
Tanpa Frans dan Stephan sadari ternyata dari tadi Stephani sudah sadar. Hanya saja gadis itu pura-pura masih tidak sadarkan diri karena tidak tahu harus memberikan penjelasan apa pada Stephan mengenai Frans.
Dan setelah cukup lama memejamkan mata sambil terus menyimak perbincangan antara kakaknya Stephan dan Frans, akhirnya sebuah rencana terlintas di benak Stephanie-
“hukk..huk..!”
“F-fRans..” Seru Stephanie menyebut nama Frans tepat setelah suara batuk palsu yang dibuatnya.
Stephan langsung menoleh pada Frans, sedang kan Frans auto memasang wajah bingung plus panik, bagaimana bisa gadis ini tau-taunya menyebutkan nama nya begitu sadar.
“Ann, Annie?” Panggil Stephan lembut pada Stephanie. Annie adalah nama kecil Stephanie.
“Stephan.. mana Frans? Mana Frans? Apa kau menyakitinya?oh tidak!! Jangan katakan kalau kau telah menghabisinya!!!” Seru Stephanie, menutup mulut nya sambil memperlihatkan ekspresi terguncang selayaknya Juliet yang baru saja menerima kabar kematian sang Romeo.
"Frans itu tidak salah apa-apa. Aku yang meminta kami bertemu. Aku yang ingin dia untuk membawa ku lari dari Pernikahan ini!! Dia tidak bersalah apapun Stephan!!" Ratap Stephanie sungguh meyakinkan di mata Stephan.
Stephanie tentu saja tahu kalau Frans juga ada di ruangan itu, tapi dia sengaja hanya memfokuskan tatapannya pada saudara kembarnya Stephan saja.
__ADS_1
“Kenapa kau tega melakukan itu semua pada ku Stephan!!” Stephanie menolehkan wajahnya ke arah yang lainnya sambil memaksa air mata keluar dari sudut-sudut matanya.
“Come on!! Keluar lah!! Tidak perlu satu drum!! Setetes dua tetes pun sudah sangat baik.” Tukasnya pada dirinya sendiri.
“Annie.. listen to me. (Annie .. dengarkan aku).” Ujar Stephan sambil menarik dengan lembut wajah adik nya.
“Look..look!! he is here!! (lihat..lihat!! dia di sini)” Sebut Stephan sambil menarik tangan Frans yang sedang menatap tajam pada Stephanie.
Stephanie sadar kalau Frans saat ini pasti sangat marah pada nya, itu dapat Stephanie ketahui dari ekspresi wajah Frans yang seolah-olah ingin menelan Stephanie hidup-hidup.
“Ups!! Sorry Frans. I have no choice. (Ups maaf Frans. Aku tidak ada pilihan)” Gumam Stephanie dalam hati tapi dengan ekspresi wajah lega sebab sang kekasih tidak kenapa-napa.
Frans tetap menatap Stephanie dengan tatapan nya yang sulit untuk di artikan. Seolah sedang berkata,”Teruslah berbohong!! Aku ingin lihat sampai mana kau sanggup untuk berbohong.”
Stephanie menelan saliva nya sambil tetap tersenyum.
“Stephan, bisakah kau tinggalkan aku dan Frans sebentar. Ada beberapa hal yang harus aku jelaskan pada nya soal pernikahan ku dan James.” Ujar Stephanie lirih. “Aku sama tidak bermaksud membuat Frans dalam masalah..tapi..tapi.. tapi....” Stephanie pun mulai naik ke tahap akting sedih berikutnya, yakni part deraian air mata.
__ADS_1
“Aku tapi aku sungguh tidak sanggup hidup tanpa nya Stephan!!!.”tutur Stephanie penuh isak.
“jelek sekali akting mu..” cemooh Frans dalam hati. “Memangnya siapa orang bodoh yang akan tertipu dengan akting yang buruk seperti itu.” Lanjut Frans sambil geleng-geleng kepala.
“Aku yang salah Annie!! Tidak seharusnya aku memaksa mu menikah dengan James!!”
“What the ****??!” Umpat Frans pelan. Dia tidak menyangka Stephan termakan akting buruk Stephanie itu.
Frans benar-benar terperangah dengan kelakuan absurb dua kakak beradik ini. Yang satu bodoh dan yang satu lagi mudah untuk di bodohi.
“Aku tidak akan memaksa mu untuk menikah dengan James lagi!! Selain itu pria itu memang tidak layak untuk mu! Kau lebih pantas bersama pria ini!” Sebut Stephan sambil menepuk keras pundak Frans membuat langsung terbatuk-batuk.
“Baiklah aku akan meninggalkan kalian berdua. Bicaralah selama yang kalian perlukan. Aku akan pergi membeli sesuatu untuk di makan.” Ujar Stephan lalu keluar dari kamar itu.
Suasana sempat hening sesaat hingga akhirnya suara Frans yang berat memecah keheningan yg hadir untuk sejenak itu
“Sekarang jelas kan semua ini pada ku nona Stephanie?” Ucap Frans dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
**bersambung.