
Dimata Ronald, Jenny benar-benar sudah mengacaukan segalanya. Ditambah lagi selama ini Ronald tidak pernah benar-benar mencintai Jenny. Bagi Ronald, Jenny hanya sebuah alat untuk menguasai harta keluarga Ameera. Tentu saja wanita yang ia cintai dari dulu sampai sekarang tetap adalah Ameera. Itulah mengapa Ronald tidak menghabisi Alesya sewaktu Alesya lahir, sebab Alesya adalah anak dari wanita yang ia cintai. Tapi rasa benci pada Alesya juga ada dalam hati Ronald bila mengingat Alesya bukanlah putrinya melainkan putri Aldion Rodio, laki-laki yang pernah Ameera nikahi sebelum Ameera menikah dengan Ronald. Jadi yang bisa Ronald lakukan hanya mengabaikan Alesya dan membiarkan baik Jenny maupun Agnez menyiksa ataupun berlaku semena-mena pada Alesya.
Terkadang bila melihat Alesya menangis, ingin rasanya Ronald merangkul dan mengusap air mata Alesya tapi rasa bencinya kemudian muncul dan melarangnya untuk melakukan semua itu sehingga akhirnya ia kembali mengabaikan Alesya.
“apakah itu surat cerai?” Ujar Jenny, yang sepertinya sudah tidak terkejut lagi akan hal itu.
Ronald mengambil map itu dan meletakkan nya di atas meja.
“kalau kau tahu itu adalah surat cerai maka segera tanda tangani.” Perintah Ronald dengan suara dinginnya. Benar-benar tidak menunjukan rasa kalau mereka pernah bersama untuk sekian tahun lamanya.
“aku akan menandatangani itu. Kau tidak perlu khawatir tuan Ronald Diningrat.” Seru Jenny yang kembali meraih pena yang tadi sudah ia gunakan untuk menandatangani surat penyerahan saham-sahamnya kepada Alesya.
__ADS_1
“Aku sungguh tidak menyangka kita kaan berakhir seperti ini.” Ujar Jenny usai membubuhkan tanda tangannya. Ditatapnya Ronald dengan tatapan tidak percaya.
Ronald tidak menjawab perkataan Jenny, membuat Jenny semakin yakin kalau Ronald memang sengaja berpihak pada Alesya dan mem-framming dirinya untuk menanggung semua kebohongan palsu ini.
“kau boleh saja merasa kau sudah berhasil mengusir ku Ronald. Tapi kau tidak tahu apa yang telah aku siapkan untuk mu.” Gumam Jenny dalam hati sambil memandang wajah Ronald yang melihat ke arah lain.
“Ingin membuang ku ke tempat sampah? Maka kau harus ikut bersama ku ke tempat sampah itu.” Lanjut Jenny dalam hati. Dia tidak akan pernah membiarkan dirinya sendiri yang akan terjatuh hari ini. Dia akan membawa Ronald untuk jatuh bersama nya. Bahkan kalau perlu Ronald harus jatuh lebih dalam dari dirinya.
Ronald tentu saja dapat merasakan kemarahan Jenny dari sorot mata wanita itu. Tapi dia hanya bisa mengabaikan hal itu.
Bram kembali mengambil satu lagi berkas yang dia simpan dan memberikannya pada Ronald.
__ADS_1
“ini adalah dokumen saham milik Agnez. Aku tidak menyerahkan ini kepada Alesya sebab ini adalah milik putri kita.” Terang Ronald pada Jenny dan menyerahkan map itu.
“ternyata dia masih punya hati dengan memikirkan anak nya.” Seru Jenny dalam hati.
“gunakan ini untuk kau dan Agnez bertahan hidup.” Ucap Ronald. “aku rasa ini adalah kebaikan hati ku yang terakhir kali nya untuk mu dan Agnez setelah semua kekacauan besar yang kalian berikan pada perusahaan.”jelas Ronald dan kembali membuang mukanya.
“uang yang kau dan Agnez larikan dari perusahaan juga sudah lebih dari cukup untuk menghidupi kalian. Kau tidak perlu mengembalikan dana itu sebab Kenzo yang akan menutupi nya.” Lanjut Ronald sambil memijat dahinya yang terasa sangat pusing karena semua masalah ini.
“berapa kali harus aku katakan!!-“ Jenny kembali merasa tidak terima jika Ronald masih saja terus menuduhnya melakukan itu semua padahal dalang utama dari semua kekacauan ini adalah Ronald sendiri.
“Cukup!! Aku katakan cukup!! Aku tidak ingin memperpanjang masalah dengan diri mu lagi Jenny. Aku harap kau sudah membaca skenario yang telah aku kirimkan melalui Bram tadi malam. Untuk terakhir kalinya cukup lakukan saja bagian mu dan menghilang dari hidup ku.” Ronald pun bangkit dan meninggalkan Jenny yang masih duduk sambil menahan rasa marah yang membuncah di dalam hati nya.
__ADS_1
***bersambung
heem.. otor cuma bisa bilang.. "no comment" sambil makan biskuit roma yang tinggal sebiji...