
Diam-diam Frans melirik pada Marcus dan Dyana yang saling memandang. Apakah hati Frans sakit? Tentu saja. Saat ini Frans meras hati nya bagai di tusuk-tusuk dari segala arah. So jangan pernah mengatakan kalau setelah kau ikrar kan hati mu untuk iklas melihat orang yang kau cintai mencintai orang lain maka rasa sakit sirna seiring dengan senyum palsu yang kau pasang di wajah mu. Tidak semudah itu Ferguso. Kau bahkan harus membiarkan hati itu berdarah-darah, hingga rasakan sakit itu bukan hilang hanya terasa biasa oleh hati mu. Dan inilah proses yang sedang Frans paksakan pada dirinya, biarkan hati merasa terbiasa dengan rasa duka ini.
Dyana hanya diam dan mencuri-curi pandang.
"Apa kabar Dyana?" Tanya Marcus pada Dyana sambil melihat ke arah Frans. Marcus tidak ingin Frans salah paham mengira Marcus bermain curang dengan datang ke tempat yang sama dengan teman yang Frans dan Dyana datangi.
Dyana menoleh pada Frans sesaat lalu dengan perlahan Dyana kembali melihat ke arah lelaki pujaan hatinya.
"Bisa kah kita bicara sebentar Marcus?" Tanya Dyana penuh harap.
Sama hal nya seperti yang Dyana lakukan, Marcus melihat sejenak ke arah Frans. Di pandangan mata Marcus, terlihat Frans seperti terlihat tidak senang karena Dyana berbicara pada Marcus.
"Maafkan aku Dyana. Aku tidak bisa berbicara dengan mu saat ini." Jawab Marcus.
Sebagai lelaki Marcus tidak ingin Frans mengira dia melakukan kecurangan jadi biarlah dia bersabar untuk tiga hari ini.
__ADS_1
Ketika Marcus ingin melangkah pergi tiba-tiba telpon nya berbunyi..
"Kring...Kring......."
Marcus berhenti dan merogoh ponsel nya.
"Alesya...kau dan Kenzo itu dimana sebenarnya? aku sudah menunggu kalian dari zaman batu disini." sungut Marcus yang sedikit marah sebab Alesya dan Kenzo membuat Frans berpikiran buruk pada Marcus yang sebenarnya dalam pikiran Marcus kehadiran nya di butik ini murni adalah Kebetulan.
Tapi mana ada orang yang terlibat cinta segitiga sama kaki akan berpikir kemunculan rivalnya ditempatkan yang sama dengan tempat yang dia datangi dengan sang kekasih hati adalah sebuah Kebetulan. Marcus tidak ingin Frans berpikiran kerdil seperti itu.
"Izinkan aku berbohong sekali ini saja Tuhan!!" gumam Alesya dalam hati.
Marcus terdengar seperti habis menghela nya nafasnya dengan berat. Alesya yakin Frans dan Dyana pasti juga ada di butik itu.
"ya sudah kalau begitu aku akan pergi dari butik ini." tukas Marcus.
__ADS_1
"Paman tunggu!!!!!" cegah Alesya.
"Aku masih memerlukan bantuan mu di butik itu. Coba lah beberapa jas dari butik itu dan bawa lah pulang untuk di coba oleh Kenzo di rumah. Sepulang dari kerja dia dan aku akan pergi ke pesta tapi baju kami tidak ada yang serasi. Aku sudah meminta staff butik untuk memilih kan beberapa jas untuk Kenzo yang serasi dengan gaun ku. Kau cukup hanya mencoba nya saja paman. Please!!" Mohon Alesya.
"Aku mohon!" Sambung Alesya.
"Huft! Kalian sungguh merepotkan ku!!" Sungut Marcus.
"Terima kasih paman.." tukas Alesya cepat dan langsung mematikan telepon itu tanpa memberikan Marcus kesempatan itu mengatakan iya atau tidak.
**bersambung
πππ
*Tuliskan pendapat mu tentang karya otor yang ini ya.. *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.
__ADS_1