Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 14#Rencana yang gagal#1


__ADS_3

“Tuan apa kau sudah mendengar bahwa anak nona Alesya di culik?” Sebut Aditya pada Frans yang sedang menikmati sarapan di pagi itu.


“Skala?” terlihat laki-laki tampan itu sedikit terkejut. “Maksud mu Skala telah diculik? Apa kau yakin?” Frans tiba-tiba kehilangan selera makannya. Walaupun baru berjumpa Skala sekali tapi Frans sudah jatuh hati pada anak ini meski mostly wajah nya persis seperti Kenzo.


“Ya, tuan. Salah satu orang kepercayaan saya mendapat informasi ini langsung dari kediaman Diningrat. Tapi untuk informasi lebih rinci nya saya tidak tahu pasti tuan sebab sepertinya keluarga Dayson dan keluarga Diningrat sengaja menutupi berita ini dari publik.


"apa saja yang kau lakukan Kenzo! Bagaimana kau bisa membiarkan penjahat menculik anak mu. Kalau kau tidak bisa menjaga mereka sebaiknya kau serahkan saja pada ku." Seru Frans dalam hati.


“Apa kita perlu menelpon nona Alesya, tuan?”Tanya Aditya.


“Tidak. Tidak perlu.” Wajah Frans terlihat serius. Kita akan langsung datang ke kediaman Kenzo saat ini juga, Siapkan mobil untuk ku.” Frans pun pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


“Tuan Frans kalau sudah menyangkut tenang nona Alesya tidak memperdulikan apapun. Apa dia lupa kalau tuan Kenzo juga tinggal di rumah yang sama dengan nona Alesya?” gumam Aditya.


Aditya hanya bisa berjalan sambil geleng-geleng mengingat betapa tidak akurnya tuannya dan tuan Kenzo. “ Semoga kalian tidak senggol bacok di sana.”


**Dikediaman Kenzo Dayson


“Nyonya, ada tuan dan nyonya Diningrat sedang menunggu anda di ruang tamu.”lapor seorang pelayan laki-laki pada Alesya yang sedang sibuk mengurusi beberapa dokumen penting milik nya di kamar.


“Mereka sudah datang rupa nya.”Gumam Alesya dalam hati.


“Katakan pada mereka aku akan turun sebentar lagi.”Ujar Alesya pada si pelayan laki-laki tersebut.


“Baiklah nyonya.” Si pelayan pun menutup pintu kamar Alesya dan langsung menuju ke ruang tamu, dimana Ronald, Jenny dan Agnez sedang menunggu.


“Nyonya dan tuan.. Nyonya Alesya mengatakan ia akan segera turun. Harap tunggu saja di sini.” Ucap si pelayan sopan.


“Baiklah.”jawab Ronald. Meski Alesya adalah putri keluarga Diningrat tapi Ronald tidak bisa sembarangan menerobos masuk ke dalam kediaman Kenzo Dayson.


“Tunggu..!!”Seru Agnez.


“ya, nona Agnez ada yang bisa saya bantu?” Tanya si pelayan dengan wajah tanpa ekspresi apapun.


“Kenzo..heemm maksud ku tuan Kenzo, apakah dia ada?” Tanya Agnez sambil melirik ayahnya. Dia tahu ayah nya tidak suka kalau Agnez menganggu Kenzo lagi.


“Tuan tidak ada nona. Tuan Kenzo sudah pergi pagi-pagi sekali.”Jawab si pelayan.


“Kema-“


“Agnez!!!!” Seru Ronald menghentikan pertanyaan Agnez yang menurut nya sangat tidak pantas untuk ditanyakan.


Agnez terlihat kesal. Akhirnya dia diam dan duduk sambil memasang wajah cemberut.


“Aku sudah tidak sabar!!” Agnes melihat ke kiri dan ke kanan, mencari-cari apakah ada orang yang datang mengantarkan paket atau sejenisnya yang berisi potongan tubuh Skala.


“Apakah orang-orang suruhan ibu itu dapat dipercaya? Jangan-jangan mereka kabur setelah ibu mengirimkan uang sisa pembayaran itu.” Gumam Agnez dalam hati.


“maaf membuat ayah dan ibu lama menunggu.” Seru Alesya yang baru saja muncul dengan wajah yang terlihat sangat pucat.

__ADS_1


‘Sepertinya dia sangat panik!” Ujar Jenny dalam hati sambil tersenyum tipis pada Agnez.


Melihat Alesya yang tidak terlihat baik, Jenny menyimpulkan bahwa pasti mereka belum menemukan Skala.


“kau baik-baik saja Alesya?” Jenny langsung berdiri dan menghampiri Alesya. Dengan wajah yang pura-pura bersimpati pada Alesya, Jenny memeluk Alesya seakan-akan dia sedang turut sedih dengan kemalangan yang menimpa Alesya.


Alesya memulai akting nya. Dia menggeleng lemah seakan-akan benar-benar sudah kehabisan tenaga. Wajahnya yang sudah ia make up sedemikian rupa pun sangat mendukung akting nya kali ini.


Alesya sengaja menghela nafas nya dengan berat. "bagaimana aku bisa baik-baik saja bu, aku tidak tahu dimana putra ku hingga saat ini. Ini sudah beberapa hari Skala menghilang sejak di resort itu.” Alesya memasang wajah sedihnya. Bahkan kalau perlu ia tidak akan sungkan untuk menitikkan air mata guna meyakinkan para penonton yang ada dihadapannya.


“kau harus sabar Alesya!” Kini Agnez pun berdiri dan menghampiri Alesya. “Kami semua ada disini untuk mu. Kau tidak sendirian.” Agnez berpura-pura menyemangati Alesya.


"Cih..!! Aku tahu kau dan ibu mu adalah dalang dari semua penderitaan yang dialami oleh putra ku. Jangan kira akting palsu mu itu bisa menipu ku.” Gumam Alesya dalam hati.


“Terima kasih Agnez. Aku tahu kau memang adalah saudari ku.” Alesya pun memasang wajah yang penuh kesedihannya.


“Sebaiknya kalian bawa dulu Alesya untuk duduk.” Seru Ronald.


“Maafkan aku.” Ujar Alesya. “Seharusnya sebagai nyonya rumah ini aku tidak membuat kalian berdiri. Ayo ibu, Agnez kita duduk.”Alesya pun duduk disalah satu sofa di ruang tamu itu.


“Alesya, dimana Kenzo?” tanya Ronald.


“Kenzo dan orang-orangnya sedang keluar. Mereka sedang mencari keberadaan Skala ayah.”Jawab Alesya.


“Apa yang kau katakan Alesya? Skala hilang?” tiba-tiba terdengar suara Frans di pintu masuk ruang tamu kediaman kenzo Dayson.


“Frans?”Seru Alesya terkejut dengan kedatangan Frans.


“Kau tidak menjawab pertanyaan ku Alesya?” Frans melangkah masuk meski tidak ada satupun orang yang mengundangnya untuk masuk.


“Kenapa tuan ku mendadak tidak tahu tata krama seperti ini?”Gumam Aditya melihat Frans yang langsung masuk dan duduk disebelah Alesya.


“hallo tuan Ronald?” Frans menyapa ayah Alesya.


“Hallo Frans. Lama tidak bertemu dengan mu.” Ujar Ronald membalas sapaan Frans.


“Benar sudah lama sekali kau tidak datang mengunjungi rumah kami.” Jenny ikut-ikutan bicara.


“Ya.. sudah lama sekali. Seingat ku terakhir aku datang ke kediaman keluarga Diningrat ialah ketika aku menemui mu dengan maksud melamar Alesya untuk menjadi istri ku. Tapi entah mengapa aku malah mendengar keluarga Diningrat menjodohkan Alesya dengan saudagar tua kaya raya bernama Puji.” Ucap Frans tanpa filter.


“Apa? Kau pernah datang untuk melamar Alesya?” Seru Ronald kaget sebab selama ini ia tidak pernah tahu akan hal itu.


"Ya benar. Delapan tahun lalu aku datang ke kediaman mu tuan Ronald untuk melamar putri tertua mu Alesya. Tapi aku tidak dapat bertemu dengan mu saat itu sebab kau pergi keluar kota. Aku hanya dapat mengutarakan maksud kedatangan ku pada nyonya Diningrat.” Jelas Frans sambil terlihat kesal pada Jenny.


“kenapa topik pembicaraannya jadi berubah begini?”Gumam Aditya dalam hati.


“Heem... Heeemmm..” aditya sengaja berdehem keras untuk menarik perhatian tuannya. Dia ingin memberi kode kepada tuannya agar tuannya kembali pada tujuan awal kedatangan mereka ke rumah Kenzo.


“heeem...”Frans pun berdehem pelan dan mengalihkan pandangannya pada Alesya.

__ADS_1


"Apakah yang aku dengar barusan benar Alesya? Kalau Skala telah menghilang?” Frans menatap Alesya dengan tatapan penuh perhatian.


“Huft..kenapa dia tiba-tiba muncul?” batin Alesya.


“Hemm.. begitu lah Frans.” Jawab Alesya pelan.


“Dasar wanita jal*ng itu!! Umpat Agnez dalam hati. “Kau sudah memiliki Kenzo dan kini kau mencoba mencari perhatian Frans!!”


Rasa tidak suka sangat terlihat jelas di wajah Agnez.


“Alesya,..apakah tidak ada tanda-tanda dari penculik itu?” Seru Jenny, sengaja untuk mengalihkan perhatian Alesya agar tidak terus berbicara dengan Frans.


"Sejauh ini belum ada telpon untuk meminta tebusan dari para penculik itu.” Jawab Alesya dengan wajah sedih nya.


“Ibu, apakah kau pernah mendengar ada berita tentang anak-anak yang diculik lalu di potong-potong?" Ucap Agnez sengaja untuk memperburuk suasana hati Alesya. Biar Alesya bertambah cemas.


“Aku dengar mereka suka melakukan hal itu demi kesenangan dan kepuasan pribadi mereka." Agnez terus menakut-nakuti Alesya.


“Tuan detektif, “panggil Agnez pada detektif yang dibawa oleh ayahnya ke rumah Kenzo. “Bukankah ada kasus yang demikian kan? Apabila ada penculikan tapi tidak ada telpon untuk meminta tebusan. “


“ya kau benar nona. Kasus seperti itu juga sering terjadi. Kami menyebutnya dengan pembunuhan yang dilakukan oleh psikopat. Tapi biasa nya itu berbentuk pembunuhan berantai.”


“iya...itu maksud ku!!!” ujar Agnez pura-pura bego padahal dia sengaja mengarahkan sang detektif untuk menyebutkan hal itu pada semua orang yang ada di sana.


“Alesya, aku takut. Jangan-jangan Skala bukan diculik oleh musuh Kenzo atau saingan bisnis Kenzo, aku takut, jangan-jangan Skala telah diculik oleh seorang psikopat.” Ujar Agnez, pura-pura panik.


“bagaimana kalau seandainya keponakan ku itu menjadi korban dari serial killer yang sedang berkeliaran di luar sana!! Aku tidak bisa membayangkan kalau tubuh kecil itu di potong-potong hanya demi memenuhi kesenangan dari sang psikopat!!!” Sambung Agnez berapi-api.


“Tutup mulut mu Agnez!!” Bentak Ronald pada Agnez. Bagaimana mungkin mulut putri nya begitu lancar melontarkan kata-kata seperti itu.


“Aku hanya mengutarakan kemungkinan yang mungkin saja menimpa Skala ayah. Berhubung tidak ada satu telpon pun yang datang untuk meminta tebusan.”


“maafkan aku Alesya, aku tidak tidak bermaksud mendoakan sesuatu yang buruk menimpa putra mu Skala. Aku hanya ingin kau dapat berpikir mengenai setiap kemungkinan yang mungkin saja menimpa nya.” Ujar Agnez dengan wajah yang sangat menyebalkan di mata Alesya.


“Dasar nenek sihir!!!” Seru Alesya berang dalam hatinya. “Jangan kira aku sama bodohnya dengan diri mu!!”


“Terima kasih Agnez. Kau benar. Kami saja yang tidak berpikir sampai kesana. Sebab sejauh ini kami hanya berpikir bahwa ini mungkin adalah perbuatan salah satu musuh Kenzo dalam dunia bisnis. Karena hal ini terjadi setelah Kenzo mengumumkan kami sebagai keluarga nya. Lagi pula, kalau bukan musuh dari Kenzo, siapa lagi yang memiliki rasa tidak suka pada keluarga ku dan Kenzo. Seingat ku, aku tidak memiliki musuh.” Ucap Alesya, dan langsung merubah tatapannya pada Agnez. Namun hal itu terjadi sangat cepat, tidak sampai sedetik Alesya langsung mengalihkan tatapannya kesemua orang, tatapan kesedihan pastinya.


“Apa kau dan Kenzo sudah melaporkan hal ini ke polisi?”tanya Frans.


“Kami sengaja tidak menelpon polisi Frans, kami takut mereka menjadi nekat dan menyakiti Skala. Tapi kau jangan khawatir. Kenzo sudah mengerahkan semua orang-orang terbaiknya dan detektif kenalannya untuk mencari Skala.”


“heh.. kalau Kenzo melakukan hal ini dengan benar maka Skala pasti sudah ditemukan?’ Ujar Frans dengan nada meremehkan.


“Apa kau baru saja meremehkan diri ku?”Seru Kenzo tiba-tiba muncul di ruangan itu bersama Skala di gendongannya.


***********Bersambung..........


Hai,... jangan lupa untuk like, komen dan vote ya.. biar otor tahu kamu ada selalu menanti kelanjutan cerita dari otor...

__ADS_1


yang belum simpan novel otor di rak buku favorit jya.. monggo disimpan.. biar setiap kali otor up kamu dapat notifikasi nya😘😘


__ADS_2