
“Seperti nya ini perkara serius. Tunggu sebentar.” Ujar Kenzo yang hendak pergi.
“Kau mau kemana Kenz!” Cegat Marcus menarik tangan Kenzo.
“Aku ingin mengambil es campur ku dan bakso bakar kecap ku.” Jawab Kenzo enteng, melepaskan cengkraman Marcus di tangannya lalu pergi.
“Astaga Alesya! Kau yakin sewaktu hamil Skala dulu kau tidak pernah menyumpahi laki-laki yang telah menghamili mu?” Tukas Marcus yang tidak percaya keponakannya akan mengalami sindrom itu separah ini.
“Seingat ku aku hanya pernah mengutuk nya untuk merasakan penderitaan ku pada tri semester awal saja.” Jawab Alesya sambil menunjukan deretan gigi putihnya.
“Ya,.. mungkin itu yang menyebab kan semua kegilaan ini.” Ucap Marcus yang kini mulai meragukan ilmu pengetahuan yang di pelajarinya.
“apa kah itu benar-benar bisa terjadi?” Tanya Alesya tidak percaya.
“Entahlah,.. tapi mungkin saja.” Jawab Marcus.
Kini Marcus dan Alesya melihat ke arah Kenzo dan Skala yang datang dengan masing -masing satu gelas di tangan kiri dan kanan mereka.
“Kenapa kau membawa Ska kemari Kenz? Bukan kah aku mengatakan aku ingin mendiskusikan sesuatu yang serius dengan kalian berdua!” ucap Marcus yang tidak percaya Kenzo malah membawa bocah kecil itu dalam perbincangan orang dewasa ini.
“tenang lah paman. Skala hanya datang kemari untuk membantu untuk membawa gelas-gelas ini.” Tukas Kenzo sambil meletakan gelas-gelas itu di atas meja.
__ADS_1
“Nah Ska, sekarang tolong ambilkan bakso yang kita ramu berdua.” Perintah Kenzo pada putranya.
Dan anehnya Skala yang biasanya sangat cool, penuh logika dan tidak suka hal-hal aneh itu sekarang malah ikut-ikut tingkah aneh Kenzo.
“Oke! Akan aku ambil kan.” Jawab Skala dan langsung berlari ke arah gerobak sate.
Marcus dan Alesya saling pandang. Kini dalam pikiran mereka masing-masing mereka menebak apa yang akan Kenzo lakukan dengan gelas-gelas itu. Bukankah tadi dia yang meminta abang-abang es campur untuk memisahkan isian es campur itu ke dalam gelas-gelas ini. Tapi sekarang malah di bawa nya semua ke atas meja ini.
Marcus dan Alesya memilih tidak bertanya dan menunggu sambil memperhatikan saja kegilaan Kenzo ini.
“Bibik.. “Panggil Kenzo pada salah seorang pelayan.
“Ya tuan..” jawab si pelayan yang memang stand by di sana.
“mangkok sup buah?” Ujar Marcus yang masih terus mengamati tingkah absurb keponakannya.
“Ini tuan.” Si pelayan pun menyerahkan mangkuk kaca itu pada Kenzo dengan hati.
“Heem.. terima kasih.” Jawab Kenzo membuat si pelayan terkejut. Seumur hidup dia bekerja pada Kenzo Dayson, belum pernah sekali pun pria ini mengucapkan terima kasih pada pelayan di rumahnya. Tapi hari ini sang majikan mengucapkan kata itu begitu saja.
Mata si pelayan pun jadi berkaca-kaca.
__ADS_1
“bibik kenapa?” tanya Alesya.
“Tidak ada nyonya.” Jawabnya sambil menghapus air matanya dan pergi lagi ke dalam.
“Dia kenapa?” tanya Marcus yang sama herannya dengan Alesya.
“Entahlah, dia tidak menjawab apapun.” Sebut Alesya.
“Daddy.. ini baksonya.” Skala pun meletakan bakso itu di atas meja.
“Daddy, kalau kau memerlukan sesuatu maka katakan saja pada ku.” Sebut Skala.
“Pasti.. kau bersenang-senang lah disana.” Ujar Kenzo .
“Nah, Ayooo kita duduk.” Kenzo sadar kalau dari tadi pamannya dan istrinya hanya menatap jengah pada perbuatannya hingga mereka berdua lupa untuk duduk.
Kenzo kemudian memasukan satu persatu isian dari gelas itu ke dalam mangkuk kaca yang diantarkan oleh si pelayan sambil berseru,” Ini baru nama nya es campur.”
Ucapan Kenzo benar-benar membuat Mercus dan Alesya menepok jidat mereka masing-masing.
Bersusah payah si abang-abang es memisahkan isian es campur itu, dan disini Kenzo kembali menyatukannya semua isian es campur itu dalam mangkok kaca. Kalau bukan gila maka orang pasti menyebut hal ini EDAN!!
__ADS_1
***bersambung...!