
Ketika Marcus keluar dari kamar Agnez, ternyata Jasmin pun baru sampai di depan kamar itu.
“apakah ponsel mu ada di dalam?” Tanya Jasmin pada Marcus yang tadi minta izin untuk kembali ke kamar Agnez sebab kehilangan ponselnya sewaktu usai berbicara dengan tuan Puji di ruang kerja ruang Puji.
“ini.”ucap Marcus sambil mengangkat ponsel nya dan memperlihatkannya pada Jasmin.
“syukurlah kalau begitu tuan Marcus.” Ucap Jasmin sambil memegang tangan kekar Marcus dengan manja.
Mata Marcus langsung tertuju pada tangan Jasmin yang dengan manja memegang tangan nya itu.
Jasmin menyadari kalau Marcus sepertinya keberatan dengan apa yang ia lakukan. Jasmin langsung melepaskan tangannya dan berkata,”maaf, aku tidak bermaksud apa-apa.”
“Aku hanya merasa seperti sudah lama mengenal mu tuan Marcus. Kau tidak keberatan menjadi teman ku?” ujar Jasmin, tanpa rasa malu.
“tentu saja nyoya Jasmin. Kau adalah teman ku seperti hal nya suami mu. Kalian berdua adalah teman ku.” Jawab Marcus.
__ADS_1
“tapi aku ingin menjadi teman spesial mu Marcus!” seru Jasmin dalam hati. “bukan teman seperti yang kau pikirkan saat ini.”
“ya, kalau begitu kau tidak keberatan kalau suatu saat aku dan suami ku main ke hotel mu?”
“tentu saja tidak nyonya Jasmin. Aku bahkan akan sangat senang kalau memang kau dan tuan Puji menyempatkan untuk menghabiskan malam di hotel ku yang belum seberapa terkenal itu.” Ujar Marcus. Sebagai lelaki, sebenarnya Marcus sudah dapat mencium gelagat yang mencurigakan dari Jasmin. Namun untuk sementara ini karena tidak terlalu mengganggu maka ia abaikan saja. Lagi pula, Marcus masih membutuhkan Jasmin untuk menjembatani hubungannya dengan tuan Puji agar kerja sama antara mereka dapat segera terealisasikan.
“aku akan menagih janji mu itu tuan Marcus.” Ujar Jasmin.
“aku tunggu kedatangan mu dan tuan Puji di hotel kecil kami nyonya Jasmin. Dan, aku mohon diri dulu. Sebab sudah sangat malam.” Ucap Marcus pada Jasmin.
“kau sungguh baik hati nyonya Jasmin,” puji Marcus berbasa basi.”Tuan Puji pasti adalah sosok yang sangat adil dan bijaksana sehingga semua istrinya dapat hidup damai, rukun dan tentram dalam satu atap. Aku mesti belajar banyak dari tuan Puji mengenai hal ini.”lanjut Marcus memuji kehidupan keluarga tuan Puji di depan Jasmin.
“kau memang paling bisa dalam menilai orang tuan Marcus.” Jasmin terpaksa membenarkan perkataan Marcus sebab Jasmin merasa sekarang belum saat nya memainkan peran istri yang terzolimi sebab suami memiliki banyak istri. Jasmin harus menunggu sedikit lagi hingga Marcus sedikit lebih dekat dengannya agar ia bisa menarik simpati dari Marcus.
“aku mohon diri dulu kalau begitu nyonya Jasmin. Sampaikan pada tuan Puji aku akan tunggu email yang di janjikan pada ku tadi.” Marcus pun akhirnya pergi dari depan kamar Agnez.
__ADS_1
Setelah memastikan Marcus benar-benar sudah menghilang dari balik pintu keluar rumah itu, Jasmin segera masuk ke kamar Agnez.
Jasmin menyingkap selimut Agnez dan melemparkannya ke lantai.
“Bangun!!!” bentak Jasmin pada Agnez yang sebenarnya memang pura-pura tidur di atas ranjangnya.
Agnez masih mencoba mempertahankan sandiwaranya dengan cara menutup mata nya pura-pura tidak mendengarkan suara Jasmin yang seperti orang gila di kamar itu.
“Hei!! Kau jangan kira kau dapat menipu ku!! Cepat bangun!!” Jasmin mencengkram pipi Agnez dengan tangan kanannya.
“cih, kau masih perlu belajar puluhan tahun agar dapat menipu ku dengan cara ini. Lekas bangun! Atau akan ku buat kau lebih menderita dari pada saat kau masih di sel bawah tanan.”Seru Jasmin.
Sebenarnya Jasmin memang sudah tahu kalau Agnez hanya berpura-pura tidak sadarkan diri sebab beberapa kali tanpa sengaja Jasmin ada melihat tangan Agnes bergerak-gerak dan matanya cukup aktif untuk bergerak kek kiri dan kanan dibawah kelopak matanya untuk ukuran seseorang yang sedang tertidur.
“kalau kau masih tidak mau bangun aku akan-“ Belum selesai Jasmin menyampaikan hukuman apa yang akan Agnez terima, tiba-tiba Agnez membuka nya...
__ADS_1
**bersambung