Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 34 #Saling tikam#7


__ADS_3

“Cukup!! Aku katakan cukup!! Aku tidak ingin memperpanjang masalah dengan diri mu lagi Jenny. Aku harap kau sudah membaca skenario yang telah aku kirimkan melalui Bram tadi malam. Untuk terakhir kalinya cukup lakukan saja bagian mu dan menghilang dari hidup ku.” Ronald pun bangkit dan meninggalkan Jenny yang masih duduk sambil menahan rasa marah yang membuncah di dalam hati nya.


Jenny menatap Ronald yang berjalan meninggalkan ruangan itu bersama Bram dengan tatapan kebencian. “aku bukan wanita bodoh Ronald.” Jenny tersenyum sinis. Jenny datang memang bukan untuk mengikuti skenario yang Ronald persiapkan untuk nya. Dia datang demi skenario yang ia persiapkan untuk Ronald.


Jenny pun mengambil ponselnya dan menelpon orang kepercayaannya. “konferensi pers nya di percepat. Kau langsung saja ke ruangan yang sudah ku katakan semalam.Jangan lupa, lakukan seperti yang sudah kita rencanakan.” Jenny pun menutup telponnya dan keluar dari ruangan itu.


Jenny berjalan sendirian menuju ruang konferensi pers. Terlihat Ronald sudah duduk disana sementara Bram berdiri di samping Ronald namun agak kebelakang, bak pengawal yang selalu setiap mendampingi tuannya.


Jenny melihat ke sekeliling ruangan. Kini matanya tertuju pada wanita yang memakai pakaian serba hitam lengkap dengan topi dan kacamata hitam. Wanita itu terlihat berbaur dengan para wartawan lainnya yang sibuk mempersiapkan peralatannya.Jenny pun tersenyum puas melihat orang yang diperintahkan nya sudah ada diposisi yang tepat.


Kemudian Jenny kembali melihat ke segala penjuru ruangan. Seulas senyum muncul di sudut bibirnya ketika ia melihat orang suruhannya juga sudah bergabung dengan tim IT Ronald yang mengatur segala hal teknis dari konferensi pers itu.


“kau akan tau siapa diri ku sebenarnya Ronald.” Seru Jenny dalam hati sambil melangkah ke arah meja dan kursi yang sudah dipersiapkan untuknya yang berada di sebelah Ronald.


“Kau sudah siap?” tanya Ronald begitu melihat Jenny duduk di sebelahnya.


“Tidak pernah merasa se-siap ini sebelumnya.” Jawab Jenny sambil memperbaiki posisi duduknya.


Tim teknis pun segera memasangkan mikrofon kecil di baju Jenny. Dan meletakan beberapa mikrofon di atas meja agar suara lebih terdengar.


“bisa kita mulai tuan?” tanya salah seorang tim teknis itu pada Ronald.


“ya, kita mulai sekarang.” Jawab Ronald dengan yakin sebab dia merasa sudah mempersiapkan segalanya dengan matang.


“Selamat datang rekan-rekan wartawan pada konferensi pers...”suara dari moderator mulai terdengar membuka acara Konferensi pers itu.

__ADS_1


Satu persatu para wartawan mulai diizinkan untuk mengajukan pertanyaan mereka.


“tuan Ronald apakah benar, bahwa saat ini perusahaan anda sedang berada dalam krisis keuangan yang cukup parah?” tanya salah seorang wartawan yang mendapatkan kesempatan pertama untuk mengajukan pertanyaan.


Seperti biasa, Ronald memasang wajah cool nya. Dia tidak ingin wartawan bisa membaca masalah yang sedang ia dan perusahaannya hadapi.


“saya tidak akan memungkiri fakta yang beredar di sosial media saat ini.Hal itu semua memang benar adanya tapi itu bukan lah dana perusahaan yang raib. itu hanya kekeliruan yang disebabkan oleh salah seorang manajer kami, Jenny sebagai kepala proyek dalam mengakomodir dana perusahaan seperti yang terlihat jelas dalam beberapa dokumen yang terunggah di internet.”


Ronald mau tidak mau terpaksa mengakui hal tersebut sebab berbohong untuk menyatakan informasi yang beredar itu adalah palsu hanya akan menjadi permasalahan susulan yang akan menyusahkan Ronald dikemudian hari karena bukti yang ada di internet adalah dokumen asli perusahaan jadi solusi terbaik untuk meng-handle masalah ini adalah dengan mencoba mengcover ini jauh dari isi penggelapan dana.


“lalu apakah hal itu akan menyebabkan perusahan pailit tuan? Bagaimana pertanggungjawaban anda sebagai direktur perusahaan dan nyonya Jenny sebagai manager yang tersangkut kasus ini kepada dewan direksi serta pihak-pihak yang sedang bekerja sama dengan perusahaan anda saat ini.”Pertanyaan demi pertanyaan terus datang silih berganti.


“perusahaan saat ini sudah dalam keadaan stabil sebab sebagaimana kalian ketahui bahwa perusahaan diningrat sudah lama bermitra dengan perusahaan milik keluarga Dayson. Ditambah lagi hubungan kami tidak hanya sebatas hubungan bisnis tapi sudah menjadi lebih erat dengan ada nya pernikahan antara putri ku Alesya dan Kenzo Dayson. Jadi terlalu cepat untuk mengatakan bahwa perusahaan ini akan pailit hanya karena kasus ini.” Jawab Ronald, sengak.


“Nyonya Jenny, apa yang membuat anda bisa berbuat kekeliruan sedemikian rupa yang menimbulkan kerugian perusahaan dengan jumlah yang fantastis itu?” Kini salah seorang wartawan bertanya pada Jenny yang terlihat hanya diam sedari tadi mendengar semua pertanyaan yang diarahkan pada Ronald.


“saat ini aku dan Jenny sedang dalam proses perceraian jadi aku rasa itulah yang melatarbelakangi terjadinya kekeliruan ini. Memang aku akui bahwa beberapa bulan terakhir ini adalah bulan-bulan terberat dalam hidup kami berdua.Kalian pasti sudah tahu kalau aku dan Jenny sudah lama berumah tangga sehingga kalau Jenny sampai berbuat kekeliruan seperti itu di masa-masa berat ini aku bisa memaklumi nya.” Tukas Ronald, cepat. Dia sedikit ragu pada Jenny. Gelagat Jenny yang cendrung menerima semua hal yang diputuskan oleh Ronald untuk ia lakukan membuat Ronald curiga kalau jangan-jangan Jenny sedang mempersiapkan sesuatu untuk menjatuhkannya.


“jadi anda dan Nyonya Jenny akan bercerai tuan Ronald?” tanya salah seorang wartawan begitu mendengar jawaban dari Ronald yang mengungkap tentang perceraiannya.


Ronald merasa ide pengalihan isu nya sudah berhasil. Mengalihkan isu perusahaan yang mengalami kerugian dengan jumlah yang fantastis menggunakan isu perceraian selalu bisa menjadi jalan keluar terbaik sebab akan banyak orang yang menyukai hal ini.


“benar.” Jawab Ronald singkat.


“nyonya Jenny, apakah semua yang disampaikan oleh tuan Ronald itu benar adanya?” Tanya seorang wartawan dengan pakaian serba hitam.

__ADS_1


Jenny menoleh pada Ronald lalu tersenyum tipis.”benar.” jawab Jenny untuk sesaat.


Ronald yang sempat merasa was-was dengan jawaban yang akan diberikan oleh Jenny akhirnya bisa merasa lega ternyata Jenny mengikuti skenario yang telah ia kirimkan.


“memang benar saya dan tuan Ronald Diningrat akan bercerai. Untuk saat ini kami sudah sampai pada tahap menandatangani surat cerai. Jadi begitu semua dokumen itu diproses maka saya dan tuan Ronald resmi bercerai. Hanya saja-“ Jenny diam sesaat dan menatap semua wartawan dengan sebuah senyuman yang misterius.


“ada apa nyonya Jenny?” para wartawan pun mulai tidak sabaran untuk mendengar apa selanjutnya yang ingin Jenny ungkapkan.


“hanya semua yang tuan Ronald tuduhkan kepada saya, adalah fitnah.” Tukas Jenny dan kontan membuat para wartawan langsung menyorotnya.


Ronald yang mendengar ucapan Jenny pun langsung menoleh pada Jenny. Matanya membesarkan menatap Jenny dengan rasa tidak percaya, firasat nya ternyata benar adannya.


“jenny!! Apa yang kau lakukan!!”seru Ronald, sambil merapatkan giginya.


“Kau ingin membuat ku jatuh? Maka mari kita jatuh bersama!” bisik Jenny pada Ronald.Lalu kembali menghadap ke wartawan.


“Saya tidak pernah menggelapkan dana perusahaan. Bagaimana mungkin saya bisa menggelapkan dana perusahaan sebanyak itu. Itu semua sungguh tidak masuk akal!!” terang Jenny blak-blakan..


“tapi saya yakin pelaku dari penggelapan dari puluhan trilyunan itu adalah orang yang paling berkuasa di perusahan ini yang memiliki akses mutlak untuk keuangan. Menurut kalian siapa yang memiliki akses mutlak itu? Mungkinkah saya?” jenny berbalik bertanya kepada para Wartawan. Sebuah senyum smirk kembali terlihat di wajahnya.


“jenny!! Segera hentikan hal konyol ini!! Kau akan membuat kita berdua hancur hari ini juga!” seru Ronald. Saat ini Ronald tidak dapat berbuat apapun sebab ada banyak kamera di ruangan itu. Berlaku kasar pada Jenny hanya akan membuat hancur nama baiknya.


“apakah anda ingin mengatakan bahwa hal ini sengaja dilakukan oleh tuan Ronald untuk menjatuhkan anda? Menurut anda apa alasan tuan Ronald melakukan itu?” kini wartawan yang lain ikut terbawa ke dalam arus yang telah diciptakan oleh Jenny. Kilatan kamera pun tak henti-hentinya terlihat di ruangan itu.


“Bram!! Segera hentikan konferensi pers ini!” Perintah Ronald pada Bram.

__ADS_1


**bersambung..


mulai panas ni!! lanjut up gak y? 😏


__ADS_2