
“menurut bibik, apa yang teman ku harus lakukan sekarang? Apakah dia harus menelpon wanita itu dan meminta maaf? Atau mendatangi wanita itu?” tanya Frans dengan wajah yang penuh ekspresi pengharapan sang pelayan dapat memberikannya solusi. “atau tidak usah melakukan apapun toh bukan dia yang meminta wanita itu untuk menjaga nya.”
“Tuan, menurut saya....”si pelayan memperhatikan ekspresi tuan muda nya yang sangat menanti pendapatnya. Sebenar si pelayan tahu kalau ni bukanlah permasalahan teman dari tuan mudanya sebab sepanjang hari ketika Frans sakit, si pelayan selalu ngobrol dengan Dyana jadi dia tahu pasti duduk masalahnya dari awal hingga akhir.
Frans masih menanti si pelayan melanjutkan perkataannya.
“Heeemm.. menurut saya sebaiknya teman tuan muda harus mendatangi teman wanita nya itu dan meminta maaf secara langsung sebagai laki-laki. Karena bagaimana pun setiap manusia harus menghargai pertolongan dari orang lain. Nah kalau dia bersikeras dengan harga dirinya yang tinggi itu-“
“seingat ku aku tidak ada mengatakan kalau dia tidak mau meminta maaf karena harga dirinya terlalu tinggi”Ujar Frans, langsung memotong perkataan si pelayan.
“Tuan muda memang tidak ada mengatakan hal itu pada saya dalam cerita tuan muda tadi tapi... kalau bukan karena harga diri teman tuan muda yang terlalu menjulang ke langit, dia pasti saat ini sudah berada di rumah wanita itu untuk minta maaf, alih-alih bertanya pada pelayan nya tentang apa yang harus dilakukannya.” Ujar si pelayan dengan sengaja mengatakan itu.
“maksud bibik..”Frans tidak menyadari kalau pelayan nya sedang menyindir dirinya.
“katakan pada teman tuan muda, untuk mendatangi rumah wanita itu. Kalau perlu bawa bunga sebagai tanda permintaan maaf.” SI pelayan pun berdiri. “ tuan maaf saya masih ada kerjaan di dapur, tidak sempat untuk mengurus masalah teman tuan muda yang punya harga diri tinggi itu...” si pelayan pun pergi meninggalkan Frans yang masih bengong di bangku itu.
__ADS_1
“Haruskah aku ke rumahnya?” Tanya Frans.
Setelah cukup lama memikirkannya akhirnya siang menjelang sore itu Frans yakin untuk pergi ke rumah Kenzo menemui Dyana,”laki-laki sejati harus bisa meminta maaf jika ia memang bersalah.”
Frans pun menuju mobil nya dan langsung berangkat ke rumah Kenzo.
Sesampainya di rumah Kenzo.
“Apa nona Dyana ada?”Tanya Frans pada salah seorang pelayan rumah itu.
“nona Dyana? Ada tuan Aksena..” jawab Pelayan rumah Kenzo yang sudah mulai akrab dengan wajah Frans yang beberapa kali ada menjemput dan mengantar Dyana.
“baik tuan. Silahkan tuan tunggu di dalam saja.”
Frans pun masuk ke dalam.
__ADS_1
Namun baru saja Frans akan masuk tiba-tiba sebuah mobil datang .
Seorang pria yang wajahnya tak asing bagi Frans keluar dari mobil itu dan ternyata itu adalah Marcus.
Marcus yang sejak semalam ribut dengan Dyana karena Dyana yang diperbolehkan oleh Kenzo menginap di rumah laki-laki, akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak menjumpai Dyana secara langsung. Berdebat dengan Dyana di telpon hanya membuat kepala Marcus pusing.
“Kau!!!” Seru Marcus dan Frans berbarengan.
“tepat sekali..!! aku memang ingin menghajar mu !!” Ujar Marcus marah. Dia teringat cerita Dyana kalau laki-laki yang ada dihadapannya itu sudah membuat Dyana harus pulang pakai Taxi online sendirian setelah banyak hal yang Dyana lakukan untuknya.
“Kau benar-benar laki-laki yang tidak tahu terima kasih!!” Seru Marcus dan bersiap untuk melayangkan tinjunya ke wajah Frans.
Namun hampir saja Marcus akan menyentuh wajah Frans, Marcus terpaksa menahan tinju nya di udara sebab sebuah suara lantang dan berat dari seseorang yang muncul dari arah belakang menghentikannya tangannya untuk menyentuh wajah Frans yang tinggal beberapa senti itu.
“apa yang kalian lakukan di rumah ku...”
__ADS_1
***bersambung
ayoo kalian pihak siapa? Frans atau Marcus?