Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 13#Daddy aku rindu#1


__ADS_3

"Bagaimana Jack, apa kau menemukan sesuatu tentang para pembunuh itu?" Tanya Kenzo dari ruang kerja nya.


Hari sudah malam namun Kenzo tidak dapat tidur nyenyak mengingat kejadian buruk yang dialami oleh Putra nya, Skala. Kenzo ingin segera menangkap dalang dari aksi percobaan pembunuhan terhadap Skala. Itu lah mengapa saat ini Kenzo berada di ruang kerja nya dan meninggalkan Alesya sendirian di kamar.


"Maaf tuan. Belum ada informasi terbaru. Orang-orang kita masih berusaha mencari jejak tentang orang-orang yang berhubungan dengan para pembunuh itu." Jawab Jack yang sebenarnya sudah mengantuk. Namun apalah daya, sebagai seorang bawahan jangan kan jam dua malam sepertinya saat ini bahkan andaikan Jack sudah tertidur pun jika Kenzo menelpon bagi Jack ia tetap harus bangun. Begitu lah setianya seorang Jack pada tuannya.


"Kerahkan lebih banyak orang dan sewa lebih banyak detektif. Aku sudah tidak tahan untuk mencari tahu siapa dalangnya. Terlalu banyak orang yang ingin menjatuhkan ku Jack. Aku takut pelaku nya bukan sekedar penjahat kelas teri seperti Agnez dan ibu nya, tapi bisa jadi itu adalah Marcus. Paman sekaligus musuh besar ku." Tukas Kenzo.


"Aku tidak berpikir sama dengan mu tuan Kenz. Rasa ku tidak mungkin Marcus masih berani untuk mencampuri urusan mu. Seingat ku, kakek mu pasti sudah memberi pelajaran pada Marcus."Jack mengutarakan pendapatnya.


" Terkadang aku heran, mengapa dulu kakek harus mengangkat seorang anak lagi? Apa buruk nya menjadi anak tunggal? Lihat aku adalah anak tunggal dan hidup ku baik-baik saja." Ujar Kenzo bangga.


Untung saat ini Jack tidak ada di tempat yang sama dengan Kenzo, kalau tidak ekspresi wajah Jack yang sedang mencibir perkataan tuannya pasti dapat membuat Jack dipecat saat itu juga.


"Kau tenang saja tuan Kenzo. Kita pasti akan segera mengetahui siapa dalang dari kejadian itu."


"Baiklah kalau begitu." Kenzo pun mematikan telpon nya.


"Apa yang sedang dilakukan bocah itu bersama si kakek tua itu?" Kenzo tiba-tiba merasa rindu pada Skala. Padahal belum sampai sehari dia berjauhan dengan anak nya yang selama ini ia panggil bocah nakal.


Tiba-tiba Kenzo teringat perkataan Jack kalau wajah Skala sangat mirip dengannya.


Kenzo menelusuri rak-rak buku nya. Ia ingat bahwa di antara buku-buku yang tersusun itu ada sebuah album foto yang berisikan foto nya ketika seusia Skala.


"Dimana album foto itu." Gumam Kenzo sambil terus mencari album foto itu diantar ribuan buku di rak itu.


"Apa Jack memindahkannya?" Kenzo berhenti didepan salah satu rak. "Seharusnya ia ada disekitar sini." Gumam Kenzo.


ceklek...


Pintu ruang kerja itu terbuka dan Alesya yang sudah berganti baju tidur muncul di depan pintu.


Mendengar pintu ruang kerja yang terbuka, Kenzo otomatis menoleh ke arah pintu. "Alesya?" Seru nya kaget, melihat istrinya sedang berdiri dan menatap nya di ambang pintu.


"Boleh aku masuk Kenz?" Tanya Alesya.


"Tentu saja." Kenzo segera duduk. Dia tidak lagi mungkin untuk meneruskan pencarian nya. Ada untungnya juga Kenzo belum menemukan album itu. Apa yang akan terjadi kalau seandainya Kenzo sudah menemukan album itu dan tiba-tiba Alesya masuk. Alesya pasti akan curiga padanya. Mulai darah yang sama, wajah sewaktu kecil juga sama. Orang lewat pun akan tahu Kenzo dan Skala adalah ayah dan anak.

__ADS_1


"Kenzo... ada yang ingin ku katakan pada mu." Ujar Alesya.


Sebenarnya Alesya tidak lah benar-benar tertidur. Jujur, rasa was-was membuat matanya sulit untuk terpejam. Alesya merasa harus menuntaskan semua cerita nya pada Kenzo. Hal ini ia lakukan bukan karena ia merasa Kenzo dapat membantunya tapi karena ia baru akan merasa aman bila Kenzo tidak lagi berprasangka buruk pada nya.


Kejadian tadi benar-benar membekas diingatan Alesya. Melihat Kenzo yang bukan seperti Kenzo membuat Alesya takut. Selama ini Alesya hanya melihat Kenzo seperti laki-laki yang terkadang dingin terkadang lembut tentu saja sangat ketakutan melihat Kenzo bisa jadi liar seperti semalam. Apalagi masih ada tiga ratus dan puluhan sekian hari lagi Alesya bersama dengan pria ini. Jadi Alesya memutuskan untuk menjadi teman Kenzo. Menjadikan Kenzo sebagai sekutu itu lebih baik dibandingkan bermusuhan dengan tuan muda yang satu ini.


"Ini sudah larut malam Alesya. Sebaiknya kita kembali saja ke kamar kita. Dan kau bisa bercerita besok pagi." Kenzo melihat jam yang sudah hampir jam tiga pagi.


"Aku tidak bisa menunggu sampai besok Kenz. Aku harus mengatakan semua hal ini pada mu saat inj juga."


"Baiklah." Walau bingung kenapa Alesya bersikeras ingin bercerita malam ini, mau tidak mau Kenzo terpaksa bersedia mendengarkan nya.


"Kenz, aku akui bahwa aku datang ke perusahaan mu adalah sebagai salah satu rencana ku untuk menjatuhkan Agnez. Aku juga sudah menyelidiki semua tentang mu. Dari info yang aku peroleh kau adalah teman laki-laki nya Agnez. itulah sebab nya aku awal nya ingin membuat hubungan mu dan Agnez hancur." Alesya menatap mata Kenzo. Mencari tahu reaksi yang akan Kenzo berikan. Tapi pria itu tidak bergeming sedikit pun. Sehingga Alesya kesulitan menebak apakah Kenzo marah atau tidak atas pengakuannya.


"Lanjutkan." Seru Kenzo dengan wajah dingin bak es.


"Tapi satu hal yang perlu kau ketahui Kenz, aku tidak pernah tahu pria yang digosipkan dekat dengan Agnez itu adalah diri mu, laki-laki yang sudah menyelamatkan hidup ku." Ujar Alesya.


"Kalau sedari awal kau tahu pria itu adalah aku, apa yang akan kau lakukan? apa kau tidak akan datang ke perusahaan ku waktu itu?" Kini giliran Kenzo yang menatap lekat mata Alesya. Mencoba terlebih dahulu jawaban dari pertanyaan nya.


"Entah lah." Ujar nya kemudian.


"Entahlah??" Ulang Kenzo, terlihat rasa tidan puas dari intonasi Kenzo.


"Ya, entah lah. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Urusan ku dengan keluarga Diningrat bukan sesederhana yang kau bayangkan Kenz. Aku lari dari keluarga itu bukan hanya karena mereka memaksa ku untuk menikah dengan laki-laki tua yang bernama Puji itu. Hidup jauh lebih sengsara dari itu." Wajah Alesya terlihat sedih. Kini wanita itu tertunduk mungkin karena terbayang semua derita yang ia lalui selama bersama keluarga Diningrat.


"Aku tidak akan mengerti jika kau tidak menceritakan semua nya pada ku Alesya." Kenzo tiba-tiba sudah ada didepan Alesya dan mengangkat kepala Alesya yang tertunduk tadi dengan tangannya.


Mata mereka kini saling menatap. Seakan saling mencoba menembus pikiran masing-masing.


"Katakan pada ku agar aku paham." Ulang Kenzo.


Alesya mengangguk pelan.


Kini Kenzo duduk di sofa yang ada di sebelah Alesya.


"Awalnya aku mengira Agnez adalah sosok saudari tiri yang berbeda dari saudari-saudari tiri nya Cinderella yang ada di dongeng Disney. Aku mempercayai nya dengan segenap jiwa ku sebab ia yang selama belasan tahun hidup ku selalu hadir untuk membela ku jika ayah memarahi ku." Terlihat Alesya tersenyum sambil menceritakan hal itu pada Kenzo, tapi senyuman itu bukanlah sebuah senyuman karena mengingat hal yang manis tapi lebih mirip senyuman yang menertawakan kebodohan-kebodohan yang selama ini ia lakukan.

__ADS_1


"Sampai suatu saat aku dijebak oleh Agnez untuk menghadiri sebuah pesta disebuah hotel." Lanjut Alesya sambil mengingat malam terburuk dalam hidup nya itu.


"Hotel? Mungkinkah itu?" Batin Kenzo.


"Kau tahu apa yang Agnez lakukan pada ku?" Alesya menatap Kenzo dengan matanya yang mulai berkaca-kaca sebab mengingat malam dimana ia kehilangan hal yang paling dijaganya dan membuatnya tidak bisa menerima laki-laki mana pun dalam hidupnya. Bagi Alesya hanya laki-laki itu lah laki-laki dalam hidup nya bukan karena ia mencintainya tapi karena ia adalah ayah dari putra nya.


"Dia menjebak ku hingga hidup ku hancur malam itu." air mata jatuh di pipi indah itu.


"Aku bahkan tidak kenal siapa laki-laki itu." Lanjut Alesya sambil menangis. "Mungkin setelah aku menceritakan ini semua pada mu kau akan jijik untuk bersama ku Kenz. Aku tidak akan mempermasalahkan itu. Tapi aku sungguh takut melihat mu seperti tadi. Kau sungguh bagaikan sosok yang berbeda. Membuat ku tidak dapat mengenali mu." Alesya menatap Kenzo dengan matanya yang masih penuh air mata membuat Kenzo rasanya ingin mengungkapkan bahwa dirinya lah laki-laki malam itu. Laki-laki brengsek yang sudah merusak Alesya malam itu. Tapi mulut Kenzo terkunci rapat. Rasa takut akan kehilangan Alesya membuat nya menyurutkan niat nya untuk berterus terang.


"Dan jika kau tanya siapa ayah Skala maka aku hanya mengatakan bahwa aku tidak tahu. Sebab aku benar-benar tidak tahu siapa laki-laki itu." Alesya menutup matanya hingga membuat air matanya kembali jatuh di pipi nya.


"Kenapa kau tidak mencari laki-laki itu Alesya?" Tanya Kenzo dengan hati-hati.


Alesya menggeleng pelan. "Aku takut kalau ternyata dia adalah orang suruhan Agnez. Kau bisa bayangkan apa yang Agnez bisa lakukan? Dia bisa meminta laki-laki itu untuk merebut Skala. Skala adalah nyawa ku Kenz. Aku tidak akan pernah bisa berpisah dari nya."


"Lalu apa yang akan kau lakukan jika suatu saatt ayah Skala muncul dihadapan mu?" kenzo kembali bertanya.


"Aku akan kembali ke kota J Kenz. Aku aman berada di sana bersama ayah ku. Waktu ku hanya setahun berada disini untuk mengambil semua milik ku dan menghancurkan keluarga itu. Setelah itu aku tidak akan pernah menginjakan kaki lagi di kota terkutuk ini. Kota yang sudah menghancurkan ibu ku, ayah ku serta hidup ku. Jadi selama setahun ini aku harap aku tidak bertemu dengan pria itu." Tukas Alesya.


"Apa kau membenci nya?" Tanya Kenzo hati-hati. "Bagaimana kalau pria itu ternyata bukanlah orang suruhan Agnez? Bagaimana jika ia hanyalah seorang yang juga sedang dalam kondisi sama dengan mu., mungkin ia juga sedang dijebak oleh seseorang?" Tanya Kenzo makin kian rinci.


Alesya menatap Kenzo sambil menghapus air matanya. "Apa takdir akan selucu itu Kenz? Atau tuhan sedang khilaf? hingga bisa-bisa dua orang yang bernasib buruk menciptakan sebuah nasib buruk lainnya?"


Alesya tersenyum sambil menggeleng seakan menandakan ia tidak akan percaya kalau hal yang sedemikian random dapat terjadi.


"Aku hanya ingin mengatakan. Aku ingin menjadi teman mu Kenz. Bersedia kah kau menjadi teman ku setelah mengetahui semua masalalu ku, duka ku dan tujuan ku?" Alesya mengulurkan tangannya pada Kenzo.


Kenso melihat ke tangan Alesya dan berkata, "Tidak!! Aku tidak bersedia menjadi teman mu tapi izin kan aku untuk menjadi seseorang yang lebih dari sekedar teman untuk mu." Kenzo lalu menjabat tangan itu.


"Dan ingat... paling tidak tidak untuk setahun ini kau adalah istri ku. Istri sah ku. Kau harus menjalan semua tanggung jawab mu sebagai seorang istri. Anggap itu sebagai ganti rugi bagi ku." Ujar Kenzo lalu meninggalkan Alesya.


"Paling tidak? apa maksud nya dengan mengatakan paling tidak setahun ini? memang nya dia berniat menikah dengan ku seumur hidup?" Gumam Alesya heran dengan perkataan Kenzo.


####


hai... hai.. ini up yang pertama ya.. tungguin dua up lagi dihari ini. jangan lupa untuk like, komen dan vote... 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2