
Kenzo yang merasa kalau hati Alesya menjadi lemah karena mendengar perkataan Romano, segera menarik tangan Alesya ke atas pangkuan nya lalu Kenzo menggenggam erat tangan Alesya seakan-akan ingin menguatkan Alesya agar tidak terpengaruh dengan hal ini.
"Aku turut prihatin atas keadaan Mai jika memang benar seperti itu adanya. Tapi untuk permintaan paman tadi aku masih tetap pada keputusan ku. Aku tidak bisa membiarkan ada orang lain yang masuk di dalam hubungan ku dan Alesya walau untuk sedetik sekali pun jadi aku mohon maaf kan aku paman." Jelas Kenzo pada Romano.
"Kenzo! Alesya! aku tidak meminta kalian untuk benar-benar menerima nya.Cukup kalian berpura-pura untuk menerima kehadiran nya." mohon Romano. "Kenz, aku tidak meminta banyak, cukup kau berpura-pura untuk mencintai nya menjelang masa akhir hidupnya sehingga dia bisa menutup mata dengan tenang. Setelah itu kehidupan kalian akan kembali normal. Aku yakin itu tidak akan berlangsung lama sebab dokter sudah memvonis Mai hanya bisa hidup hingga akhir bulan ini paling lama. Jadi kalian tidak perlu bersandiwara dalam jangka waktu yang panjang."Bujuk Romano pada Kenzo dan Alesya.
"Aku mohon pada mu Kenzo. Dan aku juga mohon pada mu Alesya ..aku sungguh bermohon pada kalian demi kedamaian putri ku ketika dia menutup matanya nanti." wajah tua itu terlihat sangat menaruh harapan besar pada Kenzo dan Alesya agar bersedia membantu nya .
"kakek aku rasa-" baru saja Alesya akan mengeluarkan pendapat nya, Kenzo langsung mempererat genggaman tangannya pada Alesya dan mengambil alih perkataan Alesya.
"kami tetap tidak bisa paman." tegas Kenzo.
"mungkin kalian tidak percaya dengan perkataan ku, aku bisa memperlihatkan rekam medis milik Mai pada kalian." Romano langsung berdiri dan menuju kamar tidurnya. Dia mencari rekam media milik Mai yang sengaja dia minta pada pihak rumah sakit.
__ADS_1
"ini, kau bisa lihat sendiri Kenz kalau Mai benar-benar sedang sakit parah dan waktu nya juga tidak tersisa banyak." ujar Romano penuh dengan keputus asaan.
Alesya mengambil berkas -berkas itu dan melihat nya lembar demi lembar. Sedangkan Kenzo terkesan sama sekali tidak peduli dengan semua berkas yang Romano berikan pada Kenzo dan Alesya. Mau itu adalah kebenaran atau sebuah kebohongan maka jawaban Kenzo tetap sama. Dia tidak akan membiarkan Mai masuk di dalam rumah tangganya.
Alesya meletakkan kembali berkas-berkas itu seperti semula.
"Apa kakek sudah membawa Mai ke dokter yang lain? atau ke rumah sakit berbeda? aku punya seorang kenalan dokter di kota J. Dia terkenal dengan sebutan tangan Tuhan sebab mampu mengobati pasien-pasien yang datang pada nya. Dan tak jarang dari mereka adalah pasien-pasien yang telah di vonis akan segera meninggal oleh dokter mereka sebelum nya." Alesya tiba-tiba teringat dengan dokter yang sangat terkenal di kota J.
"benarkah ada dokter yang seperti itu?" secercah harapan muncul dalam semua keputus asaan yang kini Romano rasakan.
"tentu saja aku sangat mau Alesya. Sekecil apapun kemungkinan untuk menyembuhkan penyakit Mai pasti akan aku tempuh."tegas Romano.
"Kau sungguh baik nak.. hanya saja aku masih berharap pada kalian berdua untuk dapat mengabulkan permintaan ku tadi. Aku tidak akan meminta jawaban nya sekarang dari kalian berdua. Kalian boleh mendiskusikan nya dulu. Aku akan menghubungi kalian lagi setelah hari ini." Romano masih tetap ingin Kenzo dan Alesya dapat membantu Mai seperti apa yang Mai inginkan.Percuma saja Mai pergi berobat ke dokter yang dikatakan oleh Alesya tadi jika semangat hidupnya tidak ada karena tidak dapat bersama Kenzo.
__ADS_1
"kau tidak perlu bersusah patah untuk menghubungi kami untuk masalah ini lagi paman. Jawaban ku dan Alesya tetap sama."tegas Kenzo sekali lagi
Romano yang mendengar jawaban Kenzo hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.Tentu saja tidak akan ada orang yang sedang dalam hubungan yang sehat dengan pasangan nya akan bersedia menerima kehadiran orang lain di tengah-tengah mereka.
"Aku akan tetap menghubungi kalian beberapa hari lagi, mana tahu Tuhan membukakan pintu hati kalian untuk membantu." ujar Romano. Harapannya bisa dikatakan hanya tinggal satu persen saat ini. Yakni satu persen yang berasal dari bantuan tuhan sebab kalau mengharap perubahan pemikiran dari Kenzo seperti nya tidak akan mungkin terjadi.
"paman, seperti nya hari sudah cukup malam. Aku rasa aku dan Alesya sebaiknya undur diri dulu." Kenzo yang merasa kalau hal ini sudah selesai sampai disini memutuskan untuk segera pulang bersama Alesya.
"ya .ya.. dan terimakasih sudah bersedia datang menemui ku, Kenzo dan Alesya. Maafkan atas permintaan ku yang sangat tidak masuk akal itu. Tapi aku harap kalian tetap mempertimbangkan nya, paling tidak atas rasa kemanusiaan."
"Baiklah paman,kami permisi dulu."Kenzo tidak ingin berada lebih lama di dalam kamar Romano itu.
"Kek..kami pulang dulu.Nanti akan aku kirimkan nomor dokter itu pada mu."ujar Alesya lalu ikut keluar dari kamar itu dan ikuti oleh Kenzo dari belakang.
__ADS_1
Kenzo dan Alesya berjalan menelusuri lorong hotel itu dengan saling diam. Kenzo diam bukan karena dia memikirkan penyakit Mai, tapi dia diam karena memikirkan apa yang sedang Alesya pikirkan saat ini. Kenzo sangat mengenal karakter istrinya yang berhati lembut itu. Dia khawatir kalau Alesya akan menuruti permintaan ayah nya Mai itu. Apa yang mesti Kenzo lakukan jika hal itu sampai terjadi. Kenzo berharap ini semua tidak akan pernah menjadi sebuah kenyataan.Cukup ini hanyalah sebuah bayangan buruk yang ada di dalam otak nya.
*bersambung....