
Kenzo dan Alesya yang sudah sampai di kamar ICU itu kini tengah duduk di sebelah Mai.
Mai menatap Kenzo dan Alesya secara bergantian, sesayup terdengar suara Mai berkata...
"Ken-zo.. "ucap Mai sepatah lalu kemudian berhenti. Nafas nya kini terasa lebih berat dari yang tadi.
"Mai tenang lah .. kau jangan banyak bicara. " Ujar Kenzo, yang iba melihat keadaan Mai
Mai menggeleng pelan dengan nafasnya yang terputus-putus...
"Ti-dak..Aku..A-ku harus bi-cara den-ngan Ka-lian." Mai kembali tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
",Kenz...biarkan saja."ujar Alesya yang merasa mungkin adalah pembicaraan terakhir mereka dengan Mai.
"ak-ku moh-hon, maafkan A-ku." ucap Mai sudah terlihat sangat menyedihkan. "a-ku sungguh ti-dak ta-hu malu." Mai kembali berhenti dan menghirup oksigen sebanyak yang dia bisa.
"Mai..sudah lah." Kenzo benar-benar tidak tahan melihat Mai terus memaksakan diri seperti ini.
"Alesya.. segera panggil dokter." Perintah Kenzo pada Istrinya.
Baru saja Alesya akan berdiri untuk mencari dokter, tangan Mai yang lemah itu menyentuh ujung jari tangan Alesya dan menggeleng dengan sangat pelan. "Jangan ...jan-ngan pergi." Ucap Mai,lemah.
Alesya menatap Mai iba kemudian dia menoleh pada Kenzo, meminta pendapat Kenzo apa yang mesti dia lakukan.
"Duduk..lah Aale-sya.."seru Mai dengan nafasnya yang masih satu-satu itu.
__ADS_1
"aku-aku.. ti-dak membu-tuhkan Dokter." Ujar Mai lalu diam untuk menghirup lebih banyak oksigen. "Waktu ku ti-dak banyak." Mai hanya bisa berkata sepatah demo sepatah.
"Tenanglah Mai..kau pasti sembuh." Ujar Kenzo yang semakin iba pada Mai.
Mai kembali menggeleng dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Lalu Mai tersenyum bersamaan dengan air mata yang turun dari pipinya.
"Ka-lian bersed-dia memaafkan ku kan?" Tanya Mai dalam satu tarikan nafas.
"Kami sudah memaafkan mu Mai." Jawab Alesya cepat. Dia tidak ingin membuat Mai terus berusaha berbicara untuk menyampaikan permintaan maaf.
"a-ku sungguh sen-nang mende-ngarnya." Ujar Mai tersenyum lalu menutup matanya hingga air mata yang tadi sedang terbendung di sudut matanya mengalir sempurna di waja pucat itu .Dan tak lama terdengar tanda dari alat-alat medis di dalam ruangan itu berbunyi seakan memberitahu bahwa Mai sudah tidak ada di ruangan itu lagi.
Kenzo dan Alesya terkejut dan langsung berlari keluar.
"dokter! seru Kenzo pada dokter yang sudah dipanggil oleh Romani dan Mary untuk berjaga di luar sebab firasat mereka mengatakan Mai tidak akan ada lagi bersama mereka setelah mengatakan semua isi hatinya pada Kenzo dan Alesya.
Alesya langsung memeluk Kenzo yang hanya bisa terdiam di dalam ruangan itu.
Mai memang bukanlah wanita yang Kenzo cintai..Tapi paling tidak ada sedikit kenangan tentang Mai yang ada di hati Kenzo. Gadis periang yang selalu mengejar ngejar cinta nya itu akhirnya kini telah tiada tanpa pernah merasakan bagaimana rasa nya di cintai oleh seseorang.
Kenzo berharap, Mai dapat menjumpai kebahagiaan nya setelah ini.
Romano yang mendapati Putrinya itu akhirnya meninggal di depannya, sudah terlebih dahulu merelakan kepergian Mai.
Mungkin ini adalah hal yang terbaik untuk Mai.. Bertahun-tahun lamanya Mai berjuang melawan penyakit, selama itu pula Romano telah tidak pernah melihat putrinya itu tersenyum. Penyakit ini memang sudah merebut segala-galanya dari Mai, bahkan hal kecil seperti sebuah senyuman pun hilang dari cantik Mai.
__ADS_1
"kau harus sabar Romano! " Mary menguatkan suaminya.
Romano tertunduk sambil menutup wajahnya dengan tangannya. Berusaha mengeluarkan semua air mata yang tersisa agar setelah ini tidak ada air mata lagi yang harus di keluarkan.
Saat semua orang sibuk dengan kematian Mai yang mendadak ini, Arya dengan muka babak belurnya datang ke ruangan Mai untuk melihat terakhir kalinya pasien nya itu. Pasien yang telah membuat Arya dihajar habis-habisan oleh Kenzo siang itu.
Arya hanya bisa geleng-geleng kepala ketika perawat menanggalkan semua peralatan medis dari tubuh Mai.
Arya mendekati tubuh Mai."Kenapa kau terburu-buru pergi Mai? kenapa kau tidak menunggu ku.?"Pada tubuh Mai yang sudah tidak bernyawa itu. "Bahkan aku belum sempat memarahi mu karena telah membuat ku salah paham dan di hajar habis-habisan seperti ini." Ucap Arya, sambil tertawa miris. "Mai, tenang lah disana. Sudah tiba saatnya kau pun harus bahagia." ujar Arya lalu menepuk-nepuk tangan Mai yang ada tepat di samping nya
Arya pun berjalan menghampiri Kenzo dan Alesya.
"Terima masih sudah datang disaat terakhir Mai, Kenz!!" Ujar Arya sambil menepuk-nepuk pundak Kenzo.
"Dia adalah keluarga ku, aku pasti akan datang untuk menemui nya."jawab Kenzo tanpa melihat ke arah Arya.
"dokter..."panggil Romano pada Arya ..
"apakah kornea mata putri ku bisa di didonorkan ke mata putri ku yang satu nya lagi?" Tanya Romano pada Arya. Romano yakin Mai pasti akan sangat senang jika ia bisa membantu Dyana.
"Aku akan membicarakan hal ini dengan Spesialis mata yang menangani Dyana. hanya saja setahu ku pasien yang menderita penyakit kanker tidak disarankan untuk menjadi pendonor." Jelas Arya.
"tapi kalian tidak perlu khawatir.. sebenarnya tidak lah sulit untuk mencari pendonor kornea mata. Hanya saja memang ada hal-hal tertentu yang harus diperhatikan untuk dapat menjadi pendonor kornea mata dan yang aku ketahui salah satunya pendonor tidak merupakan pasien yang menderita tumor mata, sepsis, sipilis, glaukoma, leukimia, serta tumor- tumor yang menyebar, seperti kanker payudara dan kanker leher rahim ( servik).Dan Mai, kita tahu sendiri apa penyebab Mai sampai harus dirawat di sini hingga akhirnya dia meninggalkan kita semua. Itulah yang membuat ku ragu, apakah Kornea mata Mai bisa didonorkan ke kakaknya atau tidak. Aku perlu berdiskusi lebih lanjut dengan dokter yang bertanggung jawab pada penyembuhan Dyana." jelas Arya. Walaupun wajah nya saat ini babak belur tapi tidak mengurangi persona nya sebagai seorang dokter yang berbakat. Berbeda dengan Arya beberapa waktu lalu ketika ia berhadapan dengan Kenzo.
"Baiklah kalau begitu kami akan menunggu hasilnya dokter. Kami sangat berharap kornea mata Mai bisa didonorkan pada Dyana, kakaknya.
__ADS_1
"Aku akan segera memberikan kabar karena kalau dokter yang menangani Mai mengatakan tidak masalah maka operasi itu harus dilakukan secepatnya karena mata harus diambil kurang dari 6 jam setelah orang yang akan di ambil kornea matanya meninggal dunia."jelas Arya.
**bersambung..