Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 44#Ujian cinta#12


__ADS_3

"Heeem.. Marcus," panggil Agnes.


"Ada apa Agnes... ?" tanya Marcus pada Agnes.


"sudah beberapa hari ini aku numpang gratis di hotel mu ini. Tidak hanya menumpang.. bahkan aku dapat makan dan pengobatan gratis disini. Heemmm aki rasa, aku harus segera meninggalkan tempat ini. Aku sungguh merasa tidak enak dengan semua kebaikan diri mu Marcus.. "Ujar Agnes, yang memang sudah berniat untuk meninggalkan Marcus. Dia tidak ingin memiliki hutang budi yang akan dibawa nya mati.


" apa kau sedang meremehkan ku? kau takut aku akan bangkrut hanya dengan menampung mu disini!" wajah Marcus terlihat serius. "kalau kau menghormati diri ku maka kau akan tetap akan berada sini. Anggap lah itu adalah cara mu untuk berterima kasih terhadap semua hal yang aku lakukan untuk mu hingga hari ini." tegas Marcus yang heran kenapa Agnes masih saja ingin pergi dari tempat nya padahal jelas-jelas tidak ada tempat yang bisa ia tuju. Ditambah lagi kondisinya pun belum begitu sehat.


“tapi Marcus.. aku tidak enak jika aku hanya tinggal gratis disini. Atau paling tidak mungkin ada hal yang bisa aku bantu untuk mu? Aku ini – heeeem,...” Agnes berpikir keras, apa hal yang kira-kira bisa dia lakukan untuk membantu Marcus.


“hahaha.. kau tidak perlu melakukan apapun Agnes. Aku sudah menganggap mu seperti adik ku sendiri. Banyak-banyak saja beristirahat untuk saat ini. Dan jangan berpikir terlalu berat. Itu sangat tidak baik untuk kesehatan.” Ungkap Marcus, dia pun berdiri dari sofa itu dan ingin meninggalkan kamar Agnes.


“Marcus tunggu!!!” Agnes yang melihat Marcus sudah berdiri dan bersiap-siap akan meninggalkannya tiba-tiba memanggil Marcus sehingga laki-laki itu menoleh ke arahnya.


“ya, apa ada yang kau butuhkan?” tanya Marcus cepat.


“Heeem.. “ Agnes menggigit bibir bawahnya. Dia sebenarnya segan untuk mengatakan ini pada Marcus. Tapi...


“Apakah aku boleh meminjam sejumlah uang pada mu? aku ingin membeli sesuatu? Heem.. aku tahu ini sangat tidak tahu diri sekali. Kau sudah menolong ku sejauh ini, dan aku malah dengan lancang meminta uang untuk membeli sesuatu pada mu.” ujar Agnes cepat. Dari mata Agnes Marcus dapat melihat kalau wanita ini benar-benar sedang merasa tidak enak pada dirinya.

__ADS_1


“memangnya kau ingin meminta uang berapa? apakah jumlahnya bisa membuat ku harus menjual hotel ku ini?” Seloroh Marcus. “kalau itu yang kau minta maka dengan berat hati aku terpaksa menolak untuk mengabulkan permintaan mu itu. Sebab hotel ini adalah satu-satunya milik ku yang berasal dari jerih payah ku sendiri ku.” Marcus masih meneruskan gurauannya.


“huft! Mana mungkin aku selancang itu!!” dengus Agnes, sambil menunduk. “aku-aku hanya meminta uang dari mu untuk membeli benang dan jarum untuk merajut. Aku bosan karena tidak ada aktivitas apa pun di sini jadi lebih baik aku merajut saja.”Ungkap Agnes.


“apakah kau ingin merajut sesuatu Agnes?”


“ya, aku ingin merajut Syal untuk Alesya. Dan kalau syal itu sudah selesai apakah kau bersedia memberikan syal itu pada Alesya Marcus?” Agnes sungguh berharap Marcus akan dapat menolongnya untuk memberikan syal itu pada Alesya, sebab Agnes yakin waktunya tidak akan cukup untuk memberikan syal itu langsung kepada saudarinya itu.


“kenapa tidak kau sendiri saja yang memberikan syal itu pada nya?” Tanya Marcus pada Agnes.


“aku takut Alesya akan langsung membuang syal itu begitu dia tahu kalau syal itu dari ku.” Jawab Agnes sambil tersenyum sedih. Andaikan semua kesalahannya pada Alesya dapat dimaafkan oleh Alesya dengan sehelai syal buatan tangan Agnes maka pasti Agnes akan bisa dengan tenang menyambut kematiannya.


“Aku rasa Alesya bukanlah orang yang sekejam itu yang akan membuang sebuah syal yang dijahit dengan penuh cinta untuk nya. Aku yakin dia akan menerimanya.” Sebut Marcus.


“Sudah lah, itu kita pikirkan nanti saja. Yang penting sekarang, apakah kau bersedia menyumbangkan sedikit uang mu pada ku agar aku bisa memiliki benang dan jarum untuk membuatkan Alesya sebuah syal?” Mata Agnes menatap Marcus dengan penuh harap.


“Heem.. aku rasa itu tidak akan menguras semua isi rekening ku!!” Jawab Marcus sambil kembali bergurau.


“tapi dengan satu syarat!”sambung Marcus di ujung kalimatnya. “ kau juga harus membuatkan satu buah Syal untuk diri ku.” Marcus pun menutup perkataannya dengan sebuah senyuman yang terlihat sungguh tulus.

__ADS_1


“tentu saja!! Tentu saja! Aku setuju dengan syarat yang kau berikan. Aku akan membuatkan sebuah syah yang sangat indah untuk kalian berdua.” Ucap Agnes penuh semangat.


“baiklah. Kalau begitu nanti akan aku minta asisten ku untuk menemui mu tentang berapa banyak benang yang kau inginkan dan warna apa saja yang kau butuhkan. Ingat kau masih belum boleh untuk meninggalkan kamar mu hingga aku tidak lagi melihat wajah mu pucat. Kecuali jika kau ingin pergi ke rumah sakit bersama ku.” Jelas Marcus panjang kali lebar.


“Waah.. kau benar-benar seorang yang sangat perhatian Marcus.” Ujar Agnes sambil tertawa.


“apa ada lagi yang kau butuhkan?” tanya Marcus sebelum dia benar-benar pergi dari kamar Agnes. Marcus ingin menemui Dyana.


Sudah beberapa hari dia tidak mengetahui kabar wanita itu. Terakhir kalinya ketika dia ingin bertemu Dyana, dia malah bertemu dengan Kenzo dan langsung mendapatkan pengusiran dari keponakannya itu.


“Aku harus bisa mencari cara untuk membuat Dyana keluar dari rumah itu. Aku yakin Alesya pasti dapat menolong ku.” Pikir Marcus.


“Tidak ada. Tidak ada lagi hal lain yang aku inginkan. Semua ini sudah lebih dari cukup.” Jawba Agnes.


“baiklah kalau begitu. Sekarang saat nya kau beristirahat dan jangan lupa untuk meminum obat mu setelah kau selesai makan siang.”


“hahhaa.. kau benar-benar seperti seorang dokter yang bertugas di rumah sakit Marcus. Mengapa kau tidak merubah hotel mu ini menjadi rumah sakit swasta? Aku yakin akan banyak orang yang akan datang berobat pada ku. Terutama kaum hawa.” Seloroh Agnes.


“itulah alasan utama aku tidak ingin menjadi seorang dokter. Aku takut akan banyak wanita-wanita yang akan berpura-pura sakit hanya untuk menemui ku.” Jawab Marcus narsis.

__ADS_1


“Wah .. kau sangat narsis sekali pak dokter.” Seru Agnes yang sengaja memanggil Marcus dengan sebutan demikian. Karena bagi Agnes, Marcus benar-benar sosok dokter yang sesungguhnya. Yang dengan tulus mengobati penjahat seperti dirinya tanpa sedikit pun merasa terpengaruh dengan masa lalu Agnes.


***bersambung...


__ADS_2