
“Huft... memang nya dia pikir aku tidak tahu dia ingin mengantar ku pulang untuk apa?” Dyana terus berceloteh sendiri sambil keluar dari restoran. Karena sibuk berceloteh Dyana sampai tidak melihat ke depan ketika berjalan. Dan...
“BRUuUKKKkkkkkkkkkk..” tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seseorang.
“Mata mu dimana?” Seru Dyana, marah sebab ia sampai terjatuh ke lantai sebab bertabrakan denan orang tersebut.
“Kau baik-baik saja nona?’ Seru seorang pria pada Dyana.
“Suara ini...” Batin Dyana. Dia melihat ke arah pria yang menabraknya dan benar dugaan inI adalah suara Marcus. Pria yang sangat ia cintai dari dulu. Pantas saja Dyana langsung mengenali suara itu.
“Dyana?” sedang apa kau disini?” Marcus langsung menolong Dyana setelah sadar wanita yang ia tabrak tanpa sengaja barusan adalah adik dari mendiang kakak ipar nya.
“Aku habis makan siang.” Jawab Dyana sambil berdiri dengan bantuan Marcus.
“Kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?” tanya Marcus sambil memeriksa siku dan kaki Dyana.
Dyana menggeleng. Semilir angin berhembus di hati nya. “Kau tidak berubah.” Seru Dyana pelan sambil menatap lekat pada Marcus.
“Kau yang tidak berubah.” Balas Marcus sambil melipat tangannya. “ Selalu menabrak apa saja yang ada di hadapan mu.” Lanjut Marcus sambil geleng-geleng kepala.
“Apa kau kesini bersama Kenzo?” Dari tatapan mata Marcus terlihat dia khawatir Kenzo melihat ia sedang berbicara dengan Dyana.
“Tadi nya ia. Tapi dia sudah kembali ke kantor.” Jelas Dyana,singkat.
“Syukurlah kalau begitu. Aku tidak ingin dia marah pada mu karena melihat kau berbicara pada ku. Berarti kau sudah makan siang?” Lanjut Marcus bertanya.
“Heemm.. sudah. Apa kau kesini untuk makan siang?” Dyana bertanya kembali pada Marcus.
“Waah sayang sekali. Tadi nya aku berharap kau dapat menemani ku makan jika Kenzo benar-benar sudah tidak ada di sini.” Ujar Marcus.
“Aku tidak keberatan menemani mu untuk makan siang. Walaupun aku hanya duduk dan melihat mu makan.” Tentu saja Dyana akan dengan senang hati melakukan hal tersebut sebab jarang-jarang dia dapat bertemu dengan Marcus kebetulan seperti ini. Apalagi dia tahu ayah Albert sengaja mengirim Marcus ke Mesir untuk menghindari perseteruan antara Marcus dan Kenzo.
“benar kah? Kalau begitu kau harus kembali ke dalam restoran bersama ku.”
“Tapi jangan di restoran ini.” Cegat Dyana cepat. Tidak mungkin dia kembali ke restoran ini secara ada Frans di dalam.
“Kenapa? Seingat ku steak di restoran ini sangat enak.”
“Itu dulu. Sekarang sudah tidak enek sama sekali. Mereka sudah ganti koki.” Jawab Dyana asal dan menarik lengan Marcus untuk segera pergi dari situ.
“yang mana mobil mu?” Tanya Dyana.
Marcus pun menunjuk pada sebuah mobil Lamborghini Aventador SVJ berwarna kuning.
“masuklah.’ Marcus membukakan pintu untuk Dyana.
Tanpa ragu Dyana pun masuk ke mobil itu.
“Kita mau makan dimana?” tanya Marcus sambil memasangkan seat belt ke tubuh Dyana.
Jantung Dyana berpacu sangat cepat ketika wajah Marcus yang sangat dekat dengan nya ketika memasangkan seat belt itu menoleh pada nya. Jarak yang dekat itu membuat Dyana mematung sambil menatap wajah tampan Marcus.
“Dyana?” Panggil Marcus sekali lagi.
Marcus semakin mendekatkan wajah nya ke wajah Dyana. “are you ok?’ tanya Marcus sambil menyentuh pipi Dyana.
Seketika Dyana tersadar. Bulu roma nya berdiri semua. “Ya, aku tidak apa-apa.” Jawab Dyana sambil menurunkan tangan Marcus yang memegang pipinya.
Marcus kembali ke posisinya, dan kembali bertanya ke Dyana mengenai tempat makan yang akan mereka tuju.”jadi kita makan dimana?”
__ADS_1
“Terserah pada mu saja Marcus. Aku kan sudah makan. Aku hanya menemani mu makan saja.’ Jawab Dyana.
“Baiklah.” Marcus melajukan mobilnya menembus jalanan kota A siang itu.
##########
“Ibu,” panggil Agnes pada Jenny yang terlihat asik minum teh di halaman samping rumahnya.
“Kapan kau datang Agnez?’ tanya Jenny sambil melihat ke semua arah, mencari sosok suami Agnez yakni tuan Puji.
“Kau sedang apa bu?” tanya Agnez kesal sebab ia tahu alasan kenapa ibunya melihat ke arah belakangnya. “Apa kau mencari laki-laki tua sialan itu?” Sungut Agnez.
“apa kau datang bersama suami mu?” tanya Jenny sekali lagi.
“suami? Dia bahkan tidak menganggap ku ada di rumah itu. Aku hanya diberikan sebuah kamar yang besar dan dia tidak pernah datang ke kamar ku.” Jelas Agnez. “ tapi syukur juga. Paling tidak aku tidak perlu melayani nya.” Agnez tersenyum. “sudah ibu. Jangan bahas laki-laki yang sudah bau tanah itu.” Agnez duduk di sebelah Jenny.
“Apa ibu sudah ada rencana untuk menyingkirkan Alesya?” Agnez langsung mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah nya pada sang ibu.
“Belum. Aku belum berani bertindak apapun saat ini. Aku takut pada Kenzo. Saat ini dia pasti sedang menyelidiki peristiwa penculikan itu. Untung saja aku tidak pernah mentransfer uang pada mereka ataupun orang-orang di sekitar mereka. Aku juga tidak pernah menarik uang dalam jumlah banyak dari bank. Ternyata kehati-hatian ku dari dulu itu sangat berguna.” Jelas Jenny.
“Jadi selama ini ibu tidak pernah mengirimi mereka uang? Lalu seperti apa ibu membayar mereka?” Agnez baru tahu hal ini hari ini.
“Aku selalu membayar mereka dengan cara melakukan belanja.”
“Belanja?” ulang Agnez, bingung dengan jawaban ibu nya.
“Ia belanja.’ Jawab Jenny sambil tersenyum. “ kau tahu Agnez, dua penjahat yang menculik putra Alesya itu adalah bagian dari sindikat penjahat internasional yang menggunakan sebuah mall tempat perbelanjaan barang-barang branded sebagai kedok mereka.” Ujar Jenny.
“waah kenapa aku baru ada hal seperti ini bu?” Agnez benar-benar tidak menyangka ada hal yang demikian. Kini Agnez bahwa mainnya masih kurang jauh dalam hal ini bila dibandingkan dengan sang ibu.
‘Ya. Jadi aku selalu menggunakan black card yang diberikan oleh ayah mu untuk bertransaksi di mall itu. Tentu saja mereka tidak sungguhan mengirimkan barang-barang yang aku pesan. Lagian ayah mu kan tidak pernah bertanya atau kepo melihat barang-barang yang telah aku beli dengan kartu nya ini. Ketua sindikat ini adalah seorang wanita. Dan tujuan dari sindikat ini pun awalnya adalah untuk menolong para wanita memberikan pelajaran bagi pasangan mereka atau bisa juga untuk melenyapkan pelakor dan anak hasil hubungan gelap. Tapi lama kelamaan mereka tidak terlalu ketat dengan aturan awal mereka tersebut.” Jelas Jenny panjang kali lebar.
“kau masih terlalu kecil Agnes dalam hal ini.” Dengus Jenny. “Jangan pernah melihat air yang tenang dari atas permukaannya. Sebab tidak ada yang pernah tahu sederas apa arus yang ada dibalik tampilannya yang tenang itu. Kenzo bukan orang sembarangan. Dapat terlepas dari kecurigaannya saja kita sudah termasuk beruntung. Jadi bersabar sedikit lagi.” Jenny menasehati putrinya itu.
‘tapi aku sudah tidak tahan hidup bersama orang tua bau tanah itu.” Rungut Agnez.
“Kau belum sampai sebulan ada di rumah itu untuk tinggal bersamanya. Dan kau sudah mengatakan kau tidak tahan? Atau kau tidak tahan karena dia tidak datang ke kamar mu untuk-“ jenny tersenyum dan sengaja tidak menyelesaikan kalimat nya.
“Kau tidak gila kan bu?” ujar Agnez. “kalau benar kau tidak gila maka buang jauh-jauh pikiran gila mu itu.” Ujar Agnez, kesal.
“hahahah.. aku hanya bercanda putri ku. Aku lihat wajah mu terlalu tegang sejak kau menikah dengan pria tua itu. Pergilah keluar dan cari kesenangan mu di luar sana. Dia masih tetap membiayai semua keperluan mu kan?” Tiba-tiba Jenny ingat soal uang. Dia jadi khawatir tuan Puji tidak menafkahi anak nya.
Agnez mengeluarkan sebuah kartu dan melemparkannya ke meja, “ini.” Serunya sambil tersenyum.
“waaah.. bagus sekali. Dengan memiliki ini kau bisa menyenangkan hati mu.” Ucap Jenny sambil mengambil kartu yang dilemparkan oleh Agnez.
“Pria tua itu cerdik bu. Dia sengaja memberikan ku ingin agar dia bisa sekaligus mengawasi ku. Aku tidak bisa menggunakan ini untuk keperluan ku yang lain.” Sungut Agnez.
“haaah.. aku paham.” Jenny paham maksud anak nya. Dia berdiri dan pergi dari hadapan Agnez.
“Ibu, aku belum selesai bicara.” Seru Agnez heran melihat ibunya malah pergi padahal mereka belum selesai berbicara sama sekali.
“Tunggulah disitu. Aku akan segera kembali.” Jenny pun menghilang dari hadapan Agnez.
Tidak lama Jenny kembali dengan sebuah kartu di tangannya. “pakailah kartu ku ini. Kau bebas menggunakannya. Kau ingin minum di bar? Maka kau bisa menggunakan kartu ini. Kau ingin membooking sebuah kamar hotel? Kau juga dapat menggunakan kartu ku ini.” Seru Jenny sambil memperlihatkan kartu milik nya pada Agnez.
Dengan cepat Agnez ingin merebut kartu di tangan Jenny. “eeits.. !! tapi ini tidak gratis. Begitu kan kau memakainya dan sudah sampai pada jumlah tertentu maka kau harus menggantinya dengan uang suami mu yang ada di black card itu dengan cara membelikan barang-barang branded yang aku inginkan. Jadi report pembelanjaan yang masuk ke ponsel suami mu adalah report belanja barang-barang branded. Bagaimana?” Jenny tersenyum pada Agnez.
“kau memang selalu penuh perhitungan ibu.” Agnez mengambil kartu yang diselipkan oleh Jenny ditangannya. “Aku setuju. Tapi kalau tuan Puji bertanya dimana barang-barang yang aku beli maka aku akan menjawab aku menyimpan semua barang itu di kamar ku di rumah ini. Jadi semau barang yang ibu beli dengan menggunakan kartu ku ini harus ibu simpan dengan rapi di lemari di dalam kamar ku. Bagaimana?” Agnez menyampaikan persyaratan dari nya.
__ADS_1
“Tidak masalah.” Jawab Jenny dengan bangga. Ternyata Agnez sudah mulai dapat berpikir seperti dirinya.
###
Kenzo, Alesya dan Skala pun sampai di perusahaan Kenzo.
“Kau sudah kembali tuan” Sapa Jack yang meletakan beberapa berkas ke meja Alesya.
“haii.. tuan muda. Kau sini?” Jack pun menyapa Skala yang berdiri persis di samping Kenzo.
Jack yang sudah menduga dari awal bahwa pasti ada sesuatu antara Kenzo dan Skala, kini menjadi sangat senang akhirnya semua yang ia pikirkan itu benar adanya. Karena bagaimana mungkin ada orang yang sangat mirip wajah dan perilaku nya merupakan orang yang berbeda. Malah diluar sana ada banyak anak dan ayah yang tidak mirip sama sekali baik secara fisik maupun sifat. Nah ini sudah terlihat sangat identik bagaimana mungkin mereka tidak memiliki ikatan istimewa. Tapi Jack merasa sedikit iba melihat Alesya. Dialah satu-satunya yang belum tahu kebenaran ini. Bahkan Jack sebagai orang luar tahu lebih banyak tentang hal ini. Jack melihat Alesya dengan tatapan ibanya.
“Ada apa jack? kenapa kau melihat ku begitu.” Seri Alesya, sebab ia menyadari pandangan sendu Jack pada nya.
“Haah.. tidak apa-apa nyonya. Aku hanya berpikir bagaimana rasa nya menjadi diri mu. Harus menghadapi dua orang yang keras kepala ini.” Kilah Jack. Untuk urusan kilah meng-kilah Jack memang sudah sangat expert.
“Tidak ada masalah sama sekali Jack. Kalau mereka mulai berulah maka akan aku jewer saja satu -satu telinga nya.” Canda Alesya.
Tiba-tiba Jack tersenyum membayangkan, Alesya menjewer telinga Kenzo. Okelah kalau Alesya menjewer teling Skala. Bocah itu kan masih kecil. Nah ini telinga tuannya yang terkenal akan kesombongannya. Dimana akan ditaruh harga diri seorang Kenzo Dayson jika ada yang melihat dia dijewer oleh istrinya. Dari tersenyum kini Jack malah tertawa kecil sebab visual yang dibuat oleh otaknya.
“Jangan coba memvisualkannya di dalam otak mu Jack jika kau tidak berniat untuk mencari pekerjaan baru sore ini!!”Terdengar suara berat Kenzo sedang memperingatinya.
‘Gleek..!!” Jack menelan salivanya. Ini bukan pertama kali Kenzo seakan-akan memiliki kekuatan untuk membaca pikirannya. Ini sudah sering terjadi tapi jack tetap saja terkejut dengan hal ini. “bagaimana kau bisa tahu apa yang aku pikirkan tuan?” Jack tidak dapat lagi menahan rasa penasarannya bagaimana Kenzo bisa dengan mudah mengetahui apa yang ia pikirkan.
“Paman Jack, semua yang kau pikirkan terlihat jelas dari ekspresi wajah mu.” Timpal Skala sambil berjalan melewati Jack.
“daddy dimana kau mendapatkan asisten seperti paman Jack? kelak tolong carikan untuk diri ku. Dia sungguh lucu.” Ujar Skala pada Kenzo.
Kenzo dan Skala pun masuk ke ruangan Kenzo. Kini hanya ada Jack dan Alesya yang masih berdiri di dekat meja kerja Alesya.
“Apakah yang dikatakan oleh tuan muda itu benar nyonya Alesya?” Tanya Jack dengan wajah cemberut.
“Sayangnya, Skala benar Jack. isi kepala mu sangat mudah ditebak melalui air wajar mu. Kau mesti banyak-banyak belajar dari tuan mu, Kenzo untuk hal ini. Sebab sejauh ini poker face nya yang terbaik.” Ucap Alesya sambil berbisik dan duduk di tempatnya.
“huft.. siapa bilang itu poker face!! Itu memang wajah asli tuan Kenzo nyonya!!” Ucap Jack dengan nada mengejek.
“Apa kau baru saja mengatai ku Jack?” terdengar suara Kenzo dari arah belakang Jack.
Mata Jack melotot melihat Alesya seakan-akan ingin meminta konfirmasi Alesya bahwa suara yang barusan ia dengar benar adalah suara tuannya.. Dengan tertawa melihat ekspresi Jack, Alesya mengangguk yakin.
“matilah aku.” Gumam Jack pelan dan berbalik serta langsung memasang sebuah senyuman terbaik yang ia punya.
“Aku ingat, aku lupa mematikan komputer ku tuan!!!” Jack langsung ngacir dari tempat itu. Dia tidak mau menulis surat pengunduran diri sore ini.
Alesya tertawa melihat Jack yang langsung ngacir. “Sejak kapan asisten mu memakai komputer di ruangannya?” Seingat Alesya tidak ada komputer di ruangan Jack. sebab Jack selalu menggunakan laptop untuk bekerja.
“Lupakan saja dia, sayang.” Ujar Kenzo. “Alesya bisa kah kau cek berkas yang baru saja di letakkan oleh Jack di atas meja mu? Aku rasa Jack pasti meletakkannya disini untuk kau masukan ke dalam agenda kegiatan ku.”
“berkas tentang apa?” tanya Alesya.
“berkas...”
Kenzo dan Alesya pun kembali bekerja layak nya atasan dan sekretaris siang itu.
************ bersambung..............
Jangan lupa untuk like, komen dan vote ye cintooooooooooooooooo... ^_^
Menurut kamu kenapa Marcus perhatian pada Dyana?
__ADS_1
Tulis pendapat mu di kolom komentar ya.. ^_^