Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 46#Syal permintaan maaf#1


__ADS_3

“Arya.. apa aku bisa berbicara dengan Agnes?” Marcus kembali menelpon Arya sebelum dia datang ke rumah sakit bersama Kenzo dan keluarga Kenzo.


“Em.. Marcus, sebaiknya kau datang saja ke sini. Saat ini aku tidak bisa membantu mu untuk berbicara dengan Agnes.” Jawab Arya dengan nada datar.


“Apa kau sedang bersama pasien mu Arya?” tebak Marcus. Arya tidak biasa nya menolak jika Marcus meminta untuk berbicara dengan Agnes.


“ya,.. begitu lah kira-kira. Aku tunggu kedatangan mu ke rumah sakit segera. Ingat jangan terlalu lama. Sebab kau tahu sendiri kalau kornea mata itu harus diambil enam jam paling lambat setelah waktu kematian pendonor.” Tekan Arya sekali lagi supaya Marcus segera datang ke rumah sakit.


“Kalau boleh aku tahu, siapa yang menjadi pendonor mata untuk Dyana?” Marcus baru teringat kalau sedari tadi Arya tidak ada menyampaikan siapa yang telah mendonorkan matanya untuk Dyana.


“Kau datang saja Marcus. Aku sangat sibuk saat ini!” Ujar Arya dan langsung menutup telpon itu.


“anak ini kenapa? Kenapa dia langsung mematikan telpon ku begitu saja?” Ujar Marcus sewot sambil memandangin ponsel yang di pegangnya.


Marcus pun langsung merapikan baju nya dan baju milik Skala. Lalu dia membawa koper itu keluar.


“Kau sudah siap paman?” tanya Kenzo yang ternyata sudah menunggu Marcus di ruang tengah Villa itu.


“Ya, tentu saja. “ Jawab Marcus.


“Ska .. kau di mobil grand pa mu saja. Kasihan granda sendirian.” Perintah Alesya pada Skala.


“Siaap.. mom!” Skala pun berjalan ke arah Marcus.


“kita pergi sekarang?” tanya Marcus pada Kenzo.


“mari...”


***


“sebentar, aku telpon Arya dulu.” Ucap Marcus saat mereka masuk ke dalam rumah sakit pada Kenzo dan Alesya.


“Kau dimana Arya?” Tanya Marcus begitu panggilan itu tersambung.


“Aku sedang bersama pendonor itu sekarang.” jawab Arya singkat.

__ADS_1


“Baiklah.. sebutkan dimana dirimu. Akan ku susul kau kesana.” Buru Marcus.


“Aku ada di lantai 3 kamar 312.” Jawab Arya, terdengar tidak bersemangat.


“lantai tiga? Bukan kah Agnes juga di rawat di lantai tiga?” Sebut Marcus yang teringat kalau Agnes juga berada di lantai tiga.


“benar.. Agnes juga di rawat di lantai tiga. Segera kemarilah.” Pinta Arya, yang masih terdengar sendu.


“Apa pendonor itu adalah pasien mu ?” tanya Marcus pada Arya. “ Kau terdengar sedih.” Lanjutnya.


Marcus mengira pendonor untuk Dyana adalah salah seorang pasien Arya, sebab dia tahu benar sifat Arya. Dokter yang satu ini memang layak dikatakan dokter ter-simpatik pada pasiesnnya. Arya memang sangat mudah mendekatkan diri pada pasien-pesiennya. Lihat saja waktu kasus Mai dulu. Bahkan Mai yang sama sekali tidak pernah berbicara apapun pada Arya dapat membuat Arya melangkah terlalu jauh dalam urusan pribadi Mai. Ya begitu lah seroang Arya. Jadi tidak heran jika dia terdengar sedih jika ada salah serorang pasiennya meninggal dunia.


“Dia bahkan sudah seperti teman ku..” Ucap Arya, terdengar sedih.


“Aku turut berduka Arya..” Ujar Marcus yang masih belum memahami situasi yang sebenarnya.


“Sudah.. lekaslah kemari.” Sebut Arya sekali. Dan sekali pula Arya mematikan sambungan itu sepihak.


“kenapa lagi dia?” Seru Marcus.


“aku setuju dengan mu paman.” Balas Kenzo yang merasa apa yang dikatakan oleh Marcus memang benar adanya. Tentu akan sangat beruntung jika dapat mengenal siapa pendonor mata itu serta mengucapkan terima kasih langsung pada keluarganya.


“Paman, nanti jangan lupa katakan pada mereka bahwa kita siap memberikan kompensasi atau pun memberikan bantuan apa saja yang mereka butuhkan sebagai bentuk rasa terima kasih kita.” Sambung Kenzo.


“ Tentu saja Kenz. Kau tenang saja kalau soal itu.”


“Mari ikuti aku. Kamarnya ada di lantai tiga.” Ucap Marcus, dan langsung menarik tangan Skala agar mengikutinya.


***


“tokk... tok...” terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar itu.


“Masuklah.. “ Sahut Arya dari dalam kamar itu yang sudah dapat menebak bahwa yang datang itu pastilah Marcus.


Marcus yang masuk pertama sekali bersama Skala merasa heran melihat kamar itu begitu sunyi. Bahkan Marcus melemparkan pandangannya ke segala arah untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya adalah benar. Kamar itu terlalu sunyi untuk ukuran kamar orang meninggal yang seharusnya ada banyak sanak saudara di dalamnya.

__ADS_1


“Kau mencari siapa?” Tanya Arya yang sudah bisa menebak isi kepala Marcus.


“Kenapa sunyi sekali?” tanya Marcus yang masih tegak di depan pintu sehingga Kenzo dan Alesya terpaksa berdiri di luar pintu itu.


“karena memang keluarga nya tadi belum datang.” Jawab Arya dengan wajah yang sangat terlihat sedang menyembunyikan rasa sedihnya.


“Keluarga belum ada yang datang?” Ulang Marcus yang merasa tidak percaya kalau keluarga mendiang belum ada yang datang. Padahal Arya saja sudah dari tadi memberitahukannya. Dan itu sudah sekitar tiga jam yang lalu.


“Tadi memang belum.. tapi sekarang sudah.” Sebut Arya yang masih saja bermain kata-kata dengan Marcus.


“Mana?” tanya Marcus yang sangat ingin bertemu dengan keluarga dari orang yang telah bermurah hati menjadi pendonor kornea mata pada Dyana.


Arya tidak menjawab perkataan Marcus tapi anehnya terus menatap ke arah Marcus.


“Hei!! Kau ini! Ditanya malah diam saja.” Seru Marcus yang masih belum dapat membaca air muka Arya yang sedang terpukul itu.


“Aku tidak sedang diam Marcus. Aku sedang memandang wajah satu-satunya keluarga pasien ini.” Jawab Arya.


Marcus auto melihat ke belakangnya, mana tahu keluarga pasien itu baru datang dan terhalangi untuk masuk ke kamar itu sebab Marcus menghalangi pintu masuk ke kamar itu.


“kau mencari siapa?” tanya Arya yang melihat Marcus menoleh ke belakang seakan-akan sedang mencari seseorang.


“Tidak ada siapapun di belakang ku.” Jawab Marcus yang tiba-tiba merasakan perasaannya jadi tidak enak sebab melihat air mata yang mulai menggenang di ujung mata Arya.


“Arya!! Kau jangan mempermainkan ku!!” Bentak Marcus sangat marah, sebab dia mulai bisa membaca situasi yang sebenarnya terjadi.


Marcus menarik nafas dalam dan kembali berteriak pada Arya...” Arya !!! Jawab pertanyaan ku!! Siapa pendonor itu sebenarnya!!! Kau jangan diam!!!!” Bentak Marcus pada Arya hingga terdengar keluar membuat Kenzo dan Alesya serta Skala terkejut mendengarnya.


“Apa kau sungguh tidak tahu siapa yang menjadi pendonor itu Marcus?” Ujar Arya yang sudah tidak kuasa menahan air matanya.


****Bersambung


😎😎😎


*Tuliskan pendapat mu tentang karya otor yang ini ya.. *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.

__ADS_1


__ADS_2