
*Sepuluh hari pun telah berlalu sejak meninggalnya Agnes dan operasi transplantasi kornea Dyana.
Keadaan rumah keluarga Dayson pun kembali tenang. Selain Kenzo yang sedikit agak lebih sensitif belakangan ini, tidak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan.
Jack dan Monica pun sudah kembali ke kediaman Jack. Tidak ada yang menyuruh Monica untuk ikut bersama Jack pulang ke apartemen Jack. Namun entah mengapa dia menawarkan diri untuk merawat Jack yang awal nya merupakan Pria yang paling dia tidak sukai. Jack dan Monica pun semakin hari semakin akrab meski sering juga terdengar meributkan hal-hal yang tidak penting. Dan ini pula yang membuat Kenzo menyuruh Jack untuk kembali ke apartemen nya. Bahkan suatu hari Kenzo pernah mengatakan. "SEBAIKNYA KALIAN SELESAI KAN URUSAN RUMAH TANGGA KALIAN DI APARTEMEN KALIAN SAJA. AKU PUSING MENDENGAR KALIAN YANG SELALU BERDEBAT HAL YANG TIDAK PENTING." ya, seperti itulah Kenzo saat ini. Entah apa yang merasuki nya hingga hal-hal kecil saja bisa mengusiknya.
Sedangkan Marcus, dia terlihat sibuk bersama Arya melakukan sesuatu. Marcus bahkan terlihat jarang berada di kediaman Dayson. Dia hanya datang sesekali untuk menjenguk Dyana. Berbeda dengan Frans, yang semenjak Dyana pulang ke kediaman Dayson hingga saat ini masih setia menemani Dyana.
Hari ini Alesya dan Dyana datang mengunjungi makam Agnes. Setelah dapat melihat kembali ini adalah kali kedua Dyana datang mengunjungi makam Agnes bersama Alesya.
"Alesya..." panggil Dyana pada Alesya di depan makamnya Agnes. "aku sungguh berhutang penglihatan ku hari ini pada Agnes adik mu." ujar Dyana yang turut merasa sedih setelah mendengar kisah perjalanan hidup Agnes dari Marcus.
"Jangan berkata begitu bi...Agnes pasti tidak senang mendengar nya. Agnes banyak berhutang budi pada paman Marcus, dan matanya dia berikan kepada mu, wanita yang paman Marcus cintai, aku rasa itu adalah bentuk rasa terima kasihnya. Lagi pula ini menjadi menjadi kebaikan terakhirnya. Kau harus membuang jauh-jauh rasa hutang budi itu. Sebab ini bukan lah sebuah hutang yang harus kau bayar pada Agnes." jelas Alesya panjang kali lebar.
"Terima kasih Alesya. Aku paham..."Ujar Dyana.
"Bibi.. kalau aku pikir-pikir, bulan lalu sungguh adalah bulan yang berat. Kecelakaan yang menimpa mu dan Jack, kepergian Mai lalu kepergian Agnes..Semua nya terjadi silih berganti di bulan lalu membuat kita semua lelah secara jiwa dan raga." Alesya menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. "Bulan lalu benar-benar adalah sesuatu." Gumam Alesya sambil memegang erat kursi roda Dyana.
"Tapi tidak seluruhnya kejadian di bulan lalu adalah hal yang buruk Alesya. Kau lihat Kenzo dan Marcus sekarang...? hubungan mereka akhirnya kembali membaik setelah sekian purnama." Seru Dyana sambil tersenyum. "Dan hubungan mu dan Agnes juga membaik di bulan lalu. Tidak semuanya buruk kan Alesya?." Dyana memegang tangan Alesya yang ada pegangan kursi roda. "Aku harap setelah ini tidak ada lagi cobaan yang menerpa keluarga kita." ucap Dyana.
"Kau benar bi..diantara gelapnya malam itu ternyata masih ada sinar rembulan dan bintang yang masih setia menyinari bumi." Alesya merasa lega semua nya kini terasa lebih tenang dan damai.
"Kita pulang sekarang ?" tanya Dyana pada Alesya sambil melihat jam tangannya. Dia ada janji dengan seseorang hari ini.
"baiklah bi."
Alesya berjongkok dan mengusap papan nisan Agnes dengan lembut lalu berkata, "Agnes, kami pulang dulu. Aku akan mengunjungi lagi nanti." Alesya pun mendorong kursi roda Dyana menjauh dari makam Agnes.
__ADS_1
Jarak dari Makan Agnes ke mobil Alesya sebenar tidak terlalu jauh tapi perjalanan itu cukup memakan waktu sebab jalannya yang tidak begitu mulus karena ada renovasi di area pemakaman itu.
"Alesya.. beberapa hari yang lalu ibu ku menelpon ku." ujar Dyana pada Alesya yang sedang mendorong kursi rodanya itu.
"Nenek Mary?"Tanya Alesya sambil terus mendorong kursi roda Dyana itu.
"Heem...." sahut Dyana.
"Apa nenek akan datang ke kota A bi?" Tanya Alesya asal tebak.
"Benar. Ibu akan datang ke kota A hari ini." jawab Dyana yang terdengar sangat datar.
"Hari ini? Kenapa kau tidak memberitahu kami?" tanya Alesya panik sebab dia baru tahu kalau neneknya Kenzo akan datang hari ini
"Kenapa mendadak sekali? jangan-jangan kedatangan nenek kemari untuk menjemput mu pulang ke Australia bi?" Tanya Alesya pada Dyana. " aku akan meminta pada nenek untuk membiarkan mu tinggal bersama kami. Aku sudah terbiasa dengan ada nya diri mu di rumah bi. Skala pun pasti akan sedih jika kau pulang ke Australia." Cerocos Alesya tanpa titik dan koma.
"huft syukur lah kalau begitu" ucap Alesya merasa lega dia tidak harus berpisah dengan Dyana.
"Lalu?" sambung Alesya yang masih ingin tahu alasan kedatangan nenek Kenzo hari ini.
"dia ingin menikahkan aku dengan Frans." jawab Dyana yang terdengar sangat pelan.
"Apa?" Alesya langsung berhenti mendorong kursi roda itu. Dia berlari ke depan untuk melihat langsung lawan bicara nya.
"Frans? Dia ingin menikahkan mu dengan Irfrans Aksena?" Tanya Alesya berkali-kali untuk meyakinkan kalau telinga nya tidak salah dengar.
Dyana mengangguk."Iya benar." terlihat Dyana menarik nafas dalam-dalam setelah mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Wai!! Kau pasti sudah menolak itu kan bi? kau pasti tidak mengatakan bahwa kau bersedia untuk menikah dengan Frans kan?" Alesya menatap intens wajah bibinya.
"Alesya!" Ujar Dyana..."Ibu ku tidak menelpon ku untuk bertanya apakah aku setuju atau tidak menikah dengan Frans. Dia menelpon ku untuk mengabari ku bahwa aku akan menikah dengan Frans minggu depan." Jelas Dyana dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Baru beberapa menit yang lalu Alesya merasa dunia sudah kembali tenang.. kini malah tiba kabar yang mengejutkan seperti ini.
"Lalu paman? Apakah kau sudah memberitahu paman tentang hal ini?"
Dyana menggeleng lemah. "Belum.. . Semenjak kematian Agnes, Marcus jadi sangat sibuk bersama Arya.. Seperti mereka sedang melakukan sesuatu bersama. Waktu ku bersama nya pun menjadi berkurang." terang Dyana.
"Tapi kan kau bisa mengabari nya Bi. Tidam harus bertemu. Melalu telpon pun kan bisa. Dia pasti akan menghentikan semua yang sedang dia lakukan jika dia tahu kau akan dinikahkan dengan Frans." Teriak Alesya yang tidak percaya kalau Dyana tidak sekreatif itu dalam memperjuangkan masa depannya bersama Marcus.
"Aku sudah menelpon nya beberapa kali.. tapi dia bahkan tidak punya waktu untuk mendengarkan ku bicara. Dia selalu bilang akan menelpon ku kembali dan menutup telpon ku. Dan hingga saat ini -" Dyana menggeleng lemah dengan tatapannya yang terlihat nanar.
"Aku akan mencarinya dan mengatakan hal ini langsung pada nya." ucap Alesya dan langsung kembali mendorong kursi roda Dyana.
"Tidak perlu Alesya.. mungkin perasaan nya pada ku sudah pudar." jawab Dyana menyembunyikan rasa kecewanya.
"Kau bercanda bi? Paman sangat mencintai mu!!!" Tukas Alesya tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Dyana.
"Entah lah Alesya.. aku hanya merasa dia sudah mulai jauh dari ku." jawab Dyana yang bagai sudah kehilangan harapan untuk memperjuangkan cinta nya dan Marcus.
**bersambung..
πππ
*Tuliskan pendapat mu tentang karya otor yang ini ya.. *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.
__ADS_1