
"Dia pasti sudah gila!!!" Gumam Alesya sambol berjalan cepat menuju kamar tempat Skala di rawat.
"Nyonya.. Dari tadi ponsel anda terus berbunyi." Ujar Jack, yang memang sedari tadi mendengar ponsel Alesya berkali-kali berbunyi.
"Ah.. ya. Terima kasih Jack." Jawab Alesya dan langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.
Alesya melihat beberapa panggilan tak terjawab. Dan ternyata itu panggilan dari Monica. "Monica? Ada apa dia menelpon ku?Apa dia sudah melakukan yang aku perintahkan pada nya kemarin?" Pikir Alesya dalam hati.
Alesya melirik sebentar ke arah Jack. Tidak mungkin baginya untuk menelpon di ruangan ini karena ada Jack dan Skala. "Aku harus keluar sebentar." Gumam Alesya dalam hati.
"Jack, aku keluar sebentar. Tidak lama. Hanya ingin membeli beberapa barang keperluan pribadi ku" Ujar Alesya. "Aku titip Skala ya. Kalau ada hal penting kau bisa mengirimi ku pesan." Alesya mengambil tasnya dan pergi keluar.
Dua puluh menit setelah Alesya pergi untuk keluar, Kenzo masuk ke ruangan Skala. Dilihatnya ruangan itu hanya ada Jack dan Skala yang sedang tertidur. "Dimana Alesya?" Tanya Kenzo. Seingat Kenzo Alesya sudah terlebih dahulu kembali ke kamar Skala.
"Nyonya keluar untuk membeli beberapa keperluan pribadinya." Jawab Jack.
"Oo.. "
"Jack, pesankan makanan untuk kita bertiga. Dan ya.. apakah perawat Skala sudah datang untuk memberi nya makan dan obat?"
"Sudah tuan. Ketika Anda dan nyonya Alesya di luar tadi dokter Rini dan beberapa perawat datang." Jelas Jack.
"Baguslah kalau begitu."
Kenzo lalu duduk dan berkata, "bagaimana dengan penyelidikan mu tentang aliran dana direkening kedua pembunuh itu?"
"Saya minta maaf tuan. Tapi hasilnya masih nihil. Tidak ada nama mereka disatu pun bank.Seakan-akan mereka memang tidak dibayar oleh siapapun dan hanya secara acak menculik tuan muda. Mereka sangat profesional tuan."
Kenzo memejamkan matanya untuk beberapa saat kemudian kembali membuka matanya berlahan hingga tatapan tajam matanya yang bagaikan mata elang dapat terlihat jelas oleh Jack.
"Selidiki orang-orang disekitar mereka. Keluarga atau teman baik. Bisa jadi mereka menggunakan nama salah satu dari keluarga atau teman mereka untuk menerima pembayaran."
"Baik tuan." Jawab Jack.
"Oo iya tuan, " Sambung Jack, "apakah anda sudah melihat berita teratas hari ini?" tanya Jack.
"Berita tentang apa? Apa ada perusahaan yang bangkrut dan bisa kita ambil alih."
Jack menghela nafas pelan, "Apa hanya itu berita bagi mu tuan?" Batin Jack.
"Tidak tuan, berita yang satu ini lebih menarik dari berita tentang mengakuisisi sebuah perusahaan." Ujar Jack. "Ini berita tentang nona Agnez dan tuan Puji." Lanjut Jack bersemangat. "Video mereka ketika digerebek wartawan pagi kemarin tersebar luas."ucap Jack setengah berbisik.
Kenzo menatap Jack. "Apa kau yang menyebarkan video itu?" Tanya Kenzo curiga. Karena sampai saat ini dia yakin dia belum menginstruksikan apapun pada Jack.
"Tidak tuan. Disitulah anehnya. Siapa yang berani menyebarkan video ini? Seingat saya nyonya Jenny sudah membeli semua rekaman milik para wartawan. Seharusnya hanya kita yang memiliki rekaman kejadian pagi itu tapi setelah saya bandingkan antara rekaman yang kita miliki dan rekaman yang ada di media sosial tidak sama tuan." jelas Jack.
"Apa mungkin ada orang lain?" Jack terlihat berpikir sendiri. "Atau mungkinkah nyonya Alesya yang menyebar video ini?" ucap Jack asal.
"Bisa jadi." Jawab Kenzo sambil berpikir mungkinkah Alesya adalah orang yang menyebarkan rekaman video tersebut.
"Karena aku melihat dia keluar dari kerumuman para wartawan di kamar Agnez pagi itu." Kenzo masih berpikir peluang kemungkinan akan hal itu.
"Tapi saya rasa tidak mungkin tuan. Sejak penculikan tuan muda Skala, fokus nyonya Alesya hanya tertuju pada tuan muda. Kapan dia mengupload video itu jikalau memang dia pelaku nya."
"Bukan kah dia sedang keluar sekarang Jack?! Bisa saja dia mengatakan ingin membeli sesuatu tapi sebenarnya ia sedang mengupload video itu di media sosial." tebak Kenzo.
"Tidak mungkin tuan. Karena video itu bukan baru diupload tapi sudah diupload mulai dari jam 3 subuh ini." Jelas Jack. "Apa kau melihat nyonya Alesya mengupload sesuatu? atau mungkin dia menghubungi seseorang? Bukan kah kalian tidur bersama tadi malam?" ucap Jack dengan pancaran sinar mata yang jahil.
"Tutup mulut mu Jack. Aku tekankan sekali lagi bahwa semalam tidak ada -"
"Cukup tuan. Kau tidak perlu secara pribadi mengkonfirmasi apa yang kau dan nyonya Alesya sudah lakukan pada ku. " Seru Jack, tetap menggoda tuannya. "Lagian kalian sudah menikah. Secara hukum kalian sah. Secara agama pun kalian Sah. Jadi kalau kau dan nyonya-"
"Tutup mulut mu Jack!!!" Potong Kenzo.
"Untuk apa dia malu. Bukan kah yang aku katakan itu benar. " Dengus Jack dalam hati. "Kepergok pihak rumah sakit pun tidak akan kenapa-napa karena mereka memang sudah suami istri."
__ADS_1
"Berhenti berpikir yang bukan-bukan Jack." Perintah Kenzo seakan tahu apa yang asisten nya sedang pikirkan.
"Kalau memang video itu tidak di uplaod baru saja maka Alesya bukan pelakunya. Kau perhatikan saja perkembangan mengenai hal ini.
" Baik tuan." Jawab Jack..
Di kediaman Diningrat, suasana sangat panas. Terlihat tuan Ronald tengah sibuk menyuruh anak buah nya untuk memblokir situs itu. Tapi sejak tadi usaha mereka sia-sia.
"Maaf tuan. Kami tidak bisa menurunkan berita itu tuan." Ujar salah seorang anak buahnya.
"Aku tidak mau tahu, video itu tidan boleh beredar luas!!!!" Bentak Ronald.
Ketika Ronald tengah sibuk menghentikan video itu, Agnez tengah mengamuk seperti orang gila di kamar. Dia terus mengatakan akan membunuh Alesya. Jenny sangat khawatir melihat nya.
"Cepat kau panggilkan dokter!! Kita tidak bisa membiarkan Agnez terus mengamuk seperti orang gila!!' Jenny memerintahkan pelayannya untuk menghubungi dokter keluarga mereka.
Jenny takut Agnez benar-benar jadi gila kalau tidak segera ditenangkan.
" Baik Nyonya" jawab si pelayan.
Jenny meninggalkan kamar Agnez dan menuju ruang kerja suami nya.
"Bagaimana?" Tanya Jenny ketika bertemu dengan Ronald di ruang kerja Ronald.
"Aku sudah melakukan segala cara tapi situs itu tidak bisa tersentuh." Ujar Ronald.
"Dan lebih parahnya ada banyak sekali wartawan saat ini di depan gerbang rumah kita." Lanjut Ronald gusar. Ia takut hal ini akan berpengaruh terhadap harga saham perusahaannya.
"Hanya ada satu solusi." Ujar Jenny, berat. Sebenarnya ia ingin menghindari menggunakan solusi ini tapi situasi semakin memburuk. Mau tidak mau Jenny akhirnya mengusulkan solusi itu pada suaminya. Jenny pun tidak mau menggembel hanya karena permasalahan ini.
"Apa itu?" Tanya Ronald penasaran.
"Kau hubungi tuan Puji dan minta ia melakukan konferensi pers bersama Agnez dan mengumumkan bahwa mereka telah menikah minggu lalu secara agama. Dan proses pernikahan mereka secara hukum sedang akan di urus." Jenny menjelaskan solusi yang ia maksudkan.
Jenny hanya bisa tersenyum kecut melihat reaksi suaminya.
"Aku akan segera menelpon tuan Puji. Aku yakin ia juga sedang pusing karena video itu. Kau persiapkan Agnez untuk konferensi pers nanti malam. Jangan sampai dia mengacaukan semua rencana ini." Peringat Ronald.
Jenny benar-benar terkena jebakannya sendiri.
###
"Dari mana saja kau Alesya?" Tanya Kenzo ketika Alesya kembali ke kamar.
"Aku habis membeli beberapa keperluan pribadi ku yang tidak mungkin untuk di belikan oleh Jack. " Jawab Alesya sambil mengangkat belanjaannya.
"Bagaimana kabar Skala?" Tanya Alesya karena ia pergi cukup lama.
"Skala baru saja tidur kembali. Tadi dia sudah bangun dan kondisi nya sudah membaik. Selain proses penyembuhan luka bekas tembakan itu tidak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan." Jelas Kenzo.
"Kenz.. " Panggil Alesya sambil duduk di hadapan Kenzo. "Ada yang ingin aku tanya dari kemarin." Wajah Alesya terlihat serius.
"Heeem.. katakan."
"Apa kau bisa memberitahu ku, siapa orang yang telah mendonorkan darahnya untuk Skala?" Tanya Alesya. Dia ingin tahu siapa orang yang mendonorkan darah langka itu pada putra nya. Sebab kalau itu wanita maka mungkin saja wanita itu ada hubungan dengan ayah kandung Skala, bahkan jika pendonor itu adalah seorang laki-laki maka bisa saja ia lah ayah kandung Skala.
Walaupun tidak bermaksud untuk mencari tahu siapa laki-laki itu tapi fakta munculnya pendonor dengan golongan darah yang sama dengan Skala membuat Alesya takut dan cemas. Bisa saja laki-laki itu mungkin saja adalah ayah Skala dan bisa mengambil Skala dari nya.
"Aku lah pendonor itu." Jawab Kenzo sambil menatap tajam ke manik mata Alesya. Kenzo tidak sabar untuk melihat reaksi wanita ini setelah mengetahui dia lah pendonor untuk Skala.
"Kau-" Perkataan Alesya terhenti. Seluruh tubuh Alesya mendadak kaku. Bagaimana kalau benar Kenzo adalah ayah kandung Skala? Jantung Alesya berdebar sangat kencang. Mata nya membulat. Darah-darah di dalam tubuhnya seakan berhenti mengalir. "Mungkin kah dia laki-laki malam itu?" Gumam Alesya dalam hati.
"Kenapa kau begitu terkejut Alesya?Apa ada yang ingin kau katakan pada ku?" Tanya Kenzo masih dengan tatapan dinginnya.
Alesya menelan saliva nya. Tidak mungkin dia bertanya pada Kenzo, "Apakah Kenzo adalah laki-laki yang telah menidurinya delapan tahun yang lalu?"
__ADS_1
"Ini pasti hanya sebuah kebetulan!! Alesya mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa Kenzo memiliki golden blood sama seperti Skala pasti hanya sebuah kebetulan.
Melihat Alesya yang terdiam, Kenzo merasa Alesya pasti berpikir hal yang sama dengan yang dia pikiran.
" Kalau seandainya saat itu aku bukan lah pendonor yang tepat bagi Skala saat itu, apakah kau akan meminta ayah Skala untuk datang?" Kenzo sengaja mengajukan pertanyaan yang semakin memojokan Alesya. "Ayahnya tentu memiliki golongan darah yang sama dengan nya kan?" Tanya Kenzo, tak mengalihkan pandangannya.
Alesya merasa bahwa ini adalah pertanyaan jebakan. Kalau dia mengatakan benar maka Kenzo pasti akan memanggil ayah Skala datang lalu Kenzo pasti bertanya dimana ia sekarang dan siapa nama nya. Karena pemilik golongan darah ini jumlah nya hanya sekian puluh orang maka kalau Alesya nekat berbohong akan mudah diketahui oleh Kenzo. Tapi ia mengatakan tidak akan memanggil Ayah kandung Skala maka Kenzo akan mengajukan serangkaian pertanyaan lain seperti mengapa tidak memintanya datang, atau apakah golongan darah mereka berbeda atau pertanyaan lainnya yang akan semakin memojokan Alesya.
Alesya menarik nafas dalam, dan menjawab pertanyaan Kenzo dengan sedikit tergagap. "Tentu saja ia memiliki golongan darah yang sama dengan Skala. Tapi aku tidak akan mengizinkan dia untuk menemui Skala."
"Kenapa?" Tanya Kenzo.
"Kenapa?" Alesya malah mengulangi perkataan Kenzo.
"Ya kenapa kau tidak akan memanggilnya?" Kenzo terus mendorong Alesya semakin ke sudut dengan pertanyaan nya.
"Laki-laki ini-"Ucap Alesya dalam hati. Ia sadar kalau ia harus berpikir cepat saat ini.
"Aku rasa aku tidak berkewajiban untuk mengatakan semua isi dapur ku pada mu tuan Dayson." Jawab Alesya, dengan wajah pura-pura kesal untuk menutupi kegugupan nya.
"Terus lah menyembunyikan nya Alesya!" Batin Kenzo.
"Heeem.. syukur lah Skala memang memiliki seorang ayah. Karena hampir saja aku berpikir mungkin saja Skala adalah putra kandung ku." Ujar Kenzo sambil menyilangkan kaki nya.
"Apa maksud mu Kenz?" Seru Alesya, tegang.
Kenzo melihat Alesya dengan tatapan tajamnya. Kemudian sebuah senyum muncul di sudut bibirnya, "Aku rasa aku tidak berkewajiban untuk mengatakan semua isi dapur ku pada mu, nyonya Dayson." Kenzo membalikkan perkataan Alesya sebelumnya.
"Kau!!" Seru Alesya sambil menunjuk ke arah Kenzo.
Kenzo tersenyum dan mengalihkan pandangan nya pada ponselnya.
"Dia pasti sengaja berkata seperti itu untuk membalas ku!! Gumam Alesya dalam hati. "Bodoh nya aku mengira kalau dia benar berpikir Skala adalah putra nya! Hampir saja aku percaya dia adalah pria malam itu, malam delapan tahun lalu." Pikir Alesya dalam hati.
"Come on Alesya!! Pria itu memang suka mempermainkan mu!!" Batin Alesya memperingati nya untuk jangan terlalu terbawa suasana oleh Kenzo.
Secara diam-diam Kenzo memperhatikan mimik wajah Alesya. Setiap perubahan air muka nya terlihat begitu lucu ketika ia berpikir. "Entah apa yang dipikirkan oleh wanita ini." Pikir Kenzo dalam hati.
"Apa dia mulai memikirkan perkataan ku?" Gumam Kenzo. "Baguslah kalau dia mulai memperhitungkan kemungkinan aku adalah ayah biologis Skala. Paling tidak, dia tidak akan terlalu terkejut ketika mengetahui fakta nya kelak." Kenzo terus mencuri lihat pada Alesya yang berada di hadapannya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Dengan raut wajah khawatir sekaligus marah terlihat di wajah Albert Dayson ketika ia masuk ke kamar Skala. "Apa kau sudah mengira aku ini sudah mati, Kenzo Dayson!!!" Ujar sang kakek dengan suara berat nya.
"Kakek?" Seru Alesya terkejut dan tanpa ia sadari ia memposisikan dirinya duduk di samping Kenzo. Alesya benar-benar lupa bahwa mereka berjanji akan kerumah Albert Dayson hari ini. Tapi karena peristiwa yang tidak terduga ini, mereka batal pergi kesana. Dan lebih parah nya mereka lupa untuk memberi kabar pada sang kakek. "Pasti dia sudah menunggu kedatangan kami sejal pagi."Batin Alesya.
Kalau hati dan pikiran Alesya di penuhi dengan segala perasaan tidak enak terhadap Albert dasyon yang merupakan kakek suaminya, berbeda Kenzo. Kenzo malah terlihat sangat santai. Seakan-akan repetan kakek yang panjang kali lebar itu sudah sangat biasa dia hadapi.
"Kenz.. katakan sesuatu!" ucap Alesya pelan.
Kenzo melihat sekilas pada Alesya.
"Aku sudah menghubungi mu kek. Tapi kau tidak mengangkat panggilan ku." Ujar Kenzo seadanya.
"Kau baru menelpon ku siang ini ketika aku sudah duduk di pesawat jet pribadi ku dan membaca laporan dari orang kepercayaan ku bahwa cicit ku telah di culik dan terluka dalam insiden itu." Jawab Albert, kesal.
"Maafkan kami kek, Kami terlalu panik." Alesya segera menengahi keadaan yang mulai memanas ini. Dalam pikiran nya, Alesya berpikir apa semua laki-laki berdarah Dayson ini memiliki tempramen yang buruk seperti mereka berdua.
"Sehingga kami lupa untuk mengabari mu. Apalagi malam itu ketika Skala dibawa ke rumah sakit ini, setelah ia menjalani berjam-jam operasi keadaan nya masih kritis. Jadi saat itu kami benar-benar tidak dapat berpikir jernih." Jelas Alesya.
"Karena istri mu menjelaskan semua pada ku alasan kalian tidak jadi mengunjungi ku maka aku memaafkan perbuatan mu kali ini." Seru Albert. "Tapi itu tidak berarti kalian tidak akan aku hukum." Ucap Albert sambil sebelah alisnya terangkat.
###
Hai cinto.. maaf telat ya cos otor sedang sibuk baca komen-komen dinovel corner, tentang ajakan pindah atau tetap di novel toon.. sejujur nya otor sempat berpikir untuk berhenti nulis.. tapi ketika niat otor untuk pindah lapak sudah hampir bulat tiba-tiba notifikasi dari novel toon masuk dan mengatakan ada diantara kamu cinta yang komen or like. Hal ini membuat niat otor yang tadi nya hampir bulat.. eeh kembali ke wujud asal nya yakni jadi garis panjang lagi yang belum tahu pasti kapan akan berubah jadi bulat kembali. Bahkan otor sudah mendaftarkan karya ini sebagai karya untuk diperlombakan.. menurut kamu layak gk ya untuk ikut lomba yang diadakan Novel toon?
Jadi jangan lupa untuk like dan komen ya.. dan terpenting kamu mau memberi vote untuk otor biar otor bisa lebih semangat nulis untuk kamu😘
__ADS_1