
"aku tidak butuh rasa iba mu Marcus." tolak Dyana. Setelah dia pikir-pikir dalam-dalam, meskipun benar Marcus mencintai dirinya, tapi dirinya yang saat ini sangat lah tidak layak untuk Marcus. Gadis berwajah buruk, lumpuh dan buta sangatlah yang sebanding dengan pria tampan dan menawan seperti Marcus. Hati Dyana yang tadinya sempat berbunga untuk sesaat kini harus bisa menerima bunga-bunga itu langsung berguguran ke tanah.
"rasa iba?" Marcus menggenggam erat tangan Dyana dan diletakkan nya tangan itu ke wajahnya." Katakan pada ku Dyana, apakah wajah ini tidak pernah ada di dalam hati mu? tidak pernah mengusik pikiran mu!! katakan pada ku dengan jujur!!"ujar Marcus dengan suara yang mulai naik satu oktaf.
"Tidak kah kau merasa rindu jika tidak melihat wajah ini!!! Jawab Dyana . jawab!!!"Teriak Marcus pada kekasih hati nya itu.
Marcus sangat maklum jika pengakuan cinta yang dia berikan saat ini akan disalah artikan oleh Dyana sebagai rasa iba, tapi Marcus malah merasa saat ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan pada Dyana, mengungkapkan rasa cinta nya. Agar cinta itu dapat menjadi pegangan bagi Dyana dalam melewati setiap harinya ke depan.
"Lepaskan tangan ku Marcus!! Kau menyakiti ku!!" seru Dyana.
Kini Marcus mengalihkan tangan itu ke dadanya. Meletakkan tangan Dyana tepat di tempat Dyana dapat merasakan degupan jantung nya.
"Katakan bahwa jantung mu tidak pernah berdegup sekencang ini bila bersama ku Dyana .." Ujar Marcus lirih. "Katakan jika aku tidak pernah membuat jantung berpacu begitu cepat di saat kita bersama." lanjut nya.
Dyana berhenti meronta. Bohong jika ia mengatakan kalau dia tidak merasakan semua itu..Sebab saat ini Dyana yakin jantung nya sudah mulai berdegup kencang bahkan mungkin lebih kencang dari degupan jantung Marcus yang dapat ia rasakan saat ini. Tapi kadang apa yang dirasakan hati, malah lain yang diucapkan oleh bibir...
"aku tidak merasakan apapun! lepas kan tangan ku!!" Dyana kembali mencoba menarik tangannya dari Marcus.
"aku tidak akan melepaskan tangan mu! Tidak akan pernah!!" jawab Marcus tegas ..
Dyan terus meronta agar Marcus melepaskan tangan nya.
"lepaskan!!!" Teriak Dyana.
Tapi Marcus tetap menahan tangan Dyana di dadanya.
"lepaskan tangannya!!" Terdengar suara pria yang sangat familiar di telinga Marcus. Pria itu berkata lantang sambil memegangi tangan Marcus dan seolah siap menarik tangan Marcus untuk melepaskan tangan Dyana.
"kau menggenggam nya terlalu kuat. Kau sudah menyakiti nya." Seru Frans, yang baru saja masuk.
__ADS_1
##Flash back on...
Frans yang baru saja turun dari kamarnya langsung menuju ke ruang makan.
"Pagi sayang... " Sapa Nania pada putra nya itu.
"Pagi bu...." jawab Frans yang sudah terlihat dengan pakaian kantornya, mencium kening Nania lembut.
"ini...?" tanya Frans bingung melihat ada orang lain di meja makan mereka pagi itu.
"Aaa.. maaf, ibu lupa mengenalkannya lada mu. Ini teman ibu. Nama nya Mary Romano. Saat ini kau bisa memanggil nya bibi Mary, tapi kelak kau boleh memanggil nya ibu ..Kalau dia sudah jadi ibu mertua mu!!" terang Nania sambil tertawa.
Frans melirik ibunya dan teman ibu nya yang terlihat tenang itu.
"Aku Mary, ibu nya Dyana..." Mary sadar kalau Frans sedang melihat ke arah nya. Dia pun tahu kalau Frans tidak paham perkataan ibunya barusan.
"Duduk lah! Kau tidak akan makan sambil berdiri kan?"Goda Nania yang melihat raut wajah Frans langsung berubah begitu tahu kalau wanita yang ada di depannya adalah ibunya Dyana.
"Maaf bi karena aku tadi tidak mengenali mu." Ujar Frans ..sopan. Frans pun menarik kursinya pelan dan segera duduk untuk sarapan bersama.
"mana Dyana?"tanya Frans kemudian karena tidak melihat Dyana di ruangan itu.
Mary langsung menghentikan sarapan paginya. Dan meletakkan sendok dan garpu yang sedang dipegang nya.
Nania yang tahu apa yang terjadi langsung memegang pundak putranya dan berkata, "Dyana saat ini sedang di rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan semalam."
Kata-kata dari sang ibu membuat pikiran Frans Zonk untuk sesaat. Dunia terasa berhenti berputar.
"Frans!!!" Seru Nania menepuk pundak putranya.
__ADS_1
"ibu cerita eh kamu nya malah bengong!" omel Nania.
"di rumah sakit mana bu?" Tanya Frans panik setelah kesadaran nya kembali.
"rumah sakit XX.. kamar XX.." jelas Nania pada Frans.
"Aku akan kesana sekarang!" Frans langsung berdiri dan pergi. Tapi beberapa langkah Frans meninggalkan meja makan itu dia langsung berhenti.
"Shii**t" umpat nya pelan. kenapa dia bisa lupa menawari bibi Mary untuk pergi bersama. bukankah bibi Mary pasti juga ingin menjenguk Dyana.
Frans berlari kembali ke meja makan dan bertanya ke Mary dengan tergesa-gesa.",Apa bibi mau ke rumah sakit? aku akan pergi ke rumah sakit itu. Aku rasa kita bisa pergi bersama." tawar Frans pada Mary.
"Pergilah lebih dulu Frans... bibi Mary sedang tidak enak badan. Sejak dia sampai, vertigo nya kambuh dan pagi ini baru dia bisa duduk normal. Setelah dia merasa lebih baik, maka aku sendiri yang akan mengantarkan nya." terang Nania pada putranya.
Frans yang sudah paham dengan situasi nya, memberikan oke mengerti pada ibu nya dengan jarinya. Lalu Frans pun langsung berangkat ke rumah sakit tempat Dyana dirawat.
Sesampainya Frans di rumah sakit dan setelah bertanya nomor kamar Dyana di rawat,dia langsung menuju kamar itu dengan langkah cepat.
Sesampainya di pintu masuk, Frans bertemu dengan Kenzo dan Alesya yang sedang berbicara dengan beberapa orang polisi terkait kecelakaan itu.
Tanpa banyak bertanya Frans pun masuk ke kamar Dyana yang dikirinya hanya Dyana seorang yang ada di dalam sana.
"Apa yang dilakukan oleh pria itu disini?" Gumam Frans dalam hati ketika melihat Marcus yang sedang berbicara sambil memegangi tangan Dyana.
***bersambung..
#wadidaww.. jadi rame euy!!!!!"
kira-kira .. apa yang akan terjadi ya? tulis kan prediksi mu di kolom komentar..
__ADS_1