Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 45#Perjodohan#2


__ADS_3

***esokan hari nya..


Sudah sehari semalam Dyana tidak mendengar suara Marcus di kamarnya.


“Di mana dia?” gumam Dyana dalam hati.


“Dyana..sudah waktunya makan siang.” Ujar Frans sambil membawakan makan siang untuk Dyana.


Frans pun membantu Dyana agar merubah posisinya untuk sedikit duduk dan bersandar.


“ayo buka mulut mu!” Perintah Frans, dengan sebuah sendok yang sudah terisi dengan nasi dan sedikit sayuran.


“Frans, dimana Marcus ?” bukannya membuka mulutnya, Dyana malah bertanya soal keberadaan Marcus pada Frans.


“Marcus?” Ulang Frans sambil berpikir. Dia sendiri sebenarnya juga tidak tahu kemana pastinya si Marcus pergi. “entahlah. Aku tidak tahu. Mungkin dia pergi mengunjungi pacaranya.” Celetuk Frans asal bunyi. “ayo buka dulu mulut mu Dyana kau harus segera menghabiskan nasi ini dan meminum obat mu.” Perintah Frans sekali lagi.


“Pacar?”Ujar Dyana dengan nada tidak percaya. Jelas-jelas Marcus kemarin menyatakan cintanya pada Dyana masa hari ini ucuk-ucuk dia malah sudah pacar. “Dasar si Frans!! Bilang saja dia tidak tahu Marcus kemana! Tidak usah ditambah-tambah embel-embel HOAX seperti itu.” Ujar Dyana dalam hati.


“aku tidak lapar.” Seru Dyana kesal. “Dan kau!! Mau sampai kapan kau ada disini?” tanya Dyana ketus pada Frans. Kalau dipikir-pikir nih orang kok gak balik-balik ke rumahnya.


Frans melirik ke Dyana sebentar. Lalu sendok itu diletakkannya kembali ke mangkuk yang dipegangnya.


Mau mengatakan kalau dia akan ada disini sempai Dyana sembuh, Frans masih merasa sangat gensi. “seharusnya kau bersyukur karena aku masih berada disini. Secara di rumah ini selain pelayan, Jack dan juga pacar nya si Jack itu, tidak ada siapa-siapa disini.” Ujar Frans sebisa mungkin menyembunyikan alasan sebenarnya dia masih bertahan di rumah itu.


“Tidak perlu!! Aku tidak perlu! Aku sudah meminta pelayan rumah ini mencarikan ku seorang perawat. Jadi kau sudah boleh pulang.” Ucap Dyana cuek.


Frans memandang geram pada Dyana.. Wanita ini sungguh tidak menghargai usaha yang dilakukannya.


“Aku pun sebenarnya sudah mau pergi dari rumah ini. Memang nya kau kira aku ini pengangguran seperti diri mu? Aku ini juga banyak urusan di kantor. Tapi mau bagaimana lagi, ibu- tante Mary benar-benar minta tolong pada ku untuk menjaga mu. Jadi ya, disini lah aku saat ini untuk menjaga mu.” Kilah Frans.


“Terserah pada mu saja lah Frans! Capek aku ngomong sama orang seperti mu!” Ujar Dyana lalu memilih untuk diam. Dalam pikiran Dyana saat ini hanya Marcus. Dimana laki-laki itu saat ini.

__ADS_1


***


“Bagaimana perasaan mu setelah berkunjung ke makam kedua orang tua mu Kenz?” Tanya Alesya yang tidak dapat ikut bersama Kenzo, Marcus dan Skala ke makam orang tua Kenzo karena perutnya tidak enak sedari tadi pagi.


“Aku sudah merasa lebih tenang sayang.” Jawab Kenzo sambil duduk di tepi ranjang tempat dimana Alesya berbaring. “Bagaimana keadaan mu sekarang? masih sakit kah?” Tanya Kenzo sambil memegang perut Alesya.


“Tenggorokan ku masih tidak enak Kenz. Mungkin ini karena aku terlalu lelah kemarin. Lelah perasaan.” Bisik Alesya sambil tersenyum pada suaminya itu. “Tapi walaupun sakit aku senang semua akhirnya kembali normal dan penuh kebahagian.”


Kenzo mengecup kening Alesya. “ apa kau yakin kita tidak perlu pergi ke rumah sakit? Atau aku panggil kan paman untuk memeriksa keadaan mu bagaimana?” Tanya Kenzo yang masih cemas dengan keadaan Alesya yang masih terlihat sedikit pucat itu.


“Percaya lah pada ku Kenz....aku sudah biasa seperti ini. Setiap kali aku kelelahan atau terlalu banyak pikiran maka akan langsung seperti ini. Kau tidak perlu cemas. Dibawa istirahat ntar juga akan baikan.”


“Paman dan Skala mana?” tanya Alesya yang tidak melihat bocah kecil itu semenjak pulang dari makan kakek dan neneknya.


“Mereka ada di luar. Di tepi pantai. Aku pun gak tahu apa yang mereka bicara kan. Padahal mereka kan tidur bersama tadi malam. Aku yakin mereka pun pasti tidak langsung tidur.” Tebak Kenzo.


“Aku sependapat dengan mu sayang.” Timpal Alesya.


“Alesya sayang... suami mu ini bukan laki-laki lemah. Aku sudah sangat kuat sekarang. Apa kau mau bukti?” sebuah senyuman penuh arti tersungging di sudut bibir Kenzo.


“Dasar!! Kau memang selalu bisa try setiap kesempatan! Kalau tidak bisa maka kau akan mengatakan kau hanya bercanda, tapi kalau bisa maka kau akan masuk gigi satu, dan langsung aksi!” celetuk Alesya yang sudah sangat paham dengan tabiat suaminya itu.


“Oke..oke..!! kau memang satu-satu nya wanita yang mengerti diri ku sayang!” kenzo kembali mengecup kening Alesya.


“Kenz.. aku teringat sesuatu.” Ucap Alesya, dan wajahnya pun berubah serius.


“heem.. ada apa?” tanya Kenzo pada Alesya, lalu mengambil sebuah apel yang ada di atas meja kecil disamping tempat tidur dan mulai mengupasnya.


“bibi dan paman. “ Ucap Alesya.


“bibi dan paman? Memang nya mereka kenapa?” tanya Kenzo sambil terus fokus mengupas apel yang ada di tangannya.

__ADS_1


Aleysa memadang malas pada suaminya itu yang terlihat sangat cuek terhadap pernyataannya tadi.” Come on honey..?” rengek Alesya,


“sayang,, mereka itu sudah sama-sama dewasa.” Tukar Kenzo.


“bukan itu Kenzo, maksud ku, apa kau akan merestui hubungan antara bibi Dyana dan paman Marcus sekarang?”


“tentu saja. Tapi untuk masalah restu merestui, aku sebenarnya tidak ada hak sayang. Itu semua adalah hak nya kakek dan nenek ku. Lagi pula sejak kapan seorang bibi yang ingin menikah atau paman yang ingin menikah membutuhkan restu dari keponakannya.” Kenzo langsung menyuapi sepotong apel ke mulut Aleysa.


Alesya mengambil apel yang ada di gigitannya itu dengan tangan karena itu membuatnya kesulitan berbicara. “Tapi setahu ku, hanya kau satu-satu nya rintangan yang harus mereka lewati untuk bisa kembali bersama.” Ujar Alesya dengan yakin.


“Kau terlalu cepat menyimpulkan.” Ujar Kenzo.


“Aku tidak sembarangan menyimpulkan Kenz.. bibi sendiri yang mengatakan hal itu pada ku. Kalau hubungannya dengan Marcus tidak akan mungkin berhasil selama Marcus dan kau belum berbaikan.” Jelas Alesya.


“ya.. anggaplah aku memang merupakan rintangan dalam hubungan cinta mereka. Tapi apa kau yakin aku adalah satu-satu nya rintangan dalam hubungan mereka ini? Apa kau tidak memikirkan ibunya bibi yang dengan gigih menjodohkan bibi dengan Frans? Buktinya saja Frans ada di rumah kita kan saat ini.” Jawab Kenzo yang tiba-tiba memijat-mijat kepala nya.


“apa kepala mu sakit lagi Kenz?” seru Alesya panik dan langsung merubah posisinya menjadi duduk.


“Tidak.. aku hanya jadi pusing mengingat cinta segitiga mereka..” Jawab Kenzo asal.


“huft!! Aku pikir penyakit mu kambuh lagi.” Seru Alesya panik.


“ tenang saja nyonya Dayson! Aku sudah sangat baik saat ini. Apalagi dengan kehadiran mu yang selalu ada di sisini ku.” Kenzo mulai menggombal lagi.


“kau mulai lagi...” Alesya mencubit pinggang suaminya.


***bersambung.


😎😎😎


*Tuliskan pendapat mu tentang karya otor yang ini ya.. *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.

__ADS_1


__ADS_2