
Beberapa jam kemudian.
“Kau mau kemana?” cegat Stephan pada Frans yang terlihat ingin pergi keluar ruang perawatan Stephanie.
“Aku? tentu saja aku ingin pulang.” jawab Frans yang merasa tidak ada lagi yang harus dia lakukan di rumah sakit ini. Toh operasi wanita itu sudah berjalan lancar. Untuk apa lagi Frans berada disana. Lagian saat in pakaiannya sungguh tidak enak di pandang. Darah Stephanie ada di hampir di seluruh kemeja Frans.
“Pulang?” Tanya Stephan heran. Mengapa laki-laki ini sangat buru-buru mau pulang sedangkan adik Stephan yang merupakan kekasih laki-laki ini bahkan belum sadar semenjak keluar dari ruang operasi.
“Kenapa kau buru-buru sekali?” Tanya Stephan penuh selidik.
“Maaf tuan, heemmm siapa nama anda?” Tanya Frans yang baru saja sadar sedari tadi mereka bersama, tapi mereka sama sekali berlum berkenalan.
“Stephan.. nama ku Stephan.” Jawab Stephan yang semakin bingung dengan Frans. Frans ini bukannya adalah kekasih adiknya tapi bagaimana bisa Frans bahkan tidak tahu nama Stephan sebagai kembarannya Stephanie.
“Hah tuan Stephan, Perkenalkan nama ku Ifrans Aksena.” Ujar Frans sambil mengarahkan tangannya untuk bersalaman dengan Stephan.
Walaupun masih bingung, Stephan menyalami tangan Frans.
“Tuan Stephan, aku harus pulang. Sebab ada urusan lain yang harus aku kerjakan. Aku sudah terlalu lama menghabiskan waktu bermain di luar. Lagi pula kau lihat sendiri bagaimana penampilan ku saat ini. Aku sungguh berantakan. Jadi karena urusan ku sudah selesai, aku ingin izin diri dulu. Semoga adik mu lekas sembuh.” Ucap Frans dengan sopan.
“Tunggu dulu tuan Aksena!!” Stephan sekali mencegat langkah kaki Frans yang hampir saja sudah mencapai pintu keluar.
__ADS_1
“Ya tuan Stephan, apa ada lagi yang bisa aku bantu?” Tanya Frans yang heran mengapa laki-laki itu terus saja menahan nya.
"Apakah kau akan meningkatkan Stephanie begitu saja? Tidakkah sebaiknya kau tunggu hingga dia sadar? Bagaimana kalau nanti dia mencari mu?" Stephan memberikan pertanyaan bertubi-tubi pada Frans, membuat Frans semakin bingung.
"Memangnya ada urusan apa diri ku dengan adiknya?" Batin Frans, menilik dalam ke wajah pria berparas kebule-bulean itu.
"Aku yakin begitu adik mu sadar dia pasti akan mencari mu bukan mencari ku." Sebut Frans sambil menepuk pundak Stephan dan langsung berbalik sebab ingin segera hilang dari radar dua saudara kembar itu.
"Tunggu dulu!!" Cegat Stephan untuk ketiga kalinya. Tapi kali ini suaranya terdengar berbeda. Tidak seperti tadi yang sedikit ramah kali ini suara Stephan sangat berat dan penuh wibawa.
"Apa kau berencana meninggalkan adik ku?" Ujar nya pada Frans.
"Deg .."Jantung Frans seperti dicengkeram oleh sesuatu yang penuh aura.. aura yang sangat mencekam.
"Sebagai komandan tertinggi militer di Rusia, aku belum pernah membunuh orang asing yang pertama kali aku jumpai, jangan sampai hal ini menimpa diri mu tuan Aksena. Meskipun kau adalah pria yang dicintai oleh Stephanie bukan berarti kau bisa terbebas begitu saja dari kematian mu." Seru Stephan yang serta merta membuat Frans menelan salivanya.
"Glek..."
"Apa yang dilakukan seorang komandan tertinggi militer Rusia di kota ini? Dan bagaimana bisa dari sebanyak itu orang di kota ini, harus aku yang bernasib sial bertemu dengan dua bersaudara ini." Frans sungguh merutuki nasib sialnya.
"Ehem..." Frans mencoba untuk menenangkan dirinya yang saat terkejut mendapati fakta bahwa kedua orang asing yang berada satu ruangan dengan nya ini ada bukan sembarang orang. Kaya raya pun dirinya, tapi kalau sudah berurusan dengan militer pun Frans pasti hati Frans akan jedag jedug. Karena masih sangat sayang dengan nyawanya maka menjaga lidah nya ada hal terbaik yang bisa Frans lakukan.
__ADS_1
"Ehem..." Frans berdehem sekali lagi.
" Tuan Stephan, seperti nya ada kesalahpahaman diantara kita." Frans mulai memahami apa yang ada di dalam pikiran Stephan.
"Aku dan adik mu bukan lah sepasang kekasih. " Ujar Frans dengan sangat hati - hati, jangan sampai dia berakhir di kamar mayat di rumah sakit ini. Frans tahu Stephan saat ini memiliki sebuah senjata api di balik jasnya itu. Ya siapa yang tahu apa saja yang ada dibalik kas itu. Bisa saja bukan hanya sebuah pistol saja kan? Bagaimana kalau di sana juga ada pisau, pedang, kapak, samurai, katana dan benda-benda tajam lainnya.
Stephan mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Frans yang sangat bertolak belakang dengan yang dia pikirkan.
"Tidak mungkin pria ini bukan kekasih Stephanie..Aku melihat sendiri Stephanie mencium nya tadi." Pikir Stephan sambil melihat wajah Frans dengan seksama.
Stephan tetap diam, tidak merespon apapun yang coba dijelaskan oleh Frans padanya. Hal ini membuat Frans semakin khawatir, khawatir kalau maut nya semakin dekat.
"Aku dan adik mu bahkan tidak saling mengenal Stephan. Kami baru saja berjumpa tadi ketika dia dikejar-kejar oleh pria-pria berjas hitam." Lanjut Frans mencoba menjelaskan lebih detail mengenai awal mula pertemuan nya dengan adik Stephan itu.
"Kalian baru saja bertemu? Lalu kalian berciuman?" Tanya Stephen bagai tanpa filter itu, membuat Frans semakin berkeringat.
"Adik ku bukan wanita murahan seperti itu!" Tukas Stephan dengan tatapan kesal pada Frans.
"Tentu saja adik mu bukan tipe wanita seperti itu " Jawab Frans cepat. Dia harus bisa keluar hidup-hidup dari ruangan ini.
"Astaga naga!! benar!! Aku benar-benar sudah di jebak oleh wanita itu. Jadi ini alasannya mencium ku sewaktu kami terjatuh ke lantai tadi. Benar-benar rubah betina." Rutuk Frans dalam hati yang merasa dia benar-benar terjebak.
__ADS_1
***
****jangan lupa untuk tekan tombol like dan vote untuk otor ye cinto**...