
“Ibu sedang mencari apa?” tanya Agnes gusar melihat sang ibu yang seperti sedang memeriksa sesuatu.
“Tidak ada. Ibu hanya melihat-lihat saja.” Jawab Jenny sambil membuka laci-laci di dalam ruangan itu satu persatu.
“Apa ini Agnes? Apa kau sedang merajut sesuatu?” tanya Jenny curiga, selama ini Agnes tidak pernah merajut seingat Jenny.
“Haah.. itu aku hanya merasa bosan saja ibu.” Agnes sambil mengambil jarum dan benang rajut dari tangan Jenny.
“Kenapa kau ambil itu dari tangan ku. Kau membuat ku curiga Agnes.” Seru Jenny sambil menatap putrinya itu dengan tatapan curiga.
“Kau terlalu banyak berpikir bu.” Jawab Agnes cepat.
Jenny diam dan melanjutkan investigasinya. Dia kembali memeriksa satu persatu lemari di ruangan Agnes.
Setelah membuka sebuah nakas, Jenny menemukan semua kotak.
"Kotak?" batin Jenny.
__ADS_1
Jenny mengambil kotak tersebut tapi dengan cepat Agnes merebut kotak itu hingga terjadilah tarik menarik antara Agnes dan Jenny.
“Apa yang kau lakukan Agnes!!!”Teriak Jenny yang menaruh curiga pada Agnes.
Jenny bukan curiga Agnes sudah tobat tapi Jenny curiga jangan-jangan Agnes lah yang menggelapkan uang perusahaan hingga membuat Jenny yang menjadi tertuduh untuk hal itu.
“Ibu aku mohon lepaskan tangan mu!” Teriak Agnes sambil terus menarik kotak itu sekuat tenaga.
“Apa sebenarnya isi kotak ini hah? Sampai kau tidak ingin ibu melihat nya!” Seru Jenny yang semakin yakin Agnes pastilah adalah dalang dari raib nya dana perusahaan saat itu.
Dalam pikiran Jenny kini gara-gara Agnes Jenny sampai berselisih dengan Ronald hingga Jenny membunuh Ronald.
“Cepat lepaskan Agnes!!” Bentak Jenny pada Agnes.
“Tidak akan aku lepaskan!” Tukas Agnes terus mempertahankan kotak itu. Kotak itu adalah kotak yang berisi syal yang akan diberikannya untuk Alesya. Ada inisial nama Alesya di ujung Syal itu.
Agnes tidak ingin melihat Jenny melihatnya. Jenny tidak boleh tahu kalau Agnes akan membantu Alesya.
__ADS_1
“Dasar anak tidak tahu diri!! Aku yang melahirkan dan membesarkan mu Agnes!! Aku perintahka, cepat lepaskan kotak ini.” Bentak Jenny tapi Agnes tetap tidak memperdulikan teriakan Jenny.
“Kau!!!” Jenny pun melepaskan kotak itu hingga Agnes terjatuh.
Lalu ketika melihat Agnes terjatuh Jenny pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia langsung mendekati Agnes hendak merebut kembali kotak itu.
Agnes panik. Dia tidak sanggup untuk berdiri. Perutnya terasa sangat sakit. “Ya tuhan.. jangan sekarang. Aku harus bisa mengabari Alesya kalau ibu sudah merubah wajah nya menjadi orang lain. Alesya harus tahu hal ini.” Gumam Agnes dalam hati.
Di tengah kepanikannya, Agnes melihat cairan yang ada di ujung bawah tempat tidurnya. Tanpa pikir panjang Agnes mengambil cairan itu dan menyiramkan ke wajah Jenny yang bungkus perban.
Jenny langsung berteriak sebab wajahnya menjadi sangat pedih.
“Dasar anak tidak tahu diri!!!” Ucap Jenny sambil memijak perut Agnes yang sedang terduduk di lantai.
“Mati saja kau Agnes! Aku tidak punya anak yang tidak tahu untung seperti mu!!!!” Teriak Jennya.
Karena tidak tahan lagi dengan wajahnya yang terasa sangat perih itu, Jenny langsung berlari keluar kamar Agnes. Jenny bahkan tidak jadi mengambil kotak yang ada di tangan Agnes.
__ADS_1
**bersambung.