkan tuan muda bubur kalau tidak saya mah pasti kerepotan minta tuan muda untuk makan.” Ujar Si pelayan.
__ADS_1
“baguslah kalau keberadaan diri ku disni ada gunanya juga.” Gumam Dyana, asal.
“yeee si enon mah gak sadar betapa besar jasa enon hari ini makanya menganggap hal ini sebagai hal biasa saja. Padahal ini mah suatu keajaiban menurut saya. Tapi ngomong-ngomong itu bubur resepnya boleh saya minta gak non? Biar saya bisa buatkan untuk tuan muda. Mana tau suatu saat tuan muda nanyaain bubur buatan non lagi atau mana tau suatu saat tuan muda sakit lagi dan tidak ada selera makan, saya kan bisa buatkan untuk beliau.” Ucap si pelayan.
“boleh.” Jawab Dyana. “tapi ada syaratnya!” Ujar Dyana sambil tersenyum.
“wadduh kalau pakai syarat-syarat gini saya jadi takut non. Takut gak bisa penuhin persyaratan dari nona Dyana.” Jawab si pelayan dengan wajah memelas yang merasa bahwa Dyana pasti akan memberikan persyaratan yang berat untuk nya.
“bibik tenang aja. Persyaratannya gak berat kok. Bibik cukup buatkan aku nasi goreng tapi aku inginnya di campur dengan bumbu praktis rendang gitu. Jadi gak pakai bumbu siap saji nasi goreng. Melainkan pakai bumbu siap saji rendang.” Jelas Dyana sambil membayangkan makan nasi goreng rasa rendang.
“Apa non? Bumbu nasi gorengnya diganti dengan bumbu rendang? Jadi apa tu kira-kira rasa nasi goreng?” Tanya si pelayan dengan kening yang mengkerut.
“ntar bibik rasakan aja gimana rasa nasi goreng favorit akuh itu.” Seru Dyana sambil tertawa.
“Si nona cantik ada -ada aja ide gila masakannya. Mana ada sih non orang masak nasi goreng dengan bumbu rendang? Mendingan makan rendang dengan nasi sekalian aja atuh non.” Ungkap si pelayan.
“Udah bik, bibik gak usah banyak protes. Sana bibik siapin aja yang aku minta. Biar aku juga cepat kasih resep rahasia dari bubur ajaib aku ke bibik.” Ujar Dyana sambil terus menyantap apel yang sudah di potong-potongnya menjadi bagian-bagian kecil.
“Oke saya masak nih nasi goreng ajaib permintaan non. Tapi saya gak tanggung jawab ya kalau rasanya jadi aneh di lidah non nanti.” Sebelum memasak, si pelayan perlu menempatkan dirinya di posisi aman terlebih dahulu. Jangan sampai nanti si nona cantik malah muntah-muntah karena memakan nasi goreng oplosan buatannya.
“non aja deh. Saya gak usah di bagi saja..hahaha..” seloroh si bibik sambil tertawa.
Mereka berdua pun asik mengobrol di kamar lalu tiba-tiba..
“bik!! Tuan muda!! Tuan muda!” seru salah seorang pelayan yang berlari dari arah kamar Frans di atas.
“Bik! Kenapa tuch!” Dyana pun jadi panik mendengar seseorang berteriak dari arah kamar Frans.
“Gak tau non!” Ujar di bibik dan langsung mematikan api kompor.
Dyana dan si pelayan pun langsung berlari menuju ke kamar Frans. Beberapa pelayan lain juga berlari kesana.
“ada apa?” tanya Dyana pada pelayan yang terlihat panik di depan pintu.
__ADS_1
“Kulit tuan muda muncul ruam-ruam aneh!” Seru si pelayan. Rupanya ketika ia akan meletakan gelas air yang baru di kamar Frans tanpa sengaja dia melihat ada ruam-ruam aneh di tangan Frans. Lalu si pelayan pun melihat ke arah kaki Frans dan ternyata ruam-ruam yang sama juga ada disana. Jadi dia berpikiran kalau kemungkinan besar di seluruh tubuh tuan muda nya pada ada ruam yang sama. Selain itu tubuh Frans pun terasa sangat panas.
“Bukannya tadi Frans baik-baik saja bik??” tanya Dyana pada pelayan yang ada disamping nya.
“Ia non saya yakin tuan Frans tadi baik-baik saja ketika dokter meninggalkannya. Bahkan saya melihat dengan mata kepala saya sendiri waktu dia meminum obat dari dokter non.” Terang si pelayan.
Dyana pun langsung masuk ke kamar Frans. Bodo amat saat ini Frans sedang tidur atau tidak, yang penting Dyana harus melihat sendiri keadaan Frans.
Dyana mendekati Frans dan menyingkap lengan baju Frans. “ruam apa ini?” gumam Dyana dalam hati. “Tubuhnya juga sangat hangat!” pikir Dyana. Lalu Dyana juga menyingkap sedikit kerah baju Frans untuk melihat apakah ruam itu memang ada diseluruh tubuh Frans atau hanya ada ditangan dan kaki nya saja. Dan ternyata..
“Sepertinya seluruh tubuh nya ada ruam ini bik.” Seru Dyana pada si pelayan.
“Aduh bagaimana ini non!”jawab si pelayan panik.
“Cepat bibik panggil dokter itu kembali untuk datang ke sini.” Ujar Dyana dengan wajah yang juga ikutan panik.
“baik non!!”
Si pelayan pun menelpon kembali dokter yang datang tadi siang.
“dokter itu akan segera tiba non sebab ternyata dia belum jauh dan baru saja selesai makan bersama rekannya di sekitar daerah ini.” Ujar si pelayan.
Dyana yang mendengar kalau dokter itu akan segera kembali tidak langsung dapat tenang begitu saja. Bagaimana kalau ada apa-apa pada Frans sementara dokter itu belum juga tiba.
Dyana akhirnya memutuskan untuk menelpon Marcus. Menurut Dyana Marcus pasti tau apa yang harus ia lakukan sembari menunggu si dokter datang.
Dyana pun turun untuk mengambil ponselnya yang ia tinggalkan di kamar.
Sesampainya di kamar Dyana langsung mencari nomor Marcus dan menekan nomor itu.” Semoga ponselnya sudah aktif kembali.” Ucap Dyana pelan.
“Hallo Marcus!!” Ujar Dyana begitu panggilan itu tersambung.
***bersambung..
__ADS_1
hai.. iya kamuh!! kamuh yang baca karya otor tapi gak pernah like, komen atau vote... ayo donk... like, komen dan vote.. biar otor tau kalau kamu benar-benar suka dengan karya otor... 😍😘