Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 50# menuju pernikahan#8


__ADS_3

"Mari tuan..."Staff butik itu mempersilahkan Marcus untuk maju menuju posisi Dyana kini tengah berdiri.


Dengan penuh wibawa dan tanpa mengalihkan pandangannya dari Dyana yang sedang menatap nya di cermin, Marcus berjalan ke arah Dyana.


Keduanya benar-benar telah melupakan Frans yang sesungguhnya sangat memiliki andil besar dalam hal ini.


"Wah.. kalian sangat serasi sekali." Seru sang desainer yang muncul dari belakang ke duanya, membuat pasangan yang sedang hanyut dalam tatapan penuh cinta itu terusik.


"Ehem... Frans mana?" ujar Marcus sejurus kemudian. Dia baru sadar bahwa pria yang berkali-kali dikatakan nya brengsek itu tidak ada ditempat itu.


Dyana pun langsung ikutan sadar dan melihat sekeliling nya. "Benar, dimana Frans?" seru nya. Karena terlalu dag dig dug ser bertatapan penuh cinta dengan Marcus, Dyana sampai lupa bahwa dia datang ke butik ini bersama Frans, mengapa malah Marcus yang kini Fitting pakaian pengantin bersama nya.


"Tuan Frans sudah pergi dari tadi nona..tuan." jawab si Designer.


"Pergi?" ucap Dyana dan Marcus berbarengan.


"Benar. Begitu anda masuk ke ruang ganti pria tadi, tuan Frans langsung keluar dari ruangan ini.


"Heh.." Marcus berdengus kasar.


"Permainan apa yang sedang dimainkan oleh Frans ini." Pikir Marcus tajam. "Dia sendiri yang melarang ku untuk berdekatan dengan Dyana selama tiga hari ini, sekarang malah dia yang meninggalkan Dyana bersama ku disini." Pikir Marcus curiga.


"Kemana dia?" Gumam Dyana.


"Aku tidak tahu kemana tuan Aksena pergi, tapi yang pasti tadi dia menitipkan ini pada ku untuk kalian berdua." sang desainer pun mengeluarkan sepucuk surat dan menyerahkannya pada Marcus.


Marcus mengambil surat itu dan membukanya. Ada beberapa lembar kertas dari dalam surat itu.


Marcus dan Dyana pun saling bertatapan. Mereka penasaran apa yang sebenarnya di rencanakan oleh Ifrans Aksena ini.


"Wah...!! Seperti nya tuan Aksena ini sangat bersemangat menulis untuk kalian berdua. Bagaimana kalau kalian duduk dulu disana untuk membaca surat itu. Aku akan meminta staf ku untuk membawakan minuman dan cake untuk kalian."Ujar Sang desainer dan langsung pergi meninggalkan Dyana dan Marcus tanpa menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh Dyana dan Marcus.


Dyana dan Marcus pun kembali saling tatap.


"Ehm... mari aku bantu." Ujar Marcus pada Dyana.

__ADS_1


"Kalian pergi saja. Aku yakin akan membantu Dyana." Debut Marcus pada kedua staff yang masih dengan setia berdiri disampingnya kiri dan kanan Dyana.


"pegang bahu ku..." perintah Marcus pada Dyana, lalu mengangkat tubuh wanita yang dicintainya itu ke dalam gendongan nya.


Dyana hanya diam sambil menahan degup jantung nya yang mulai tidak menentu.


"Apa terasa sakit jika aku menggendong mu seperti ini?" tanya Marcus sambil menatap wajah Dyana yang mulai bersemu.


Dyana menggeleng pelan. Dia merasakan kedua pipinya terasa panas.


"Baiklah. Aku akan membawa mu ke sofa itu " ucap Marcus lembut.


Dyana pun hanya bisa mengangguk.


Marcus melangkah dengan memandang ke depan. Dia tidak lagi melihat ke arah kekasih hati nya itu. Sedangkan Dyana sedari tadi mencuri-curi pandang ke wajah sang kekasih yang baru pertama kali ini dapat dia liat dengan sangat dekat. Sangat dekaaat... hingga setiap inchi pahatan di wajah tampan itu dapat dinikmati nya dengan seksama.


"Apa kau sudah puas melihat ku." Gumam Marcus disertai dengan langkah kakinya yang berhenti.


Ucapan Marcus barusan membuat Dyana salah tingkah. Wajahnya semakin memerah karena ketahuan melakukan hal itu.


Tidak seperti pertanyaan-pertanyaan Marcus sebelum nya, kali ini Dyana tidak memberikan anggukkan ataupun gelengan untuk menjawab pertanyaan Marcus.


Marcus menurunkan Dyana dengan sangat lembut. Dia takut Dyana nanti merasakan sakit di kaki dan tangan nya yang belum sembuh benar ini.


"Apa ada yang sakit?" Tanya Marcus kembali ingin memasang keadaan sang kekasih.


"tidak.." ucap Dyana singkat.


"Kau sangat pendiam akhir-akhir ini." sebut Marcus yang turut duduk di samping Dyana.


"Itu hanya perasaan mu saja." Jawab Dyana, sambil menundukkan kepala nya.


"Benarkah...?"Tanya Marcus dengan nada menggoda.


"Ehm..." Dyana hanya menjawab sesingkat itu pada Marcus.

__ADS_1


"Selain menjadi lebih pendiam, kau pun seperti nya jadi lebih pemalu." Tukas Marcus dan berhasil membuat Dyana kembali salah tingkah.


"Kemana saja kau akhir-akhir ini Marcus?" Akhirnya Dyana memberanikan diri untuk bertanya pada Marcus.


"Maafkan aku yang menghilangkan akhir-akhir ini." Jawab Marcus, terdengar sangat menyesal.


"Kau tidak perlu minta maaf.. toh aku ini kan bukan siapa-siapa bagi mu." Tukas Dyana, menyembunyikan kan perasaan sedihnya.


Marcus yang sudah kadung berjanji pada Frans terpaksa hanya diam walaupun sebenarnya di dalam hatinya dia sangat ingin mengatakan pada Dyana betapa berartinya wanita itu bagi nya.


"Dia hanya diam. Ternyata benar. Aku memang bukan siapa-siapa dalam hati nya." Tukas Dyana pilu. Kini hati nya seakan sudah ikhlas melepaskan cinta yang ia rasakan untuk Marcus.


"Heem.. bagaimana jika kita baca surat dari Frans ini bersama?" Ujar Marcus mencoba mengalihkan suasana yang mulai terasa menyesak kan dada ini.


"Terserah saja..." Jawab Dyana yang sungguh sudah tidak bersemangat. Dia bahkan sudah tidak ingin tahu mengapa Frans menulis kan surat untuk nya dan Marcus. Sebab apapun yang Frans tulis di dalam sana tidak akan merubah kenyataan kalau cinta nya pada Marcus tidak lebih dari sebuah perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Bagi Dyana kini, segala ungkapan cinta yang Marcus ucapkan ketika Dyana di rawat di rumah sakit kala itu tidak lebih dari bentuk rasa iba Marcus melihat kondisi Dyana. Dan selama ini Marcus berada di disisi Dyana hanya lah karena bentuk kasih sayang nya sebagai sesama keluarga. Harus nya Dyana paham itu dan tidak berharap terlalu jauh pada cintanya ke Marcus.


Marcus sangat menyadari perubahan raut wajah dan mood dari wanita yang dicintainya ini. Tapi apalah daya nya saat ini, dirinya terkekang oleh janji yang ia ucapkan pada Frans untuk tidak mempengaruhi perasaan Dyana. Untuk membiarkan Dyana sendiri hingga dapat menganalisa perasaan apa yang sebenarnya Dyana miliki untuk Marcus.


"ehmm.. kita baca berdua ya?" Ujar nya tetap lembut seperti sebelumnya.


Dyana pun mengangguk.


Kini Marcus membuka lembar pertama dari surat nan panjang itu.


DEAR MARCUS DAN DYANA, WANITA YANG SANGAT AKU CINTAI...


Marcus dan Dyana langsung saling pandang setelah membawa bait pertama dari surat yang dituliskan oleh Frans.


"Bagaimana Frans bisa tahu kalau kita akan bertemu hari ini? jangan-jangan dia-" Ucap Dyana terputus dan menatap tajam ke dalam manik mata Marcus seolah-olah sambung kalimat itu Dyana sampaikan melalui sorot mata keduanya.


***bersambung..


😎😎😎

__ADS_1


*ingat jangan lupa komen yo cintooo😘 *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.


__ADS_2