
"Hei . bagaimana kabar mu hari ini?" Tanya Marcus pada Agnes yang terlihat sedang merajut sesuatu.
"Masuklah, apa kau hanya akan berbicara dari sana?" Seru Agnes pada Marcus yang menyapa nya dari depan pintu kamarnya tanpa masuk ke dalam.
"Baiklah .. "Marcus pun melangkah masuk dan menutup kembali pintu itu dengan pelan.
"Nah sekarang katakan pada ku, apa yang sedang kau buat." Ujar Marcus sambil melihat ke arah tangan Agnes yang asik merajut sesuatu.
"ini?" Tanya Agnes sambil mengangkat benang yang tersimpul di jarum rajut itu.
"Iya . benar itu." jawab Marcus pura-pura tidak paham apa yang sedang Agnes kerjakan.
"Aku sedang merajut syal." Jawab Agnes masih dengan terus merajut. "Tapi yang ini untuk Alesya dan setelah ini baru aku akan membuatkan syal untuk mu." Jawab Agnes.
"Wah.. ternyata aku ini nomor dua ya!!" Marcus pura-pura cemberut mendengar Syal yang dikerjakan oleh Agnes ternyata bukanlah untuk nya.
"Kau jangan pura-pura bersedih seperti itu. Sungguh membuatku ingin tertawa melihat wajah sedih palsu mu itu Marcus!" seloroh Agnes lalu tertawa.
"hahaha..." Marcus pun ikut tertawa bersama Agnes. Marcus senang melihat wanita ini memiliki semangat yang berbeda hari ini.Tidak seperti hari-hari sebelumnya.
"Apa Kau sangat sibuk hari ini Marcus? Aku tidak melihat mu seharian?" seru Agnes yang sedikit merasa kehilangan Marcus yang biasa mengunjungi diri nya di pagi hari.
"heemm .. ada hal yang perlu aku selesai kan. Dan ini." Marcus menyerahkan obat-obatan yang ia dapat dari rumah sakit Frans tadi.
"obat lagi? yang di dalam laci itu saja belum habis." gerutu Agnes melihat obat-obatan yang dibawa oleh Marcus.
__ADS_1
"Aku mengganti semua obat mu Agnes. Aku rasa ada sesuatu lain di diri mu yang belum aku ketahui. Bagaimana kalau kau ke rumah sakit. Aku punya sahabat di salah satu rumah sakit besar di kota ini. Biar kan dia mengecek keadaan mu dengan seksama." Marcus menawarkan agar Agnes mau diperiksa oleh Arya.
Agnes menggeleng pelan. "Tidak perlu. Benar aku baik-baik saja. Aku sangat tahu bagaimana kondisi ku." Jawab Agnes yang tetap saja menolak tawaran dari Marcus.
"Aku tidak bisa memaksa mu jika memang kau tidak mau untuk dibawa ke rumah sakit. Tapi aku mohon pertimbangkan lagi tawaran ku tadi."
"Kalau aku merasa bahwa tubuh ada yang salah maka aku akan langsung memberitahukan nya pada mu dan kita akan pergi ke rumah sakit." Ujar Agnes, berbohong.
"Baiklah. .Dan Ya Agnes, mungkin beberapa hari ini aku tidak akan berada di hotel sebab aku ada urusan penting. Aku akan meminta asisten ku untuk menjaga mu. Dan ingat untuk selalu makan obat mu tepat waktu."
"siap! dok!!" Seru Agnes sambil tertawa. Agnes merasa beruntung bertemu dengan Marcus di saat-saat terakhir hidupnya. Marcus adalah orang yang sangat baik di mata Agnes.
"Kau juga harus menjaga kesehatan mu Marcus!" ujar Agnes, entah mengapa semilir angin terasa di Agnes. Seakan-akan ini ada perpisahan nya dengan Marcus.
"Wah . seperti setiap kali kau bertemu dengan ku kau selalu meminta sesuatu." gurau Marcus..
"hahahaha. kau benar Marcus. Kalau di pikir-pikir aku selalu meminta sesuatu setiap bertemu dengan mu!! Tapi aku janji ini yang terakhir.." Ujar Agnes lalu meletakkan benang dan jarum yang dipegang nya ke atas meja yang ada di samping tempat tidur itu.
"Mau kah kau memelukku? Aku sangat rindu dengan keluarga ku. Tapi saat ini aku sungguh sudah kehilangan seluruh keluarga ku." ucap Agnes yang mencoba menyembunyikan rasa sedihnya di balik senyuman palsu yang ia tampilkan di wajahnya.
"Tentu saja sayang!!" Jawab Marcus yang langsung memeluk Agnes di tempat tidur. "Siapa bilang kau tidak punya keluarga lagi? kau sudah ku anggap sebagai adik ku sendiri jadi saat ini aku adalah kakak mu, keluarga mu. Sudah jangan bersedih lagi." Ujar Marcus sambil menepuk - nepuk pelan punggung Agnes.
"Bolehkah aku memanggil mu dengan sebutan kak?" pinta Agnes pada Marcus.
"tentu saja. Seorang kakak..tentu akan senang jika dipanggil kak oleh adiknya. Kau boleh memanggil ku kak Marcus!" terang Marcus
__ADS_1
"kak...kak!!" Tiba-tiba Agnes menangis. "Aku senang akhirnya aku tidak sendiri." ujar Agnes disertai dengan air mata yang ikut turun membasahi pipinya.
"Sudah-sudah jangan menangis!!" Marcus membersihkan air mata di pipi Agnes. "Dari pada menangis lebih baik kau melanjutkan membuat syal itu agar aku bisa segera memberikan nya pada Alesya." Marcus yang selalu tidak tega melihat wanita menangis harus bisa mengalihkan fokus Agnes agar tidak menangis lagi.
"Ketika aku sudah pulang nanti aku ingin melihat syal yang kau buat untuk Alesya dan untuk ku." Seru Marcus dan beranjak dari tempat dia tidur.
"Aku pasti akan menyelesaikan syal-syal itu " Ucap Agnes penuh tekad.
"Aku akan membereskan beberapa barang-barang ku dulu dan langsung pergi." Terang Marcus. Dia tidak bisa berlama-lama di hotel milik nya ini sebab dia sangat khawatir dengan keadaan Dyana.
"ya. . aku paham kak." Jawab Agnes untuk pertama kalinya memanggil Marcus dengan kak.
Marcus sangat senang mendengar nya selama ini tidak ada yang memanggil nya dengan sebutan itu. Marcus merasa memiliki seorang keluarga baru.
"terus pertahankan panggilan itu!! aku ingin kau memanggilku seperti itu saat aku pulang nanti "ucap Marcus pada Agnes yang direspon Agnes dengan senyuman. Agnes tidak mau menjawab perkataan Marcus sebab dia sendiri tidak yakin apakah dia akan bisa bertahan hingga Marcus kembali.
Marcus keluar dari kamar Agnes dan menuju kamar nya.
Setelah membereskan beberapa hal penting yang akan di bawa untuk menginap di rumah sakit, Marcus pun tidak lupa untuk menitipkan Agnes pada asisten nya. Menjelaskan pada asisten nya untuk terus memperhatikan perubahan kesehatan pada diri Agnes. Kalau bisa bujuk Agnes agar bersedia ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan nya.
Baru setelah semua itu selesai, Marcus kembali ke rumah sakit untuk menjaga Dyana. Marcus tidak ingin jauh dari Dyana saat ini. Dia tidak peduli apakah Kenzo akan membiarkan dia mendampingi dan menjaga Dyana ataupun tidak, tapi Marcus tidak akan mundur lagi demi cintanya pada Dyana. Apalagi Marcus tahu disana juga ada Frans yang dari gelagat nya pasti juga menyimpan rasa untuk Dyana. Jangan sampai Frans berhasil merebut hati Dyana. Marcus harus tetap menjaga Dyana untuk terus ada di dalam pandangan matanya.
**bersambung
*ingat untuk tinggal kan komen mu ya zeyeng... *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.
__ADS_1