
"Wah!! nyali mu sungguh besar pak dokter!!" Seru Frans setelah tahu apa yang telah di lakukan oleh Arya. Frans bahkan bingung harus kasihan datau tertawa melihat Arya saat ini. Bisa-bisa seorang dokter yang seharusnya adalah orang yang pintar dan penuh perhitungan, melakukan kesalahan yang Frans lakukan.
Pantas saja Arya jadi babak belur seperti itu di buat oleh Kenzo. Jangan kan Kenzo, andaikan Frans yang mendengar hal itu keluar dari mulut seorang pria,maka pasti ia juga akan memberikan hadiah panas seperti yang diberikan oleh Kenzo pada pria tersebut .Walaupun Alesya saat ini tidak lebih dari seorang teman bagi nya.
Disaat Frans menatap Arya dengan tatapan yang sulit untuk dijabarkan, Marcus malah hanya bisa geleng-geleng sambil berjalan ke arah tempat Arya duduk saat ini. "apa masalah mu sebenarnya sob? kenapa kau sampai menghina Aleysa?" tanya Marcus, duduk di sebelah Arya dan mendaratkan lengan kokohnya pada bahu Arya yang sebenarnya juga cedera setelah dipukuli Kenzo.
"auooww!!" jerit Arya ketika lengan besar kita seenaknya nangkring di bahunya. Sebenarnya tidak hanya bahu, hampir seluruh badan Arya terasa remuk saat ini.
"Sorry!!!" sebut marcus cepat.
Arya menghela nafasnya setelah Marcus mengalihkan tangannya dari bahu Arya. Kini Arya melihat ke arah Kenzo dan Alesya. Dia benar-benar sangat malu saat ini."astaga!! aku benar-benar malu!!"batin Arya. Tapi Arya tetap menguatkan tekadnya untuk meminta maaf.
"Sebelumnya aku ingin minta maaf terlebih dahulu pada Kenzo dan juga kepada istrinya." Ucap Arya sambil sesekali terlihat menahan rasa sakit. "Aku sungguh malu kerena.."Arya menarik nafas sebentar untuk menambahkan keberaniannya mengungkapkan permintaan maafnya."karena telah mengira Alesya adalah selingkuhannya Kenzo." Ucapan Arya terhenti sebab seluruh orang di ruangan itu tengah melihatnya dengan tatapan tidak percaya.
"Hei bung!! dari mana kau mendapatkan ilham itu?" celetuk Frans tidak percaya. Dia benar-benar merasa Arya adalah dokter yang kocak. Mana ada dokter yang seperti Arya. Frans benar-benar meragukan Arya sebagai dokter sungguhan.
Arya tidak menghiraukan perkataan Frans. Karena memang benar juga yang dikatakan oleh Frans, apa yang telah mempengaruhi pikiran nya hingga bisa berpikir sebodoh itu
"Sebelumnya, sebaiknya aku perkenalkan diri ku." Arya kembali memegang rahangnya. Rahangnya terasa sakit karena dia terlalu banyak bicara.
__ADS_1
"Aku adalah dokter spesialis onkologi yang menangani Mai di rumah sakit ini. Dan aku bertemu dengan Kenzo semalam sewaktu Mai koma." omongan Arya kembali terputus, sebab kali ini memar di pipinya yang terasa sakit. "Mai beberapa kali memanggil Kenzo dalam keadaannya yang tidak sadar itu. Dan keadaan Mai membaik setelah Kenzo masuk ke ruangan Mai. Bahkan Mai menunjukkan progres yang sangat baik setelah itu. Sehingga aku menyimpulkan bahwa Mai pasti sangat mencintai Kenzo. Dan karena Kenzo juga datang dan menemani Mai saat Mai tidak sadarkan diri, aku pun berpikir, Mai dan Kenzo pastilah sepasang kekasih." Arya kembali terdiam. Tapi kali ini bukan karena dia merasakan sakit di bagian-bagian tertentu di tubuh dan wajahnya, melainkan karena semua orang terdiam melihat kebodohannya.
"ya, aku tahu aku sudah salah karena telah salah memahami situasi yang terjadi. Tapi come on.. seseorang koma di sana. Lalu ada seorang pria yang datang menemani nya untuk sesaat. Kemudian wanita itu mulai keluar dari koma nya, kalau tidak karena kekuatan cinta maka apa ??" Ujar Arya lancar jaya.
"Aku tidak tahu kalau IQ orang bisa menurun Ar!" seru Marcus pada sahabatnya itu. "Kenapa kau jadi sangat bodoh sekarang?" Sambung Marcus yang mulai paham duduk permasalahannya. "Kau kan bisa bertanya langsung pada Kenzo mengenai apa sebenarnya hubungan Kenzo dan Mai, dan tidak main tuduh seperti ini." Tukas Marcus.
"Entah mengapa setelah mendengar cerita mu aku pun merasa ingin menambahkan beberapa memar di wajah mu itu."seru Marcus, geram mendengar kebodohan sahabatnya.
"Kenz! aku mohon maafkan aku." Ujar Arya, penuh rasa malu. "Ini sungguh sebuah salah paham karena kebodohan ku." ucap Arya.
Kenzo tidak menjawab perkataan Arya. Tentu saja Kenzo tidak bisa melupakan hal ini begitu saja.
Aleysa melihat wajah Arya yang sudah babak belur itu."aku harap kau tidak melakukan kekeliruan seperti ini ke depan nya dok." Ujar Alesya, tanpa menyebutkan apakah dia sudah memaafkan Arya atau belum.
"Marcus, sebaiknya kau antar kan teman mu untuk keluar. Aku ingin istirahat." Kilah Dyana, padahal dia merasa muak pada Arya. Dyana sangat tidak suka pada orang yang dengan begitu mudahnya meminta maaf setelah dia melakukan sebuah kesalahan yang besar. Dalam pemikiran Dyana, orang-orang seperti itu kalau dengan mudah mendapatkan kata maaf maka akan dengan mudah pula mengulangi kesalahan yang sama. Dyana sangat memaklumi kenapa Kenzo memilih untuk diam. Pasti Kenzo ingin itu dapat memberikan pelajaran kepada Arya ke depan untuk lebih berhati-hati dalam berprasangka kepada orang lain.
Marcus melihat Kenzo dan Dyana bergantian, Marcus tahu kalau Kenzo pasti tidak akan dengan mudah memaafkan Arya, dan Dyana pasti saat ini merasa muak dengan Arya. Tapi membawa Arya dalam keadaan babak belur seperti ini apakah tidak akan mengundang perhatian orang-orang?
"Heem.. tidak bisakah kita obati dulu luka-luka nya baru membiarkannya pergi?" tanya Marcus yang entah pada siapa dia arahkan pertanyaan itu.
__ADS_1
"aku tidak apa-apa Marcus!! ini hanya luka kecil." Jawab Arya bohong, dia bahkan bisa merasakan tulang rahangnya sangat nyeri seakan bergeser setiap kali dia bicara. "aku akan mengobatinya sendiri di ruangan ku." sambung Arya.
"apa kau yakin?" tanya Marcus pada Arya.
"tentu saja, " jawab Arya yang sudah tidak tahan berlama-lama lagi di ruangan itu.
"hhh.. baiklah. Aku akan mengantarkan mu sampai ke ruangan mu. Lagi pula aku perlu tanda tangan mu untuk resep obat yang aku katakan tadi pagi." Ujar Marcus, yang tanpa sengaja keceplosan soal resep obat.
"memangnya siapa yang sakit?" tanya Dyana cepat. Dyana tahu kalau Marcus hanya sendirian di kota ini. Jika Marcus sampai perlu resep obat dari dokter bukankah itu arti saat ini Marcus sedang sakit keras.
"Bukan siapa-siapa." ujar Marcus kembali berbohong, "hanya salah seorang staff di hotel ku yang sedang sakit dan tidak mau untuk pergi ke dokter sehingga aku harus meresepkan sendiri obat untuknya dan salah satu obat nya memerlukan resep langsung dari dokter." lanjut Marcus.
"memangnya kau itu dokter hingga bisa meresepkan obat?" celetuk Frans dengan nada mengejek.
"Marcus yang sudah membantu meringankan alergi mu waktu itu Frans." Dyana sengaja menjawab pertanyaan itu mewakili Marcus sebab Dyana yakin Marcus tidak akan mau menyebut diri nya seorang dokter.
"Dan Marcus sebenarnya adalah seorang dokter andaikan dia tidak lebih memilih dunia bisnis sebagai profesinya." sambung Dyana membuat Frans terdiam.
Setelah mendengar penjelasan Dyana Frans terpikirkan tentang sesuatu.Apa kali ini dia juga mesti bersaing dengan laki-laki yang sama tangguhnya dengan Kenzo. Nasib Frans benar-benar naas. Dua kali jatuh cinta pada wanita, dan dua kali pula dia harus menghadapi kompetitor yang sangat kuat. Jangan sampai kisah cintanya pada Dyana kembali membawa Frans menelan pengalaman yang sama pahit seperti ketika ia mencintai Alesya. Frans harus sangat berhati-hati kali ini. DIa tidak boleh kecolongan dua kali.
__ADS_1
**bersambung...