
Wajah Mai langsung berubah mendengar jawaban yang Dyana berikan. Padahal menurut Dyana itu adalah jawaban terbaik dan teramah yang bisa dia berikan pada Mai demi menjaga ketenangan jiwa dan raga Mai.
“Apa mereka tidak malu bermesra-mesraan seperti itu. Memang nya hanya mereka berdua yang ada di rumah ini?!!!” gerutu Mai yang kesal sebab hatinya terasa panas mengetahui bagaimana kehidupan rumah tangga Kenzo dan Alesya.
“rumah-rumah mereka, ya suka-suka mereka.”celetuk Dyana sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Lagian kan mereka sudah menikah, jadi tidak ada salahnya kan, beda hal kalau....” Dyana lalu diam sesaat, dia menimbang-nimbang apakah dia perlu untuk melanjutkan kalimatnya. Kalau tidak dilanjutkan mulutnya terasa gatal untuk menimpali perkataan Mai barusan, sedangkan kalau dilanjutkan dia teringat pesan ibunya, lebih baik diam dari pada menyakiti hati orang lain.
“sekali lagi kau berkata yang bukan-bukan tentang Kenzo dan Alesya, maka aku akan melupakan kalau kita berada dalam satu kartu keluarga.” Seru Dyana dalam hati yang akhirnya memilih untuk menutup rapat mulutnya.
“Cih!! Seharusnya kalau istri di Kenzo itu punya etika, dia harus malu memperlihatkan kemesraannya dengan Kenzo di depan umum seperti itu. Dasar wanita yang tidak tahu malu. Wajar saja dia bisa memiliki anak bahkan sebelum dia memiliki suami atau dengan kata lain sebelum dia menikah.” Sebut Mai, dengan nada yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Dyana.
“apa yang kau katakan Mai?! Apa kau tidak salah??!!Kau bilang Alesya wanita yang tidak tahu malu??!” Dyana menyipitkan matanya memandang saudari tiri nya itu. Kali ini Dyana benar-benar sudah tidak dapat menahan mulutnya untuk menimpali semua perkataan Mai yang seenak jidat jenong nya itu.
“harusnya kau itu berkaca Mailani. Kau itu yang sebenarnya layak mendapatkan predikat wanita tidak tahu malu!!!” Dyana memandang Mai dengan tatapan merendahkan. “Cih, sudah jelas-jelas Kenzo dan Alesya sudah menikah. Kau masih saja berani datang ke sini dengan memperlihatkan dengan jelas maksud kedatangan mu ke rumah ini. Benar-benar tidak tahu malu!!!” Lanjut Dyana, terus memojokkan Mai seakan dirinya lah yang telah di hina oleh Mai.
“Mana ada wanita yang seperti diri mu di dunia ini Mai. Kau adalah satu-satunya.” Tegas Dyana. Bahkan setelah mengeluarkan begitu banyak kata-kata yang menyakitkan telinga seperti itu, hati Dyana masih merasa belum lepas untuk mengomeli Mai.
__ADS_1
“apa? Kau bilang aku adalah wanita yang tidak tahu malu?” Seru Mai sambil menyipitkan matanya. Baru kali ini ada wanita yang berani mengatakan pada Mai kalau Mai adalah wanita yang tidak tahu malu. Dan orang itu malah adalah saudari tiri nya sendiri.
“kalau tidak tahu malu, memangnya apa sebutan bagi diri mu yang jelas-jelas dengan bangga datang sebagai pelakor di rumah ini.” Seru Dyana dengan suara yang tidak kalah tinggi nya dari Mai. Emosi sudah mulai menjalar keseluruh tubuh nya.
“Aku tidak datang sebagai pelakor di rumah ini. Aku hanya datang untuk mengambil sesuatu yang sedari awal itu adalah milik ku. Jadi kau tidak berhak untuk mengatakan kalau aku datang untuk merebut Kenzo dari Alesya. Kenzo adalah milik ku. Dan akan kembali menjadi milik ku. Dia terlalu bagus untuk wanita murh*an seperti Alesya itu.” Jawab Mai.
Dyana mendengus kesal mendengar perkataan Mai yang tidak berdasar itu. Mengatakan kalau Kenzo adalah miliknya. Lalu Alesya adalah wanita murah*an. Adik tiri nya ini benar-benar sudah mengalami gangguan mental, pikir Dyana.
“kau harus ke rumah sakit jiwa Mai. Segera periksa keadaan jiwa mu. Jangan-jangan kau punya penyakit jiwa akut.” Ucap Dyana, ketus.
Sebenarnya wajar saja Mai menuduh Alesya seperti itu, sebab sampai saat ini tidak ada seorang pun yang Mai kenal yang dapat dengan mudah untuk dekat dengan Kenzo atau pun Dyana. Kedua orang ini sangat menjaga jarak dengan orang lain. Mereka sangat sulit untuk di dekati. Bahkan Mai yang merupakan teman sekolah dan kuliah Kenzo sekaligus adalah saudari tiri Dyana tidak dapat sedekat ini dengan Kenzo dan Dyana. Namun lihat lah sekarang, Kenzo dan Dyana mati-matian mempertahankan hubungan mereka dengan Alesya, tidak seperti diri mereka yang biasa yang sangat tidak peduli dengan orang lain.
"Pasti Alesya sudah melakukan sesuatu pada Kenzo dan Dyana." Gumam Mai dalam hati. Dia berpikir mungkin saja Alesya telah memakai pemikat untuk menarik hati Kenzo lalu hati Dyana juga. Secara Kenzo dan Dyana sangat dekat.
"Kau memang sudah gila Mai. Pikiran mu yang terobsesi dengan Kenzo sudah memberikan pengaruh buruk pada kejiwaan mu." Ujar Dyana. Dia yakin saudari tiri nya perlu pergi ke psikiater untuk memeriksakan kejiwaan nya. Dyana pernah baca artikel tentang gangguan metal yang disebabkan oleh seseorang yang terlalu terobsesi kepada orang lain. Hanya saja seperti biasa, Dyana yang tidak memiliki daya ingat sebaik Kenzo maupun Marcus, tidak bisa mengingat apa nama penyakit itu.
__ADS_1
"aku tidak perlu kemana-mana! aku cukup berada di rumah ini untuk menyadarkan Kenzo siapa wanita itu sebenarnya. Aku akan membongkar kedok wanita itu di depan Kenzo." ucap Mai berapi-api.
Dyana memijat pelipis nya. Dia baru tahu kalau berdebat dengan Mai sangat menghabiskan energi. Walaupun Dyana dan Mai adalah saudara tiri tapi mereka tidak pernah benar-benar tinggal dalam satu rumah dalam jangka waktu yang lama. Dyana lebih banyak berada di rumah keluarga Dayson mengikuti kakak nya (mendiang ibu nya Kenzo) dari pada tinggal dengan ibunya sendiri yang memilih tinggal bersama keluarga barunya itu (Tuan Romano dan Mai).
Setelah kakak nya meninggal, Dyana memang sesekali ada menginap di rumah ibu nya jika dia sedang berada di Australia. Tapi jika ia sedang tidak ingin untuk mengunjungi keluarga ibu nya itu maka dia akan tinggal di villa milik kakaknya yang ada di Australia.
Paling Dyana akan datang ke rumah ibu nya apabila dia ingin meminta ibunya untuk menambahkan suntikan dana bulanannya. Selama itu masih berjalan tanpa hambatan maka Dyana akan jarang sekali pulang ke rumah ibu nya.
Itu lah mengapa dia tidak tahu bagaimana rasanya berdebat sengit dengan Mai, yang sedari dulu memang terkenal sangat egois dan childish.
Yang Dyana dengar, Mai selalu ingin orang menuruti semua perkataan dan keinginan nya. Kalau orang-orang tersebut melakukan itu maka sikap Mai akan baik kepada orang-orang tersebut. Tapi jika orang-orang tersebut tidak mau menuruti nya maka Mai akan benar-benar menjadi sosok yang sangat menyebalkan. Karena hal ini Dyana tidak terlalu menyukai Mai sedari dulu, jauh sebelum Mai menjadi saudari tiri nya.
***bersambung...
#ayo apa pendapat kalian tentang tokoh Mai ini. .
__ADS_1