
"Mary? apa yang kau lakukan disini?"Romano terkejut melihat istrinya yang sudah ia minta untuk beristirahat di rumah Nania malah memaksakan diri untuk datang ke rumah sakit.
"Aku tidak bisa beristirahat dengan tenang... sementara kedua putri ku sedang terbaring di rumah sakit." jawab Mary sambil berjalan ke arah pintu ruangan Mai melihat kondisi Mai.
"Bagaimana keadaan Mai? apakah dia sudah sadar? dokter bilang apa?" berturut-turut pertanyaan keluar dari Mary. Meskipun Mai bukanlah putri kandungnya tapi Mary tidak pernah memperlakukan Mai berbeda dari Dyana.
" Dia sudah sadar tapi keadaan masih sangat lemah. Andaikan dia mau mendengarkan mu untuk tidak pergi ke kota A menemui Kenzo maka keadaan nya pasti tidak akan memburuk seperti ini." Gumam Romano penuh penyesalan. Dia menyesal tidak dapat menahan Mai untuk tidak pergi hari itu.
"Kita sudah mencoba sebisa yang kita mampu. Ini semua adalah takdir yang harus dijalanin oleh Mai." Ucap Mary menguatkan suami nya.
"Apa kau sudah melihat keadaan Dyana?" Tanya Romano yang sebetulnya sangat malu pada Mary karena sampai saat ini Romano belum ada datang membesuk Dyana padahal mereka berada di rumah sakit yang sama.
Wajah Mary tiba-tiba berubah mendengar nama Dyana disebut oleh Romano. Hatinya terasa sedih mengingat bagaimana Frans menjelaskan padanya kondisi Dyana saat ini.
"Kondisi Dyana tidak begitu baik." Ujar nya lemah. Hati nya sebagai seorang ibu sangat sedih bila harus mengucapkan sendiri bagaimana kondisi Dyana." Kaki nya dan tangannya patah.Dan tidak hanya itu, mata nya pun tidak dapat melihat akibat kecelakaan itu " Ucap Mary yang akhirnya di tutup dengan sebuah tangisan.
"Maaf kan aku Mary ..aku belum sempat melihat keadaan Dyana. Aku sungguh tidak pantas dipanggil sebagai seorang ayah." ucap Romano penuh sesal.
"Aku sangat paham Romano. Aku tidak mempermasalahkan itu. Ada Kenzo dan istri nya disana serta Frans, putra Nania juga ada di sana menjaga Dyana. Sementara kau hanya sendirian disini." Jawab Mary menenangkan Romano.
"Tuan .. nona Mai memanggil anda." sebut perawat yang menjaga Mai di dalam ruangan itu.
"Ayah .." Terdengar suara Mai pelan.Dan satu -satu.
"Kenzo... Kenzo..." ucapnya. Entah apa yang dimaksud oleh Mai dengan terus memanggil nama Kenzo.
"Kenzo tidak ada di luar nak. Ayah tidak tahu di mana dia." Ujar Romano bohong. Romano yakin, saat ini pasti Kenzo ada di kamar Dyana. Tapi dalam pikiran Romano, semakin sedikit frekuensi Mai bertemu dengan Kenzo maka akan semakin baik untuk proses kesembuhan Mai.
"Aku -ingin - bertemu- ken-zo - dan-Alesya -ayah." Ucap Mai bersusah payah. Nafas nya sungguh membuat nya sulit untuk berbicara.
__ADS_1
"kau beristirahat lah dulu Mai. Kalau keadaan mu sudah membaik maka kita bisa bersama-sama mencari Kenzo dan Alesya." bujuk Romano.
Mai menggeleng lemah.Dia tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Dia ingin bertemu dengan Kenzo dan Alesya saat ini juga. Dia sudah bisa merasakan kalau malaikat maut sudah mau datang untuk menyapanya.
"Aku-mohon." Ujar Mai terbata-bata.
Romano melihat ke arah Mary yang ada di samping nya seakan meminta saran dari istri nya itu.
"Sebaiknya kau pergi lah mencari Kenzo dan istrinya, dan aku akan menjaga Mai disini." ucap Mary pada Romano.
Romano pun mengangguk. Tanpa buang waktu lebih lama lagi, dia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Kenzo, memastikan Kenzo berada dimana saat ini.
Tak perlu waktu lama, Kenzo pun menjawab panggilan Romano.
"kau dimana Kenz?" Tanya Romano pada Kenzo.
"Aku baru saja selesai konsultasi mengenai donor mata Dyana di ruangan dokter spesialis mata. Ada apa paman?" Tanya Kenzo yang merasa ada kepanikan di suara Romano.
"Iya . Alesya bersama ku paman."jawab Kenzo di ujung telpon itu.
"haaa..Aku mohon! Aku mohon kalian ke ruangan Mai saat ini juga. Aku mohon pada Mu Kenz.."Seru Romano.
"Apa yang terjadi paman?" Kenzo pun jadi sedikit panik mendengar cara Romano berbicara.
"Entahlah! aku tidak tahu apa yang akan terjadi tapi yang pasti Mai sangat ingin bertemu dengan kalian berdua. Aku-aku takut waktu Mai tidak akan banyak lagi Kenz!!" Terdengar suara Romano seperti menangis.
"Baik paman! Kami akan segera kesana." Ujar Kenzo.
"terima kasih Kenz!!" Romano pun tidak jadi masuk lift setelah mendengar Kenzo dan Alesya bersedia untuk datang ke kamat Mai.
__ADS_1
Romano berjalan gontai menuju kamar Mai. Dipegang handle pintu itu sambil menarik nafas dalam-dalam sebelum dia masuk ke dalam kamar Mai.
Setelah yakin dia dapat menyembunyikan rasa sedihnya baru Romano membuka pintu kamar itu.
Mary yang mendengar pintu kamar itu terbuka langsung menoleh ke belakang.
"Bagaimana? apakah kau sudah bertemu dengan Kenzo dan Alesya? Dimana mereka?" Mary mencari cari keberadaan Kenzo dan Alesya di belakang Romano.
"Mereka akan kemari. Kenzo dan Alesya dalam perjalanan kemari." Jawab Romano sambil mendekat ke ranjang putrinya.
"Kau dengar itu kan .. Kenzo dan istrinya akan segera kemari. Kau harus menunggu mereka datang Mai!"ujar Romano sambil mengelus-elus rambut putrinya yang tinggal tidak seberapa itu.
Mai seakan tidak punya tenaga lagi, hanya membalas perkataan ayahnya dengan sebuah kedipan mata.
"Kau harus kuat Mai..." ujar Romano sambil terus menahan air mata yang sudah antri turun di pelupuk matanya.
Hatinya sebagai seorang ayah mengatakan kalau Putrinya akan segera meninggalkan nya. Berapa kali pun Romano mencoba menepis pikiran buruk itu, tapi setiap kali dia melihat Mai, Romano sadar bahwa itu bukan lah hanya sekedar pikiran buruk nya semata. Putrinya itu sudah memang akan meninggalkan nya.
Mary yang melihat tangan yang dikapalkan oleh Romano itu bergetar, segera memegang tangan Romano. Mary sangat tahu betapa sakit nya jika harus kehilangan seorang anak sebab Mary sudah pernah mengalami nya.
Rasa sedih kehilangan sosok anak tertua nya masih terpatri jelas di hatinya. Kepergian sang putri tertua dan sangat disayangi nya itu membuat Mary mengalami masa-masa terberat dalam hidup nya. Meskipun dia masih memiliki Dyana saat itu tapi sama sekali tidka mengurangi kesedihan Mary saat tahu Jodytia telah meninggalkan dia selamanya.
Dan hari ini Mary seakan-akan melihat dirinya dulu di diri Romano. Yang sangat terpukul melihat sang putri yang mungkin akan segera meninggalkan nya sendirian.
Mary mempererat genggaman tangan nya pada suaminya itu sambil berbisik pelan..."Kau harus kuat Romono.. kau harus kuat!!!"
Romano pun melihat ke arah wanita yang telah dia nikahi selama bertahun-tahun itu. Romani tahu Mary pasti memahami keadaanya saat ini.
Romano menarik nafas dalam-dalam dan tersenyum seakan sudah ia sudah ikhlas untuk menerima apapun yang akan terjadi pada putrinya setelah ini
__ADS_1
**bersambung
*ingat untuk tinggal kan komen mu ya zeyeng... *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.